Mengejar Mimpi

Mengejar Mimpi

Belum ada komentar 302 Views

“Jangan mimpi deh. Yang nyata-nyata aja…”
“Hidup ga usah banyak mimpi, yang penting kerja!”
“Mimpi kali ye…”

Entah mengapa, pernyataan-pernyataan seperti di atas sering kali hilir mudik dalam benak saya. Mungkin karena pernyataan itu dilontarkan berulang-ulang dalam tulisan atau secara verbal oleh orang-orang yang cukup berpengaruh dalam hidup saya pada waktu kecil. Saat saya menyatakan mimpi saya, kalimat kontra itu berkali-kali menekankan pentingnya hidup mendarat dan menjejak bumi. Herannya, kontra itu tidak dapat membendung keinginan saya untuk mimpi, mimpi dan bermimpi. Bagaikan seorang nenek yang di penghujung usianya sempat beberapa kali saya dengar memekikkan sebuah doa, “Beri saya hidup sampai umur 100 tahun, Tuhan!” Demikian pula keinginan untuk bermimpi, selalu menyatu dan terlintas dalam benak ini.

MIMPI ADALAH KUNCI

Sesungguhnya mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan indra manusia dalam tidur seperti perasaan, pendengaran atau penglihatannya. Biasanya orang tidak mengalami mimpi dalam dunia nyata. Carl Jung, pengikut Freud, mengatakan bahwa mimpi adalah kompensasi dari kepribadian kita yang tidak terlaksana di dalam dunia nyata. Namun kata ini digunakan juga untuk menjelaskan tentang “cita-cita” atau “angan-angan” atau “pikiran yang terlintas” atau juga “sesuatu yang dapat dicapai”.

Berdasarkan definisi terakhir itulah rupanya Nidji, di pembukaan lagu film ‘Laskar Pelangi’ mengatakan, “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya…” Film layar lebar yang diangkat dari novel Andrea Hirata (2005) ini menceritakan tentang 10 anak dari keluarga di bawah garis kemiskinan yang bersekolah di sebuah Sekolah Muhammadiyah di Kampung Belitung. Singkat cerita, kerasnya dunia membuat salah satu muridnya, Lintang, si Einstein kecil, putus sekolah karena ayahnya meninggal saat mencari ikan di tengah laut. Namun kisah ini ditutup saat 12 tahun kemudian, salah satu dari 10 murid SD Muhammadyah Belitung, Ikal, pulang ke kampung Belitung setelah mencoba mengejar bagian dari mimpinya… ke Jakarta.

Kisah ini berlanjut dalam tulisan karya Andrea Hirata yang kedua, yaitu “Si Pemimpi”. Ikal yang mengejar mimpi bersama Arai untuk pergi ke Paris, akhirnya lulus dari Universitas Indonesia. Alhasil, Ikal harus menerima kenyataan hidup di Jakarta yang keras, bekerja sebagai tukang sortir surat di Kantor Pos. Ini salah satu celoteh suara hati Ikal di tengah perjuangannya meraih mimpi, “… menjadi penulis novel… tapi tulisanku selalu ditolak… Arai dialah penyebab semua ini, sepupuku sendiri. Pembual brengsek, ia yang membuatku memelihara mimpi yang ternyata kosong. Dia membuatku mimpi sangat tinggi. Dan… di mana dia sekarang? Dia pergi membiarkanku sendirian sampai busuk selama 3 tahun… Ia membuatku percaya bahwa kita dapat pergi sampai ke Paris menjelajahi dunia.” Novel yang sekali lagi dijadikan film layar lebar menceritakan kisah Ikal dan Arai yang jatuh bangun menggapai mimpi, sehingga akhirnya mereka berdua benar-benar mendapat beasiswa ke Paris. Saat menginjakkan kaki di Eropa mereka berkelakar, “Salju Rai!” Arai menjawab, “Eropa Boy!” sambil keduanya tertawa puas.

Kisah karya anak bangsa ini mengharukan dan mencoba meyakinkan pemirsa bahwa “Mimpi adalah Kunci untuk menghadapi segala tantangan.” Seperti lirik dari sebagian lagu Laskar Pelangi karya Nidji:

Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya…
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia
Selamanya
Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi…
Laskar pelangi
Takkan terikat waktu

Lagu ini mengingatkan saya pada Ibadah malam Natal yang dipimpin oleh Pdt. Tumpal Tobing beberapa tahun yang lalu. Beliau sempat menjadikan lagu Laskar Pelangi sebagai pendahuluan khotbahnya. Hal ini menggelitik saya, bagai Arai mengingatkan Ikal, “Bermimpilah terus tanpa lelah!”

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mimpi?

Seorang teman yang sedang menulis disertasinya di Harvard mengatakan kepada saya bahwa bermimpi berarti berimajinasi. Ia menceritakan bahwa adanya dia di sini adalah hasil dari mimpi. Ia sendiri lahir di salah satu kampung di Pulau Seram. Ayahnya seorang Kepala SD Kristen. Bahkan rumahnya pun tidak memiliki akses ke kecamatan. Yang menarik, sang ayah selalu mendorongnya untuk bermimpi sekolah setinggi-tingginya. Banyak tokoh yang berhasil studi setinggi mungkin, diceritakan oleh ayahnya. Kini teman saya sedang menyelesaikan PhD-nya di GTU (Graduate Theological Union), mencapai mimpi dan imajinasi yang ditularkan oleh sang ayah.

Dalam buku “Imagination”, Sandra M. Levy mengingatkan bahwa ada kekuatan dalam imajinasi yang tidak dapat disepelekan. Melalui gesture, metafora, suara, gambar dan cerita, seseorang dapat mencapai sebuah dunia lain yang penuh arti. Itu berarti, bermimpi adalah sebuah usaha untuk menggapai dunia lain yang tidak ada sekarang, namun penuh dengan arti dan bisa jadi hadir dan kita alami. Mimpi dimulai dari membayangkan apa yang indah, baik, menyenangkan, membanggakan dan berkenan di hati.

Pertanyaannya, mimpi seperti apa yang dimaksud?

Saya suka sekali dengan buku Archbishop Desmond Tutu berjudul God’s Dream. Inilah awal dari sebuah mimpi: Mimpi Allah. Mimpi Allah bagi anak-anak-Nya di dunia ini. Mimpi di mana semua manusia, dimulai dari anak-anak, hidup rukun bergandengan tangan bersama.

Rupanya ada beberapa mimpi di dunia ini:
Pertama, mimpi diri sendiri
Kedua, mimpi bersama
Ketiga, mimpi Allah

Dalam bukunya The Dream of God, Verna J. Dozier mengatakan bahwa sering kali gereja lupa bahwa Allah memiliki mimpi bagi umat-Nya. Allah memimpikan manusia hidup dalam harmoni sebagai anggota Kerajaan Allah di tengah dunia ini. Itu sebabnya jika hendak mengaitkan mimpi Allah dengan dorongan dari Nidji, lagu itu jadi berbunyi:

Bermimpilah, menari dan tertawalah, bersyukurlah pada Yang Kuasa…
Selamanya…
Walau hidup kadang tak adil.

HIDUP KADANG TAK ADIL

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
[cuplikan lirik lagu “Laskar Pelangi” karya Nidji]

Tidak semua orang suka bermimpi dan tidak semua orang percaya pentingnya mimpi. Salah satu sulit-nya bermimpi adalah saat di mana mimpi kita dibatasi atau tidak di-dukung. Pengalaman yang berulang meyakinkan kita bahwa tidak ada gunanya bermimpi. Bahkan mimpi membuat kita tidak menginjak bumi ini.

Suatu pagi Andrea, anak saya (9,5 tahun), seperti biasa saya bangunkan untuk bersiap ke sekolah. Namun ia menarik selimutnya sambil berkata, “Sebentar Mami, mimpinya lagi enak!” Apa daya, mimpi yang indah itu tidak berlanjut karena terpotong oleh suara Mami yang membangunkannya. Karena waktu berangkat sekolah telah mendesak, maka mau tidak mau ia harus mengakhiri tidurnya. Saat kita bermimpi, kenyataan hidup juga sering kali membangunkan kita dan menutup kemungkinan terwujudnya mimpi itu.

Hidup kadang tidak adil. Bukan hanya kenyataan hidup yang dapat menutup mimpi-mimpi kita. Namun di saat kita mengejar mimpi, munculnya orang-orang yang tidak menentang mimpi kita juga membuat kita merasa bahwa hidup ini tidak adil. Sebelum dan sesudah Martin Luther King Jr., dalam March of Washington tanggal 28 Agustus 1963 menyatakan, “I have a dream” (Saya memiliki sebuah mimpi) banyak perlawanan yang dilakukan oleh orang kulit putih terhadap mimpi King itu. Bahkan pada waktu diusulkan adanya Hari Martin Luther King Jr., Senator Jesse Helms dari Partai Republik menentang Rancangan Undang-Undang tersebut. Tuduhan juga dilontarkan kepada King. Salah satunya King dituduh memiliki hubungan dengan pihak komunis. Bukan hanya Senator Helms, Ronald Reagen juga menentang hari libur tersebut. Namun sungguh mimpi yang diberkati, suara mayoritas di Dewan Perwakilan dan Senat mendukung hari libur tersebut. Mimpi penuh perjuangan itu akhirnya tidak sia-sia, walau belum seratus persen mencapai kesempurnaan, “Saat di mana semua anak Allah, hitam dan putih, Yahudi dan non-Yahudi, Protestan dan Katolik, akan dapat bergandengan tangan bersama dan menyanyi dengan orang-orang Negro dalam spiritualitas mereka: “Akhirnya bebas! Akhirnya bebas! Terima kasih Tuhan Maha besar, akhirnya kami bebas!” (King, A Call, 73).

Mimpi yang belum terwujud juga bukan tanda bahwa kita tidak boleh bermimpi. Siapa yang tidak kenal Walt Disney? Sepanjang abad ke-20 Walter Elias Disney yang sangat suka menggambar dan seni, telah menyentuh hati manusia dari anak kecil sampai orang tua di seluruh dunia melalui imajinasi, kreativitas tanpa batas dan optimismenya. Siapa sangka seorang anak loper koran yang bermimpi menjadi ilustrator beberapa kali mengalami penolakan dari penerbit atas hasil karyanya. Namun Walter tidak putus asa. Dengan dana $500 saja ia mendirikan perusahaan kartun. Ia sempat kelaparan dan tidak memiliki uang untuk makan. Namun siapa sangka di tahun 1955, pria dewasa yang masa kecilnya pernah menjadi pencuci kereta jenazah dan loper koran itu membuka Disneyland dengan penghasilan $35 milyar pada tahun 2007. Walt Disney bermimpi dan mengejar mimpinya dengan kerja keras, bukan dengan putus asa dan khawatir.

“Hidup memang kadang tak adil” seperti lirik lagu Nidji, namun judul hidup dari mereka yang bermimpi menjadi lebih jelas, “Jatuh bangun menuju mimpi”. Sebab jatuh bangun itu selalu ada sejak pertama dunia dijadikan. Dozier dalam The Dream of God mencatat setidaknya ada 3 halangan dalam bermimpi:

Halangan Pertama adalah kejatuhan manusia pertama. Manusia pertama membuat mimpi Allah menjadikan manusia sebagai citra dan gambar-Nya menjadi rusak. Takutnya Adam kepada Allah karena sudah melakukan pelanggaran, membuat Adam bersembunyi dan memberi respons yang mengecewakan dengan menyalahkan orang lain.

Dulu saya pernah bermimpi untuk membuat sekolah untuk para orangtua. Seorang dosen sempat mengernyitkan dahinya sambil memberi komentar sinis, “Parent’s School? Mana mungkin ada orangtua yang mau di Jakarta–kota sibuk itu?” Saat orang menyalahkan orang yang memiliki mimpi, maka mimpi menjadi sirna. Allah bermimpi agar Hawa menjadi penolong yang sepadan bagi Adam. Allah bermimpi agar keduanya saling mendukung untuk menyatakan dan menunjukkan citra Allah di dalam diri mereka bagi dunia ini. Namun Adam menyalahkan Allah, “Orang yang Kautempatkan di sisiku inilah yang memberikan aku buah itu!”

Halangan Kedua adalah saat Israel yang seharusnya menjadi perwujudan mimpi Allah, memberontak terhadap Allah. Sebagai orang yang telah dibebaskan Allah dari dosa tetapi juga dari perbudakan, mereka sesungguhnya dipercaya Tuhan untuk membebaskan kaum yang ditindas, bukan menindas yang lain. Allah bermimpi tentang keadilan, tetapi Israel menolaknya. Allah memimpikan adanya komunitas yang harmonis, tetapi nyatanya mereka terpecah belah.

Dalam hidup kita, mimpi juga sering kali menjadi kabur dan menguap saat kemanusiaan kita mulai muncul dengan seluruh keberadaan negatifnya. Kemarahan, ketidakadilan dan keinginan untuk bersaing membuat mimpi kita, bahkan mimpi Allah atas kita terhalang.

Halangan ketiga menurut Dozier adalah saat manusia (khususnya warga Amerika) memutuskan untuk hidup individualis. Itulah saat di mana pengikut Kristus memilih untuk mengikut kerajaan dunia ini dengan seluruh kenikmatan yang ditawarkannya. Saat gereja menjadi gereja yang imperial dengan tidak lagi mendengarkan suara Tuhan, melainkan kepentingan dirinya sendiri.

Rupanya Dozier selalu mengaitkan mimpi Allah dengan kelemahan dan kejatuhan manusia dalam dosa. Ini menunjukkan bahwa sekalipun kita bermimpi bersama Tuhan, halangan dan penolakan terhadap mimpi yang kita miliki akan selalu ada. Akan selalu ada orang yang tidak adil terhadap kita, akan selalu ada orang yang berusaha secara sadar atau tidak membatalkan serta menghalangi mimpi kita. Lalu apa yang dapat membuat mimpi kita terwujud?

CINTA LENGKAPI MIMPI

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
[cuplikan lirik lagu “Laskar Pelangi” karya Nidji]

Dalam buku The American Dream and The Public Schools, Jennifer L. Hochschild, seorang penulis di bidang pendidikan, mencatat mimpi Presiden George W. Bush (2000), “Kita memiliki kesempatan nasional yang sangat besar – meyakinkan bahwa setiap anak, di setiap sekolah ditantang dengan standar yang tinggi… membangun sebuah budaya berprestasi yang sesuai dengan aspirasi dan optimisme negara kita.” Ini bukan mimpi pertama dari seorang yang berpengaruh bagi perjalanan sejarah Amerika. Jauh sebelum itu, Benjamin Franklin (1749) salah satu pendiri Amerika dan presiden keenam negara bagian Pennsylvania (1785–1788), serta duta besar AS pertama untuk Prancis juga memiliki mimpi indah tentang pendidikan di Amerika yang sampai saat ini sedang terus diperjuangkan, “Tidak ada yang paling efektif bagi penanaman dan perbaikan sebuah negara, hikmat, kekayaan, kekuatan, kesalehan, kebajikan, kesejahteraan, kebahagiaan dari sebuah bangsa, daripada sebuah pendidikan yang pantas bagi kaum muda, dengan cara membentuk kebiasaan mereka, memberikan ilham di benak mereka dengan prinsip-prinsip kejujuran dan moralitas, (dan) mengajarkan mereka dalam… semua cabang dari keilmuan dan pengetahuan budaya.”

Pendidikan di Amerika dimulai dengan mimpi. Mimpi dari para pemimpinnya memimpin dunia pendidikan melanjutkannya. Mimpi yang dilengkapi dengan cinta. Walau terus diuji apakah mimpi itu tahan uji dan terwujud dalam diri naradidiknya.

Pertanyaannya sekali lagi, apa yang membuat mimpi kita terwujud? Sekali lagi Nidji menjawab, “Cintalah yang membuat mimpi itu menjadi lengkap.” Nidji tidak berkata bahwa cinta membuat mimpi terwujud, tetapi cinta membuat mimpi menjadi lengkap.

Berefleksi terhadap pendidikan yang sedang dijalani oleh anak saya di sini, ada banyak hal baru yang saya dapatkan berbeda dari sistem pendidikan di Indonesia. Namun bukan berarti tidak ada kelemahan di dalamnya. Efek negatif dari critical thinking misalnya mengakibatkan anak-anak dengan mudahnya melawan pendapat dan nasihat orangtua dengan dalih kebebasan berpendapat. Namun demikian, di dalam plus-minusnya sistem pendidikan yang dijalankan, satu hal yang saya rasakan, “Cinta guru kepada muridnya, membuat pendidikan tampak indah.”

Itu juga yang dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya. Ada banyak mimpi (baca: perintah dan petunjuk) yang Tuhan nyatakan kepada kita, para pengikut-Nya. Dia bermimpi agar kita setia, nyatanya dalam masa sulit, dengan mudah kita memilih lari dan pergi menjauh dari-Nya. Atau Dia juga bermimpi agar kita mengajarkan cinta kepada anak-anak kita. Namun nyatanya banyak orangtua melakukan kekerasan di dalam rumah tangga, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Atau saat Allah memimpikan gereja yang saling memerhatikan dan membangun seperti tubuh Kristus, nyatanya yang lemah justru yang paling tidak diperhatikan.

Apa yang membuat Allah setia mendambakan kita mewujudkan mimpi-Nya? Kasih Allah. Allah mengasihi kita dan mengasihi hidup kita. Ia memberikan diri-Nya agar kita hidup dan memberikan hidup-Nya agar kita mempersembahkan diri bagi Dia.

Kalau Allah sedemikian mengasihi kita, apa bagian kita sekarang dengan adanya halangan-halangan dalam mewujudkan mimpi Allah di dunia ini? Masih dapatkah kita bermimpi sendiri tanpa Allah?

Sebagai pengikut Kristus, Samuel Wells dalam Learning to Dream Again mengajak kita untuk belajar. Apa yang dapat kita pelajari dalam rangka melanjutkan atau menggarap mimpi kita? Prinsip utama yang ia tawarkan adalah menemukan hati Allah untuk membangun mimpi kita. Salah satu dari beberapa pembelajaran untuk menemukan hati Allah, menurutnya adalah dengan belajar mengasihi kembali. Rupanya hati Allah dapat ditemukan saat kita memerhatikan mereka yang tidak diperhatikan di hadapan manusia (Love to the loveless). Bagaimana dengan kita?

MENGEJAR MIMPI

Dalam buku God’s Dream dikatakan, “Each of us carries a peace of God’s heart within us. And when we love one another, the peace of God’s heart are made whole.” Setiap orang dibekali damai sesuai dengan hati Allah. Dan saat kita saling mengasihi, maka damai yang sesuai dengan hati Allah menjadi sempurna dan utuh.

Ada banyak orang bermimpi di dunia ini: mimpi menjadi pemilik beberapa perusahaan, mimpi menjadi artis internasional, mimpi menjadi penemu yang dikenal oleh dunia, mimpi untuk menjadi jutawan… dan ada segudang mimpi lagi yang bisa jadi sebagian darinya telah terwujud. Namun kali ini, jika sebuah pertanyaan muncul saat kita duduk membaca tulisan ini: apakah kita sudah bermimpi bersama Tuhan? Dan apakah mimpi Tuhan sudah terwujud di dalam hidup dan keluarga kita? Mimpi seorang pengikut Kristus dimulai dari hati, didorong oleh cinta: cinta kepada Tuhan, kepada sesama dan kepada ciptaan Tuhan lainnya, untuk mengejar mimpinya Tuhan. Mimpi Tuhan bukan berarti Tuhan tertidur dan mengalami sesuatu di alam bawah sadar Tuhan seperti seorang yang bermimpi dalam tidurnya. Tuhan bermimpi, berarti Tuhan memiliki juga pikiran/harapan atas ciptaan-Nya. Itulah rupanya maksud Desmon Tutu dalam bukunya God’s Dream.

Jadi kalau hari ini, kita sebagai bagian dari GKI Pondok Indah, diajak untuk bermimpi bagi gereja Tuhan ini, bukan berarti kita diajak tidur dan mengalami pengalaman alam bawah sadar. Tetapi kita diajak untuk memiliki harapan ke depan bersama Tuhan untuk kehidupan yang Tuhan juga kehendaki atas diri kita, keluarga kita, gereja kita, dunia ini.

