berbuah

Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat

Belum ada komentar 32 Views

Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam atau di luar gereja. Terlalu seringnya kata-kata itu dipakai, sampai-sampai terjadi devaluasi makna “pelayan” dan “pelayanan”. Kerap tak lagi terasa geregetnya. Bahkan ada akibat yang lebih parah lagi. Apa itu? Saya akan jelaskan nanti. Namun, pertama-tama, perlulah kita melihat untuk konteks apakah kata “pelayan” atau “hamba” dipergunakan oleh Yesus.

Di dalam Markus 10:42, Yesus berkata, “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ‘Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.’” Inilah kepemimpinan-tuan. Cirinya sederhana: Yang di atas menekan yang di bawah. Yang di tengah juga menekan yang di bawah dan mengabdi yang di atas. Strukturnya seperti piramida yang menjulang ke atas. Bentuk kepemimpinan ini adalah budaya umum di dalam masyarakat kita: suami atas istri, orangtua atas anak, bos atas bawahan, pejabat gereja atas warga gereja, dan sebagainya.

Terhadap kepemimpinan-tuan ini, Yesus mengajukan kritik yang sangat pedas sekaligus alternatif untuk menolaknya. Di dua ayat sesudahnya, Dia berkata, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk. 10:43-44). Inilah yang saya sebut kepemimpinan-hamba. Ia tampil sebagai budaya tandingan terhadap budaya umum yang diwarnai oleh kepemimpinan-tuan. Strukturnya seperti sebuah piramida sungsang atau terbalik. Siapa yang ingin menjadi pemimpin, ia harus menjadi pelayan.

Itulah cikal-bakal dari pemakaian kata “pelayan” “atau “hamba” dalam gereja sampai kini. Indah bukan? Nanti dulu! Konsep kepemimpinan-hamba ini fungsi utamanya hanya untuk menolak kepemimpinan-tuan. Jika kepemimpinan-tuan dapat digambarkan seperti bakteri yang membuat radang tubuh kita, maka kepemimpinan-hamba bagaikan antibiotik yang membinasakan bakteri tersebut. Fungsinya memang menjadi sebuah perlawanan. Harus ada yang dilawan agar kepemimpinan-hamba berfungsi dengan baik. Nah, bagaimana jika yang dilawan itu hilang? Bagaimana jika bakteri itu akhirnya mati? Tentu, kita harus juga berhenti memakai antibiotik. Kita tidak boleh terus-menerus meminum antibiotik itu. Kita harus menggantinya dengan makanan-makanan bernutrisi.

Nah, yang terjadi di dalam gereja sekarang adalah bahwa kepemimpinan-hamba terus-menerus dipergunakan dan alhasil—anehnya!—ia malah bersinergi dengan kepemimpinan-tuan. Kepemimpinan-tuan sebagai penyakit komunitas itu muncul lagi dan bahkan lebih hebat pengaruhnya, sebab ia memakai topeng kepemimpinan-hamba. Lihatnya buktinya dalam cara memimpin banyak pemimpin di gereja … diperlakukan khusus dengan penuh hormat, diistimewakan, dan didahulukan.

Lantas bagaimana kita harus merancang pola kepemimpinan yang ideal? Yesus sendiri menjelaskan kepemimpinan ideal yang diinginkan-Nya. Di dalam Yohanes 15:15, Dia berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Bukan lagi hamba melainkan sahabat. Yesus menegaskan bahwa seorang pemimpin bukan lagi dipandang sebagai hamba atau pelayan, namun sahabat. Kepemimpinan-sahabat adalah kepemimpinan meja-bundar, kepemimpinan setara, dan kepemimpinan penuh kegembiraan. Orang lain yang kita pimpin adalah sahabat-sahabat kita. Dia yang memimpin kita adalah sahabat kita … Dan semua itu dimungkinkan karena Kristuslah Sang Sahabat Utama.

Lantas, bagaimana dengan kepemimpinan-hamba, jika kita akhirnya mengadopsi kepemimpinan-sahabat sebagai model ideal kita? Tentu kita ingat bahwa kepemimpinan-hamba adalah model tandingan bagi kepemimpinan-tuan. Selama para tuan itu ingin selalu berkuasa dan malah merembeskan pengaruhnya ke dalam gereja, kepemimpinan-hamba akan selalu tetap dibutuhkan untuk menandinginya. Kita harus selalu menampilkan sikap kritis terhadap dunia yang selalu berusaha menegaskan piramida kepemimpinan yang menindas tersebut. Namun, jangan pernah menggantungkan diri pada kepemimpinan-pelayan saja, sebab ia bisa sama destruktifnya dengan apa yang dilawannya, yaitu kepemimpinan-tuan. Dengan kata lain, kepemimpinan-hamba adalah wajah sosial gereja yang menentang piramida kekuasaan di dunia; sementara itu, kepemimpinan-sahabat adalah wajah komunal gereja, yang berjuang mewujudkan persekutuan para sahabat yang setara, yang diikat oleh cinta Sang Sahabat, yaitu Kristus.

>> Joas Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • Walau Ditolak …
    Pernahkah Anda ditolak? Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Ketika permintaan Anda ditolak oleh seseorang, Anda masih dapat mengatakan kepada...
  • GEREJA: Rumah Kita RUMAH: Gereja Kita
    Ketika kita berbicara tentang ‘gereja’ maka itu berarti kita sedang berbicara tentang ‘persekutuan’, dan bukan ‘gedung’. Sedangkan saya memahaminya...
  • berbuah
    Hidup untuk Berbuah
    “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah….” (Filipi 1:22) Hidup di dalam...
  • KAMI SIAP BERUBAH Sesuai Kehendak Tuhan
    Seorang anggota jemaat bertanya kepada saya tentang kehendak Tuhan untuk rumah tangga dan pekerjaannya. Spontan saya menjawab: “Saya tidak...
Kegiatan