Menguak Keterasingan, Membangun Relasi

Menguak Keterasingan, Membangun Relasi

Belum ada komentar 7 Views

Kisah orang samaria adalah sebuah kisah yang amat populer bagi orang Kristen. Kisah ini sudah puluhan (mungkin ratusan kali) dijadikan contoh untuk membuka keterasingan dan membangun relasi. Orang samaria yang sudah terbiasa diasingkan justru menjadi orang pertama yang berinisiatif untuk membuka diri terhadap penderitaan orang lain. Orang samaria yang biasa dianggap sebagai masyarakat kelas dua kini berinisitif untuk meruntuhkan pembatasan. Ia mengulur tangannya dan memberikan pertolongannya.

Sikap orang samaria adalah sikap yang mendobrak keterasingan (bandingkan dengan sikap imam, orang Lewi yang hanya melewati orang yang terkapar hampir mati). Ia tidak merasa terlalu jijik atau najis untuk menjamahnya. Ia tidak merasa direpotkan untuk merawat dan menjaminnya. Ia tidak berfikir matematis untuk pertolongan yang diberikannya. Dasar dari semua tindakannya itu semata-mata karena kasih. Kasih yang menguak keterasingan dan kasihlah menjadi satu-satunya dasar untuk membangun relasi. Tindakan pertolongan yang diberikannya tuntas hingga korban pulih dan dapat melanjutkan kehidupannya. Pertolongannya bukan saja memulihkan kesehatannya tetapi memberi ruang untuk mandiri. Kesehatan yang dipulihkan menjadi kekuatan baru untuk menata hidupnya kembali, berkerja keras untuk setiap hal yang ia butuhkan. Ia yang hampir mati kini dapat menjalani hidup yang hampir terampas karena keegoisan dan kejahatan orang lain karena tindakan kasih dari seorang samaria yang melewati jalan itu.

Di akhir bulan peduli ini, marilah kita membangun persekutuan kita di tengah dunia seperti sikap orang samaria. Setiap orang terpanggil untuk menguak, membongkar dan meruntuhkan keterasingan dan setiap orang menjadi pionir untuk membangun relasi. Setiap orang adalah sahabat dalam pergumulan di dunia. Membangun sikap seperti orang samaria menjadi relevan di tengah situasi dunia yang penuh dengan keegoisan dan persaingan yang justru menempatkan sesama sebagai lawan bukan kawan. Mari bangun relasi dengan menguak keterasingan. Ini panggilan yang tidak pernah berakhir, sebuah panggilan di sepanjang hidup dan kehadiran kita di dunia.

 

dva

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan