Natal di Perantauan

Natal di Perantauan

Belum ada komentar 42 Views

Namaku Lukman Halim.

Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya Tionghoa yang kolot. Sejak kecil, aku mengikuti ajaran Budha dan dipersembahkan menjadi anak dewa Kwang Kong pada usia lima tahun. Aku pun aktif melayani di Vihara.

Menjelang usia tujuh belas tahun, aku menerima Yesus secara pribadi dan menjadi Kristen. Itu tidak terlepas dari kasih karunia Allah yang luar biasa.

Ketika menjadi Kristen hingga hari ini, aku tidak pernah merayakan Natal bersama keluarga karena mereka masih beragama Budha. Aku pun jarang berkumpul dengan keluarga di hari Natal karena panggilan pelayanan yang dilakukan. Bahkan, sejak tahun 2000, aku menimba pengalaman dan tidak memiliki sanak keluarga di Pulau Jawa. Tapi, Natal tetap menjadi sebuah peristiwa yang berarti dan hidup di hatiku. Mengapa?

Natal bukan masalah suasana tapi hati. Natal seperti undangan khusus dari Tuhan Yesus buatku. Undangan itu menjadi lonceng yang berbunyi indah di hatiku. Lonceng yang mengingatkan betapa besar kasih-Nya padaku. Meski aku merayakan Natal seorang diri dan jauh dari keluarga namun aku tidak pernah merasa sendirian di hari Natal. Yesus selalu hadir dan kasih-Nya selalu bergema di hatiku. Di hari Natal, aku mengingat kembali tentang perjumpaan imanku dengan Yesus. Perjumpaan yang telah mengubah dan memperbaharui hidupku. Bahkan, memberiku harapan dan semangat untuk setia menyampaikan kasih Yesus pada keluargaku dan umat Tuhan yang kulayani.

Natal yang bersemangatkan memberi bukan menerima

Aku selalu bertanya pada diriku, apa yang dapat kuberikan pada Yesus di hari Natal? Aku menyadari bahwa tidak ada satu pun pemberian yang dapat disejajarkan dengan kasih karunia Tuhan padaku. Aku hanya bisa mempersembahkan HATI yang setia mengasihi dan mengabdikan seluruh hidupku untuk melayani-Nya. Hati yang mau diubah dan berubah kian serupa dengan Kristus. Aku pernah membaca komentar seorang tokoh yang bernama Halford E. Luccock. Ia mengatakan “Kita dapat begitu terpesona oleh kisah tentang seorang bayi hingga menjadi begitu sentimental. Akibatnya, kisah itu tidak menuntut kita untuk berbuat sesuatu dan juga tidak menuntut perubahan dalam cara berpikir dan cara hidup kita”. Sebab itu, Natal bukan semata-mata apa yang telah kuterima. Justru, apa yang dapat kuberikan pada Kristus, yaitu HATI yang taat pada-Nya.

Terkadang hatiku sedih melihat ada orang Kristen yang masih hidup bersemangatkan ‘kanak-kanak’ atau yang hanya mau menerima dan menerima saja di hari Natal. Aku pun sering menjumpai para pelayan Tuhan yang sibuk mempeributkan dekorasi Natal, bentuk acara dan perayaan Natal. Bahkan, ada yang tidak mengalami damai di hati dan malah depresi karena dikejar-kejar oleh deadline persiapan Natal. Ironisnya, orang-orang yang dikasihi pun jadi korban pelampiasan rasa capek alias tidak melihat damai Kristus hadir saat mereka mempersiapkan Natal. Apa itu yang Tuhan inginkan di hari Natal? Jangan-jangan apa yang telah dipersiapkan justru ‘mencuri’ Kristus di hati mereka.

Aku berharap dan merindukan setiap orang yang merayakan Natal mengalami perjumpaan iman kembali dengan kasih Tuhan. Damai Kristus hidup dan memberi semangat untuk menyampaikan kasih Tuhan pada sesama. Aku tidak pernah menikmati Natal bersama keluargaku. Namun, aku bersukacita memiliki saudara seiman sebagai keluarga dalam Kristus di hari Natal. Selamat hari Natal.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan