Menjadi Pensilnya Tuhan

Belum ada komentar 110 Views

Bencana gempa bumi terjadi di Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, pada tanggal 4 November 2015. Gempa pertama, yang berkekuatan 5,4 SR, terjadi pada pk. 05.25 Wita dengan pusat gempa 35 km di sebelah timur laut Pulau Alor, yaitu di 8.26 LS dan 125.02 BT dengan kedalaman 24 km. Gempa susulan, yang berkekuatan 6,2 SR, terjadi pada pk. 11.44 Wita. Pusat gempa berada 28 km di sebelah timur laut Pulau Alor, yaitu pada 8.20 LS dan 124.94 BT, serta tidak berpotensi Tsunami.

Gempa tersebut berdampak pada 7 desa, yaitu:

  1. Desa Maritaing
  2. Desa Kolana Selatan
  3. Desa Tanglapui
  4. Desa Tanglapui Timur
  5. Desa Elok
  6. Desa Belemana
  7. Desa Padang Panjang.

26 gedung gereja rusak berat dan ratusan rumah luluh lantak dalam gempa ini. Banyak sarana umum lainnya, seperti sekolah dan puskesmas, hancur, dan sarana listrik pun terganggu.

Melihat situasi ini dan kurangnya dukungan dari pihak gereja-gereja, sementara sahabat-sahabat kami dari Dompet Dhuafa dan PKPU Muhammadiah sangat peduli pada masyarakat Alor yang terkena bencana, maka kami secara swadaya mencoba hadir di Pulau Alor sejak tanggal 30 November sampai 5 Desember yang lalu dengan membawa 7 tenda peleton (sumbangan beberapa sahabat yang langsung dikirim ke Pulau Alor), 1 karung pakaian dalam anak, 1 karung sarung, 5 karung selimut garis, 2 buah terpal (sumbangan GKI SW Jatim yang langsung dikirim ke kota Kupang).

Gereja Darurat

Melihat situasi yang ada, dan berlandaskan Hagai 1:7-8, “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN,” maka Tim memulai pembangunan rumah Tuhan (gereja) darurat supaya masyarakat tetap ingat kepada-Nya dan memuliakan nama-Nya.

Kami bersyukur bahwa niat kami untuk mendirikan gereja darurat dengan bahan bantuan yang kami bawa, disambut dengan antusias oleh umat Tuhan di pulau Alor.

Menjumpai yang Tercecer dan Terlupakan

Perjalanan panjang menyusuri beberapa desa di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur cukup melelahkan tapi tidak membuat para pelayan Tuhan kurang bersemangat, karena kami ingin merefleksikan apa yang Kristus katakan di dalam Matius 25:45.

Di balik linangan air mata penuh syukur, kami makin mantap melayani karena sebelumnya kami sudah dibekali dengan refleksi mengenai “memberi barulah memberi, jika terasa sakit”. Allah mencintai dunia ini sampai memberikan Anak-Nya yang tunggal. Itulah tindakan memberi yang “menyakitkan” bagi Allah. Yesus mencintai para pendosa sampai memberikan nyawa-Nya di kayu salib. Itulah tindakan memberi yang menyakitkan bagi Yesus. Demikian juga janda miskin di Bait Allah memberi seluruh nafkahnya kepada Allah. Itulah tindakan memberi yang menyakitkan baginya.

Hal lain yang menjadi cermin dalam perjalanan pelayanan kita adalah Pengalaman Bunda Teresa, sang pendiri Komunitas Cinta Kasih, yang telah berkarya bagi kaum papa yang paling miskin. Ketika seorang bertanya kepadanya: “Apakah engkau pekerja sosial?” Bunda Teresa menjawab: “Saya bukan pekerja sosial tapi saya sedang menyalurkan kasih Tuhan. Saya hanyalah pensilnya Tuhan.” Bunda Teresa hadir di India bagi mereka yang membutuhkan bantuan, tanpa membedakan warna kulit atau agama. Orang-orang miskin yang akan mati dalam kehinaan itu diambil dan dirawat olehnya sehingga tidak jadi meninggal. Masih banyak lagi pengalamannya yang menggetarkan kalbu dan membangkitkan semangat pelayanan kepada sesama yang tercecer dan terlupakan.

Refleksi tentang memberi dan potret kehidupan Bunda Teresa membuat semangat kami terus berkobar dalam melayani orang-orang yang tercecer dan terlupakan. Kami sadar bahwa kami sedang menjadi Pensilnya Tuhan.

Doa kami di dalam perjalanan pelayanan: “Bapa di Surga, terima kasih untuk kesempatan yang Bapa berikan sehingga kami dapat berjumpa dengan Bapa di tengah orang-orang yang haus, lapar dan kehilangan tempat tinggal. Bapa, jadikan kami Pensil-Mu yang terus berguna bagi banyak orang, di mana pun kami ditempatkan.”

Jusak Ismanto Indrawan & Didi Nugroho

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan