Membangun Persekutuan dalam Kuasa Roh Kudus

Membangun Persekutuan dalam Kuasa Roh Kudus

Belum ada komentar 78 Views

Banyak gereja menjadi gusar dengan jumlah anggotanya yang semakin hari semakin menurun. Kegelisahan itu juga muncul pada saat apa yang tercatat dengan yang real hadir dalam kehidupan jemaat ternyata berbanding terbalik. Banyak gereja mencoba untuk “memasarkan” gereja dengan segala bentuk program yang trend atau sedang digemari banyak orang, termasuk dengan mengundang orang-orang populer seperti artis. Bahkan disadari atau tidak, kita membuat tolok ukur keberhasilan sebuah pelayanan atau kegiatan dari berapa banyak orang yang hadir? Jika banyak yang hadir dianggap berhasil dan jika sedikit yang hadir dianggap gagal.

Jemaat perdana mengalami penambahan jumlah pengikut secara significant, dikatakan di ayat 47 bahwa setiap hari (bukan setiap tahun) jumlah mereka ditambahkan Tuhan. Bagaimana jumlah mereka bisa terus mengalami peningkatan? Program apa yang sedang mereka lakukan yang begitu menarik perhatian orang banyak di zaman itu? Ternyata yang mereka lakukan adalah dengan membangun relasi. Kehidupan jemaat perdana yang paling menonjol justru terletak pada jalinan relasi yang dekat dan peduli. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul dan doa. Mereka mendekatkan diri satu dengan yang lain (berkumpul untuk memecah roti dan berdoa). Mereka tidak ragu-ragu memberikan pertolongan kepada mereka yang memerlukannya (ayat 45). Begitu guyub dan satunya kehidupan jemaat perdana sehingga mereka menjadi kesaksian yang indah di tengah dunia yang penuh dengan keegoisan.

Pertambahan anggota jemaat adalah sebuah berkat tetapi sekaligus sebuah tanggungjawab. Tentunya kita rindu semakin banyak orang mengenal dan bertumbuh di dalam Kristus. Tidak ada yang salah dari keinginan untuk memiliki banyak anggota. Tetapi yang perlu kita renungkan adalah apakah pertambahan itu sebagai bentuk dari pertumbuhan iman di dalam Tuhan atau sekedar tercatat tetapi tidak kita kenali dan mengerti bagaimana mereka hidup? Hal yang berbeda terjadi dalam kehidupan jemaat perdana, mereka bertambah karena kualitas relasi mereka yang begitu hangat dan peduli. Kualitas relasi inilah yang menjadi kesaksian yang menyejukkan di tengah dunia yang penuh dengan keegoisan. Bagaimana dengan jemaat kita yang besar ini?

Kita bersyukur bahwa secara data kita memiliki jumlah anggota (4000 jiwa lebih) tetapi apa yang terjadi dalam persekutuan kita ini? Sudahkah tercipta persekutuan yang hangat, peduli atau persekutuan yang kaku dan acuh? Bagaimana kita hidup di tengah persekutuan ini adalah bentuk kesaksian kita bagi dunia. Allah memberi Roh Kudus untuk menjadi penolong kita. Roh kudus yang menyatukan kita. Kuasa Roh Kudus mendorong kita untuk menempatkan sesama sebagai saudara dan memperlakukan mereka di dalam kasih untuk saling menguatkan. Mari kita membangun persekutuan kita dalam kuasa Roh Kudus.

dva

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan