Penjara

Belum ada komentar 17 Views

Ada sebuah artikel di kompas.com yang sangat menarik, yaitu tentang lansia di Jepang yang kerap melakukan kejahatan ringan dengan maksud supaya di penjara.

Ini kutipannya:

Dalam beberapa tahun terakhir terdapat fenomena sosial yang tak biasa di Jepang, di mana penduduk lanjut usia (lansia) sengaja melakukan kejahatan ringan agar dapat dipenjara.

Jepang memiliki penduduk lansia yang cukup besar, yakni lebih dari seperempat warganya berusia 65 tahun ke atas. Menurut Bloomberg, tingkat keluhan dan penangkapan yang melibatkan warga lansia tersebut meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir, jika dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.

Dilansir, satu dari lima tahanan di penjara Jepang merupakan warga lansia. Dan di banyak kasus, kejahatan yang mereka lakukan merupakan kejahatan ringan, seperti mengutil. Fenomena tak lazim ini diyakini berkaitan dengan beratnya kehidupan warga lansia di Jepang. Masih menurut Bloomberg, jumlah warga lansia di Jepang yang tinggal sendirian mengalami peningkatan hingga 600 persen antara 1985 hingga 2015. Pemerintah menemukan fakta bahwa separuh dari warga lansia yang ditahan karena mengutil, tinggal sendirian dan 40 persen dari mereka mengaku sudah tidak memiliki anggota keluarga atau lama tidak bertemu. Bagi para warga lansia ini, kehidupan di penjara lebih baik daripada pilihan yang lain.

“Mereka mungkin memiliki tempat tinggal, mungkin punya keluarga. Tapi mereka merasa tidak punya tempat di rumah,” kata Yumi Muranaka, kepala sipir Penjara Khusus Wanita Iwakuni, kepada Bloomberg. Salah seorang tahanan wanita lansia mengatakan, mereka merasakan kehidupan sosial dan komunitas yang tidak mereka dapatkan saat di luar penjara. “Saya lebih menikmati hidup saya di penjara. Selalu ada orang di sekitar dan saya tidak merasa kesepian. Saat saya bebas untuk kedua kalinya, saya berjanji tidak akan kembali.” Tapi ketika berada di luar, saya justru merasa kangen dengan kehidupan di penjara,” ujarnya.

Negara menghabiskan setidaknya 20.000 dolar AS (Rp 275 juta) per tahun untuk menjaga tahanan di penjara dan tahanan lansia membuat anggaran tersebut bertambah karena perlu perawatan dan kebutuhan medis. Fenomena sengaja berbuat kejahatan agar ditahan sebenarnya tidak hanya terjadi di Jepang. Di negara lain, seperti AS, beberapa kasus menemukan pelaku yang sengaja berbuat kejahatan ringan agar ditahan demi mendapat perawatan kesehatan, menghindari cuaca dingin, atau agar bisa berhenti dari kecanduan narkoba.

Meski demikian, fenomena ini di Jepang sudah sangat mengkhawatirkan. Pemerintah pun dituntut untuk dapat mengatasinya dengan meningkatkan sistem kesejahteraan dan pelayanan sosial bagi warga lansia. Walaupun, fenomena ini tidak akan dapat diatasi dalam waktu singkat. (Kompas.com, 21 Maret 2018)

Jepang, sebuah negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat, rasa hormat kepada orangtua, apakah sudah mulai mengalami perubahan? Banyaknya orangtua yang merasa kesepian, apakah karena memang sudah hidup sendiri atau keluarga sudah tidak memperhatikan lagi?

Ini sebuah dilema, antara rasa hormat kepada orangtua, sehingga harus mengurus orangtua sampai akhir hayatnya, atau memberikan kehidupan sosial yang lebih baik kepada orangtua, sehingga mereka dapat berteman dan bersosialisasi secara sehat dengan teman-teman seusia mereka.

Mengurus orangtua tidak selalu memberikan yang terbaik untuk mereka. Anak-anak dan keluarga berusaha memberikan yang terbaik menurut ukuran mereka, bukan menuruti kebutuhan orangtua. Memang mereka dicukupi secara fisik oleh keluarga atau anak-anak mereka, tetapi sering kali tidak dicukupi secara mental. Mengirim atau memasukkan orangtua ke panti wreda, sering kali dianggap sebagai tindakan yang kurang baik dan berkonotasi negatif. Sering dianggap bahwa anak-anak tidak mau lagi mengurus orangtua yang telah membesarkan mereka. Sering kali dianggap sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih. Padahal mungkin orangtua juga tidak bahagia tinggal bersama dengan anak hanya karena alasan kewajiban atau balas budi anak kepada orangtua. Mereka cenderung bersikap pasrah, tergantung kepada “kebijaksanaan” anak-anak atau keluarga mereka. Mereka jarang bisa menolak karena mereka sudah tidak lagi memiliki kekuatan dan kekuasaan. Padahal mereka sangat kesepian, mereka punya keinginan atau kebutuhan untuk berada di kelompok sosial dan komunitas mereka.

Kita sering melihat orangtua yang diajak berjalan-jalan ke mal bersama anak dan cucu-cucu mereka. Maksud hati tentunya memberikan hiburan dan kesenangan kepada orangtua, tetapi sering kali kita tidak melihat ada kebahagiaan di wajah mereka. Mereka hanya duduk-duduk kelelahan dengan tatapan mata kosong sambil menunggui barang-barang belanjaan anak dan cucu mereka, sementara anak dan cucu mereka berbelanja atau bermain-main.

Kalau saja penjara di Indonesia sebagus dan sebaik di Jepang atau di Amerika, mungkin para lansia di sini juga akan melakukan hal yang sama, ketimbang tinggal di rumah anak tetapi serasa betul-betul seperti di penjara. Jadi, janganlah memisahkan orangtua kita dari komunitas merela, walaupun dengan maksud baik. Salam damai.

>> Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • perasaan
    Perasaan
    Kalau yang dipikirkan ‘kan bisa bohong, tetapi kalau yang dirasakan tidak bisa bohong. (Sultan Hamengku Buwono X) Hari Minggu...
  • Diaspora Menjadi Perhatian Banyak Negara
    Beberapa tahun terakhir, diaspora menarik perhatian banyak negara untuk dimanfaatkan. Kata “diaspora” dalam bahasa Ibrani adalah tefutzah, yang artinya:...
  • beli banyak
    Beli Banyak, Lebih Murah?
    Kebiasaan di dunia tawar-menawar biasanya dikaitkan dengan jumlah. Dalam transaksi tawar-menawar sering kita dengar, “Kalau beli banyak harganya berapa?”...
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
Kegiatan