Menata Diri Menggapai Esok

Menata Diri Menggapai Esok

Belum ada komentar 75 Views

Kadang kita tidak sepenuhnya mengenal diri kita. Baik kelebihan atau kekurangannya. Terlebih kalau kita ditanya, sebagai orang percaya, siapakah kita ini? Hal ini mungkin akan menjadi pergumulan kita. Seperti yang dikatakan Firman Tuhan, bahwa kita ini diciptakan dengan meyandang Imago Dei, Citra Allah. Tetapi citra ini tidak bisa dipertahankan, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Di samping citranya rusak, hubungan intim dengan Allah juga putus. Oleh karena itu, atas inisiatif Allah, karena kasih-Nya, maka diutus-Nya lah Yesus Kristus untuk berkurban, sehingga jembatan yang putus itu tersambung kembali. Walaupun kita ini manusia ciptaan Tuhan yang sudah diperbaharui, tetapi ternyata kita ini manusia tidak sempurna. Justru di dalam ketidaksempurnaan, manusia menjadi sempurna. Justru di dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan menjadi sempurna. Oleh karena itu, kita perlu menata diri dengan tuntunan kasih-Nya.

Ketidaksempurnaan kita sebagai ciptaan-Nya, telah disempurnakan oleh kuasa-Nya. Allah Yang Mahakuasa-lah yang berdaulat atas hidup kita. Kedaulatan Allah inilah yang harus kita pegang. Jangan sekali-kali kita mencoba menduakan-Nya. Hati-hati, Dia adalah Allah yang cemburu. Juga jangan menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Kita ini ibarat hamba di hadapan hadirat-Nya. Seorang hamba selayaknyalah mengutamakan kehendak Tuannya, dan tidak semaunya sendiri. Hidup dengan benar. Hidup dengan takut akan Allah. Hidup mengiring Tuhan, bukan menggiring-Nya.

Kita diciptakan tidak sendiri. Kita hidup bersama dengan orang lain. Kita adalah makhluk sosial. Oleh karena itu kita juga harus menjaga hubungan kita dengan sesama. Mereka juga Imago Dei. Kita tidak pernah terlepas dari hubungan dengan sesama dan Sang Pencipta. Kualitas hidup kita akan tercermin dari perlakuan kita terhadap sesama. Bagaimana kita memandang sesama, memperlakukannya, menanggapi keberhasilan atau pun kegagalannya. Baik hubungan sederajat, atau pun atasan-bawahan. Semuanya akan indah kalau dilandasi dengan cinta kasih. Hidup saling menopang, bukan saling menumpang.

Kehidupan kita adalah anugerah-Nya. Tuhan juga tidak pernah berjanji bahwa kehidupan ini akan mulus, seperti langit tanpa awan atau seperti laut tanpa gelombang. Tuhan terkadang mengizinkan penderitaan menimpa kita, tanpa bisa kita tolak. Suka-duka, keberhasilan-kegagalan, menang-kalah, di atas-di bawah, semuanya bisa kita alami silih berganti. Semua yang diizinkan Tuhan untuk kita alami adalah dalam rangka mendidik kita di dalam sekolah kehidupan ini. Agar kita menjadi manusia yang tegar, manusia yang tahan uji. Juga dalam rangka pembuktian iman kita terhadap pemeliharaan Allah.

Segala hal yang kita alami, baik beruntung atau buntung, kerkah atau musibah, semuanya bergulir di dalam rancangan Tuhan. Memang kadang hal itu tidak sesuai dengan rancangan kita, tetapi semuanya berlangsung tidak kebetulan, semuanya terjadi di dalam pengawasan-Nya, dan ada tersimpan maksud-Nya. Oleh karena itu, kita harus mengalir di dalamnya, tidak pasrah tetapi berserah. Di dalamnya kita bisa belajar darinya. Kita juga harus menjaga kualitas hati kita, hati yang bersyukur. Menjaga orientasi hidup kita, agar berkenan di mata-Nya. Mengerjakan bagian kita, dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Niscaya Tuhan yang akan membuka tingkap-tingkap langit, sesuai dengan rencana-Nya. Segala sesuatu akan indah pada waktunya, termasuk hari esok yang akan kita gapai.

Perjalanan hidup yang penuh onak dan duri, tapi sekaligus juga kelopak mawar, harus kita jalani di dalam kerangka rencana-Nya. Bagian yang harus kita kerjakan, harus kita jalani dengan penuh ketekunan. Karena perjalanan ini tidak gampang, maka diperlukan kesetiaan dalam menjalaninya. Terlebih menjaga iman kita di tengah belantara dunia yang penuh dengan godaan dosa ini, memerlukan perjuangan. Jalan satu-satunya untuk memenangkan perjuangan ini adalah dengan taat kepada Firman-Nya. Mematuhinya dengan setia. Kesetiaan hanya dapat terbukti dengan perjalanan waktu, sampai garis akhir. Apa pun peran kita, besar atau kecil, tidaklah penting. Tetapi semuanya harus dijalankan dengan kesetiaan dan ketaatan yang tinggi. Itu semua memerlukan tekad yang kuat.

Segala sesuatu yang ada awalnya, pasti juga ada akhirnya. Demikian juga kehidupan, berawal dari kelahiran dan berakhir di kematian. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kehidupan kita akan kita akhiri nanti? Dengan kemenangankah? Apakah yang ingin kita dengar tentang kesan sesama terhadap kita sewaktu kita hidup? Biarlah, waktu kita dilahirkan, kita menangis sendiri, orang lain bahagia atas kedatangan kita. Kehadiran kita dinantikan, kepergian kita dirindukan. Dan akhirnya… saat pemakaman kita nanti, orang lain menangis, tetapi kita bahagia dan di sambut nyanyian para malaikat di Surga. Amin.

 

Eddy Nugroho

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Refleksi
  • Berbeda Tapi Bersama
    Perhelatan Pilkada Gubernur DKI Jakarta telah lama usai. Namun hawa panasnya masih menyisakan bara sampai saat ini. Meninggalkan luka...
  • YESUS Kalah Voting
    Ingar bingar pesta politik di Jakarta sudah dimulai. Pilkada Gubernur DKI Februari 2017 mendatang sudah mulai gaungnya dengan masa...
  • Menjadi Saksi Bagi Sang Terang
    Kegaduhan dalam menyiapkan sukacita Natal sudah terasa sejak memasuki masa penantian pada Adven pertama. Mal dan toko-toko sekitar perumahan,...
  • Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Kumar Kashyap yang biasa dipanggil Prince — seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun—mengalami musibah. Ia terjebak di sumur sedalam...
  • Bermimpilah yang Besar
    Bermimpilah yang Besar
    “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3) Pada suatu hari yang panas tahun 1984, orang-orang di...
Kegiatan