PENGEMIS = PENDOA?

PENGEMIS = PENDOA?

Belum ada komentar 289 Views

Minggu sore itu dalam perjalanan saya menuju ke gereja, saya terjebak dalam kemacetan di pertigaan Jl. Adhyaksa yang mengarah ke Poins Square, seperti yang selalu saya alami setiap hari Sabtu dan Minggu. Situasi saat itu cukup membuat saya khawatir bahwa saya akan terlambat mengikuti ibadah pukul 17.00.

Di tengah rasa kesal karena kemacetan tersebut, saya menjumpai suatu pemandangan yang sangat menarik perhatian saya. Ada seorang pengemis tua yang berdiri di tengah jalan, di antara mobil-mobil yang berjalan sangat lambat, sambil menengadahkan sebelah tangannya dengan berharap agar orang-orang memberinya uang, sementara sebelah tangannya lagi memegang tongkat yang menyangga tubuhnya karena kakinya cacat. Sebuah pemandangan yang biasa di Jakarta ini sebetulnya, tetapi yang menarik perhatian saya adalah sikap si pengemis tua ini, yang menurut saya tidak menunjukkan wajah yang mengharapkan belas kasihan, malah cenderung tampak ketus.

Hal yang membuat lebih menarik perhatian saya adalah ketika saya kemudian memberinya selembar uang dua ribuan. Pada umumnya pengemis yang menerima uang akan menunjukkan rasa terima kasih atau bahkan ada yang seolah-olah berdoa bagi si pemberi uang. Tetapi tidak demikian dengan si pengemis tua ini. Tidak ada ucapan terima kasih yang keluar dari mulutnya. Wajahnya tetap biasa saja dan sama sekali tidak berubah, tetap ketus seperti sebelum saya memberinya uang. Saya tidak tahu apakah memang ia tidak bersyukur karena uang yang diterima itu tidak sebesar harapannya, atau ia bisu, atau ia menderita gangguan jiwa, atau ada penyebab lainnya.

Saya lalu jadi teringat ketika beberapa waktu lalu ada sebuah pergumulan yang saya alami sehubungan dengan penyakit maag saya yang kambuh sehingga menyebabkan rasa sangat tidak nyaman di perut saya. Dr. Arnold Harahap, SpPD yang selama ini menjadi tempat saya berkonsultasi mengenai kesehatan saya, mengatakan bahwa tidak ada hal serius yang perlu saya kuatirkan. Beliau memberi saya obat untuk menurunkan kadar asam dari lambung saya, sambil mengingatkan untuk tidak lupa berolah raga. Sebagai seorang Kristen, saya juga berdoa dengan tekun pada Tuhan dalam menghadapi penyakit yang saya derita ini.

Tetapi setelah melewati beberapa hari, ternyata penyakit tersebut tidak kunjung meninggalkan perut saya. Perasaan tersiksa,terganggu, kesal dan khawatir berkecamuk dalam hati saya. Berbagai macam pikiran muncul di kepala saya: jangan-jangan ini kanker, jangan-jangan ada kelainan ginjal, jangan-jangan saya telah berdosa, dan “jangan-jangan” lainnya yang datang bertubi-tubi. Situasi ini malah kian memperburuk kondisi saya saat itu, karena ternyata produksi asam lambung saya meningkat karena stres. Pada saat itu yang ada dalam benak saya adalah bagaimana agar secepatnya saya bisa sembuh dari penyakit ini.

Ketika kita tengah berada dalam sebuah pergumulan, hal paling umum yang kita lakukan tentunya adalah berdoa kepada Tuhan. Entah kita minta agar iman kita dikuatkan dalam menghadapi masalah itu atau bahkan dengan tegas memohon agar Tuhan menyingkirkan beban tersebut. Dan tatkala hal itu masih terus terjadi dalam hidup kita, berbagai macam sikap mulai muncul dari diri kita. Kita mungkin mempertanyakan kehadiran Tuhan, mencari tahu apakah doa kita salah, minta pertolongan orang lain untuk turut mendoakan pergumulan kita, atau bahkan mencoba berjudi dengan mencari pertolongan “di luar” Tuhan dengan dalih siapa tahu hal tersebut dipakai-Nya untuk menyelesaikan pergumulan kita.

Saya teringat pada sebuah peristiwa yang dialami oleh Yesus ketika Dia bertemu dengan 10 orang sakit kusta, yang kemudian disembuhkan-Nya. Saya membayangkan apa yang dialami oleh para penderita sakit kusta tersebut sebelum bertemu dengan Yesus. Terbuang, tersisihkan, ditolak, dan tentunya juga didera rasa sakit yang luar biasa. Tetapi pada suatu kesempatan ketika mereka bisa bertemu dengan Yesus, mereka mendapat peluang emas untuk sembuh. Memang Yesus tidak serta merta menyembuhkan mereka, tetapi melalui sebuah proses. Yesus meminta mereka untuk menemui para imam, karena hanya para imamlah yang dapat memberi legitimasi bahwa para penderita ini sembuh dari sakit kusta. Dalam perjalanan menuju ke tempat para imam itulah mereka sembuh.

Cerita ini menarik buat saya, karena pertama-tama, iman para penderita kusta itu begitu besar. Seandainya mereka tidak percaya pada apa yang disampaikan oleh Yesus karena tidak mengalami kesembuhan seketika, bahkan lalu memilih untuk pergi ke tempat lain, mungkin mereka tidak akan pernah sembuh seumur hidup mereka. Namun ternyata mereka tidak khawatir bahwa Yesus akan membohongi mereka. Mereka tidak takut bahwa setibanya mereka di hadapan para imam, ternyata mereka tetap sakit kusta. Tidak ada keraguan sama sekali.

Hal kedua adalah sikap dari salah satu penderita kusta tersebut yang ketika menyadari bahwa dirinya telah sembuh, lebih memilih untuk kembali menemui Yesus dan sujud menyembah di kaki-Nya untuk mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa syukur. Ia tidak mementingkan legitimasi dari para imam yang sangat dibutuhkan dalam perjalanan hidup selanjutnya agar ia dapat berbaur dengan orang lain, bekerja, ataupun menjadi pelayan Tuhan.

Saya lalu bercermin pada diri saya sendiri. Saya sungguh merasa kecewa dengan sikap saya yang ternyata dipenuhi kekhawatiran dan keraguan pada saat saya sakit. Seorang dokter dengan keahliannya telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang penyakit saya, tetapi saya tetap khawatir. Ketika saya berdoa, dan terus berdoa tetapi penyakit tersebut belum hilang juga, saya mulai bertanya-tanya banyak hal tentang kehadiran Yesus dalam hidup saya. Dan kemudian pada saat saya menemukan diri saya sudah sembuh, saya melewatinya dengan begitu saja seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang istimewa. Saya sembuh ya karena saya sudah minum obat sekian lama. Saya lupa akan satu hal sederhana dalam doa-doa saya, yaitu mengucapkan terima kasih atas kesembuhan itu. Saya sibuk mendoakan orang lain, melakukan kegiatan-kegiatan di gereja, di tempat pekerjaan, di tengah keluarga, dan sebagainya, tetapi lupa untuk bersyukur atas pulihnya kesehatan saya.

Ketika akhirnya saya sampai di gereja sore itu, saya lalu berharap bahwa pengemis tua tadi tidak bersikap seperti saya, bahkan bila ia tuli, bisu, menderita gangguan jiwa, atau hal lainnya. Walaupun tidak ada ucapan terima kasih yang terlontar dari mulutnya, saya berharap agar ia mengucapkannya di dalam hatinya, atau bahkan menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan dalam doa-doanya.

Saya sungguh bersyukur bahwa dalam kemacetan yang mengesalkan itu, Tuhan mau pakai sebuah peristiwa yang saya alami untuk mengingatkan saya betapa Tuhan begitu besar dan mengasihi saya, sementara saya begitu bodoh dan alpa sehingga lupa untuk melakukan hal sederhana dalam hidup saya, yaitu mengucap syukur dan berterima kasih atas kesembuhan saya.

Marilah kita berani untuk melakukan hal-hal yang sederhana dalam hidup ini dengan fokus kepada Tuhan Yesus. “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16-10a).

 

Eko Prasudi Widianto

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan