Perpisahan

Perpisahan

Belum ada komentar 908 Views

Perpisahan pada umumnya menimbulkan kesan sedih dan mengharukan. Mengantar kerabat pulang ke tempat yang jauh ketika pesta berakhir, acara perpisahan sekolah, biasanya memberi nuansa sedih dan haru. Perpisahan dengan kekasih yang dipanggil pulang Bapa di surga juga memberi nuansa kesedihan. Tetapi ada perpisahan lain yang nuansanya berbeda, bukan haru atau sedih, tetapi diwarnai dengan nuansa marah, menyalahkan orang lain. alias membenarkan diri sendiri dan yang sejenisnya.

Perpisahannya sama, tetapi nuansanya berbeda. Akhir-akhir ini banyak sekali kita dengar dan baca di berbagai media cetak dan televisi berita tentang perpisahan dan perceraian para selebriti, antara lain, pasangan penyanyi dan artis yang beberapa waktu yang lalu sering terlihat beribadah di GKI Pondok Indah, ada lagi penyanyi dan bintang film senior yang sudah menikah 26 tahun(!), dan yang anak-anaknya pun sudah menjadi bintang sinetron. Apakah perlu waktu 26 tahun hanya untuk mengatakan tidak ada kecocokan? Ada juga pesulap dengan penampilan yang khas dan yang dulu sering membengkokkan sendok. Juga pesulap yang tidak pernah bicara, yang sering makan paku dan kaca. Tidak pernah bicara saja bisa bercerai gara-gara punya selingkuhan, luar biasa ya? Ada juga wakil rakyat yang sudah menikah cukup lama dan yang belakangan ini meributkan masalah harta. Bagaimana bisa mengurus rakyat kalau mengurus keluarganya saja tidak mampu. Ada juga perempuan pemain drum, bintang iklan minuman dari Jepang dan yang menjadi salah seorang juri realityshow di sebuah stasiun televisi, yang sebelumnya dikabarkan kehidupan pernikahannya baik-baik saja.

Yang kerap kali membuat saya miris, perceraian ini ditayangkan dan dibahas dalam sebuah acara televisi. Dibuka dan diumumkan ke seluruh dunia, ditonton oleh semua orang. Mereka yang terlibat, mengutarakan pembenarannya masing-masing, berusaha untuk meraih simpati orang banyak dan menguras air mata penonton di studio televisi. Bahkan ada yang sudah resmi bercerai, masih saja bersikap mesra dengan mantan pasangannya, seolah-olah tidak ada apa-apa. Ini membuat sebagian orang berpikir, apakah ini sinetron atau kehidupan nyata?

Perpisahannya sama, tetapi alasannya tentu berbeda-beda: ada yang karena ada orang ketiga, ada yang katanya sudah tidak ada kecocokan lagi, ada pula yang katanya ada masalah yang tidak bisa dan tidak pernah bisa diselesaikan, dan sederet alasan lain. Tetapi, yang menarik adalah, pada akhirnya mereka menarik kesimpulan yang sama dan yang sangat klise, yaitu untuk kebaikan bersama dan untuk kebaikan anak-anak. Sering kali kita mendengar pernyataan konyol seperti ini, “Kami masih saling menyayangi, tetapi ini adalah pilihan yang terbaik buat anak-anak.” Seolah-olah mementingkan anak, tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang egois, tidak jujur dan berlindung di balik kata-kata yang terbaik buat anak-anak. Adakah sebuah perceraian yang baik untuk anak-anak? Menurut hemat saya, tidak pernah ada! Bukankah itu hanyalah sebuah pembenaran untuk terjadinya suatu perceraian?

Kesimpulannya sama, dan mereka juga telah sama-sama melupakan dan sama-sama tidak memperjuangkan Janji Pernikahan mereka. Mereka lebih melihat perbedaan yang ada, bukan kesamaan yang ada. Mereka tidak bisa menerima adanya perbedaan-perbedaan itu, mereka menuntut adanya kesamaan dan penyesuaian. Mereka tidak bisa menerima perbedaan itu sebagai komplimenter, saling melengkapi. Pernikahan bukanlah toleransi, pernikahan adalah sebuah penerimaan, menerima semua perbedaan dan kesamaan antara dua manusia.

Perceraian, sebaik apa pun perceraian itu, akan menimbulkan trauma bagi anak-anak. Belum lagi mereka harus menerima kehadiran ayah atau ibu yang baru, tentunya tidak mudah. Perceraian juga akan menjadi referensi bagi anak ketika nanti mereka menikah dan mengalami konflik dengan pasangan dan tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Mereka akan dengan mudah memilih bercerai ketimbang menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Kalau kita merasa kasihan atau ingin memberikan yang terbaik kepada anak-anak, yang terbaik adalah menjadikan pernikahan itu indah dan harmonis. Pernikahan yang indah harus diupayakan, tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Manusia berubah, kita berubah dan pasangan kita juga berubah. Bagaimana kita bisa saling menerima perubahan, itulah dinamika sebuah pernikahan. Mereka yang berpisah, salah satunya karena mereka enggan memelihara relasi dengan pasangan supaya tetap hangat, saling menghargai dan saling mencintai. Jangan malas dan jangan malu untuk terus belajar mencintai pasangan dan juga keluarga kita. Kehidupan pernikahan adalah sekolah seumur hidup. Salam damai…

Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan