Moving Forward

Moving Forward

Belum ada komentar 48 Views

Nusa Kambangan adalah nama sebuah pulau di Jawa Tengah yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap dan tercatat dalam daftar pulau terluar Indonesia.

Pulau Nusa Kambangan, berstatus sebagai cagar alam habitat pohon-pohon langka. Pohon plahlar (Dipterocarpus litoralis) hanya dapat ditemukan di pulau ini di mana setelah dikeringkan, mempunyai kualitas yang setara dengan kayu meranti dari Kalimantan. Pohon yang masih tersisa adalah tumbuhan perdu, nipah, dan belukar.

Di bagian barat pulau, di sebuah gua yang terletak di areal hutan bakau, ada semacam prasasti peninggalan zaman VOC. Di ujung Timur, di atas bukit karang, berdiri mercusuar Cimiring dan benteng kecil peninggalan Portugis.

Istilah “Penjara Nusa Kambangan” adalah sebuah nama yang khusus oleh karena tidak ada satupun nama penjara atau Lapas yang ada di Indonesia ini yang bernama demikian. Di Nusa Kambangan terdapat beberapa lembaga pemasyarakatan (Lapas atau LP) bertingkat keamanan tinggi di Indonesia.

Pada zaman Belanda, di pulau ini terdapat 9 penjara, yaitu penjara Karang Tengah (dibangun 1927), penjara Gliger (1925), penjara Limus Buntu (1935), penjara Nirbaya (1912), penjara Batu (1935), penjara Besi (1927), penjara Kembang Kuning (1950), penjara Permisan (tertua, 1908), dan penjara Karang Anyar (1912). Penjara penjara ini tersebar dari Timur hingga ke Barat, terletak pada areal seluas 21.000 hektar dan menjadi milik Departemen Van Justitie berdasarkan Ordonansi Staatblad Nomor 25 tanggal 10 Agustus 1912 dan Staatblad Nomor 34 tanggal 4 Juni 1937 yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Selain itu, Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 24 Juli 1922, dan Berita Negara Hindia Belanda tahun 1928, menyebutkan bahwa keseluruhan Pulau Nusa Kambangan merupakan tempat penjara dan daerah terlarang.

Sistim kepenjaraan pada tanggal 27 April 1964 diubah menjadi sistem pemasyarakatan, serta istilah penjara diganti menjadi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang pengawasan dan pengelolaannya langsung di bawah kewenangan Menteri Kehakiman dan HAM.

Sisa-sisa Lapas tua yang sudah rontok, termasuk beberapa rumah tua, merupakan pemandangan menarik sepanjang jalan mulai dari Sodong ke Lapas Batu, Lapas Besi, terus ke Barat ke Lapas Kembang Kuning dan yang terjauh (sekitar 8 Km) Lapas Permisan.

Lapas yang beroperasi saat ini tinggal enam, yaitu LP Batu, LP Besi, LP Narkotika, LP Kembang Kuning, LP Permisan, dan Lapas SMS (Super Maximun Security, 2007).

Untuk mencapai pulau Nusa Kambangan, orang harus menyeberang dengan kapal Feri dari pelabuhan Wijayapura Cilacap menuju Sodong, pelabuhan khusus yang dikelola dan di bawah pengawasan Departemen Kehakiman, dengan lama tempuh 5-10 menit. Transportasi kapal Feri berfungsi melayani kepentingan transportasi pegawai, keluarga pegawai dan narapidana. Keluar-masuk pulau ini harus memiliki izin khusus dengan prosedur tertentu. Anak-anak para pegawai bersekolah di SD yang tersedia di dalam pulau. Untuk meneruskan ke tingkat lanjutan (SMP, SMU, atau perguruan tinggi), mereka harus bersekolah di Cilacap atau kota lainnya di Pulau Jawa.

Pendahuluan:

Sejak tahun 2000, sekali dalam setahun, Komisi Pelayanan dan Pekabaran Injil (KPPI) GKI Nurdin telah melakukan Program Pelayanan Kesehatan dan Rohani di Nusa Kambangan. Berkat pimpinan Tuhan dan partisipasi gereja-gereja lain dari Jakarta dan kota-kota lain, program ini dapat terlaksana dengan baik.

Program Pelayanan Kesehatan dan Rohani pada tahun ini diadakan dari tanggal 24 sampai 26 Februari yang lalu dengan tema “Moving Forward,” yang diambil dari 1 Korintus 9:24-27, yaitu usaha memotivasi para warga binaan Lapas Nusa Kambangan untuk meninggalkan apa yang telah terjadi pada masa lalu dan terus maju dalam lebenaran iman Kristen.

Seluruh GKI yang ikut berperan serta berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jogjakarta. Jumlahnya sekitar 16 gereja, antara lain GKI Nurdin, GKI PI, GKI Gading Serpong, GKI Perniagaan, GKI Sudirman, GKI Kebon Jati, GKI Pengampon, GKI Arcamanik, GKI Pasteur, GKI Taman Cibunut, GKI Pasir Koja, GKI Purbalingga, GKI Beringin, GKI Wonosobo, GKI Jogyakarta dan GKI Cilacap. Sebelum menuju Nusa Kambangan, semua terlebih dulu berkumpul di kota Cilacap.

GKI Pondok Indah sendiri baru pertama kali ikut berperan serta dalam pelayanan Baksos ini. Tim GKI PI berjumlah 7 orang, terdiri atas Ibu Pnt. Lanny Hendarsin (Ketua rombongan), Ibu Martha Dharyani, Ibu Ratnayanti, Drg. Lucia Bambang, Drg. Susanti Trisnadi, Dr. Hanna Susanti, dan Dr. Humala Simanjuntak.

Perjalanan:

Tim Pelayanan Baksos Kesehatan GKI PI berangkat dari Pondok Indah pada pukul 06.00 menuju GKI Nurdin. Setelah seluruh tim GKI Jakarta berkumpul, Panitia Pelayanan Kesehatan dan Rohani GKI Nurdin, Bapak Hendradi, melakukan registrasi ulang dan kemudian acara dilanjutkan dengan ibadah singkat yang dipimpin oleh Pdt. Fransiscus O. Toerino. Tepat pukul 07.30 rombongan yang berjumlah sekitar 50 orang ini berangkat dengan bus pariwisata “Symphoni.” Di dalam perjalanan, rombongan beberapa kali singgah di pompa bensin dan makan siang di restoran Brebes.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan