Mati agar Menghasilkan Banyak Buah

Belum ada komentar 172 Views

Dalam bacaan injil hari ini (Yohanes 12:20-33) beberapa orang Yunani mencari Yesus. Mereka adalah orang-orang non Yahudi yang kemudian beribadah dalam agama Yahudi. Nampaknya mereka begitu tertarik untuk mengenal Yesus yang hidup di tengah-tengah orang Yahudi yang sedang menantikan kedatangan Mesias, raja & pembebas bagi kehidupan umat dari penjajahan pemerintahan romawi. Mungkin saja mereka punya pemikiran sama dengan kebanyakan orang bahwa Yesus adalah sosok Mesias, raja orang Yahudi yang kelak akan memimpin umat Yahudi. Hal ini tidak mengherankan karena dalam perikop sebelumnya Yesus baru saja dielu-elukan di Yerusalem. Ia masuk dengan sambutan luar biasa! Duduk di atas keledai, para penduduk menyongsongnya dengan daun Palem sambil berseru : “Hosiana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”

Sungguh menarik, ketika Yesus tahu bahwa ia dicari-cari, bahkan orang-orang dari bangsa lain ingin mengenal sosoknya yang luar biasa, ia justru mulai memberitakan tentang penderitaan & kematiannya. Sesuatu yang tentu berlawanan dengan profil seorang raja yang dipuja dan diagungkan. Ia menggambarkan kehidupan-Nya seperti biji gandum yang jatuh ke tanah, mati, untuk menghasilkan banyak buah. Ia rela memberikan nyawanya bagi dunia, agar banyak orang hidup. Ia memberitakan kepemimpinan yang tidak berfokus pada kekuasaan di dunia, tetapi pada pelayanan dengan memberi diri seutuhnya karena cinta kasih-Nya pada dunia.

Suatu tantangan diperkatakan oleh Yesus bagi para pengikutnya : “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada.” Perkataan ini mengajak kita untuk merelakan apa yang terpenting dalam hidup kita untuk kebaikan sesama kita dan dunia di sekitar kita. Merelakan apa yang terpenting tidak selalu harus dengan memberi nyawa sehingga kita harus mati muda. Merelakan apa yang terpenting dalam hidup kita berarti kita tidak berfokus pada kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, tetapi berfokus pada kepentingan bersama, kepentingan sesama kita. Merelakan waktu berharga yang kita punya untuk melayani Tuhan : di keluarga, di dunia kerja, di gereja-Nya. Sehingga keluarga, rekan kerja, komunitas gereja dapat bertumbuh melalui peran serta kita. Merelakan harta yang berharga bukan hanya untuk memperkaya diri, tetapi untuk melayani sesama, sehingga banyak orang memperoleh berkat Tuhan dan terpenuhi kebutuhannya. Mari kita bersama-sama belajar merelakan sesuatu yang sangat berharga yang kita miliki sebagai persembahan yang berkenan di hadapan Tuhan dan yang kelak membawa kebaikan bagi dunia ini.

GPP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Keajaiban Belas Kasihan
    Apa bedanya kasihan dengan belas kasihan Tuhan? Dua puluh tahun yang lalu waktu saya melayani di sebuah rumah singgah,...
  • Keajaiban Pengampunan
    Mazmur 25:1-10
    Mana yang lebih mudah: meminta maaf atau memaafkan orang yang menyakiti kita? Kehadiran Tuhan dalam hidup orang percaya mengajak...
  • raja
    Raja-kan Yesus
    Raja menciptakan, sekaligus memimpin kerajaan mereka; dan sebuah kerajaan akan mencerminkan pemimpinnya. Tuhan Yesus kerap diumpamakan sebagai seorang raja...
  • Mendekat atau Menjauh?
    Ibrani 10:11-25
    Saudara, pernahkan saudara menolong seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, dan saudara tidak mengharapkan ia membalas pertolongan saudara karena saudara...
Kegiatan