Peduli (Lagi) dan Lagi-Lagi Peduli

Peduli (Lagi) dan Lagi-Lagi Peduli

Belum ada komentar 3 Views

Visi dan Misi GKI Pondok Indah 2011–2121, masih mencantumkan kata PEDULI, kata yang sama yang juga tercantum dalam Visi dan Misi GKI Pondok Indah yang lalu. Artinya, kepedulian masih menjadi prioritas GKI Pondok Indah, setidaknya dalam sepuluh tahun ke depan.

Dalam penjelasan tentang Misi GKI Pondok Indah, terlihat banyak sekali aspek kepedulian yang ingin diwujudkan, baik melalui Persekutuan, Kesaksian maupun Pelayanan, antara lain: Kepedulian melalui kesaksian; Persekutuan yang saling menghargai, menghormati, hangat dan peduli; Persekutuan yang menjadi perjumpaan antar warga jemaat; Persekutuan yang juga menghargai perbedaan; Persekutuan untuk mengaktualisasikan diri; Persekutuan yang dirawat melalui penggembalaan yang memulihkan relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya.

Aspek-aspek tersebut sangat baik adanya dan tentu nantinya akan terlihat dalam program-program kegiatan Komisi yang mengarah kepada upaya mewujudkan aspek-aspek kepedulian tersebut.

Rasa peduli atau kepedulian bukan hanya diwujudkan dengan mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan atau Panti Wreda dan membagikan bingkisan dalam rangka Natal atau Paska. Kepedulian bukan semata-mata dinyatakan dalam memberikan sumbangan kepada mereka yang terkena musibah, entah itu kebakaran, kebanjiran atau gempa. Kepedulian bukan sekadar dinyatakan dalam membagi-bagikan sembako kepada mereka yang membutuhkan.

Apakah setelah kita membagikan bingkisan, memberikan sumbangan dan membagikan sembako, artinya kita sudah memiliki kepedulian? Hemat saya, kegiatan-kegiatan sebagaimana yang disebutkan di atas, bukan lagi menjadi bagian dari kepedulian, tetapi sudah merupakan kewajiban!

Memang tidak mudah untuk menumbuhkan rasa peduli dalam diri manusia. Perlu adanya upaya yang terus-menerus sehingga rasa peduli tersebut menyatu dengan individu para jemaat, bukan sekadar kesadaran atau pengetahuan semata.

Rasa peduli atau kepedulian perlu ada dan tertanam dalam diri masing-masing individu. Kalau sikap dan rasa peduli ini sudah tertanam, maka secara otomatis kita akan menampilkan perilaku peduli terhadap sesama dan lingkungan.

Contohnya, kita tidak lagi membuang sampah sembarangan, apalagi meninggalkan tisu atau bungkus permen di bangku gereja, atau membuang sampah di bawah lonceng gereja setelah kebaktian selesai (entah mengapa, tempat sampah yang biasanya ada di plasa, sekarang tidak terlihat lagi). Kita tidak lagi parkir seenaknya sehingga menghalangi mobil lain. Kita tidak akan menarik rem tangan atau memasukkan gigi persneling pada waktu parkir, sehingga mobil bisa didorong dan tidak menghalangi mobil lain yang akan keluar dari lapangan parkir. Kita tidak lagi melanggar lampu merah walaupun lalu lintas pada saat dalam keadaan sepi. Kita tidak lagi menyeberang jalan di tempat yang tidak diperbolehkan, dan bersedia serta rela untuk berjalan sedikit lebih jauh. Kita akan rela untuk antre dalam hal apapun, apakah ketika menunggu taxi, membeli tiket, bahkan ketika antre makan di resepsi pernikahan.

Kita juga akan selalu mempunyai pemikiran-pemikiran yang positif sehingga dapat menghargai dan menerima pendapat orang lain. Kita dapat memberikan senyuman kepada semua orang, sekalipun kepada orang yang belum kita kenal. Kita tidak akan datang terlambat atau “berSMS ria” di saat kebaktian. Kita akan dengan sukarela membantu dan berbagi tempat dengan sesama jemaat di kebaktian. Kita juga akan menghargai orang lain dengan tidak mengobrol, apalagi dengan suara keras, dalam kebaktian. Kita juga tidak saling menyerobot ketika keluar dari tempat parkir.

Nah, yang perlu dipikirkan oleh Majelis Jemaat bersama-sama dengan jemaat adalah bagaimana kita bisa menanamkan rasa peduli tersebut dalam diri kita masing-masing. Program dan kegiatan apa yang akan dibuat untuk menanamkan rasa peduli jemaat. Apa yang harus kita lakukan dan apa yang kita perlukan agar rasa peduli tersebut bisa tertanam dalam diri kita sehingga kita senantiasa mempunyai sikap dan pemikiran yang positif, sehingga Visi dan Misi GKI Pondok Indah, khususnya untuk aspek kepedulian dapat tercapai.

Janganlah rasa peduli kita terganggu atau berkurang, hanya karena ingin menonton pertandingan sepakbola piala dunia atau sibuk mencari video yang menghebohkan itu. Salam. (ssm)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan