Pernikahan Harus Diperjuangkan

Pernikahan Harus Diperjuangkan

Belum ada komentar 66 Views

Ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan memutuskan untuk menikah dan minta diberkati di gereja, artinya mereka sudah mengambil keputusan dan komitmen untuk membangun rumah tangga mereka sesuai dengan Firman Tuhan. Sesungguhnya, pada saat itulah dimulainya perjalanan untuk membangun sebuah pernikahan. Akan banyak kejutan yang akan mereka alami, karena ada banyak hal yang tidak tampak ketika masa pacaran. Perbedaan-perbedaan itu antara lain, latar belakang keluarga, pendidikan, masa lalu, usia, sifat, kebiasaan, keinginan, harapan dan masih banyak lagi, yang setiap saat bisa muncul dan berpotensi menimbulkan friksi.

Setelah menikah, biasanya sedikit demi sedikit baru kelihatan sifat aslinya. Awalnya mungkin mereka masih bisa toleran, tetapi lama kelamaan akan menjadi friksi yang berlanjut menjadi konflik, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Seyogyanya, perbedaan-perbedaan ini harus dikenali dan diterima, baik itu hal yang positif maupun yang negatif, tetapi tidak mudah, ini memerlukan perjuangan, terutama perjuangan terhadap ego masing-masing.

Pernikahan bukanlah tujuan, pernikahan adalah suatu perjalanan, demikian kata orang bijak. Ibarat kita melakukan perjalanan dengan mobil ke suatu tempat, maka kita harus siap untuk menjumpai hambatan-hambatan dalam perjalanan, apakah itu hujan, macet, ban kempes, kehabisan bensin, mogok dan sebagainya. Kita pasti tidak akan menyerah dan membatalkan perjalanan hanya karena hambatan-hambatan tersebut. Demikian pula dengan pernikahan, kita juga harus siap untuk menjumpai hambatan-hambatan dalam perjalanan pernikahan kita.

Perbedaan-perbedaan yang ada di antara dua orang manusia yang mengikatkan diri dalam pernikahan, adalah untuk saling melengkapi. Tidak ada pernikahan di mana si suami dan si istri mempunyai sifat, kebiasaan, pemikiran yang sama. Kalau sampai terjadi, alangkah tidak lucunya pernikahan itu. Tidak ada dinamika, tidak ada penyesuaian, tidak ada gejolak. Tuhan menciptakan setiap manusia itu unik, tidak ada yang sama, dan Tuhan juga menjadikan suami dan istri penuh dengan perbedaan, supaya hidup pernikahan itu dinamis. Perbedaan jangan dipandang sebagai suatu ketidakcocokan, kata yang sering sekali dipakai sebagai alasan untuk bercerai, yang sering kita dengar di acara-acara infotainment. Pernikahan jangan disamakan dengan handphone, yang kalau kita tidak merasa puas bisa kita ganti setiap saat.

Perbedaan-perbedaan yang ada, harus dibuka, dibicarakan dan dimengerti, sehingga apabila terjadi konflik, kita bisa mengetahui dari mana sumber konflik itu. Setelah mengetahui adanya perbedaan-perbedaan tersebut, bukan berarti tidak akan terjadi konflik. Konflik akan terus terjadi, tetapi bedanya kita tidak lagi mencari pembenaran, tetapi membangun pengertian. Itulah perjuangan yang harus diupayakan dalam membangun pernikahan.

Ibarat mobil yang harus menjalani masa perawatan berkala, supaya dapat dikendarai dalam kondisi yang baik, demikian pula dalam suatu pernikahan. Kita, suami dan istri, perlu mempunyai waktu berdua saja dalam beberapa hari, tanpa anak-anak dan dalam relasi yang baik untuk mengevaluasi, memperbaiki, saling memaafkan, saling mengampuni dan membangun komitmen-komitmen baru dalam pernikahan kita. Hal itu juga merupakan perjuangan, karena kita selalu merasa tidak mempunyai waktu dan yang lebih parah, tidak merasa perlu. Kita sering lebih mementingkan pekerjaan atau pelayanan kita, padahal pekerjaan dan pelayanan itu juga merupakan bagian dari kehidupan pernikahan kita.

Kita seringkali cerewet tentang mobil kita, ada sedikit goresan saja langsung kita poles, ada bunyi-bunyian langsung kita bawa ke bengkel. Kita rela untuk menunggu berjam-jam di bengkel. Mengapa kita sering abai untuk merawat pernikahan kita?

Relasi kita dalam membangun pernikahan bukanlah semata-mata untuk kepentingan kita sebagai suami dan istri. Sesungguhnya, kita sedang membangun citra pernikahan untuk anak-anak kita. Anak-anak akan melihat dan memandang citra pernikahan dari apa yang ditampilkan oleh kedua orangtua mereka. Kalau tiada hari tanpa pertengkaran dalam penikahan kita, bisa-bisa anak-anak kita tidak mau menikah, karena takut akan mengalami hal yang sama. Sebaliknya, kalau anak-anak melihat citra pernikahan kedua orangtuanya sebagai pernikahan yang terbuka dan jujur mereka juga akan melakukan hal yang sama dalam pernikahan mereka kelak.

Pernikahan Kristen selalu melibatkan tiga pihak, yaitu suami, istri dan Tuhan. Kedekatan relasi suami dan istri terjadi karena kedekatan relasi mereka dengan Tuhan. Sebaliknya, kalau relasi mereka dengan Tuhan jauh, maka relasi suami dan istri itu pasti jauh. Ini juga bukan sesuatu yang mudah, perlu perjuangan juga. Selamat berjuang!

(Sindhu Sumargo)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan