Pendidikan di Zaman Yesus, Sudah Ketinggalan Zaman?

Pendidikan di Zaman Yesus, Sudah Ketinggalan Zaman?

4 Komentar 4 Views

PENDIDIKAN DI ZAMAN YESUS

Apakah Yesus pergi ke sekolah? Apakah Yesus les matematika dan musik? Apakah Yesus pergi bermain kelereng dengan teman-temannya? Alkitab memang tidak menceritakan hal itu. Tetapi beberapa kebiasaan yang terjadi di zaman Yesus setidaknya dapat menceritakan apa yang terjadi, khususnya mengenai pendidikan Yesus pada waktu Ia kecil.

Memang Alkitab tidak mencatat kehidupan kanak-kanak Yesus. Kita hanya tahu bahwa setelah Ia diserahkan di Bait Allah dan ditantang oleh Opa Simeon, kisah kanak-kanaknya nihil di Alkitab. Baru setelah Ia berusia 12 tahun, dikisahkan bahwa Ia kembali pergi ke Bait Allah bersama orangtuanya.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin Yesus berdialog dengan para ahli di Bait Allah jika Ia tidak belajar apa-apa sepanjang masa kanak-kanaknya. Seperti anak-anak Yahudi di zaman Yesus, Yesus rupanya juga berguru dari ayahnya. Pada masa itu, seorang ayah bukan hanya berfungsi sebagai orangtua tetapi juga sekaligus sebagai guru bagi anak-anaknya. Seorang ayah bertanggungjawab mengajarkan Taurat dan menceritakan tradisi Yahudi kepada anak-anaknya. Menurut Talmud Yerusalem, sekolah yang didirikan oleh Raja Alezander Yanaeus pada abad pertama SM hanya dibuka untuk anak-anak yang tidak berayah lagi (anak yatim). Di sekolah itu, peran ayah yang hilang di dalam keluarga digantikan secara sempurna oleh para pengajarnya. Itu sebabnya, sampai usia 12 tahun bisa kita simpulkan bahwa Yesus tidak bersekolah karena ia masih memiliki ayah.

Sejak anak-anak berusia 5 tahun, para ayah bukan hanya mengajar mereka membaca dan menulis, tetapi juga membaca Taurat. Tidak heran bahwa pada saat anak-anak berusia 10 tahun, mereka dapat bersikap kritis terhadap hukum yang ada di Yahudi. Sebab di usia 10 tahun, anak-anak juga memelajari komentar-komentar orang bijak mengenai Kitab Suci.

ZAMAN YESUS DENGAN ZAMAN ANAK-ANAK KITA

Membandingkan zaman Yesus kecil dengan zaman anak-anak kita saat ini, tentulah sangat jauh berbeda. Kini para ayah sibuk bekerja untuk mencari nafkah. Mereka sepertinya total dikenal sebagai provider dan bukan teacher. Apalagi sejak kita memercayakan anak-anak kita kepada guru-guru di sekolah, guru les privat atau guru di tempat kursus. Kita merasa bahwa jika anak kita tidak mendapat nilai yang baik, kesalahan sepenuhnya adalah pada pengajarnya, dan bukan anak kita yang kurang memadai kecerdasannya.

Di zaman Yesus, anak-anak yang memiliki ayah tidak bersekolah, karena sekolah hanya terbatas untuk menggantikan peran ayah bagi anak-anak yang tidak memiliki ayah. Di zaman kita, justru banyak anak yang tidak memiliki ayah sulit menikmati pendidikan di sekolah-sekolah formal jika ibu mereka tidak dapat membiayai pendidikan mereka.

Di zaman Yesus, anak-anak belajar Taurat sebagai pelajaran utama dan bukan baca tulis sebagai kurikulum utamanya. Di zaman ini, anak-anak harus dapat baca tulis bahkan sebelum mereka mengenal Alkitab.

Di zaman Yesus, anak-anak usia SD sudah dapat memahami hukum, Taurat dan komentar-komentar orang bijak mengenai Kitab Suci. Di zaman anak-anak kita, mereka sibuk dengan pelajaran di sekolah sampai-sampai untuk mencari kitab Mazmur, Matius atau Markus pun mereka tidak bisa membedakan mana yang ada di Perjanjian Lama dan mana yang ada di Perjanjian Baru.

SEMUANYA TUGAS GURU AGAMA?

Bagaimana dengan guru-guru agama? Apakah peran mereka sekarang? Guru agama di dalam Sekolah Kristen berfungsi sebagai guru yang khusus mengajarkan isi Alkitab. Berdasarkan kurikulum yang sudah disusun, mereka bukan hanya sekadar mengajarkan anak-anak kita membaca Alkitab, tetapi juga memahami pesan Tuhan secara sederhana. Di samping itu, guru agama bertugas membuat anak-anak lebih memahami cerita Alkitab secara detail, bahkan berinteraksi untuk menemukan pesan moral di dalamnya. Tak jarang guru-guru agama juga memberikan pengajaran dan penilaian tambahan untuk masalah karakter atau tingkah laku anak, sebab seorang anak yang memahami firman Tuhan setidaknya diharapkan memiliki perilaku yang sesuai dengan pesan Tuhan itu.

Namun apakah peran guru-guru agama sudah dianggap cukup untuk menggantikan peran ayah seperti di zaman Yesus? Saya kira, tidak! Para guru (minta maaf) tidak dapat menggantikan peran ayah di rumah untuk membesarkan anak-anak sehingga anak-anak takut akan Tuhan. Sebab ketika para ayah di zaman Yesus mengatakan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu,” anak-anak mereka dapat langsung melihat kecintaan ayah mereka kepada Tuhan pada saat makan bersama, pada saat menyelesaikan masalah yang ada dalam rumah tangga, dan bahkan pada saat menghadapi anggota keluarga yang sakit. Dengan kata lain, model ayah sebagai pelaku firman akan lebih berbicara daripada (sekali lagi maaf) para guru yang hanya berhadapan dengan anak secara formal.

Selain guru-guru di Taman Kanak-kanak, saya kira tidak ada guru di Sekolah Dasar yang masih memangku anak-anak didiknya, atau mencium mereka sebagai tanda kasih sayang, atau memeluk saat si anak berbuat salah. Tetapi di rumah? Seorang ayah, sampai anak-anak mereka berusia dewasa sekalipun, dapat melakukan ketiga hal di atas sebagai bukti bahwa mereka mengasihi anak-anak mereka. Hanya orangtua yang mengasihi anaknya sedemikian itulah yang berhak memberikan disiplin dan hukuman yang dapat dirasakan anaknya sebagai hukuman yang dilakukan dengan penuh cinta.

Tentu saja argumen di atas bukan hendak menyudutkan atau mengecilkan fungsi guru agama di sekolah, melainkan hendak memberitahukan para orangtua atau para ayah, bahwa sesungguhnya fungsi ayah di zaman Yesus masih diperlukan oleh anak-anak di zaman ini. Dan bahwa peran guru agama atau guru lainnya di sekolah tidak dapat menggantikan peran ayah yang mulia itu.

PERAN AYAH MASA KINI

Lalu pertanyaannya, apa peran ayah di zaman Yesus masih relevan di zaman ini? Taurat di zaman kini dapat kita samakan dengan Alkitab yang kita miliki, sedangkan hukum yang dipelajari anak-anak di zaman Yesus boleh juga kita samakan dengan berbagai ajaran karakter yang juga diajarkan di berbagai sekolah anak-anak kita. Selain itu, komentar-komentar orang bijak di zaman Yesus dapat kita samakan dengan ajaran kitab Amsal yang kaya akan nasihat-nasihat bagi kehidupan.

Masalahnya, bukan hanya tiga hal itu saja yang diajarkan oleh ayah pada zaman Yesus. Di dalam Ulangan 6:7-9 misalnya, para ayah memiliki kesempatan untuk mengingatkan dan meneladani ajaran mereka kepada anak-anak:

  1. Saat mereka duduk bersama atau duduk-duduk bersama di rumah
  2. Saat mereka berada di dalam perjalanan
  3. Saat mereka berbaring dan bangun tidur
  4. Sebagai simbol di tangan mereka
  5. Sebagai lambang di dahi mereka
  6. Sebagai tulisan di pintu rumah dan pintu gerbang

Berpedoman pada kebiasaan para ayah di zaman Yesus (di zaman orang Yahudi juga), para ayah di zaman ini setidak-tidaknya dapat melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Saat kita duduk bersama atau duduk-duduk bersama dengan anak di rumah, jauhkanlah tontonan dan mainan dari genggaman kita, atau lebih tepatnya, sediakanlah waktu setiap hari untuk duduk atau duduk-duduk bersama anak di rumah. Genggamlah sebuah buku pedoman, buku bacaan rohani, buku yang dapat dijadikan pegangan ajaran atau Alkitab. Bacakanlah itu sesuai dengan kapasitas atau kemampuan konsentrasi anak. Nyatakanlah pesannya bagi kehidupan anak dan terapkanlah ajaran tersebut bersamanya.
  2. Saat orangtua dan anak-anak berada di dalam perjalanan, di bus, mobil, pesawat atau lainnya, nyanyikanlah lagu-lagu sederhana yang membangun iman dan keyakinan anak-anak bahwa orangtua mereka beriman dan mencintai Tuhan. Lakukanlah itu berulang-ulang sehingga menjadi lagu favorit keluarga. Percayalah, lagu-lagu itu akan diingat anak seumur hidup mereka.
  3. Saat anak-anak berbaring dan bangun tidur, sapalah mereka dengan ungkapan cinta. Hafalkanlah ayat-ayat hafalan bersama atau ceritakanlah kisah-kisah masa lalu orangtua yang berharga untuk mereka inggat. Pengalaman baik dan buruk memperkaya anak-anak untuk mengetahui bahwa hidup ini harus dijalankan bersama Tuhan dan untuk Tuhan.
  4. Sebagai simbol di tangan, di dahi, di pintu dan pintu gerbang rumah. Simbol-simbol yang mengingatkan anak-anak untuk mencintai Tuhan dan mencintai sesama merupakan pelajaran yang sangat berharga di alam kehidupan mereka. Foto-foto keluarga, tulisan-tulisan yang membangun atau hadiah-hadiah yang disiapkan bersama mereka untuk orang-orang yang dikasihi dan orang-orang yang membutuhkan, merupakan penerapan dari ajaran yang keluar dari mulut orangtua.

Apakah kita sebagai orangtua, khususnya ayah, mau meyakini bahwa peran ayah di zaman Yesus, masih relevan bagi kita di zaman ini? Tuhan memberkati perenungan kita. [Pdt. Riani Josaphine]

4 Comments

  1. Deborah C.

    Selamat sore Ibu Riany yang terkasih,

    Saya sangat setuju dengan tulisan yang terurai di atas. Saya bersyukur dibesarkan oleh orang tua yang kedua-duanya sangat setia dan rajin membimbing kami anak-anaknya untuk mengenal dan mengasihi Tuhan.
    Kalau boleh saya sedikit beropini, bisa jadi mungkin di dua puluh tahun mendatang, bukan saja peran ayah yang menipis atau bahkan hilang, peran ibupun akan mulai menghilang. Tuntutan ekonomi membuat kaum ibu dan ayah akan sangat sibuk di luar rumah mencari nafkah, ditambah lagi kemajuan teknologi yang juga akan membuat hubungan kontak langsung antar bersaudarapun akan hilang, semuanya dapat dilakukan di dunia maya (ya kan bu??!!).
    Saya juga agak ngeri membayangkan mutu orang tua di masa mendatang. Dan mutu tersebut menurut saya salah satu penyebabnya adalah juga program pendidikan yang dibuat oleh Pemerintah. Ibu bisa mengamati sendiri, Pemerintah menghilangkan adanya pelajaran moral Pancasila, pelajaran Agama lebih dituntut kepada pengetahuan Theologia, bukannya keimanan dan ketaqwaan. (Semoga yang ini saya salah besar ya Bu).
    Tapi terus terang Bu, dan inilah juga yang menjadi pergumulan saya. Saya dan suami sama-sama bekerja, dan banyak sekali tuntutan administrasi yang harus kami buat meski kami berbeda jenis pekerjaan. Kami harus berjuang mengatur waktu agar kami atau salah satu di antara kami (lebih sering sich saya) tetap dapat membawa anak-anak untuk semakin dapat mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus yang adalah Juruselamat mereka. Saat mereka bermain, dan hendak tidur malam, hanya inilah kesempatan saya.
    Baik Bu Riany, demikian komentar saya. Kalau bukan karena doa dari para hamba Tuhan dan doa orang-orang yang setia berdoa bagi pergumulan dunia, kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keadaan seluruh Jemaat Tuhan.
    Kiranya Tuhan senantiasa memberi kekuatan, kesetiaan, kesukacitaan, dan berkat yang melimpah untuk Ibu Riany sekeluarga, seluruh hamba Tuhan, dan seluruh Pendoa Syafaat dalam menjalankan visi dan misi Kerajaan Allah. Amin.

  2. timoty.shores

    Saya mendukung ibu pdt.Riani Josaphine yang selalu mepedulikan pendidikan anak-anak sekolah minggu dan terus memotivasi para orangtua dalam hal pendidikan kerohanian anak-anak

    Pendapat saya alasan kurangnya peran ayah/orangtua dalam pendidikan anak masa kini dalam keKristenan
    bukan saja zaman yang berbeda tapi juga pengaruh teology anti Yahudi/anti Torah sebagai akibat tercabutnya iman Kristen dari akar aslinya yaitu akar ibrani pada abd 2Ms. sehingga keKristenan beralih ke Yunani (Helenis) serta tidak dipahaminya pengertian TORAH dari surat-surat Rasul Paulus sehingga rumor pembatalan Torah lebih mengemuka ketimbang harus ditaati.

    Maka untuk menjadi ayah/orangtua yang sessuai dengan Alkitab,maka ayah/orangtua HARUS BERTOBAT,LAHIR BARU MENERIMA YESUS KRISTUS YANG ADALAH TORAH YANG HIDUP ITU SEBAGAI TUHAN,RAJA DAN JURUSLAMAT PRIBADI,SERTA TAAT KEPADA FIRMAN KRISTUS.

  3. nuryanto

    apabila dibilang sampai usia 12tahun Yesus tidak sekolah maka saya tidak setuju. perkenankan saya menyampaikan suatu informasi yang mungkin dapat berguana bagi kita.

    Di negeri-negeri yang ketika itu sudah berkebudayaan tinggi seperti Tiongkok, India, Romawi, Yunani dan Mesir sudah ada sekolah sejak ratusan tahun sebelum zaman Tuhan Yesus. Israel pada zaman itu tidak tergolong berkebudayaan tinggi, namun sudah mempunyai sistem pendidikan non formal yang ampuh dan kemudian pun mempunyai sistem persekolahan formal.

    menurut catatan sejarah, di Israel sekolah formal yang pertama muncul sekitar tujuh puluh tahun sebelum zaman Tuhan Yesus. pada waktu itu bahasa ibrani yang digunakan kitab-kitab suci agama Israel (yg sebagian kini menjadi Perjanjian Lama orang Kristen) tidak berlaku lagi sebagai bahasa pergaulan. akibatnya banyak orang tua tidak cakap mengajarkan bahasa ibrani kepada anak-anak mereka padahal bahasa ibrani merupakan kebutuhan mutlak untuk mampu mengerti kitab-kitab suci. itulah penyebab lahirnya sekolah di Israel. yang diterima di sekolah itu adalah anak laki-laki berusia enam tahun ke atas. mata pelajaran utama adalah menulis dan membaca bahasa ibrani dan bahan bacaannya adalah kitab-kitab suci. itu sebabnya sekolah ini disebut Beth Hassjefer yang berarti Rumah Kitab.

    pada waktu Tuhan Yesus berusia matang sekolah, besar kemungkinan bahwa di Nazaret, kota kediamanNya, sudah ada sekolah semacam itu. kita dapat membuat dugaan semacam itu karena di Markus 6 tertulis bahwa di kota Nazaret terdapat sebuah sinagoge atau rumah ibadat. biasanya sinagoge digunakan sebagai sekolah sepanjang pekan. jika jumlah murid terlalu banyak, biasanya gedung sekolah dibangun di sebelah sinagoge.

    seandainya di Nazaret pada waktu itu belum ada sekolah, ada kemungkinan bahwa Yesus sebagai anak berusia sekitar sepuluh tahun bersekolah di kota lain. tidak jauh dari situ ada kota besar Japha yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dalam tiga puluh menit. ke arah utara ada kota Sepphoris, sebuah kota yang pada waktu Yesus berusia sepuluh tahun dibumihanguskan oleh pasukan romawi karena penduduk kota itu memberontak. ada kemungkinan bahwa Yesus membantu ayahnya sebagai tukang kayu yang membangun kembali kota tersebut. jika demikian halnya, besar kemungkinan bahwa Yesus bersekolah di kota itu, karena pada umumnya anak Israel pada zaman itu bersekolah sambil bekerja membantu mata pencaharian orang tua mereka.

    kecendurangan kita untuk menduga bahwa Tuhan Yesus pernah bersekolah terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa Ia mengusai bahasa-bahasa asing dengan baik. bahasa ibu Tuhan Yesus adalah bahasa Aram. tetapi Gunther Bornkamn, seorang pakar Perjanjian Baru menyimpulkan dalam bukunya Jesus of Nazaret bahwa Tuhan Yesus mengusai bahasa Ibrani klasik yang digunakan dalam kitan-kitab suci, bahasa ibrani rabinik yang digunakan kalangan golongan terpelajar dan bahasa Yunani sebab terbukti Tuhan Yesus mampu berdiskusi dengan para ahli Torat tentang kitab-kitab klasik. Pengusaan Tuhan Yesus bukan hanya dalam hal bahasa melainkan juga dalam hal isi kitab-kitab klasik. Lewis Sherrill, seorang pakar Pendidikan Agama Kristen, dalam buku The Rise of Christian Education menyimpulkan bahwa Tuhan Yesus bukan hanya mengusai kitab-kitab suci Yahudi yang terbatas, melainkan juga tulisan-tulisan klasik sekarang disebut apokrifa pseudopigrafa. Sherrill cenderung menyimpulkan bahwa Tuhan Yesus terus bersekolah sambil bekerja sebagai tukang kayu pada masa usia remaja dan pemuda, mungkin di sekolah lanjutan yang formal atau belajar secara pribadi dari guru-guru tertentu. Pada zaman Tuhan Yesus memang sudah ada sekolah lanjutan yaitu Beth Hammidrasj atau Beth Talmud sebagai lanjutan dari Beth Hassjefer yang bertingkat sekolah dasar. Dari kitab-kitab Injil memang tampak bahwa Tuhan Yesus mengusai isi banyak kitab klasik agama Yahudi yang sering dikutip-Nya di luar kepala.

    Besar juga kemungkinan bahwa Tuhan Yesus kuat dalam pengusaan bahasa dan isi kitab-kitab suci karena membiasakan diri untuk hadir di sinagoge pada setiap hari Sabat. Di Lukas 4:16 tertulis, “ Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat…” kata-kata “menurut kebiasaan-Nya” tidak menunjukkan kapan Tuhan Yesus memulai kebiasaan ini, namun dapat diduga bahwa sama seperti banyak orang tua lainnya, Yusuf dan Maria sudah membiasakan Yesus ikut ke sinagoge tiap hari Sabat sejak usia anak yang dini, yaitu sekitar usia empat tahun.

    Di Lukas 2: 41-52 diceritakan bahwa pada usia dua belas tahun, Tuhan Yesus mengambil prakarsa sendiri untuk ikut dalam suatu pelajaran dan diskusi di Bait Allah di Yerusalem. Perhatikan istilah-istilah yang digunakan untuk menggambarkan Yesus yang berusia dua belas tahun ini: “Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengarkan Dia sangat heran akan kecerdasanNya dan segala jawab yang diberikanNya.” Dengan jelas di sini Yesus digambarkan sebagai anak yang cerdas.

    Cerita tentang Tuhan Yesus sebagai anak berusia dua belas tahun itu adalah catatan terakhir dalam kitab Injil tentang masa kecilNya. Segera setelah itu laporan melompat ke cerita Yesus pada usia sekitar tiga puluh tahun. Jadi ada “masa bungkam” sepanjang delapan belas tahun tentang Tuhan Yesus yang tidak ada keterangannya dalam kitab-kitab Injil. Apa yang diperbuat Yesus antara usia dua belas tahun sampai tiga puluh tahun? Dari penelitian para pakar Alkitab kita dapat menyimpulkan bahwa di samping bekerja sebagai tukang kayu agaknya Yesus terus belajar baik melalui tatap muka dengan guru secara perorangan maupun melalui buku-buku yang dipinjamNya dari guru itu atau dari sinagoge.

    Ketika kemudian para Penulis Injil melaporkan awal pekerjaan Yesus, mereka mencatat bahwa Yesus mengajar “sebagai orang yang berkuasa” (Mrk 1:222, Yunaninya: oos exousian echoon = sebagai mempunyai wibawa). Di sini wibawa bukan terutama menunjuk kepada gaya retorika (pidato) Yesus, melainkan kepada kedalaman dan keluasan isi pengajaranNya yang memang secara mencolok menunjukkan bahwa Yesus sangat pandai dan berpengetahuan luas.

  4. Pdt Riani Josaphine

    Ytk Ibu Deborah C, terima kasih untuk masukannya. Saya setuju bahwa keluarga perlu merencanakan bagaimana pendidikan iman anak ditangani oleh ayah dan ibunya. Semoga kita diberikan hikmat oleh Tuhan untuk mengatasinya. Termasuk juga gereja, sebagai tempat dimana anak-anak dapat juga dibina.

    Ytk Bapak Nuryanto, terima kasih juga untuk analisanya tentang keadaan sekolah di jaman Yesus. Tentu sangat memperkaya pembaca. Jika alternatif analisa bapak yang saya jadikan landasan, itu berarti benar-benar para ayah masa kini pun perlu lebih bersungguh-sungguh memikirkan pendidikan bagi anak tanpa meninggalkan pentingnya pendidikan iman di luar rumah. Semoga kita semua mendapat hikmat dari Tuhan untuk melakukannya. Tuhan memberkati!

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
  • Pembentukan  Mental Anak
    Pembentukan Mental Anak
    Fungsi dan Peran Orangtua Dalam Mempersiapkan Lahannya
    Sambil menangis sesenggukan Shanty bercerita bahwa ia baru memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih tinggal di rumah saja mengasuh...
  • Keep Moving, Moving and Moving
    Keep Moving, Moving and Moving
    Saat kampanye Pilpres yang baru lalu, salah satu Calon Wakil Presiden yang telah berusia 72 tahun harus menjelajahi kota-kota/desa-desa...
  • Kegelisahan Melekat Pada Manusia
    Kegelisahan Melekat Pada Manusia
    Kegelisahan yang dialami manusia, sudah ada sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Bahkan hal ini dialami setiap manusia...
  • Pohon Keluarga
    Pohon Keluarga
    sebuah upaya memahami sikap dan perilaku pasangan melalui metode ‘pengungkapan atau pembukaan diri’
    Pasangan suami istri sering tanpa sadar terjebak dalam konflik. Meskipun bentuk konfliknya berbeda namun akar masalahnya acap kali sama....
  • Rentannya Ikatan Keluarga
    Rentannya Ikatan Keluarga
    Adalah sebuah kenyataan jika “nasib” keluarga terhempas oleh realitas zaman. Survei yang dilakukan Stephen Covey dalam konteks Amerika Serikat,...
Kegiatan