Natal bukan Natal, kalau tidak ada barang baru

Natal bukan Natal, kalau tidak ada barang baru

Belum ada komentar 17 Views

Waktu kami kecil dulu, tradisi memberikan barang-barang baru dilakukan dalam keluarga besar kami. Kami membeli barang-barang, yang baru tentunya, lalu membungkusnya menjadi hadiah-hadiah natal untuk saudara-saudara dekat. Lalu persis pada tanggal 25 Desember orangtua kami mengajak kami (anak-anaknya) mengunjungi rumah oma dan opa setelah kami pulang dari ibadah Natal di gereja masing-masing.

Sesampainya di rumah oma dan opa, seperti biasa kami meletakkan hadiah-hadiah yang kami bawa itu di bawah pohon Natal. Betapa menyenangkannya saat-saat menghitung hadiah-hadiah yang di atasnya tertulis nama saya dan nama-nama saudara. Ada yang dapat 5, dapat 7, dapat 10. Wah, banyaknya!

Uniknya, kadangkala ada tamu-tamu dari keluarga jauh opa dan oma yang datang berkunjung juga di hari Natal itu. Tidak jarang mereka membawa anak-anak mereka. Sayangnya, anak-anak itu tidak mendapat kado. Tapi untunglah para orangtua segera mengisi amplop angpao yang kosong dengan sejumlah uang dan menuliskan nama tamu anak-anak yang datang, sehingga setidaknya mereka juga mendapat hadiah di hari itu. Memang, berbeda jumlah dan bentuknya dari yang kami terima, tetapi nama mereka tetap ada di bawah pohon natal.

Setelah berdoa dan makan siang bersama, biasanya kami duduk di sekeliling pohon natal dan seorang anak oma membacakan satu persatu nama yang tertera pada kado itu. Rasanya berdebar-debar mendengarnya walaupun kami sudah tahu bahwa nama kami ada di sana. Satu persatu nama dan kado dibagikan. kadangkala om dan tante kami juga mendapat kado, walau hanya 1 atau 2 saja. Setelah semua kado terbagi, kami membuka kado itu bersama-sama. Ada yang dapat mainan, pakaian, juga makanan atau perhiasan.

Selesai acara pembukaan kado, kami dengan bangga menunjukkan hadiah masing-masing dan potret bersama, saling mengucapkan terimakasih, dan acara natalan di rumah oma opa selesai. Beberapa tahun berselang, anak-anak yang dahulu mendapat kado telah beranjak dewasa, menikah dan punya anak. Opa juga sudah berpulang ke rumah Tuhan. Namun tradisi itu masih kami teruskan. Kami yang sudah dewasa tidak lagi mendapatkan banyak hadiah, sebaliknya kamilah yang berinisiatif membelikan barang-barang baru dan membungkuskan untuk keponakan-keponakan kami. Itu berarti untuk cicit dari oma saya.

Hadiah tetap banyak di bawah pohon natal oma karena berisi hadiah-hadiah untuk para cicit. Namun bedanya, tradisi membuka kado bersama sudah tidak ada lagi. Banyak keponakan yang dulu menanti kado, sekarang sudah sibuk dengan acaranya masing-masing. Ada yang pelayanan di gereja, ada yang mengurus dan berlibur bersama anak-anak mereka, ada pula yang ke luar kota. Herannya, tradisi memberi hadiah itu tetap ada. Sempat ada yang berkomentar, “Kalau tidak bisa kumpul, yang penting kadonya tetap ada!”

Pertanyaannya sekarang, apa artinya kado-kado atau barang-barang baru itu? Oma sudah mulai lupa dalam banyak hal karena ketuaannya, kami pun sudah jarang ke rumah oma. Kado-kado dibuka di rumah masing-masing, bahkan ada yang menerima kado itu setelah bulan Desember berakhir. Apa arti kado-kado itu? Ironisnya, satu-dua tahun yang lalu, kado-kado itu sudah tidak ada lagi di bawah pohon natal oma. Kami memindahkan tradisi kumpul bersama ke rumah ayah saya. Kado-kado dibagikan tanpa diletakkan di pohon natal dan tanpa memanggil nama satu persatu dari si penerima kado. Kado itu, hadiah itu, barang-barang baru itu masih ada, tapi dibagikan dengan cara yang berbeda.

Jadi apa arti dari kado-kado itu? Yang pasti itu adalah bagian dari tradisi keluarga besar kami. Membeli barang baru, untuk orang lain. Tapi untuk apa? Sederhana saja, natal bukan natal tanpa tradisi membagikan kado. Itukah natal yang sesungguhnya?

Mungkin anda juga memiliki tradisi lain yang senada dengan pengalaman keluarga besar saya. Bedanya barang-barang baru itu mungkin hadiah dari pasangan, kekasih, anak, orangtua, atau dari gereja. Atau bahkan ada juga mungkin yang membeli hadiah untuk diri sendiri karena tergiur dengan tulisan “Sale” atau “Christmas Sale”. Bonus yang diterima dari tempat kerja dibelikan baju baru, sepatu baru, kosmetik baru, asessoris baru, hiasan natal baru, tas baru, pohon natal baru atau bahkan handphone baru dan mobil baru. Kembali pada pertanyaan semula, apa artinya barang-barang baru itu untuk kita? Hanya sekadar tradisi? Sehingga natal, bukan natal kalau tidak membeli dan memakai barang-barang baru?

Bayi itu hampir saja dibunuh

Lebih dari 2000 tahun yang lalu, jangankan membeli barang-barang baru, di bulan-bulan Natal, maksudnya bulan-bulan kelahiran Yesus, justru terjadi kehebohan yang luar biasa. Kengerian, tangisan, dukacita dan penyesalan terdengar di rumah-rumah. Bagaimana tidak? Pimpinan bangsa sedang marah besar. Herodes merasa kecolongan karena diperdaya oleh orang-orang asing yang pandai dan kaya-kaya. Sudah secara khusus Herodes menitipkan pesan pada para majus bahwa ia sangat ingin melihat dan turut menyembah bayi yang disebut Raja orang Yahudi itu. Namun orang majus sengaja menghindar dan tidak memberitahukan informasi penting itu. Mereka pulang melewati jalan lain (Mat 2:12).

Kemarahan Herodes mengakibatkan ia gelap mata. Siapa pun bayi yang lahir pada bulan-bulan itu, harus dibunuh. Ia memang tidak tahu, di mana bayi istimewa itu, tetapi ia tahu bahwa jika semua bayi dibunuh maka bayi istimewa itu pun merupakan satu di antara yang mati itu.

Ajaibnya, justru saat bayi-bayi lain dibunuh, hanya bayi Yesus yang selamat. Hanya Yesus yang selamat. Ini adalah hal baru, berita baru, bahkan hadiah istimewa dan terindah buat orangtuaNya, keluarga besarNya, tetapi juga untuk saudara dan saya.

Saya membayangkan kebahagiaan Maria dan Yusuf jauh lebih besar daripada saat saya mendapat 10 kado di rumah oma pada waktu Natal beberapa belas tahun yang lalu. Pastinya juga lebih bahagia daripada kita mendapat hadiah Natal dari pasangan, kekasih, anak atau orangtua. Bahagianya begitu mendalam, sampai meneteskan air mata haru, sampai berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hanya saja, mereka menyimpan semuanya itu dalam hatinya (Lukas 2:19). Ya, Bayi yang hampir saja dibunuh, menimbulkan haru dan bahagia. Hadiah terindah untuk Maria, hadiah terindah untuk Yusuf, hadiah terindah untuk para ibu dan ayah yang menangisi kematian anak mereka waktu itu, dan hadiah terindah untuk kita.

Beberapa tahun berselang, bayi itu telah beranjak dewasa. Namun Ia masih saja terancam untuk dibunuh. Banyak persepakatan demi persepakatan yang pesannya sama, Ia harus mati dan disingkirkan. Kini bukan lagi Herodes yang iri dengan kehadiranNya, tetapi juga para Imam, ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kalau dulu seorang raja merasa terancam kedudukannya, kini kaum agamawan juga merasa terancam kariernya. Dan pada saatNya, Ia akhirnya harus merelakan diriNya menjadi korban dari pengejaran mereka.

Ia dibunuh, tapi tetap dengan makna yang mengharukan. Ia mati sebagai hadiah. Memang bukan hadiah untuk ayah ibunya, tetapi tetap untuk saudara dan saya. Ia mati demi kita tidak mati. kalau dulu Ia hidup di antara bayi-bayi yang mati, kini Ia mati supaya tidak ada lagi yang mati. Itulah cita-citaNya, VisiNya, MisiNya.

Hari ini, peristiwa itu telah lewat. Ironisnya, masih ada juga yang hendak membunuh Dia. Bukan secara fisik, karena Ia tidak nampak, melainkan saat Ia hendak hadir dalam hidup seseorang, saat Ia menjamah hidup seseorang, saat Ia telah lahir di hati seseorang. Ancaman pembunuhan itu masih tetap ada. Banyak orang berupaya membunuhNya, membunuh kasihNya, membunuh kepedulianNya, membunuh kuasaNya, dengan rasio mereka, dengan kebencian mereka, dengan egoisme mereka. Kapankah ancaman itu berakhir?

Sampai itu terjadi di hati

Kelahiran Bayi itu kita peringati. Tapi sampai kapan ancaman untuk menyingkirkanNya berakhir? Ancaman itu masih terus berlangsung, tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun. Bukan hanya di luar sana, tetapi di dalam hati ini rupanya Ia terancam. Ia bisa terancam saat kita lebih mementingkan Natal daripada DiriNya. Ia bisa terancam saat kita mementingkan barang-barang baru lebih daripada makna kelahiranNya. Ia bisa terancam saat kita mengutamakan sukacita kita daripada sukacita yang dititipkanNya pada kita.

Saat kita mengatakan,
Natal bukan natal
tanpa baju baru
Natal bukan natal
tanpa barang-barang baru
Natal bukan natal
tanpa pohon natal
Natal bukan natal
tanpa kerlap-kerlip lampunya
Natal bukan natal
tanpa perayaan natal

Sesungguhnya, natal bukan natal… sampai itu terjadi di hati kita. Sukacita terdalam sesungguhnya ada, saat kita menjadi Maria-maria dan Yusuf-yusuf yang memegang erat Bayi itu, saat ancaman itu menghantui Bayi itu. Sukacita besar sesungguhnya ada saat kita peka mendengarkan suara Tuhan yang juga mengatakannya pada Yusuf, “Pergi dan menyingkirlah dari tempat yang tidak aman ini, karena Ia akan dibunuh!” (Mat 2:13). Sukacita karena membiarkan Dia tetap ada, tetap ada di hati ini, di hati kita.

Apakah Ia masih tetap ada di hati kita? Apakah kita telah lari bersama Yesus saat ancaman itu datang? Apakah kita mendengar tangisNya dalam hati kita?
Teriakan cinta yang meminta kita meneruskan? Teriakan pengampunan? Teriakan kepedulian?
Selamat Natal, saudaraku!

Christmas isn’t christmas till it happens in your heart…

Riani Josaphine Suhardja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
  • Jangan Menyerah
    Bacaan: Lukas 18:1-8
    “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari...
  • Kejujuran, Kesantunan & Etika MAKIN PUDAR
    Jujur, santun dan beretika adalah tiga kata yang sangat menentukan dalam peringkat kehidupan seseorang atau sebuah bangsa. Negara-negara tanpa...
  • masuk kotak
    Masuk Kotak
    John mempunyai seorang nenek yang jago bermain Monopoli. Setiap kali John bermain Monopoli dengan neneknya, pada akhir permainan, sang...
  • integritas
    Integritas YUNUS
    Integritas adalah: Kualitas untuk bersikap jujur dan memiliki prinsip-prinsip moral yang kuat; Keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh dan...
Kegiatan