Natal, Sebagai Momentum Bagi Perubahan dalam Hidup Kita

Natal, Sebagai Momentum Bagi Perubahan dalam Hidup Kita

Belum ada komentar 1780 Views

Setiap tahun menjelang hari Natal, umat Kristen di seluruh dunia menjadi sibuk dengan berbagai macam kegiatan. Mulai dari kegiatan yang bersifat kekeluargaan, perayaan di kantor dan di gereja sampai pada kegiatan yang bersifat keagamaan.

Khususnya di gereja, biasanya panitia telah dibentuk 1-2 bulan sebelumnya, tema ditentukan dan program acara disusun. Tidak lupa dipikirkan bagaimana bentuk dekorasi yang dianggap paling pas dan menarik untuk bisa merefleksikan pesan Natal itu sendiri. Tidak jarang harus melalui berbagai perdebatan mengenai jenis dekorasi tersebut – apakah yang bersifat konservatif dengan pohon natal hidup, atau yang bersifat lebih modern dengan pohon natal artifisial atau bahkan tanpa pohon natal sama sekali.

Semua itu dilakukan dan terjadi karena semua pihak ingin memberikan dan mendapatkan yang terbaik dari masa Natal tersebut. Memperingati proses kelahiran Tuhan Yesus, Juru Selamat dan Tuhan kita, siapa yang tidak ingin mendapatkan pengalaman yang terbaik, menurut selera dan kriteria masing-masing tentunya. Dan biasanya setelah semuanya itu selesai dan kita telah melewati masa liburan tahun baru, maka kita akan masuk kembali kepada kehidupan rutin kita sehari-hari seperti biasa.

Pertanyaan klasiknya adalah: apakah ada yang berubah dalam diri dan kehidupan kita setiap kali kita telah melewati masa Natal setiap tahunnya? Apakah masa Natal adalah suatu momen sementara di mana kita sejenak meninggalkan rutinitas kehidupan kita sehari-hari untuk menjalani suatu kehidupan yang berbeda untuk sementara waktu?; ataukah masa Natal tersebut adalah suatu momentum yang bisa kita pakai untuk mengubah diri kita seutuhnya, setahap demi setahap, untuk mengarah kepada Tuhan kita Yesus Kristus, seperti yang dikatakan di dalam Efesus 4:15

15 “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

Berkaitan dengan hal di atas, tema Natal GKI Pondok Indah tahun 2005 ini, ”Kedatangan-Nya Mengubahku”, menjadi sangat menarik. Ini bisa dilihat sebagai suatu janji, komitmen dan tantangan bagi segenap pihak yang terkait di dalam gereja GKI Pondok Indah untuk menjadikan Natal kali ini sebagai momentum untuk melakukan dan/atau mengalami perubahan dalam diri kita masing-masing. Perubahan yang tentunya sesuai dengan yang diinginkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus.

Nah, kira-kira perubahan yang seperti apa ya?

Setiap orang melihat Natal sebagai peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus, walaupun sebenarnya tidak ada yang tahu persis kapan Tuhan Yesus dilahirkan.

Saya pernah mendengar bahwa kita perlu untuk melihat perayaan Natal dalam konteks yang utuh dengan perayaan Paskah; dan bahwa keduanya tidak dapat dilepaskan satu dari yang lainnya. Natal ada untuk Paskah dan Paskah ada untuk menyelesaikan Natal.

Natal dan Paskah merupakan perwujudan nyata dari kasih Allah kepada dunia (manusia) dan merupakan penggenapan dari segala nubuat yang telah ada di kitab Perjanjian Lama. Natal dan Paskah merupakan proses di mana Tuhan turun menjadi sama dengan kita manusia dan mengambil alih segala permasalahan dan tanggung jawab dosa kita serta menebusnya sepenuhnya. Semuanya telah lunas dibayar. Suatu hal yang tidak akan pernah dapat kita (manusia) lakukan, seperti Alkitab mengatakan di dalam Efesus 2:8-9,

8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Pernahkah kita membayangkan seandainya suatu saat listrik di rumah kita mati dan pasokan gas elpiji habis sehingga kita harus memakai lilin sebagai penerangan di malam hari dan memakai kompor minyak tanah untuk memasak. Dan kita harus melakukannya sendiri karena tidak ada pembantu di rumah. Pasti kita akan merasa sangat sengsara dan tidak menyenangkan.

Memang salah satu hal yang paling sulit untuk kita lakukan adalah untuk menurunkan standar hidup kita. Sangat jarang di antara kita yang mau melakukannya, bahkan juga untuk suatu alasan yang mulia. Saya ambil contoh sederhana: bersediakah kita untuk tidak pakai pendingin udara lagi (di rumah atau di gereja) supaya kita ikut menghemat energi yang sekarang sedang krisis di negara kita ini? Pasti tidak mudah buat kita untuk bersedia.

Akan tetapi, dalam skala yang jauh lebih besar (sampai di luar akal pikiran kita manusia), justru inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita. Dia melepaskan segala kemuliaan-Nya untuk turun ke dunia ini menjadi seorang hamba yang disalibkan, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan.

Inilah makna Natal, pengorbanan yang luar biasa di mana dengan kedatangan-Nya Dia telah mengubah hidup kita dari hidup yang berhamba kepada dosa menjadi hidup yang merdeka di dalam Kristus. Roma 6:11 mengatakan:

11 “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.”

Jadi memang sudah seharusnya bahwa kita menjadikan hari Natal sebagai momentum bagi perubahan dalam hidup kita ini dan bukan hanya sekadar perayaan dan bulan keagamaan yang bersifat sementara saja. Karena kalau kita benar-benar telah menerima kedatangan Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi kita, maka hal tersebut harus terlihat dan tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari.

Rasul Yohanes memberikan beberapa tanda perubahan tersebut dalam Kitab 1 Yohanes sebagai berikut:


1. Mengikuti perintah-Nya (1Yohanes 2:3-6)

3 Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
4 Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.
5 Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.
6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Di sini Rasul Yohanes mengatakan dengan tegas bahwa kalau kita memang sudah menerima kedatangan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita, maka kita pasti akan mengikuti segala perintah-Nya. Kalau tidak maka kita adalah pendusta. Permasalahannya, dapatkah kita hidup seperti Kristus? Dalam bahasa Inggris, ayat ke 3 tersebut berbunyi:

3 “And hereby we do know that we know him, if we KEEP his commandments.”

Kata “keep” di sini merupakan kunci dari ayat ini. Kata ini berasal dari kata Yunani ”tereo” yang antara lain memiliki arti ”to watch over” atau memperhatikan.

Kata ini dipakai oleh para pelaut di zaman dahulu ketika pada saat itu belum ada global positioning system atau radio komunikasi yang bisa memandu mereka, tetapi mereka sudah bisa berlayar kemana-mana tanpa tersesat. Pada saat itu mereka memakai bintang di langit sebagai sistem navigasi mereka.

Mereka memperhatikan (to watch over) bintang di langit sebagai petunjuk arah yang harus ditempuh. Kadang kala mereka tertiup angin keluar dari jalur pelayaran mereka, akan tetapi mereka selalu bisa kembali lagi ke jalur semula dengan memperhatikan bintang di langit.

Hal seperti itulah yang dimaksudkan oleh rasul Yohanes dalam ayat 3 tersebut.

Seringkali kita berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah Tuhan Yesus, tetapi kita akan selalu kembali kepada-Nya dan memperbaiki hidup kita. Karena kita memiliki hati yang selalu tertuju kepada Dia dan selalu ingin mengikuti perintah-Nya.

Ketika kita tidak/belum mengenal Tuhan Yesus maka hati kita selalu condong kepada dosa, tetapi setelah kita mengenal Dia, hati kita selalu ingin menjauh dari dosa. Ini adalah perubahan yang pertama.

Kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana; apakah kita seringkali menyakiti hati orang lain, apakah kita masih seringkali sombong dan selalu menganggap diri kita benar, apakah kita peka terhadap sesama kita, dsb.

2. Mengasihi (1Yoh 3:14-15)

14 “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.”
15 “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”

Kita perlu mengingat bahwa sebagai manusia yang sudah ditebus-Nya, kita memiliki karakter Tuhan di dalam diri kita, yaitu kasih. Kita sudah masuk dalam keluarga-Nya dan memiliki saudara-saudara seiman dengan siapa kita bisa saling mengasihi dan bersama-sama mengasihi sesama kita yang tidak seiman.

Inilah perubahan kedua yang seharusnya terjadi. Pertama-tama saling mengasih di antara saudara seiman kita, di dalam gereja kita, dan kemudian kita juga mengasihi sesama kita yang lain yang kebetulan tidak seiman.

Dalam konteks mengasihi saudara seiman, kita patut untuk merenungkan apakah benar kita sudah melakukannya. Apakah kita sudah melakukan persekutuan di dalam lingkungan gereja kita, apakah kita sudah mendukung pelayanan yang dilakukan dalam gereja kita? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu untuk kita renungkan karena kalau benar kita telah menerima kedatangan Tuhan Yesus dalam hidup kita, berarti kita juga akan mengasihi Dia.

Mengasihi Tuhan Yesus berarti kita juga akan mengasihi gereja-Nya (bukan gedungnya secara fisik) dan akan rindu untuk terlibat di dalam kegiatannya. Nehemia 2: 18 mengatakan;

18 “Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: ‘’Kami siap untuk membangun!’’ Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.”

Bangsa Israel memberikan tanggapan yang positif ketika Nehemia mengajak mereka untuk membangun kembali tembok kota Yerusalem yang telah roboh.

Kalau kita baca dengan teliti ayat selanjutnya, dalam Nehemia 3:1-32, kita bisa melihat bahwa karya Tuhan melalui nabi Nehemia tersebut dilakukan dengan melibatkan banyak pihak.

Kita bisa menemukan tidak kurang dari 38 nama yang berbeda dan 42 nama kelompok dalam Nehemia pasal 3 tersebut. Mereka berasal dari kalangan yang berbeda, profesi yang berbeda, dan semuanya ikut berpartisipasi, bekerja sama dan saling menguatkan.

Saya pernah mendengar seorang pendeta bertanya: ”In your church, are you sitting or serving?” Di dalam gereja, apakah anda hanya duduk saja atau ikut melayani?

Setiap orang memiliki kesempatan dan tempat untuk melayani, dan itu sudah merupakan tanggung jawab kita sebagai orang yang telah menerima Kristus. Ibrani 6:10 mengatakan:

10 “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.”

Karya Tuhan akan terus terjadi dengan atau tanpa keterlibatan kita. Adalah suatu kehormatan bagi kita apabila kita dapat terlibat di dalamnya. Ini merupakan refleksi dari kasih kita kepada Tuhan kita Yesus Kristus, kepada saudara seiman kita dan pada sesama kita manusia.

3. Menjadi saksi Kristus (1Yoh 5:10)

10 “Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.”

Perubahan yang ketiga adalah bahwa kita menjadi percaya kepada Tuhan Yesus dan hal itu tercermin dalam sikap hidup kita. Kita perhatikan bahwa ayat ini mengatakan “percaya kepada Anak Allah” dan bukan “percaya akan Anak Allah”. Yang dimaksud di sini adalah kepercayaan iman dan bukan hanya kepercayaan intelektual.

Pagi ini, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengar di radio bahwa di Amerika Serikat 30% orang yang tidak beragama percaya bahwa Tuhan Yesus telah mati dan bangkit dari kuburnya. Mereka mempercayai bahwa Tuhan Yesus telah mengalahkan maut, akan tetapi mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka.

Kenapa? Karena mereka tidak mau menerima konsekwensi dari menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Mereka sudah terlalu terikat kepada kehidupan lama mereka, yang berorientasikan pada dunia ini, dan mereka merasa bahwa yang penting mereka menjadi orang yang ”baik” dan tidak merugikan orang lain.

Mereka tidak mau menyerahkan hidup mereka untuk dipimpin oleh Tuhan Yesus. Mereka percaya akan Tuhan Yesus, tetapi mereka tidak mau percaya kepada-Nya.

Kita patut merenungkan apakah kita telah memiliki kepercayaan iman tersebut, apakah kita sudah “percaya kepada Anak Allah” dan bukannya sekadar “percaya akan Anak Allah”.

Ketika Tuhan Yesus mengatakan: ”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”, apakah kita berani mengimaninya dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Ataukah kita masih tetap kuatir dengan kehidupan kita dan menghabiskan waktu kehidupan kita pada prioritas dunia – harta lebih banyak, karir lebih sukses, dsb.

Ketika Tuhan Yesus mengatakan: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”, apakah kita mau datang kepada-Nya dan menyerahkan segala persoalan kita. Ataukah kita masih berkeras hati untuk menyelesaikannya dengan cara dan usaha kita sebagai manusia.

Kita juga perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang orang lain lihat di dalam diri kita, dalam kehidupan kita. Apakah sama saja dengan kebanyakan orang lain, ataukah mereka bisa melihat Yesus di dalam diri kita?

Perayaan Natal akan selalu ada setiap tahunnya. Saat ini kita memasuki saat-saat yang sibuk penuh dengan acara, dan setelah lewat tahun baru nanti, kita akan kembali memasuki rutinitas kehidupan kita kembali. Rasanya kita perlu untuk merenung, berpikir dan ber-refleksi ke dalam diri kita sendiri.

Sudahkah kita memakai Firman-Nya sebagai mercusuar hidup kita, sudahkah kita memiliki kasih-Nya dalam kehidupan kita yang tercermin dalam partisipasi dan komitmen kita dalam kegiatan pelayanan di gereja, dan sudahkah hidup kita senantiasa menjadi saksi bagi kemuliaan-Nya?

Sekarang adalah saat yang tepat untuk berubah dan/atau memperbaharui komitmen kita. Bagaimana caranya? Mudah saja – seperti yang dikatakan oleh sebuah lagu – ”Dia hanya sejauh doa”.

Selamat Natal 2005 dan Selamat Tahun Baru 2006. Kiranya Tuhan senantiasa menyertai dan membimbing kita semua.

Chandra Suria

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan