Memahami Makna Panggilan Allah

Memahami Makna Panggilan Allah

Belum ada komentar 1906 Views

Tersebutlah kisah seorang mahasiswa baru di University of California, Berkeley, Amerika Serikat, yang datang terlambat ke kelas Prof. Neyman (salah seorang guru besar matematika tingkat dunia). Ketika ia sampai di kelas tidak ada seorang pun di sana, dan di papan tulis terdapat dua soal matematika. Asumsinya langsung berjalan, dua soal tersebut adalah tugas untuk pekerjaan rumah mahasiswa. Sesampainya di rumah, ia mencoba menyelesaikan kedua soal sulit tersebut.

Beberapa hari kemudian, ia menyerahkan jawabannya kepada Neyman dan meminta maaf atas keterlambatan penyerahan tugas tersebut karena kedua soal itu terasa sangat sulit dibandingkan soal-soal biasa yang diberikan kepada para mahasiswa. Ia bertanya kepada Neyman, apakah masih mau menerima pekerjaan rumah tersebut. Neyman tidak begitu menanggapi dan meminta mahasiswa ini untuk meletakkan di meja kerjanya. Pemuda itu merasa amat risi, karena di meja Neyman ada begitu banyak kertas dan buku, sehingga bisa jadi pekerjaan rumah yang diserahkannya akan hilang atau terselip di situ.

Setelah enam minggu berlalu, pada pagi hari yang cerah, sang mahasiswa ini terbangun dari tidurnya karena dikejutkan oleh suara gedoran pintu. Ternyata yang datang adalah Neyman. Dengan wajah penuh semangat ia berkata, “Saya akan memublikasikan hasil karyamu dalam Pertemuan Ilmiah Matematikawan Dunia.” Dengan terkejut sang mahasiswa tadi bertanya, “Ada apakah gerangan Prof?” Neyman menjawab, “Tahukah kamu bahwa dua soal yang kamu selesaikan tersebut adalah dua soal statistika yang terkenal sulit dan belum dapat dipecahkan oleh seluruh matematikawan terkemuka dunia selama puluhan tahun?”

Kenyataannya mahasiswa ini berhasil memecahkan dua soal statistika tersulit di dunia yang tadinya ia anggap sebagai soal untuk pekerjaan rumah. Dan tahukah Anda bahwa mahasiswa ini akhirnya menjadi matematikawan terkemuka dunia? Ia bernama George Dantzig. (dari buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion)

George Dantzig yang Tiba-Tiba Mencuat ke Permukaan
Dia itu siapa? Cuma seorang mahasiswa baru. Apa yang telah dilakukannya? Cuma coba-coba mengerjakan dua soal matematika yang sulit. Apa ada rasa bangga dapat menyelesaikannya? Justru merasa ragu apakah Pak Profesor sudi memeriksanya. Akan tetapi di luar dugaannya sama sekali, keberhasilannya membuatnya tiba-tiba saja menjadi sangat terkenal di dunia! Tak heran jika di kemudian hari George Dantzig terdorong untuk sungguh-sungguh menjadi matematikawan besar.

Kisah George Dantzig mengingatkan kita kepada Samuel, para rasul Tuhan Yesus, serta banyak orang lain yang menerima panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Jika ditelusuri dan dicermati, pada mulanya mereka itu hanyalah orang biasa-biasa saja. Sesudah disentuh, dipanggil, dan ditangani serta dibentuk oleh Tuhan, maka mereka menjadi pribadi yang menarik dan hidup mereka bermakna bagi Kerajaan Allah. Pada umumnya panggilan Tuhan merupakan surprise, kejutan, baik bagi yang bersangkutan maupun orang-orang di sekitarnya. Hal itu menunjukkan ketidaklayakkan manusia, dan kebesaran Tuhan. Jika seseorang merasa layak menerima panggilan Tuhan, tidak lagi merasa terharu dan bersyukur, berarti ia sudah mulai memandang rendah Tuhan dan menganggap Tuhan membutuhkan tenaganya, dan berutang kepadanya.

Mengapa Panggilan Samuel Begitu Memikat Hati Kita?
Karena waktu menerima panggilan Tuhan, dikatakan bahwa Samuel masih muda dan kedudukannya sebagai pelayan. Ini adalah dua hal yang sangat tidak lazim secara manusiawi. Tapi para rasul Tuhan Yesus juga diangkat dari kedudukan rendah, mereka hanya para nelayan, bahkan ada yang menjadi pemungut cukai. Di kemudian hari tampil Saulus yang justru memusuhi Yesus. Jadi dalam panggilan Tuhan, yang memikat hati bukan sang manusia tapi Tuhan sendiri. Keberadaan Samuel diam-diam juga merupakan cara Tuhan mengkritik Eli serta anak-anaknya yang tak layak menjadi keluarga imam. Masih jauh lebih baik Samuel, meski ia hanya seorang pelayan yang tak punya derajat yang memadai.

Sejauh Mana Kisah Panggilan Samuel Menyentuh Hati Kaum Muda Kita Zaman Sekarang?
Kita memang sudah melihat sejumlah (besar) kaum muda yang melayani berbagai kegiatan gerejawi. Tetapi yang tergerak hatinya untuk menjadi seorang pendeta, rasa-rasanya sangat kurang. Padahal banyak jemaat Tuhan yang saat ini tak punya pendeta. Apapun alasannya, keadaan itu sesungguhnya sangat memprihatinkan. Pasti ada yang tidak beres di sini. Saya yakin, jika para hamba Tuhan masih sangat dibutuhkan, maka Tuhan pasti tak henti-hentinya memanggil “para Samuel” zaman sekarang. Jemaat harus semakin peka, para orangtua juga, tapi terutama kaum mudanya. Jangan sampai panggilan penting dari Tuhan Yang Mulia, untuk ladang-Nya yang sudah menguning, kita abaikan dari waktu ke waktu.

Siapakah Yesus Bagi Hamba yang Dipanggil-Nya?

Pertama, setiap orang yang dipilih dan dipanggil oleh Tuhan Yesus menjadi murid-Nya, merasa sangat terkesan dan terpesona. Sebab Yesus memanggil dengan kewibawaan ilahi, kata-kata yang diucapkan-Nya penuh kemantapan. Setiap orang merasa bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhan sendiri.

Yang seperti ini selalu perlu dirasakan oleh setiap orang beriman zaman sekarang, saat menghadapi panggilan untuk melakukan pelayanan khusus. Filipus merasa sudah berjumpa dengan Dia yang disebut Musa dalam Kitab Taurat dan para nabi. Natanael tergetar ketika Yesus mengetahui keberadaannya. Itu berarti dan dapat dipastikan bahwa setiap orang akan mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan dengan Yesus saat ini, sehubungan panggilan-Nya sebagai pekerja Tuhan.

Kedua, panggilan Tuhan Yesus tidak pernah sekadar formalitas, tidak pernah hanya memberi kita “embel-embel” atau sekadar jabatan tertentu, untuk menaikkan derajat kita. Tetapi selalu disertai tugas dan tanggung jawab. Sebagaimana panggilan itu penuh kesungguhan, maka menjalankannya juga tidak boleh sesuka hati.

Ketiga, biasanya Tuhan Yesus menjanjikan nilai plus, misalnya: “Mari ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Markus 1:17). “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” (Yohanes 1:50). Perlu diketahui bahwa setiap janji Tuhan pasti akan dipenuhi, sebab Tuhan tidak pernah ingkar janji. Mengapa hamba atau pelayan yang dipanggil-Nya memperoleh nilai plus dalam hidupnya, sesudah menjalankan panggilan Tuhan? Hal itu menunjukkan bahwa kalau Tuhan memanggil, maka Ia memperlengkapi hamba-Nya. Jadi nilai plus yang dianugerahkan sangat erat hubungannya dengan tugas atau pelayanannya.

Saya pernah mendengar kisah tentang seorang pendeta (dari kota Solo) yang bicaranya gagap dalam percakapan sehari-harinya, tetapi pada saat menyampaikan Firman Tuhan justru bisa lancar tanpa gangguan.

Di Malang ada seorang ibu yang bersaksi bahwa ke mana-mana ia selalu pakai baju hangat, karena tidak tahan terhadap angin. Tetapi sesudah menerima panggilan menjadi anggota Majelis Jemaat (dulu Diaken), tubuhnya semakin kuat karena banyak melakukan pelawatan jemaat sehingga sudah tidak pernah lagi memakai baju hangat.

Jangan terkecoh oleh kesaksian-kesaksian seperti itu, sebab ada kalanya tidak demikian, bahkan sebaliknya yang terjadi. Itu merupakan misteri, tapi satu hal yang pasti bahwa setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang setia selalu mengalami kepuasan batiniah, sebab hidupnya menjadi semakin bermakna.

Oleh Karena itu, Hati-Hatilah Menjaga Tubuh
Tuhan saja begitu menopang kesehatan dan keselamatan kita, termasuk tubuh kita tentunya, maka sudah selayaknya kita juga seirama dengan Tuhan. Ada saja orang-orang yang menelantarkan tubuh dan jiwa mereka dengan percabulan, serta berbagai kebiasaan lain yang sangat merugikan. Mereka lupa bahwa dalam hidup ini kita dapat melakukan banyak hal yang berguna dan bermakna dengan tubuh kita, sehingga Tuhan menjadikannya bait Roh Kudus. Kalau begitu, setiap orang sebenarnya mendapatkan panggilan Tuhan untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya, dan terus berkarya demi kasihnya kepada Tuhan dan sesama. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Siapa lagi kalau bukan Anda dan saya.

Panggilan Demi Panggilan Harus Terus Bergulir
Jangan lupa bahwa Kristus yang telah bangkit itu juga ingin mengajak kita mengalami kebangkitan di dalam hidup kita masing-masing. Sebab apalah artinya kebangkitan Kristus yang dahsyat itu, jika tidak sampai bisa menular kepada kita. Apakah Anda dan saya merasa menjadi bagian dari Tubuh-Nya? Kalau ya, maka marilah secara nyata kita tunjukkan kesamaannya. Kristus, yang sudah menerima panggilan dari Bapa untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya, sekarang memanggil kita untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya dalam meraih orang-orang di sekitar hidup kita. Semoga mereka bersedia kita ajak melakukan estafet panggilan Tuhan. Bukankah kita sudah dibeli dengan lunas, maka muliakanlah Allah dengan tubuh kita.

“Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!” (Mazmur 139:17).

Menganalisis keterlibatan kita di dalam karya Tuhan hanya membuat kita terkagum-kagum tak habis pikir, karena keterbatasan kita. Namun semua yang kita alami ini adalah fakta, bukan khayal semata.

Kalau begitu, mari kita nikmati segala pesona, sensasi, surprise, bonus, serta aneka ragam kebaikan Tuhan di sepanjang hidup ini. Jika kita mau menjadi hamba-Nya yang mudah terheran-heran melihat kebesaran-Nya, maka Dia senang akan ketulusan dan keluguan kita, lalu menghadirkan banyak hal lain yang lebih mengherankan!

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan