Melayani = Memberikan  yang Terbaik

Melayani = Memberikan yang Terbaik

1 Komentar 832 Views

Tidak banyak orang yang mau bertanya kepada diri sendiri apakah ia sudah melaksanakan pelayanannya, dalam hal apapun, secara optimal, all out, dengan segenap kemampuan serta daya yang dimilikinya. Sebab pada dasarnya tidak semua orang yakin bahwa mereka memang harus melakukannya. Selain itu ada semacam pemahaman bahwa selain melaksanakan pelayanannya, orang berhak melakukan sesuatu semata-mata demi kesenangan dan kepentingannya pribadi. Jadi ada semacam pembagian (dikotomi) antara hal-hal yang sifatnya pelayanan dan yang bukan.

Bagaimanakah kita sebagai orang Kristen mesti mencermatinya? Untuk itu, dari banyak cara yang dapat ditempuh, kita dapat merenungkan apa yang dikatakan Yohanes dalam 1 Yohanes 3:11-18. Sebuah perikop yang berfokus pada kasih. Atau tepatnya: “berlaku benar berarti mengasihi sesama”.

Ia tiba pada kesimpulan ini karena baginya berlaku apa yang selalu ditekankan oleh Yesus sendiri, bahwa orang percaya dikenal dari buahnya, atau apa yang dilakukannya dalam kehidupannya setiap hari. Itulah tugas orang percaya ketika ia dipanggil untuk percaya dan memasuki persekutuan tubuh Kristus, yaitu hidup secara benar sebagaimana yang dikehendaki Kristus, sebagai sumber dan dasar dari segala tindakannya.

Maka di situ, kasih lalu menjadi bukti dari kebangkitan orang percaya dari “kematiannya”. Dalam khotbah di bukit yang adalah semacam “aturan main” bagi kehidupan orang percaya, orang yang sudah ditebus atau “dibangkitkan” bersama Kristus, Yesus menandaskan bahwa ”tidak mengasihi berarti praktis sama dengan pembunuh” (ayat 15, bandingkan Matius 5:21-22). Setiap pengikut Kristus (baca: orang Kristen) tidak bisa tidak harus mengasihi.

Barangkali ada yang atas ini mengatakan: “Oke saya tahu ini adalah kewajiban kita. Tetapi mungkinkah ini kita lakukan…?” Jawabnya ada di ayat 16. Bila kita sungguh-sungguh ingin memahaminya apa itu kasih, lihatlah pada Yesus. Kasih itu dinyatakan-Nya dengan pengorbanan-Nya bagi kita. Maka itu hidup Kristen berarti “meneladani atau meniru Kristus” (lihat: Filipi 2:5 dan 1 Petrus 2:21).

Barangkali di titik inipun masih ada yang belum yakin dan mantap, serta mengatakan bahwa pada zaman Yesus memang begitu situasinya. Situasi yang belum tentu relevan dengan situasi zaman ini. Tentu pendapat ini benar. Tetapi tidakkah demikian, bahwa ketika kita melihat sesama kita membutuhkan sesuatu yang kita miliki, dengan bersedia berbagi dengannya kita sedang “mengikut Kristus”? Sebaliknya bila kita menutup mata dan hati kita terhadap sesama kita itu, di dalam diri kita tidak ada tempat bagi kasih Allah dalam Kristus (ayat 17).

Maka, mengasihi tidak dapat dilakukan dengan perkataan saja, tetapi hanya dengan perbuatan nyata, dan dalam kebenaran. Tepatnya dengan kata-kata, sikap dan perbuatan yang berdasar pada serta meneladani Kristus (ayat 18).

Dikenakan pada pelayanan sebagai orang percaya, ini berarti bahwa pelayanan orang percaya dalam segala bentuknya adalah pelayanan kasih. Ia bukan sekadar lowongan pekerjaan sukarela yang diisinya karena tak ada orang lain, juga bukan sekadar memanfaatkan atau mengisi waktu luang. Ia adalah pelayanan yang mesti lahir dari hati yang mengasihi, yang mensyukuri kasih Tuhan. Mengasihi dan mensyukuri kasih Tuhan yang mestinya tidak berhenti setelah lewat “periode” waktu yang tertentu, tetapi sinambung bahkan tetap sifatnya. Dan ini berlaku untuk setiap bentuk pelayanan.

Pelayanan adalah meniru Kristus. Maka itu berarti bahwa pelayanan adalah pengorbanan! Memberi bukanlah memberi bila tidak mau kehilangan atau rugi. Menolong bukanlah menolong bila tidak bersedia mengorbankan tenaga, materi dan waktu. Sebab pada hakikatnya, pelayanan adalah mengasihi dalam perbuatan dan dalam kebenaran.

Dalam terang itu pelayanan bukanlah pelayanan bila tidak dilakukan secara optimal, all out, dengan segenap kemampuan serta daya yang dimiliki. Sebab meneladani Kristus, pelayanan lalu memberikan apa yang dapat diberikan bahkan segenap diri. Bagi Kristus hal ini jelas sekali dalam kata-kata-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15: 13). Kahlil Gibran berujar: “You give but little when you give of your possessions. It is when you give of yourself that you truly give.” Bila kita memberikan sesuatu dari apa yang kita miliki maka sebenarnya sedikitlah apa yang kita berikan. Bila hendak sungguh-sungguh memberi, berikanlah dirimu.

Tetapi lalu bagaimana dengan kepentingan dan kesenangan pribadi. Tidak adakah tempat dalam pemahaman tentang hidup yang harus melayani dengan memberikan yang terbaik bahkan segenap diri? Tentang ini, kiranya kita dapat belajar dari Martin Luther King, Jr.: “If a man is called to be a street-sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted, or as Beethoven composed music, or as Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, ‘Here lived a great street-sweeper who did his job well.’”

Maka dikotomi antara hal-hal yang sifatnya pelayanan dan yang bukan, adalah sebenarnya nisbi. Dalam upayanya untuk menjadi mitra Allah dalam pelayanan, tidak pernah dituntut dari orang percaya untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dikerjakannya, atau memberikan dari apa yang tidak dipunyainya. Bila diterjemahkan secara bebas maka yang dikatakan Martin Luther King Jr. adalah begini, bila seseorang bertugas menyapu jalan, lakukanlah itu bagaikan Michelangelo sedang melukis, atau bagaikan Beethoven yang sedang menciptakan musiknya, bahkan seperti Shakespeare ketika menulis sajak. Bila seseorang bertugas menyapu jalan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya, sehingga dunia dan surga akan berkata: “Inilah seorang penyapu jalan yang besar, yang melakukan pekerjaannya dengan baik.”

Pelayanan apapun yang kita lakukan sesuai dengan minat dan keinginan kita, lakukanlah dengan sebaik-baiknya, dengan memberikan yang terbaik, dalam rangka meneladani Kristus. Dalam 2 Korintus 8:11 Paulus berkata, pelayanan persembahan: “…hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.” Dan dalam Kolose 3:17, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

Maka tinggal ini yang perlu dikatakan, yaitu “suka-rela” bukan berarti “suka-suka”. Memang pelayanan bersifat sukarela. Namun itu tidak boleh berarti bahwa pelayanan dapat dilakukan dengan sesuka hati. Di baliknya, kata kuncinya adalah tanggung jawab. Dan dalam terang refleksi kita, pelayanan yang dilakukan dengan tanggung jawab berarti pelayanan yang memberikan yang terbaik serta meneladani Kristus.

Pdt. Purboyo W. Susilaradeya

1 Comment

  1. Nithanel Pandie

    Shalom … bapa Pendeta Trim’s atas topik Pelayanan yang disoroti… soalnya kata pelayanan karena sering didengungkan oleh setiap hamba Tuhan.. seakan-akan apa yang diangkat selalu motivasinya demi pelayanan. namun akhir-akhir ini semangat pelayanan menurun dan cenderung hanya bersifat rutinitas… di daerah kami yang mayoritas kristen sering militansi dalam pelayanan menurun… Majelis kalau ada rapat sering terlambat… alasan kesibukan dan lain sebagainya.. sehingga apabila dasar Firman yang disampaikan pada bagian ini dihayati akan menolong menolong untuk merefleksi akan pelayanan yang dilakukan baik dalam lingkup Pekerjaan, Rumah Tangga maupun pelayanan di Lingkup Jemaat baik dalam posisi sebagai Majelis, Pekerja Gereja maupun Jemaat… sekali lagi Trim’s Syalom Tuhan menolong kita.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
  • Pemimpin: Hamba atau Sahabat
    Tema yang akan diteropong ini bukan tema yang baru, oleh karena itu ketika membacanya, kita pasti sudah mempunyai pemahaman...
Kegiatan