Penyanyi dan Tukang Ledeng

Penyanyi dan Tukang Ledeng

Belum ada komentar 124 Views

Ini kisah nyata tentang seorang penyanyi wanita terkenal di Eropa, yang bersuara merdu. Ia bersuamikan seorang pemusik dan pengarang lagu. Begitu pandainya sang suami ini tentang lagu, nada, birama, dan hal lain di bidang musik, sehingga ia selalu menemukan apa yang harus dikoreksi ketika istrinya menyanyi.

Kalau istrinya menyanyi, selalu saja ada komentar dan kritik seperti: bagian depan kurang tinggi. Lain kali ia berkata, bagian ini kurang pelan. Kali lain ia mengkritik, “bagian akhir harusnya ‘kres’… naik sedikit.” Selalu saja ada komentar pedas yang ia lontarkan kalau isterinya menyanyi dan bersenandung. Akhirnya wanita ini malas menyanyi. Ia memutuskan, “Nggak usah menyanyi saja. Begini salah, begitu salah. Malah kadang-kadang memicu pertengkaran.”

Singkat cerita, karena suatu musibah, sang suami meninggal dan lama setelah itu si wanita menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Tukang ledeng ini tidak tahu menahu soal musik. Yang ia tahu, istrinya bersuara merdu dan ia selalu memuji istrinya kalau bernyanyi.

Suatu ketika istrinya bertanya, “Pa, bagaimana laguku?”

Si suami menjawab antusias, “Ma, kalau saya tidak menikah denganmu, mungkin saya sudah tuli karena bunyi dentuman, bunyi gergaji, bunyi cericit drat pipa ledeng, gesekan pipa ledeng dan bunyi pipa lainnya yang saya dengar sepanjang hari kalau saya bekerja. Sebelum saya menikah denganmu, saya sering bermimpi dan terngiang-ngiang suara gergaji yang tidak mengenakkan itu. Sekarang setelah menikah dan sering mendengarkan engkau menyanyi, nyanyianmulah yang terngiang-ngiang.”

Istrinya sangat bersuka cita dan tersanjung. Hal itu membuatnya gemar bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi. Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya, ia sudah berlatih, berlatih dan berlatih. Suaminya mendorongnya, sehingga ia mulai merekam suaranya dan mengeluarkan album rekaman pertama yang ternyata disambut baik oleh masyarakat.

Wanita ini akhirnya menjadi penyanyi terkenal, dan ia terkenal bukan pada saat suaminya ahli musik, tetapi pada saat suaminya seorang tukang ledeng, yang memberinya sedikit demi sedikit pujian ketika ia menyanyi.

Sedikit pujian memberikan penerimaan.

Sedikit pujian memberikan rasa diterima, memberikan dorongan semangat untuk melakukan hal yang baik dan lebih baik lagi.

Sedikit pujian dapat membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi.

Omelan, bentakan, kecaman, amarah atau kritik sesungguhnya tidak akan banyak mengubah.

Pada umumnya orang senang dipuji, akan tetapi ironisnya banyak orang sering mencela, pelit untuk memuji. Jika kita ingin menyenangkan banyak orang, maka pujilah dia.

Selamat memuji!

Eddy Nugroho

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Refleksi
  • Berbeda Tapi Bersama
    Perhelatan Pilkada Gubernur DKI Jakarta telah lama usai. Namun hawa panasnya masih menyisakan bara sampai saat ini. Meninggalkan luka...
  • YESUS Kalah Voting
    Ingar bingar pesta politik di Jakarta sudah dimulai. Pilkada Gubernur DKI Februari 2017 mendatang sudah mulai gaungnya dengan masa...
  • Menjadi Saksi Bagi Sang Terang
    Kegaduhan dalam menyiapkan sukacita Natal sudah terasa sejak memasuki masa penantian pada Adven pertama. Mal dan toko-toko sekitar perumahan,...
  • Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Kumar Kashyap yang biasa dipanggil Prince — seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun—mengalami musibah. Ia terjebak di sumur sedalam...
  • Bermimpilah yang Besar
    Bermimpilah yang Besar
    “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3) Pada suatu hari yang panas tahun 1984, orang-orang di...
Kegiatan