Mengikut dan Percaya Kepada Yesus adalah Hal yang Terindah!

Mengikut dan Percaya Kepada Yesus adalah Hal yang Terindah!

Belum ada komentar 133 Views

Saya lahir di Jakarta dari orangtua yang berlainan suku. Ayah berasal dari suku Dayak dengan agama Islam yang sangat kuat, dan Ibu dari suku Jawa dengan agama Kristen yang juga sangat kuat. Ketika menikah dengan Ayah, Ibu memeluk agama Islam dan otomatis saya dan ketiga saudara saya (kakak perempuan saya, Dewi, kakak laki-laki saya, Novida dan saudara kembar saya, Sellvie) beragama Islam juga.

Suatu ketika Ayah dan Ibu berpisah, dan semua anak diboyong Ibu ke kota kelahirannya di Salatiga. Di sana, keluarga besar Ibu adalah penganut Kristen yang sangat taat, namun demikian saya tetap dididik oleh ibu dan kedua kakak saya dalam ajaran agama Islam. Saya bersekolah di TK Islam di Salatiga. Di sekolah, saya dan saudara kembar saya belajar banyak tentang agama Islam. Sepulang sekolah, saya belajar Iqro dan dilanjutkan dengan Shalat Maghrib, kemudian Shalat Isha dan dilanjutkan lagi dengan belajar mengaji di masjid bersama teman-teman bermain saya di lingkungan di mana kami tinggal. Hal itu kami lakukan setiap hari, bahkan banyak tetangga di lingkungan tempat kami tinggal sering memberi saya dan Sellvie hadiah karena kerajinan dan keaktifan kami belajar mengaji. Tetapi selalu ada suatu kekosongan di hati saya pada waktu itu, dan entah mengapa, saya tidak merasa bahagia.

Saya selalu bersedih setiap kali melihat keluarga dan sepupu-sepupu saya pergi ke gereja, ke Sekolah Minggu dan merayakan Natal. Saya bertanya dalam hati, seperti apakah gereja itu? Apa saja yang dilakukan di Sekolah Minggu? Apakah sebenarnya Natal itu? Tetapi, apalah daya saya. Saya hanya seorang anak kecil berumur 6 tahun yang tentu saja tidak bisa menentukan sendiri hidupnya. Saya hanya mengintip sepupu-sepupu saya ketika mereka pergi ke Sekolah Minggu.

Suatu hari terjadi peristiwa besar dalam keluarga kecil kami. Inilah awal cerita bagaimana saya bisa mengenal Yesus. Saya dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, dan sehari setelah saya pulang ke rumah, saudara kembar saya, Sellvie dimasukkan ke rumah sakit yang sama. Hanya tiga hari di rumah sakit, Sellvie sudah menghabiskan 11 botol infus dan itu menyebabkan perutnya membesar seperti orang hamil. Malam itu juga Sellvie dilarikan ke sebuah rumah sakit swasta di Semarang dan langsung dioperasi. Ada empat selang yang menempel di tubuhnya, dan Sellvie berada di Ruang ICU selama dua minggu. Saya tidak mengerti apa yang terjadi saat itu, karena tidak ada satu pun keluarga saya yang bercerita kepada saya. Saya hanya melihat setiap kali membicarakan tentang Sellvie, maka tante, om, dan nenek saya selalu menangis. Oleh tante saya, Ibu diungsikan dan tidak diberitahukan apapun tentang Sellvie.

Setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit, akhirnya Sellvie diizinkan untuk kembali ke rumah. Betapa bahagianya saya bertemu kembali dengannya, namun juga sedih melihat tubuhnya yang begitu kurus. Malam itu, Ibu menyampaikan hal yang membuat kami terkejut, tetapi juga sangat gembira. Ibu berkata bahwa beliau akan kembali ke gereja dan tetap mengizinkan kami belajar agama yang telah kami pelajari. Dengan gembira saya dan Sellvie mengatakan bahwa kami ingin pergi ke Sekolah Minggu, kami ingin pergi ke gereja dan kami ingin mendengar cerita tentang Tuhan Yesus. Tiga bulan kemudian kami dibaptis di Gereja Kristen Jawa 55.

Saya dan Sellvie sangat bersemangat belajar banyak hal tentang Alkitab. Kami tumbuh dan besar di lingkungan gereja. Kami aktif di Sekolah Minggu, lalu menjadi pengurus Komisi Remaja dan berlatih menjadi guru Sekolah Minggu. Setiap hari sepulang sekolah, kami bersama teman-teman gereja melakukan banyak kegiatan di gereja, seperti berlatih menabuh tamborin, ikut vocal group, tim musik, menggalang dana, aksi sosial dan banyak hal positif lainnya. Hal ini kami lakukan sampai kami lulus SMU. Setelah itu, saya dan Sellvie melanjutkan kuliah dan bekerja di Jakarta.

Tetapi jalan yang telah kami pilih untuk mengikut Yesus tidaklah mudah. Tetangga di mana kami tinggal dulu, berbalik membenci dan menjauhi kami, dan hal itu bahkan terus berlangsung sampai kami lulus SMU. Selain itu, seluruh keluarga kami di Jakarta (keluarga besar Ayah) juga mengucilkan kami berdua. Mereka tidak pernah menganggap kami berdua sebagai bagian dari mereka. Mereka hanya peduli kepada kedua kakak saya yang memang tetap memilih agama Islam hingga sekarang. Tetapi Ibu dan kami berdua tidak pernah gentar. Bagi kami, Yesus adalah yang terpenting dalam hidup kami. Mengikut dan percaya kepada Yesus adalah hal terindah di dalam hidup kami. Tantangan kami sekarang adalah untuk menjadi saksi Yesus bagi keluarga kami.

Saya sangat bahagia bisa membagikan kesaksian ini. Saya berharap bahwa iman kami semakin bertumbuh di dalam kesetiaan kepada Kristus.

Trivenna Selva Febriannie

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan