Menghitung Jumlah Umat Israel

Menghitung Jumlah Umat Israel

Belum ada komentar 226 Views

Pak Pendeta Yth.

  1. Apakah makna dari Ibrani 6:4-6? Apakah orang yang sudah lahir baru dan kemudian murtad, tidak bisa bertobat lagi? Apakah tidak ada pengampunan dari Allah? Bukankah dosa menghujat Allah Tritunggal yang tidak bisa diampuni?
  2. Dalam Bilangan 1:2, Musa diperintahkan menghitung jumlah segenap umat Israel. Namun dalam 1 Tawarikh 21:1-17, ketika Daud meminta Yoab untuk menghitung jumlah orang Israel, maka hal itu dipandang jahat di mata Allah. Apakah perbedaan di sini? Apakah karena motivasi Daud salah? Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa tindakan yang kita lakukan itu benar di mata Allah?
  3. Mengapa pada masa Perjanjian Lama sering dipakai warna ungu, misalnya untuk menutupi kandil, meja ukupan, dsb. Warna yang sering digunakan adalah ungu tua, ungu muda dan kirmizi. Mungkinkah ada penjelasannya?

Terima kasih atas penjelasan Bapak.
Maureen – Jakarta

Jawab:

Apa kabar, Maureen? Terima kasih untuk pertanyaannya. Inilah jawaban saya untuk ketiga pertanyaanmu:

  1. Sebagai makhluk yang terbatas, setiap orang selalu memiliki titik kritisnya, yaitu batas di mana seseorang dapat menahan sesuatu. Kalau titik kritis itu terlampaui, maka orang itu tidak akan mampu menahan beban yang ia terima. Tubuh kita dalam batas tertentu bisa menahan virus yang masuk, bahkan kita bisa hidup bersama virus tersebut. Namun bila virus itu berkembang biak melampaui kemampuan tubuh untuk menahannya, maka sakitlah kita. Secara mental, kita juga mampu menahan tekanan hidup sampai batas tertentu, tetapi jika batas itu terlewati, maka kita akan mengalami depresi, bahkan gangguan jiwa yang lebih berat. Begitu juga secara rohani, selalu ada batas di mana proses kemurtadan itu masih bisa diperbaiki. Tetapi bila titik kritisnya terlampaui, maka orang itu akan sulit kembali.Jadi bukannya Allah tidak mau mengampuni. Allah tidak pernah menginginkan seseorang itu binasa (2 Petrus 3:9). Dia selalu menginginkan setiap orang berbalik dan bertobat! Tetapi dalam proses kemurtadan ada batas, yang bila terlampaui, akan membuat orang itu tidak bisa kembali. Masalahnya, batas tiap orang itu berbeda-beda. Titik kritis tiap orang itu tidak pernah sama. Nah, Ibrani 6:4-6 ditulis untuk mengingatkan kita. Hati-hati dengan proses kemurtadan. Kita tidak tahu di mana batas yang menjadi titik kritis kita. Sebelum batas itu terlampaui, bertobatlah!
  2. Bilangan 1:2 konteksnya berbeda dengan 1 Tawarikh 21:1-17. Dalam Bilangan 1, konteksnya adalah penyusunan silsilah (Bilangan 1:18 b). Dalam penyusunan silsilah, pencatatan jelas diperlukan agar silsilahnya dapat tersusun dengan baik. Sedangkan konteks 1 Tawarikh 21 adalah peperangan (1 Tawarikh 19, 20). Meskipun alasan penghitungan umat tidak dijelaskan, patut diduga bahwa alasannya adalah kesombongan Daud atau ketidakpercayaan Daud. Karena itulah, penghitungan ini dipandang jahat di mata Allah. Daud lebih percaya pada jumlah tentaranya ketimbang pada Allah. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui bahwa tindakan kita baik di mata Allah? Tidak mudah. Tetapi sepanjang kita berusaha menjaga tindakan kita baik di mata Allah, meskipun salah, Allah pasti bisa memahaminya.
  3. Tidak jelas mengapa warna ungu sering dipakai dalam Perjanjian Lama. Yang jelas, pada masa itu, warna ungu adalah warna kebesaran (simbol kebangsawanan). Misalnya, waktu Mordekhai diangkat menjadi warga kehormatan, maka ia memakai jubah ungu (Ester 8:15). Patut diduga, pemakaian warna ungu dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan keberadaan warna ungu sebagai simbol kebesaran. Bukankah Allah itu Raja di atas segala raja? Sudah sepantasnya warna ungu menjadi bagian yang dominan dalam Bait Allah, di mana Allah berdiam di dalamnya.

Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Persembahan Bagi Tuhan
    Yth. Pak Pendeta, Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci,...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan