Pengharapan Akan Hari Esok

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)

Belum ada komentar 52 Views

Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan tulisan ayat di atas itu. Akhirnya Tuhan menganugerahi mereka berturut-turut dua orang putri yang cerdas dan mengasihi-Nya.

Bagi kita masa depan sungguh ada. Artinya, masa depan seperti yang kita harapkan. Masa depan kita yang di dalam Tuhan bahkan bisa melebihi apa yang kita harapkan. Seperti pasutri tadi, mereka tidak berani berharap banyak, cukup dikaruniai seorang anak saja, namun Tuhan memberikan jauh melebihi harapan mereka.

Berbicara tentang masa depan, saya selalu membayangkan bahwa masa depan itu sepenuhnya terletak di tangan Tuhan. Dialah yang memiliki masa depan itu, sebab Dialah Tuhan atas masa lampau, masa kini dan masa depan. Bahkan Dialah yang memiliki kekekalan atau keabadian. Sebaliknya kita sebagai manusia, satu detik pun tidak dapat kita miliki.

Setelah memasuki masa tua yang cukup lanjut ini saya menjadi makin peka terhadap masa depan. Dulu sebagai pemuda, sama seperti teman-teman sebaya, saya tidak mengenal kata “lelah”. Sekarang ini, saya banyak mempertimbangkan penghematan waktu dan tenaga. Saya selalu menyadari bahwa waktu hidup saya relatif tidak panjang lagi. Saya mengamati bahwa warga usia lanjut banyak berbicara tentang masa lampau mereka, dan hal itu bukan merupakan rahasia lagi. Namun mengapa demikian? Saya kira karena dua hal, pertama karena mereka memiliki banyak perbendaharaan untuk diceritakan, banyak pengalaman hidup. Dan yang kedua, pengetahuan mereka tentang masa depan sangat terbatas.

Sebenarnya masa depan kita itu bagaimana? Firman Tuhan tadi menyatakan bahwa masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. Ini adalah Firman Tuhan, maka harus dihubungkan secara langsung dengan isi Alkitab. Karenanya saya akan mengutip beberapa ayat lain dari Alkitab tentang masa depan.

1. Kisah Nabi Elia dengan Janda dari Sarfat (I Raja 17:7-24)

Dalam kisah itu kita beroleh petunjuk untuk menghadapi hari esok yang tidak menentu.

Sikap tidak takut dari janda dari Sarfat itu. Kepada sang janda yang miskin itu Elia berkata,”Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kukatakan…” ( I Raja 17:13). Dia disuruh Elia membuatkan terlebih dahulu sepotong roti bundar kecil untuk nabi itu, baru kemudian untuknya dan anaknya, padahal tepung dan minyak yang tersedia sangat minim. Namun sang janda miskin itu tidak takut untuk melakukan perintah hamba Tuhan. Ia bukan hanya percaya bahwa Tuhan itu sungguh ada, juga bukan hanya sekadar memercayai-Nya, melainkan memercayakan diri kepada-Nya.

BELIEF IS A TRUTH HELD IN THE MIND
FAITH IS A FIRE IN THE HEART.
(Joseph Newton)

Ia memegang janji Tuhan yang mengatakan, bahwa tepung dan minyak persediaannya yang sangat minim itu tidak akan kunjung habis, sampai Dia menurunkan hujan ke atas muka bumi.

Ini sangat menarik, sebab Janda Sarfat telah menyatakan kepada Elia bahwa saat kematian ibu dan anak itu akan tiba, setelah mereka menyantap roti terakhir mereka. Jelaslah di sini bahwa Tuhan sedang menguji iman sang janda—melalui nabi Elia yang menyuruhnya—agar ia terlebih dahulu membuat dan menyerahkan roti bundarnya kepada Elia. Hal ini kelihatannya sangat remeh, namun di dalam kenyataan berpotensi memunculkan pertarungan batiniah yang dahsyat, sebab menyangkut persoalan hidup dan mati mereka berdua. Kita melihat Tuhan sedang menampi iman sang janda itu supaya dapat muncul lebih gemilang, dan ia lulus dari ujiannya yang berat. Sebagai “hadiahnya” mereka berdua diperbolehkan Tuhan hidup terus di sepanjang masa paceklik itu. Bahkan ibu dan anak itu setiap harinya diperbolehkan mengalami mukjizat Tuhan yang menggetarkan hati.

Janda itu memang bukan umat Israel, tapi ternyata mau mengagungkan nama Yahweh ketika ia berkata kepada Elia, “Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup…” (ayat 12). Jadi hanya bermodalkan cerita orang tentang perbuatan besar Allah Israel, ia sudah dapat sedemikian beriman. Imannya sendiri sudah merupakan sebuah mukjizat, sebab dengan naluri seorang ibu yang bertanggung jawab atas perut dan kehidupan anaknya, ternyata ia “berani” melakukan permintaan Elia.

Mengapa kita banyak dikuasai ketakutan ketika menghadapi masa depan? Sebab kita lupa berkata seperti janda Sarfat, “Demi Tuhan Allah yang hidup…” Kita kurang meyakini bahwa yang sedang menggandeng tangan kita memasuki hari esok adalah Tuhan yang hidup. Itu sebabnya kita merasa gamang dalam melangkahkan kaki kita.

Sebuah ajakan untuk setiap orang yang menjadi pengikut Kristus, mari kita tinggalkan segala keraguan dan ketakutan dalam memasuki hari esok. Sebab Kristus sudah mendahului kita. Posisi-Nya selalu yang paling depan sebab Dia telah membereskan setiap perintang hidup kita, sehingga kini perjuangan kita adalah untuk mempertahankan kemenangan-Nya!

2. Sikap Khawatir Harus Diperangi (Matius 6:24-34)

Pengalaman hidup kita menunjukkan bahwa kekhawatiran kita tidak meng-hasilkan apa pun yang berguna. Sabda Tuhan Yesus, “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27)

WHEN I LOOK BACK ON ALL THESE WORRIES I REMEMBER THE STORY OF THE OLD MAN WHO SAID ON HIS DEATHBED THAT HE HAD HAD A LOT OF TROUBLE IN HIS LIFE, MOST OF WHICH NEVER HAPPENED.
(Sir Winston Churchill)

Kerugian kita yang terbesar, adalah ketika kita lupa bahwa Tuhan sangat mengasihi kita. Dia mendandani kita menjadi makhluk-Nya yang indah, melengkapi kebutuhan hidup kita, dan Dialah yang selama ini menguatkan kita, sehingga kita dapat mengangkat beban yang menekan hidup kita.

Untuk bisa memasuki hari esok yang penuh kebahagiaan, sebenarnya kita hanya dituntut untuk melakukan perkara yang sangat mudah, yaitu memercayai Tuhan, yang memang paling bisa dipercaya, dan untuk selalu mendahulukan kepentingan-Nya. Ini juga tidak sulit karena Tuhan memang pantas untuk diutamakan dan didahulukan. Sabda Tuhan Yesus, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Bicara tentang hari esok atau masa depan, apakah masih ada yang lebih penting dari masa depan yang ada di seberang kematian kita? Jika masa depan yang paling kelam itu sudah diubahkan oleh kebangkitan Kristus menjadi masa depan surgawi dengan kekekalan yang sempurna, apakah masih ada masa depan lain yang membuat hati kita khawatir?•

» Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pemimpin: Hamba atau Sahabat
    Tema yang akan diteropong ini bukan tema yang baru, oleh karena itu ketika membacanya, kita pasti sudah mempunyai pemahaman...
Kegiatan