Masa kanak-kanak Yesus

Masa kanak-kanak Yesus

2 Komentar 62 Views

Apakah anda tahu bahwa kisah hidup Yesus pada waktu masih kanak-kanak tidak diceritakan di dalam keempat kitab Injil, baik itu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes? Surat-surat Rasul Paulus maupun kitab-kitab perjanjian Baru lainnya juga tidak memuat kisah hidup Yesus pada waktu masih kanak-kanak.

Oleh karena itu, kita hampir tidak tahu mengenai bagaimana Yesus hidup sewaktu masih kanak-kanak. Misal: Sejak kapan Yesus mulai belajar membaca dan menulis? Apakah Yesus sudah tampak sebagai manusia ajaib sejak kecil ataukah baru sesudah menjelang dewasa? Sejak kapan Yesus bisa melakukan mukjizat-mukjizatNya?

Hanya di dalam Injil Lukas 2: 41-52, kita membaca cerita tentang Yesus pada waktu usia 12 tahun, berdiskusi dengan para ahli Taurat dan membuat para ahli Taurat itu terkagum-kagum pada Yesus karena kepandaiannya. Barangkali bagi para penulis Alkitab pada waktu itu, kisah-kisah Yesus sewaktu masih kanak-kanak tidak begitu penting untuk diceritakan, atau paling tidak, masih kalah penting apabila dibandingkan dengan masa dewasa Yesus yang memuncak di dalam peristiwa kematian dan kebangkitanNya, yang menjadi fondasi keyakinan gereja perdana terhadap Yesus.

Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada sama sekali kitab yang menceritakan masa kecil Yesus. Ada satu kitab yang memuat kisah-kisah luar biasa mengenai masa kanak-kanak dan remaja Yesus, yakni Injil tentang Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas.

Seorang bapak gereja pada abad kedua, Irenaeus, pernah mengutip bagian-bagian tertentu dari Injil ini dalam sebuah karangannya. Meskipun demikian, Injil ini bukan Injil kanonik, artinya kitab ini oleh para Bapak Gereja tidak dianggap memiliki kewibawaan yang sama dengan 27 kitab-kitab yang ada di dalam Perjanjian Baru. Dalam bahasa sederhananya, kitab ini tidak dianggap sebagai kitab suci seperti yang lainnya.

Manuskrip atau naskah tulisan tangan yang tertua yang pernah ditemukan dari injil ini berasal dari abad keenam dalam bahasa Siria. Sedangkan manuskrip dalam bahasa Yunani yang pernah ditemukan berasal dari abad keempatbelas hingga keenambelas.

Dalam tulisan ini, saya hanya akan menceritakan beberapa kisah Yesus pada waktu kanak-kanak seperti yang tertulis dalam Injil tentang Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas tersebut. Saya menceritakan semua ini hanya sekedar untuk menambah pengetahuan, jadi bukan untuk dipercayai, apalagi dengan gegabah dianggap sebagai cerita-cerita historis tentang Yesus. Injil tentang Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas ini terdiri dari 19 pasal.

“Kenakalan” Yesus pada waktu masih anak-anak

Seperti anak-anak kecil pada umumnya, Yesus juga cenderung nakal, egois, melanggar hukum Sabat, mudah marah bila terganggu dan membantah nasihat orang tuaNya. Dalam beberapa perikop yang ada, diceritakan bagaimana Yesus membuat jengkel dan marah tetangga-tetangganya, ahli taurat, dan juga orang tuanya.

* Suatu hari, pada saat Yesus berusia 5 tahun, ia bermain-main dengan kolam-kolam kecil buatannya sendiri yang ia isi dengan air. Entah kenapa, teman sepermainan Yesus, anak seorang ahli Taurat yang bernama Hanas, merusak kolam-kolam buatan Yesus ini dengan sebatang ranting pohon. Yesus tentu saja marah, ketika melihat kolam-kolamnya rusak. Yesus memaki anak itu, “Kamu betul-betul kurang ajar dan bodoh! Apa kolam-kolam buatanku ini membahayakanmu? Mulai detik ini, kau akan layu dan kering seperti sebatang pohon, dan kau tidak akan mengeluarkan daun-daun atau akar atau buah lagi.”

Begitu selesai Yesus mengatakan hal itu, sekujur tubuh anak itu layu dan kurus kering. Orang tua anak yang telah layu dan kurus kering ini mendatangi Yusuf, bapak Yesus, dan berkata, “Ini semua kesalahanmu! Anakmu yang melakukan semua itu!” Kisah Yesus ini segera mengingatkan kita pada cerita di dalam Injil Markus 11: 12-14 dan Matius 21:18-22 mengenai pohon ara yang juga oleh Yesus dewasa dijadikan layu dan kering.

* Suatu hari, ketika Yesus sedang santainya berjalan, ada seorang anak yang berlari kencang menabrak punggung Yesus. Ditabrak begitu, Yesus marah, dan berkata, “Kamu tidak akan bisa meneruskan perjalananmu.” Begitu Yesus selesai bicara, mendadak saja anak itu jatuh dan mati. Orang tua anak yang mati itu datang kepada Yusuf dan menyalahkannya. Kata mereka, “Karena kamu punya anak seperti Yesus, kamu tidak boleh lagi tinggal bersama-sama kami di desa ini. Kalau kamu memang masih ingin tinggal di desa ini, ajari anakmu untuk memberkati dan bukan mengutuk orang lain. Ia terus saja membunuh anak-anak kami.”

Maka Yusuf segera memanggil Yesus dan menasehatinya, “Mengapa kamu melakukan semua itu? Lihatlah, orang-orang ini menderita, jengkel dan membenci kita!” Tetapi Yesus tidak mau dipersalahkan, Ia bahkan menghukum orang-orang yang telah melaporkan dirinya kepada ayahnya sehingga mereka semua menjadi buta. Ketika Yusuf mengetahui Yesus melakukan hal itu, ia marah dan menjewer keras-keras telinga Yesus. Yesus protes terhadap tindakan ayahnya ini, Ia mengatakan bahwa bukan hak Yusuf untuk memperlakukan Yesus dengan cara semacam itu.

* Yesus juga pernah membuat burung-burung pipit tanah liat sebanyak dua belas ekor pada hari Sabat. Ketika tetangganya melihat apa yang dikerjakan oleh Yesus, ia melaporkan kepada Yusuf bahwa Yesus telah melanggar hukum hari Sabat. Segera Yusuf datang dan bertanya kepada Yesus, “Mengapa kamu melakukan hal yang tidak boleh dikerjakan pada hari Sabat?” Mendengar pertanyaan bapaknya tersebut Yesus hanya diam saja, bahkan kemudian mengeplok-ngeplokkan tangannya dan berteriak kepada burung-burung tanah liat itu, “Pergilah, terbanglah, dan ingat aku, kamu semua yang sekarang hidup!” Burung-burung mainan dari tanah liat itu kemudian hidup dan beterbangan.

Kisah Yesus yang menciptakan burung dari tanah liat ini ternyata juga dicatat di dalam Al-Quran. Dalam Sura Ali ‘Imran ayat 49 termuat ucapan Yesus demikian: “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mujizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah.“

Sura Al Maa-Idah ayat 110 mengacu pada peristiwa yang sama: (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai, Isa putera Maryam…, ingatlah pula di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izinKu, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizinKu…” Rupanya kisah Yesus yang menciptakan burung dari tanah liat ini terus diceritakan ulang dan beredar sampai ke Arab pada masa tampilnya nabi Muhammad pada abad ketujuh untuk menyampaikan wahyu Allah.

Kisah-kisah “kenakalan” Yesus ini tentu saja bisa mengagetkan jemaat, dahulu maupun sekarang ini, yang mengenal sosok Yesus hanya melalui keempat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Dalam keempat Injil, Yesus tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang begitu keras, tidak tahu sopan-santun, tidak punya empati dan kejam melainkan sebagai sosok yang penuh belas kasih.

Saya kira, inilah salah satu alasan mengapa bapak-bapak gereja pada waktu itu tidak menerima Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas ini sebagai kitab kanonik, yang diakui kewibawaannya sebagai kitab suci.

Kasih Yesus pada waktu masih anak-anak

Sebenarnya ada banyak bagian dari Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas yang juga menceritakan Yesus sebagai anak yang lemah-lembut, pengampun, penolong, penyembuh, dan sebagainya. Hal ini tampak dalam kisah-kisah sebagai berikut:

* Suatu hari, Yesus sedang bermain-main di atap rumah bersama-sama anak-anak yang lain. Tiba-tiba salah seorang dari anak itu jatuh dari atap dan mati. Semua anak lari ketakutan dan meninggalkan Yesus sendirian. Tidak lama kemudian orang tua anak itu datang, marah pada Yesus dan menuduh Yesus yang mendorong anak itu hingga jatuh dari atap rumah. Yesus tidak terima tuduhan ini, Ia berkata, “Saya tidak mendorongnya. Ia jatuh sendiri hingga mati, karena tidak hati-hati.” Yesus membuktikan perkataannya ini dengan berseru dengan suara yang nyaring pada anak yang telah mati itu, “Zeno (demikian nama anak itu), bangunlah dan katakan padaku, apakah aku mendorongmu hingga jatuh?” Tiba-tiba saja anak itu bangun (bangkit dari mati) dan berkata, “Tidak, engkau tidak mendorongku, malah engkau telah membangkitkan aku.”

* Beberapa hari kemudian, ada anak muda yang sedang membelah kayu sekarat karena kehabisan darah, akibat kejadian yang baru saja menimpanya. Kapak yang ia pakai untuk membelah kayu meleset dan menghantam tungkai kakinya. Yesus yang mengetahui kejadian itu segera memegang kuat-kuat kaki orang yang berlumuran darah itu. Segera saja orang itu menjadi sembuh.

* Pada waktu Yesus berumur 8 tahun, ada seorang bayi, anak tetangga dekat rumah Yesus, yang mati karena sakit. Ibu bayi tersebut sangat berduka cita. Ketika Yesus mendengar ratapan keras serta jeritan menyayat hati ibu ini, Yesus menjadi tersentuh hatinya. Ia segera saja berlari masuk ke rumah tetangganya itu, menyentuh dada bayi yang mati itu dan berkata, “Hai bayi, kamu tidak boleh mati, melainkan hiduplah! Temani ibumu!” Lantas saja bayi itu membuka matanya dan tertawa.

* Pada hari yang lain, Ia membantu ayahnya memanen hasil ladang. Banyaknya hasil panenan sebenarnya hanya satu timbangan, tetapi ketika ayahnya menyerahkan hasil panenan itu kepada Yesus, hasil panenan itu menjadi 100 timbangan. Yesus kemudian membagi-bagikan hasil panenan itu kepada orang-orang miskin.


Refleksi

Masih ada beberapa kisah lain yang menceritakan kasih Yesus sewaktu kanak-kanak yang dapat kita baca di dalam Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas. Kisah Yesus yang bertanya-jawab dengan para pemuka agama sewaktu berusia 12 tahun yang kita baca di dalam Injil Lukas, menjadi pasal terakhir dari Injil ini.

Yang menarik untuk diperhatikan dan direfleksikan adalah kisah yang menceritakan kasih Yesus ini, secara kronologis semuanya terjadi setelah kisah-kisah yang menceritakan “kenakalan” Yesus. Sehingga kita bisa menangkap ada aspek perubahan dan kematangan sikap Yesus. Dari sikap egois, mudah marah bila terganggu, keras, tidak punya empati dan kejam, berangsur-angsur menjadi sosok yang penuh belas kasih pada sesamanya.

Saya kira memang begitulah mestinya kita memandang Yesus. Ketika hidup di dunia ini, Yesus bagaimana pun adalah sosok yang mencapai kematangan dan kedewasaannya melalui suatu proses. Yesus anak pasti berbeda dengan Yesus dewasa. Pikiran yang dimiliki Yesus sewaktu masih anak-anak pastilah tidak sama dengan pikiran yang dimiliki Yesus pada waktu Ia dewasa.

Di dalam pasal terakhir ayat 12 dari Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas juga dituliskan: Dan Yesus pun semakin bertumbuh di dalam belajar dan di dalam mendapatkan hormat. Ungkapan senada juga kita temukan di dalam Injil Lukas 2: 52, Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Tambah besar, Yesus ternyata juga semakin bertambah hikmatnya. Ia tidak hanya sekedar cerdas, tapi juga berhikmat! Ia semakin matang baik dalam hal-hal moral maupun spiritual. Di samping itu, Ia juga makin dikasihi Allah dan manusia. Jadi tidak perlu membayangkan bahwa sejak kecil Yesus sudah mengetahui segala sesuatu tentang Allah dan dunia ini.

Kehidupan Yesus di Nazaret tidak begitu jauh berbeda dengan kehidupan saudara-saudara sebangsanya. Seperti saudara-saudara sebangsanya, Ia juga belajar membaca dan menulis. Tahap demi tahap, Ia juga berkenalan dengan kitab-kitab suci. Ia juga belajar berdoa, menghafal doa-doa yang wajib diucapkan oleh setiap orang Yahudi. Ia juga dibiasakan menuruti semua peraturan agama Yahudi. Beriman kepada Yesus berarti menerima bahwa Yesus tumbuh dan berkembang secara wajar. Tidak instant dan juga tidak mendadak. Yesus mencapai kesempurnaannya tahap demi tahap.

Pdt. Agus Hendratmo, S.Si, Pendeta Jemaat GKJ Nehemia. Pengarang buku: “Butir-butir Iman, Tegar dalam Iman, Berani dalam Iman.”

2 Comments

  1. Susanto

    Bagaimana pernyataan surat Ibrani 4:15…..memang sekalipun Yesus sama seperti kita manusia, tetapi sama sekali tidak berbuat dosa….tulisan ini menurut saya sangat menurutkan derajat Yesus dan tidak Alkitabiah…..barangkali kalau dipandang dari psikologi perkembangan saya setuju…Namun untuk dipakaikan dalam pribadi Tuhan Yesus, SANGAT TIDAK TEPAT!!!

  2. simon

    Yesus adalah anak allah, apakah Allah bisa berdosa? walaupun Dia memusnahkan manusia? Tentu tdk, Allah memang tdk manusiawi, karena Dia bukan manusia….

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Dari Hana Ke Samuel
    Dari Hana Ke Samuel
    Dan dengan hati pedih ia (Hana) berdoa kepada Tuhan sambil menangis tersedu-sedu (I Samuel 1:10). IN PRAYER IT IS...
  • Kekuatan untuk Memaafkan
    Kekuatan untuk Memaafkan
    Neh 9:17 Mereka menolak untuk patuh dan tidak mengingat perbuatan-perbuatan yang ajaib yang telah Kaubuat di antara mereka. Mereka...
  • Rancangan TUHAN Selalu Lebih Besar
    Rancangan TUHAN Selalu Lebih Besar
    Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya:”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus:...
  • Puasa
    Puasa
    Sebuah refleksi penyangkalan diri dalam upaya mencari dan memahami kehendak Tuhan
    Puasa adalah tindakan sukarela berpantang makan, minum, dan menahan nafsu. Istilah ‘puasa’ dalam bahasa Ibrani adalah tsum (berpuasa), tsom...
  • Kata-kata yang Menguatkan
    Kata-kata yang Menguatkan
    Kata-kata, merupakan sesuatu yang biasa kita gunakan dan kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dalam tahap awal pertumbuhan mereka,...
Kegiatan