Saya bermimpi agar makin banyak orang memimpikan mimpi Tuhan
Saya bermimpi agar makin banyak orangtua menularkan mimpi Tuhan kepada anak-anak mereka
Saya bermimpi agar makin banyak wanita menjadi ibu yang didambakan para anak
Saya bermimpi agar makin banyak pria yang memiliki hati seorang Bapa yang penuh kasih
Saya bermimpi agar semua keluarga mengejar keharmonisan lebih daripada mimpi lainnya
Saya bermimpi agar makin ringan langkah kita untuk berbagi, makin penuh sukacita di hati
Saya bermimpi agar selalu saat kita berbagi,
apapun yang kita bagikan menjadi wujud mimpi bagi mereka yang diberi
Saya bermimpi agar setiap hati yang duduk berbakti bermimpi untuk menjadi saksi,
atas Kasih Tuhan yang mengikis benci dan khawatir
Saya bermimpi agar saat kita berbakti, ada sentuhan Tuhan yang selalu menjamah hati,
menggerakkan tangan, mata dan kaki untuk mewujudkan mimpi Tuhan di dunia ini… melayani dengan hati
Saya bermimpi agar ibadah di gereja kita ini, menjadi inspirasi setiap hati untuk hidup penuh arti
Saya bermimpi agar gereja ini semakin menjadi mimpi banyak gereja
Karena mimpi-mimpi Tuhan menjadi kenyataan di sini, kini dan nanti
Karena dipenuhi orang-orang dengan sikap hati yang selalu ingin melayani, terbuka dan peduli
sebagai pengikut Kristus yang sejati

Ini mungkin hanya imajinasi saya sendiri. Namun saya percaya, jika dua orang atau lebih berimajinasi dan bermimpi dalam kasih dan pelukan Tuhan, Tuhan sesungguhnya sedang meletakkan visi kepada para pemimpi.

Bagaimana jika mimpi itu tidak terjadi?

Yang terpenting bagi para pemimpi bukanlah mendapatkan apa yang mereka dapatkan dan raih, tetapi jalan yang penuh semangat dan sukacita mengejar mimpi. Halangan dan kecewa adalah bagian dari perjuangan meraih mimpi. Dan air mata merupakan warna dari perjalanan yang dilaluinya.

Bagaimana jika saya tidak suka bermimpi?

Tidak semua orang suka bermimpi. Jika kita tidak ingin bermimpi, biarkan Tuhan meletakkan dan menitipkan mimpi-Nya bagi kita. Mari Saudara, bermimpi dan mengejar mimpi… mimpi Tuhan bagi dunia ini. Jangan berhenti mewarnai… jutaan mimpi di bumi…

Seorang sahabat memberi respons kepada saya saat saya menawarkan untuk bermimpi, “Aku ga mau bermimpi Ri, supaya ketika sesuatu yang indah diberikan, bisa membuat aku terhenyak…” Saya lalu menjawab, “Kalau begitu biarkan aku yang bermimpi supaya sesuatu yang indah diberikan kepadamu… supaya kamu bisa terhenyak…”

Jika Saudara bukan tipe pemimpin, setidaknya izinkanlah para pemimpi bermimpi bersama Tuhan, untuk keluarga kita, untuk gereja kita, untuk dunia ini, bahkan untuk diri kita. Mari dukung mimpi mereka, sekalipun mungkin kita belum percaya bahwa mimpi itu dapat dialami.

Bagaimana cara bermimpi?

Jika kita kesulitan untuk memahami arti “mimpi” secara positif, marilah kita mulai dengan membayangkan apa yang Tuhan kehendaki bagi kita, bagi keluarga kita, bagi gereja kita dan bagi dunia ini. Lalu doakan kehendak Tuhan itu sekalipun kita menjumpai ketidakmungkinan dan ketidakadilan, bahkan gelap menuju itu. Terbukalah untuk dipakai Tuhan, digerakkan Tuhan dan diubah Tuhan demi mewujudkan kehendak Tuhan itu. Melangkahlah… mengejar/melakukan kehendak Tuhan itu.

Selamat Ulang Tahun, warga jemaat GKI PONDOK INDAH. Bagaimana, siap bermimpi?

* Pdt. Riani Josaphine

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan