Marilah Kita Bermazmur

Marilah Kita Bermazmur

1 Komentar 7 Views

Tulisan ini merupakan ajakan untuk mengangkat puji-pujian dengan bermazmur, yang diilhami oleh kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 2010, ketika Penatua Bambang I.Y. tidak membaca, tetapi dengan indah melantunkan Mazmur 32 dalam ibadah yang ditata dengan sangat baik. Dalam hal ini, sebagai rujukan, dipakai kebaktian umat Israel menurut Alkitab Perjanjian Lama, dalam kaitan dengan biduan Heman dan paduan suara Korah serta Asaf, jadi sepadan dengan Mannen Koor kita, karena semuanya laki-laki.

Rujukan kepada kitab Mazmur dalam peribadatan umat Israel, menurut Alkitab Perjanjian Lama, dipakai sebagai referensi dalam kaitan nyanyian jemaat dan fungsi paduan suara dalam tata kebaktian Minggu jemaat GKI Pondok Indah. Dengan demikian dapat kita lihat benang merah yang terbentang antara peribadatan masa Perjanjian Lama dan masa Perjanjian Baru, khususnya keadaan kini dan di GKI Pondok Indah ini, sehingga dapat membantu kita menempatkan persoalan nyanyian, baik secara solo maupun paduan suara, dalam tata kebaktian.

MAZMUR DAN PADUAN SUARA

Kitab terbesar dalam Alkitab Perjanjian Lama, dengan frekuensi penggunaan sangat tinggi, ialah Kitab Mazmur. Syair-syair pujian Kitab Mazmur di dalam peribadatan umat Israel dinyanyikan dengan iringan alat musik. Yang pertama disebut ialah kecapi, kesukaan raja Daud. Himpunan ke seratus lima puluh nyanyian pujian itu diberi nama Ibrani Sepher Tehellim, artinya Buku Pujian. Kata Ibrani Tehellim mengingatkan kita pada padanannya dalam bahasa Arab, yakni Tahlil, nama yang diberikan kepada buku nyanyian lama kita “Mazmur dan Tahlil.” Jadi Mazmur dan Tahlil sesungguhnya merupakan pujian kuadrat, karena dalam kata mazmur sudah terdapat unsur tahlil.

Dalam perbendaharaan mazmur yang mencakup seratus lima puluh buah itu, tujuh puluh tiga di antaranya menyandang nama raja Daud sebagai penciptanya. Tetapi raja Daud bukan saja gemar mencipta, tetapi juga gemar menggunakan mazmur sebagai pujian pribadi dengan iringan kecapi, yang mengungkapkan keharuannya dalam relasi intim dengan Allah Bapa.

Di samping pujian pribadi, mazmur memberi tempat khusus bagi paduan suara dalam peribadatan umat Israel, menurut Alkitab Perjanjian Lama. Dalam hal ini, paduan suara Korah dihubungkan dengan sebelas mazmur, sedang porsi Asaf adalah dua belas buah mazmur. Hal itu bukan berarti mereka yang menciptakannya, tetapi semata-mata sebagai daftar repertoar mereka, termasuk Heman, yang tercatat sebagai biduan utama (I Taw. 15:1-19). Dibandingkan dengan paduan suara Korah, ternyata kelompok Asaf diberi kedudukan khusus, karena Asaf diangkat raja Daud sebagai kepala ”beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut Tuhan untuk memasyhurkan Tuhan, Allah Israel, dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya.” (I Taw. 16: 4-5).

Sewaktu mendengarkan alunan suara Penatua Bambang I.Y. pada kebaktian tanggal 13 Juni 2010, saya mencoba membayangkan bagaimana biduan utama Heman menyanyikan mazmur, tanpa mikrofon dan pengeras suara. Dalam hal ini kita harus menghargai kreativitas Majelis Jemaat yang berhasil menata seluruh ibadah dengan rapi, disertai khotbah Pendeta Joas yang sangat menyegarkan. Memang semua serba segar. Saya teringat pada pertanyaan seorang bapa kepada anaknya: “Mengapa harus diam dalam kebaktian di gereja?” Jawab anaknya: “Agar tidak mengganggu jemaat yang tidur.” Saya berani bertaruh, bahwa pada kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 2010 itu tidak ada anggota jemaat yang tertidur, bahkan mungkin merasa kebaktian berlangsung terlalu singkat.

Nampaknya itulah yang diharapkan jemaat, baik dari Mannen Koor pada kesempatan itu, maupun dari nyanyian solo Penatua Bambang yang menghayati suasana Mazmur 32 melalui syair, nada dan irama. Sebab dalam hal menyanyikan mazmur terdapat catatan yang melukiskan suasana sekelilingnya, seperti, “rusa di kala fajar” (Maz. 22), atau “bunga bakung” (Maz. 45 & 80), dan suasana “merpati di pohon-pohon tarbantin nun jauh [di sana]” (Maz. 56). Terus terang, keindahan seni suara yang begitu memukau dalam menyanyikan mazmur mungkin terletak di luar jangkauan imajinasi saya, karena ketidakmampuan saya merasakan suasana “burung merpati di pohon-pohon terbantin.”

Itulah kira-kira suasana kebaktian dalam menyajikan mazmur sebagai nyanyian tunggal oleh biduan Heman, atau paduan suara Korah dan Asaf dalam kebaktian umat Israel, yang saya bayangkan seperti yang dirasakan jemaat pada ibadah GKI Pondok Indah tanggal 13 Juni 2010.

Sungguhpun pujian dalam mazmur, misalnya Mazmur 103, intinya bersifat persekutuan seluruh jemaat, tetapi dimulai dengan syair-syair yang bersifat pribadi (ayat 1-5). Pujian pribadi Raja Daud itu, dimulai dan diakhiri di bagian penutupnya dengan ungkapan syukur pribadi: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” (ayat 1 dan 22).

LITURGI KEBAKTIAN JEMAAT GKI PI

Tata Kebaktian Hari Minggu GKI PI (berdasarkan keputusan Sinode) dimulai dengan votum dan salam. Karena kebaktian jemaat itu merupakan sarana pertemuan antara Bapa Surgawi dan umat-Nya, maka pada perjumpaan itu sudah selayaknya pendeta menyampaikan Salam Bapa Surgawi dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus (Yoh. 10:30) dengan mengangkat tangan kanannya. Kebaktian diakhiri dengan Pengutusan Jemaat disertai Berkat, yang menyatakan penyertaan dan tuntunan Roh Kudus dalam pelaksanaan tugas pengutusan tersebut di lingkungan kita masing-masing. Sesungguhnya, kebaktian sebenarnya terjadi di luar gedung gereja, dalam arti: service after service.

Interior gedung gereja GKI Pondok Indah memperlihatkan adanya mimbar (bukan altar), karena di gereja Kristen Protestan tidak ada altar/mezbah, tetapi sebuah meja dengan peralatan Perjamuan Kudus, yang melambangkan persekutuan jemaat yang berbasis Perjamuan Kudus. Tempat khusus disediakan di sebelah kanan mimbar, yakni bagi paduan suara. Tempat khusus ini menandakan peran paduan suara dalam liturgi kebaktian. Kekhususan itu dipertegas lagi dengan peran pelayanan paduan suara pada urutan ke-14 liturgi kebaktian.

Oleh karena itu, yang pertama-tama perlu kita hayati ialah peran paduan suara dalam melayankan pujian dan ibadah (praise & worship) bersama-sama dalam persekutuan jemaat GKI Pondok Indah, dengan meja perjamuan sebagai titik sentral persekutuan jemaat, yang adalah Tubuh Kristus. Fokus pujian dan ibadah itu ialah Tuhan, Raja Gereja. Inilah kegiatan yang, tanpa kecuali, bersifat Christ-centered, dan dilakukan dengan penuh kekhidmatan.

Memang harus diakui bahwa tanpa disadari, adakalanya pengaruh lingkungan turut hadir, sehingga kekhidmatan kebaktian disusupi unsur show yang dapat mengarah kepada suasana entertainment. Itulah sebabnya Majelis Jemaat merasa perlu menghentikan kecendrungan pengunjung kebaktian untuk memberi aplaus kepada paduan suara, sungguhpun spontanitas itu terkadang tidak dapat dihindarkan.

Pengaruh lingkungan yang bisa merembes masuk ke dalam gereja dapat memengaruhi pemahaman kita tentang pelayanan paduan suara yang bersifat Christ-centered, dalam suasana praise & worship di lingkungan jemaat GKI Pondok Indah. Tetapi ada yang berpendapat bahwa suasana ramai dan meriah dalam praise & worship itu tetap bersifat Christ-centered, karena yang disajikan adalah lagu-lagu rohani, sehingga saya dianggap berpikiran kuno dan konservatif serta tidak inklusif, bahkan eksklusif.

PERTUNJUKAN

Kita tetap merujuk kepada peribadatan umat Israel yang mempergunakan mazmur serta peran paduan suara Korah dan Asaf, yang turut melayani dalam kebaktian. Dalam perspektif itu, kita menjumpai paduan suara dalam kebaktian Minggu di GKI Pondok Indah, sebagai bentuk nyata partisipasi jemaat. Keikutsertaan tersebut ingin ditingkatkan oleh Majelis Jemaat, yang telah mengundang jemaat untuk berpartisipasi, di antaranya sebagai lektor.

Yang perlu kita hayati bersama ialah bahwa pujian dan ibadah dilaksanakan dalam suasana kekhidmatan kebaktian. Hal itu diperlihatkan oleh benang merah yang membentang dari zaman paduan suara Korah dan Asaf serta biduan Heman, hingga paduan suara kini dan di sini, yakni dalam persekutuan ibadah jemaat GKI Pondok Indah, sesuai liturgi kebaktian Minggu.

Oleh karena itu, kebutuhan show & entertainment, dengan menyuguhkan lagu-lagu rohani, harus ditampung Majelis Jemaat. Pertunjukan ini dapat saja digelar di gedung gereja, dalam hubungan dengan suatu perayaan gerejawi, bahkan dalam kerjasama dengan gereja-gereja lain. Namun, dalam konteks itu, dengan sendirinya fokus perhatian bergeser kepada kehangatan interaksi antara biduan solo, maupun paduan suara di atas pentas dengan para penggemar mereka. Oleh karena itu, pagelaran yang demikian ramai meriah menampilkan nada dan irama itu, termasuk gerakan-gerakan tubuh para pelakunya, oleh karena sifatnya, selayaknya dilaksanakan di luar kebaktian Minggu dan bukan merupakan bagian dari liturgi kebaktian jemaat GKI Pondok Indah.

[Paul P. Poli]

1 Comment

  1. zaky

    Benang merah dari perbedaan ibadah PL dengan keKristenan masa kini (termasuk GKI) adalah tercabutnya KeKristenan dari akar Ibraninya pada tahun 321 M,saat Constantine memindahkan ibadah Sabath ke hari Minggu,sehingga keKristenan sampai kini berwajah Helenis(Yunani/Eropa) tidak lagi Hebraik (Ibrani/Yahudi) contoh yang dapat terlihat di dalam ibadah Yahudi dalam pengungkapan iman melibatkan gerakan tubuh,sedangkan dalam ibadah Helenis dalam pengukapan iman hanya pengucapan Kredo,dan masih banyak hal pengaruh Helenis dalam keKristenan masa kini.

    Dalam tulisan bp.Paul Poli terkesan adanya kegamangan(entah dari gereja atau dari bp.Paul Poli sendiri) dalam menentukan pola ibadah gereja,kalo ibadah Minggu itu dianggap yang paling tinggi,yang paling sah dan yang paling berkenan diahadapan Tuhan maka ini harus diikuti oleh semua ibadah-ibadah yang ada dalam ruang lingkup GKI PI harus mengacu pada pola ibadah Minggu itu sehingga kekhawatiran adanya factor show entertainment dan takut menjiplak pola ibadah dari gereja diluar GKI itu akan teratasi dan tidak lagi bersikap “mendua hati “dalam menyikapi pola ibadah,kecuali ada organisasi gereja di luar GKI yang menyewa gedung/tempat di GKI PI untuk melaksanakan ibadahnya dengan pola gerejanya(si penyewa)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Madah
  • Precious Lord – Kisah NyataThomas A. Dorsey
  • Kisah di Balik Lagu “Beyond The Sunset”
  • Himne yang Menakjubkan
    Himne yang Menakjubkan
    And Mary said, “My soul magnifies the Lord, and my spirit has exalted in God, my Savior, because he...
  • Prokantor, Kantoria dan  Pemandu Jemaat
    Prokantor, Kantoria dan Pemandu Jemaat
    Perkembangan musik gereja saat ini tidak terlepas dari banyak faktor yang terkait di dalamnya. Salah satunya adalah keberadaan kelompok...
  • Peranan Paduan Suara dalam Ibadah
    Peranan Paduan Suara dalam Ibadah
    Pendahuluan Tidak diragukan lagi bahwa musik merupakan bagian penting dari ibadah agama Kristen. Di sepanjang sejarah ibadah umat Kristen,...
Kegiatan