Otoritas Orangtua dalam Keluarga

Otoritas Orangtua dalam Keluarga

1 Komentar 610 Views

Kebangkitan Yesus adalah satu kebenaran utama dalam Injil (1 Korintus 15:1-8), dan kebangkitan-Nya memungkinkan tersedianya kehadiran Kristus serta Kuasa-Nya atas dosa dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Galatia 2:20 mengatakan, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. Demikian pula Efesus 1:19-20 mengatakan, “dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga”.Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang mengadakan pendamaian adalah lengkap dan memadai untuk menebus manusia seutuhnya, yaitu roh, jiwa dan tubuh.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dosa merupakan ciptaan Iblis untuk membinasakan kita, namun pengampunan dosa merupakan berkat Allah untuk menebus dan memulihkan kita. Orang percaya hendaknya terus maju dengan kerendahan hati dan penuh iman percaya untuk memperoleh seluruh karya pendamaian Kristus, termasuk bagaimana kita harus menyikapi dan menata kehidupan dalam keluarga. Yakobus 5:16b mengatakan, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”. Berdoa dan berusaha yang disertai dengan iman adalah suatu sarana yang ampuh untuk dapat menikmati karya penebusan dan pendamaian Kristus.

Pengorbanan-Nya di kayu salib adalah wujud nyata dari kasih yang sempurna yang dikaruniakan-Nya kepada kita semua. Kasih itu bukan hasil usaha kita, tetapi suatu “anugerah” dari Tuhan Allah kita yang lebih dulu mengasihi kita dengan pengorbanan-Nya di kayu salib dan menebus dosa kita. Yohanes 4:10-11 mengatakan, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudara yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka seharusnya kita juga saling mengasihi”.

Apabila kita sebagai orangtua sudah dapat meresponi Kasih Yesus seperti dalam Yohanes 4:10-11 maka kita sudah hidup dalam ibadah (worship). Kita sudah menjadikan worship itu sebagai inti dalam kehidupan keluarga kita dan menjadikan “prioritas utama” dalam tujuan hidup berkeluarga di dunia ini. Maka sudah dipastikan bahwa kita dapat mengasihi sesama termasuk keluarga dan anak-anak kita. Namun sebaliknya bila kita belum memiliki kasih kepada sesama termasuk anak-anak kita, dan tidak memiliki kerinduan untuk melayani orang lain, maka patut kita pertanyakan: “Apakah Yesus Kristus sudah berada di dalam kehidupan keluarga kita?”

Kita sering mendengar pemahaman yang keliru bahwa orangtua mengasihi anak-anak mereka “tanpa syarat” seperti Yesus mengasihi kita. Orangtua masa kini sering merasa enggan atau rasa takut untuk melakukan kontrol terhadap anak-anak mereka. Mereka sering terkecoh dengan nasihat-nasihat yang rancu dan saling bertentangan dari para psikolog atau dari buku yang menyesatkan. Nasihat yang keliru itu sering menganjurkan agar orangtua memberi kebebasan kepada anak-anak untuk memilih dan membiarkan anak-anak mengontrol diri sendiri dan menanggung akibat dari pilihan mereka. Para orangtua tidak boleh memiliki persepsi lain, kecuali pikiran positif terhadap anak-anak, walaupun ketika anak-anak itu melawan dan membantahnya. Bahkan dianjurkan kepada para orangtua harus memberi kebebasan, sekalipun mereka melakukan tindakan yang keliru dan bertentangan dengan kebenaran Alkitab.

Saya tidak sepenuhnya sependapat bila pengertian kasih yang “tidak bersyarat” itu diartikan sebagai tindakan orangtua yang hanya sekadar mengasihi dengan memberikan pujian dan penghargaan kepada anak-anak dan tidak peduli apa yang mereka lakukan. Memang benar bahwa kita harus memberikan kebebasan kepada anak-anak kita untuk memilih dan memutuskan sendiri apa yang mereka ingin lakukan, tetapi kebebasan itu harus diberikan setahap demi setahap, sejalan dengan kematangan akal budi mereka.

Kebenaran yang harus kita tegakkan adalah sebaliknya, yaitu: “Allah mengasihi kita sehingga Dia peduli dan melatih kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya dan menegor kesalahan-kesalahan kita, namun tetap menghargai sikap baik kita”. Dalam kaitannya dengan kebenaran ini, orangtua kristiani harus dapat melihat bahwa tugas mereka adalah mengasihi anak-anak mereka dengan kasih Tuhan – yaitu kasih yang tidak hanya bersifat sentimentil, dan tidak harus selalu penuh dengan toleransi dan mengalah. Tetapi jika kita sebagai orangtua yang benar-benar mengasihi anak-anak, kita harus berani menetapkan batasan-batasan dan peduli untuk menekankan agar anak-anak bertingkah laku yang benar, sekalipun anak-anak cenderung salah mengartikan dan kurang menyukai kepedulian kita.

Sebagai orangtua kristiani harus memberikan kasih yang bersifat mengajar dan mendidik mereka dalam kebenaran yang alkitabiah. Hakekat dan wujud nyata dari kasih orangtua kepada anak-anak adalah mengarahkan untuk beradaptasi proses belajar memperlengkapi diri mereka dengan ketrampilan menjalani kebenaran hidup yang penuh tantangan. Jika anak-anak belajar untuk patuh dan melakukan apa yang benar, kita sebagai orangtua harus menunjukkan penghargaan dan memberikan dorongan agar mereka memiliki citra diri yang utuh. Namun, saya tidak akan membiarkan anak-anak melakukan apa saja yang mereka kehendaki, mereka perlu diajarkan tentang kebenaran, walaupun saya tetap bersikap positif pada mereka. Pada prinsipnya orangtua mempunyai hak, bahkan kewajiban untuk menekankan agar anak-anak memilih untuk bertindak benar, dan untuk itulah saya menerima tanggung jawab sebagai orangtua.

Anak-anak memang sensitif dengan teguran kita, oleh karena itu bila kita menegur mereka harus dengan kasih dan sikap yang lembut, namun tegas dan bernilai positif. Dengan menegakkan disiplin dan didikan dalam batas wajar, bukan dengan tindak kekerasan dan penganiayaan, maka anak-anak tidak akan mengalami kerapuhan dan tidak menjadikan kepahitan dalam jiwa mereka, Bahkan sebaliknya, jiwa mereka akan lebih terpola dan semakin bertumbuh dengan baik, apalagi bila jauh sebelumnya kita sudah menetapkan nilai-nilai yang kita sepakati bersama, untuk diterapkan bersama dalam kehidupan keluarga sehari-hari.

Kita sebagai orangtua sebaiknya mengajarkan, membimbing dan mendukung serta memelihara keturunan sebagaimana layaknya. Demikian pula, orangtua harus mengasihi, mengurus dan mengarahkan sifat dan tingkah laku serta hal-hal yang baik dengan tekun kepada anak-anak kita, seperti Firman Tuhan dalam Ulangan 6:7 yang mengatakan, “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. Ayat ini merupakan perintah, tugas dan pemberian otoritas Tuhan kepada para orangtua untuk melatih anak-anaknya dengan tekun, karena Tuhan menginginkan agar anak-anak dapat bertumbuh dan bertingkah laku baik. Orangtua harus menunaikan tugas dan otoritas dengan penuh ketaatan dan hormat yang senantiasa akan menghasilkan pertumbuhan bagi anak-anak untuk dapat mencapai potensi mereka secara utuh dan bertahan menghadapi segala tantangan dalam kehidupan di dunia ini.

Di samping itu kita sebagai orangtua selalu mengumandangkan tentang Kebesaran Allah dalam akal-budi anak-anak secara berulang-kali dan sedini mungkin, agar dapat membangun fondasi dan menanamkan kepercayaan dasar dalam hati nuraninya akan Kebesaran dan ke-Mahakuasa-an Tuhan Allah kita. Sebagai salah satu contoh demikian: “Tuhan itu Allah kita, kita harus mempercayai-Nya dan mengasihi tanpa pamrih. Hanya Dialah yang kita andalkan. Kehendak-Nya adalah sempurna dan semua yang terjadi begitu indah sesuai dengan rencana-Nya bagi kita”. Anak-anak yang mendengarkan kebenaran ini secara berkesinambungan, tidak mudah tergoyahkan dan tidak akan berpaling daripada-Nya. Maka kelangsungan hidup yang kokoh dalam keluarga ini akan lebih terjamin dan mereka lebih dapat bersatu-padu, sehati dan sepikir dalam meniti kehidupan, apapun kondisinya.

Menanamkan cinta kasih anak-anak kepada Tuhan secara totalitas dan tanpa pamrih, disertai cinta kasih kepada sesama, akan menjadi fondasi serta dapat mendorong semangat dan kepercayaan yang mendalam bagi anak-anak, sebagai bekal kehidupan menjelang dewasa. Hal ini perlu adanya keteladanan yang nyata dari orangtua kepada anak-anak. Sungguh tidak mungkin bagi orangtua yang ingin menerapkan sebuah prinsip pada anak-anak mereka, bila kedua orangtuanya itu tidak benar-benar melakukan dan meyakini prinsip itu dengan sepenuh hati. Demikian pula dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, bila orangtua itu sendiri tidak melakukan kejujuran. Dan sungguh tidak mungkin bila orangtua ingin menekankan bibir yang bersih dan memberkati, bila kedua orangtua itu sering mengutuk dan mengumpat satu dengan yang lain.

Cinta kasih kepada Tuhan dan sesama, perlu diwujud-nyatakan dalam satu kata dengan perbuatan secara menyeluruh dengan dedikasi yang mendalam bersama keluarga. Kebenaran itu lebih bersifat permanen tertanam dalam sanubari anak-anak, apabila juga tercermin dalam kehidupan kedua orangtua, bukan hanya sekadar bibir kosong belaka. Memberikan contoh kebenaran dalam perbuatan, akan lebih berdampak positif bagi anak-anak, ketimbang secara oral yang bertubu-tubi namun tidak disertai contoh perbuatan nyata dari kedua orangtua. Namun komunikasi lisan dua arah yang disertai teladan tindakan nyata merupakan upaya yang efektif bagi pertumbuhan kehidupan masa depan anak-anak kita.

Selanjunya, dalam upaya membangun keluarga agar menjadi semakin kokoh, orangtua perlu mengarahkan pembentukan karakter anak-anak dengan menanamkan rasa takut akan Tuhan. Ulangan 6:13-15 mengatakan, “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu: kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, sebab TUHAN, Allahmu adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.

Ketika masing-masing anggota keluarga memelihara rasa takut akan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi dalam kehidupan keluarga. Rasa angkuh dan sombong akan terus berkurang sejalan dengan meningkatnya rasa takut akan Dia. Kita jangan sampai menyalah artikan “takut akan Tuhan” dengan pengertian dangkal. Tetapi rasa takut ini diarahkan pada rasa takut berbuat dosa karena menaruh rasa hormat pada nama-Nya yang Kudus, berserah penuh atas kehendak dan ke-Mahakuasaan-Nya serta memiliki rasa takut untuk melakukan pelanggaran, terutama pada ayat 14 yang menegaskan: “Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu”.

Memang banyak sekali allah-allah lain yang berada di sekitar kita, apalagi pada masa kini kita dikelilingi illah-illah materialisme, sensualitas, kebejatan moralitas, dan hedonisme. Belum lagi banyak “iming-iming” kepopularitasan, kekuasaan, intelektualisme, filosofi palsu, obat-obat terlarang, dan lain-lain yang sengaja disebarkan manusia yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan diri sendiri. Namun bagi keluarga yang kuat dan kokoh, akan tetap bertahan menghadapi illah-illah di zaman ini, karena mereka selalu menyadari bahwa “Nama Tuhan adalah menara yang kuat, di sanalah kita berlindung dan menjadi selamat”.

Dalam Perjanjian Baru juga mengajarkan kebenaran yang sama tentang keluarga seperti dalam Perjanjian Lama. Tidak ada satu pun perintah Tuhan yang membatalkan dalam hubungan antara orangtua dan anak-anak. Bahkan dalam Perjanjian Baru lebih menegaskan dan mengukuhkan agar orangtua kristiani mengajar dan mendidik anak-anak dalam ketaatan dan moral, seperti dalam Efesus 6:1-4 yang mengatakan, “Hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”. Apabila Efesus 6:1-4 ini kita hayati dan dilakukan dalam kehidupan keluarga, orangtua harus berani mengajarkan kepada anak-anak untuk menghormati orangtua sebagai pemilik otoritas dari Tuhan, jika tidak demikian, mereka akan mengalami kesulitan untuk menghormati siapapun termasuk Tuhan. Namun sebaliknya ayat ini juga menegaskan agar orangtua memiliki hikmat dan bijaksana dalam mendidik anak-anak, agar mereka tidak mengalami kemarahan dan kepahitan kepada orangtua. Karena didikan yang terlalu keras dan melewati batas kewajaran akan berdampak negatif.

Pembinaan yang ditanamkan secara berkesinambungan dan penuh kasih kepada anak-anak, sangat diharapkan akan memperoleh hasil positif sebagai berikut: “Anak-anak menaruh rasa hormat kepada Allah, kepada orangtua, kepada gereja, serta kepada bangsa dan negara. Mereka dapat mempraktekkan kebiasaan hidup sehat, makan makanan yang sehat, tidur pada waktunya, peduli dengan anggota keluarga yang lain dan keberadaan orang lain di luar rumah, serta peduli dengan lingkungan sekitar, bahkan mereka dapat menempatkan diri dalam kondisi lingkungan seperti apapun.

Namun untuk membangun keluarga yang kokoh dan kuat seperti itu, tidak dapat dilakukan dalam sekejap, melainkan akan melalui proses yang panjang dan berkesinambungan. Oleh karena itu, disarankan kepada keluarga muda yang memiliki anak-anak balita, sebaiknya dapat melakukan pembinaan kepada mereka sedini mungkin dan berkesinambungan. Di samping itu juga dituntut keteguhan hati seorang ayah sebagai imam dalam keluarga, serta komitmen bersama bagi pasangan suami-isteri sebagai orangtua yang setia membimbing dan membina serta melaksanakan otoritas Allah dalam keluarganya. Kualitas dasar kekristenan bagi pasangan suami-isteri perlu ditegakkan dengan membangun fondasi yang kokoh, seperti mendirikan rumah di atas batu (Matius 7:24-25). Akan lebih kokoh lagi kalau mereka bersama-sama, secara pribadi membangun hubungan dengan fondasi yang tidak kelihatan, yaitu Yesus.

1 Petrus 2:6 mengatakan, Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan”.

Tjuk Sumarsono

1 Comment

  1. Lukas EW

    Setelah Papa berada di sorga, dodo baru baca artikel ini.
    Artikel yang sangat dalam tetapi bermakna besar diterapkan didalam keluarga.
    Aku mengucap syukur dan bangga punya Papa yang luar biasa.

    Thank you Jesus !

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan