Lebih Luar Biasa daripada “Yang Luar Biasa”

Lebih Luar Biasa daripada “Yang Luar Biasa”

Belum ada komentar 96 Views

Bukit Realita Kehidupan

BAHAGIA” dan “BAHAYA”, dari formulasi istilah, kedengarannya hampir sama. Keduanya mempunyai kesamaan dalam empat huruf pertama (“baha”). Dalam kehidupan sehari-hari, orang bahkan bilang bahwa “bahagia” dan “bahaya” itu beda tipis. Ada hal-hal yang semula kita maksudkan untuk mendapatkan “bahagia”, tetapi ternyata berakhir dengan “bahaya”. Kadangkala beberapa perbuatan yang “bahagia” dan “bahaya” dimulai dari sebab yang sama, sebagaimana keempat huruf tadi; tetapi, yang kemudian membedakannya adalah akhir (ending) dari perbuatan-perbuatan tadi. Maunya dapat “bahagia”, eh.. ternyata dapat “bahaya”.

Sebagai konsekuensi dari dicipta menurut Citra ALLAH (Imago Dei), manusia memang mempunyai daya cipta yang memampukan kita untuk melakukan temuan dalam upaya meningkatkan kualitas dan/atau kenikmatan hidup. Teknologi yang ada dan berkembang pesat telah memberi kita kemudahan hidup. Tetapi, ternyata hal-hal yang membawa “bahagia” tersebut pada banyak hal mempunyai sisi kedua, yakni “bahaya”. Dalam hal lingkungan hidup, film “An Inconvenient Truth” nya Al Gore membuka mata kita atas kenyataan yang mengancam kehidupan kita, sekaligus menantang kita dengan pertanyaan apakah alam mengkhianati kita, atau justru kita yang mengkhianati alam? Ancaman yang harus diwaspadai saat ini ternyata bukan hanya terorisme, tetapi juga pemanasan global, yang bahkan mungkin jauh lebih mengerikan. Kemajuan peradaban dan teknologi yang semula diciptakan untuk kebahagiaan ternyata meminta biaya berupa “kebahayaan” pada lingkungan hidup manusia sendiri.

Perenungan Dr. Bob Moorehead, mantan pendeta di Overlake Christian Church di Seattle, Amerika Serikat, berjudul “The Paradox of Our Age “ di bawah ini mungkin dapat mewakili dan meringkas realita yang ada di zaman ini:

“The paradox of our age is that we have taller buildings but shorter tempers; wider freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but have less. We buy more, but enjoy less. We have bigger houses, and smaller families; more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense; more knowledge, but less judgment; more experts, yet more problems; more medicine, but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too seldom, and hate too often.

We’ve learned how to make a living, but not a life. We’ve added years to life not life to years. We’ve been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbor. We conquered outer space but not inner space. We’ve done larger things, but not better things.

We’ve cleaned up the air, but polluted the soul. We’ve conquered the atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We’ve learned to rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but we communicate less and less.

These are the times of fast foods and slow digestion, big men and small character, steep profits and shallow relationships. These are the days of two incomes but more divorce; fancier houses, but broken homes. These are days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality, one night stands, overweight bodies, and pills that do everything from cheer, to quiet, to kill. It is a time when there is much in the showroom window and nothing in the stockroom…”

Membaca isinya membuat kita menyadari bahwa realita sedemikian di atas semestinya tidak sekedar menjadi suatu paradoks lagi, tetapi sudah menjadi tragedi dan ironi kehidupan yang memang dapat bikin kita stress. Karenanya, tidaklah mengherankan ketika suatu kali seorang psikiater kedatangan seorang pasien baru yang mengeluh bahwa ia kesepian dan tidak bahagia, sekaligus meminta advis dari ahli ilmu jiwa tadi. Sang psikiater lantas menyarankan agar pasiennya itu pergi ke sirkus yang baru beberapa hari memulai atraksi mereka di kota itu. Sirkus itu menampilkan seorang badut yang, sebagaimana didengar oleh psikiater tadi, dapat membuat seorang yang sangat murung, tertawa terpingkal-pingkal. Sang dokter berharap advisnya mujarab. Suasana kemudian menjadi agak sedikit senyap, sampai akhirnya sang pasien menjawab dengan suara rendah: “Pak Dokter…sayalah badut itu”. Di puncak kariernya, badut itu sendiri tidak bahagia, walau ia mampu membawa luapan sukacita bagi orang lain.

Ratu Victoria dari Inggris, ratu yang sangat berpengaruh di zamannya (1837-1901), ketika ditinggal mati di tahun 1861 oleh suaminya, Pangeran Albert, pun pernah berkata: “Tidak ada lagi yang dapat memanggilku ‘Victoria’’”. Di puncak tahtanya, ia sendiri kesepian, walau sangat berkuasa.

Memang, dunia ini tidak dapat memberi manusia kebahagiaan sejati. Di puncak bukit kesuksesan, kekayaan, dan ketenaran sebagian besar orang, sesungguhnya hampir tidak ada apa-apa, kecuali kekosongan secara spiritual. Nothing on the top. Kita mungkin mempunyai fulfilling life, tetapi mungkin bukan fulfilled life. Sejak jatuh dalam dosa, Citra ALLAH dalam manusia mengalami kerusakan dan manusia tidak lagi mempunyai hubungan yang sempurna dengan ALLAH. Tetapi, walaupun sudah rusak, Citra ALLAH tetap ada dalam manusia pada batas tertentu, antara lain, daya cipta sebagaimana disinggung di atas, dan kekekalan jiwa.

Manusia mempunyai God spot dalam spiritualnya merindukan adanya suatu hubungan dengan suatu Kuasa yang Lebih Besar dari manusia guna melindungi kehidupan sekarang maupun kehidupan berikut setelah kematian. Di balik modernisme dan materialisme belakangan ini, gerakan spiritualisme ternyata mulai mendapat tempat bahkan mengalami kebangkitan. Kita lihat di lingkungan kita bagaimana mulai banyak terbentuk gerakan-gerakan berlabel agama. Juga, film-film TV dan bioskop sudah mulai dijejali dengan film bertema spiritualisme, yang sayangnya banyak tergelincir ke tema-tema horor. Memang, di dalam bagian terdalam spiritualisme manusia terdapat suatu kekosongan rohani yang tidak dapat diisi oleh “kebahagiaan relatif” yang disediakan dunia. Karena itu, manusia terus mencari dan mencari kebahagiaan sejati guna mengisi kekosongan tadi. Tetapi, dapatkah kita menemukan yang kita cari tadi? Alkitab mengatakan: “Ya!”. Di dalam Khotbah Di Bukit dalam Matius 5, kita menemukan jalan menuju ke situ.

Khotbah Di Bukit: Pengaruhnya ke Kehidupan Kontemporer

Khotbah Di Bukit telah sangat mempengaruhi arah dan arus sejarah dunia hingga pada masa sekarang (kontemporer) ini. Khususnya dalam Matius 5:38-44 dikatakan; “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Konsep ini mengajarkan mereka yang tertindas untuk mengasihi para penindas dan tidak melakukan perlawanan dengan cara kekerasan. Abraham Lincoln menerjemahkan konsep itu, antara lain, dalam ungkapannya yang terkenal: “Don’t I destroy my enemy when I make him my friend?”.

Di India, Mahatma Gandhi mulai mengenal, dan memutuskan untuk mengikuti, prinsip-prinsip dalam Khotbah Di Bukit setelah ia membaca buku Leo Tolstoy “The Kingdom of God is Within You”, bahkan menurut legenda, ketika mati ditembak, di dalam pakaian Gandhi ditemukan Alkitab. Gandhi adalah perintis gerakan “Satyagraha” yang terutama menyerukan perlawanan aktif terhadap kekerasan dengan tidak melakukan kekerasan (non-violent resistance) yang kemudian membawa India ke kemerdekaan di tahun 1947. Gerakan ini memberi inspirasi bagi gerakan-gerakan hak asasi manusia (HAM) dan kemerdekaan di seluruh dunia.

Dr. Marthin Luther King Jr., tokoh HAM Amerika Serikat yang berlatar-belakang pendeta, juga kemudian mempelajari pola perjuangan anti kekerasan Gandhi dan menerapkannya dalam gerakan anti rasisme di Amerika Serikat ketika itu. Dalam perjuangan damai itu, dari mulut Dr. King keluar ungkapan, seperti: “the cross we bear precede the crown we’ll wear” dan pidatonya yang terkenal “I have a dream…”. Perjuangan demokrasi di Myanmar di bawah Aung San Suu Kyi dan perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan oleh Nelson Mandela juga terinspirasi oleh prinsip-prinsip anti-kekerasan. Di Filipina, setelah kematian Benigno Aquino Jr., “People Power” menjatuhkan pemerintahan Marcos dengan turun ke jalan secara damai dan berdoa berlutut kepada Tuhan persis di hadapan tank-tank tentara menghalangi pergerakan tank-tank tersebut.

Gerakan menjatuhkan komunisme di Polandia1  juga menggunakan metode turun ke jalan secara damai di mana para pengunjuk rasa justru meneriakkan ungkapan-ungkapan damai dan kasih seperti “we forgive you, we forgive you” di depan gedung pusat partai komunisme Polandia. Kejatuhan komunisme di Polandia kemudian mempunyai efek domino yang akhirnya mendorong runtuhnya komunisme dalam skala jauh lebih besar lagi.

Di Jerman Timur, mula-mula ratusan orang turun ke jalan secara damai dengan prosesi lilin. Kumpulan ini kemudian meluas menjadi ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, dan akhirnya ketika gelombang protes damai menarik dan menghimpun sekitar sejuta orang, semua menyanyikan lagu-lagu himne gereja, menjadi arus yang tidak tertahan lagi membawa runtuhnya Tembok Berlin di tahun 1989, tanpa ada satu butir peluru pun yang ditembakkan padahal dalam sekitar 30 tahun sejarah Tembok Berlin sudah sekitar 200 orang mati ditembak tentara Jerman Timur ketika berusaha menerobos Tembok Berlin. Kisah Yosua meruntuhkan Tembok Yerikho hanya dengan puji-pujian (Yosua 6), terulang kembali.

Sebelumnya di tahun 1987, di dekat Tembok Berlin, Presiden Reagan menyerukan pidatonya yang terkenal ”Mr. Gorbachev, tear down this wall!” menantang Pemimpin Uni Sovyet tersebut untuk meruntuhkan Tembok Berlin yang telah memisahkan bangsa Jerman sejak 1961. Sisanya adalah sejarah: Jerman kembali bersatu di tahun 1990, Uni Sovyet bubar di hari Natal 25 Desember 1991 menyisakan 15 republik di bawahnya menjadi negara yang independen. Perang Dingin ternyata berakhir bukan dengan kekuatan nuklir, tetapi oleh parade lilin yang secara damai menyerukan pembebasan.

Runtuhnya tembok dan tirai pemisah ideologis kemudian melahirkan jembatan-jembatan penghubung umat manusia sedunia, yang makin didorong dengan berkembang infomasi dan telekomunikasi. Sejak itu, globalisasi mulai “menjangkiti” dan menjangkau lebih banyak bagian dunia, termasuk Indonesia. Indonesia di awal 1990-an mulai memasuki tahap keterbukaan yang pada saatnya turut membidani gerakan reformasi di tahun 1997, hingga kita akhirnya tiba di saat sekarang ini. Pada 15 Juni 2007, Majelis Umum PBB menetapkan 2 Oktober (yang adalah hari ulang tahun Mahatma Gandhi) sebagai “Hari Internasional Anti-kekerasan”.
Sungguh, “history is His Story”.

Pola perjuangan kontemporer dengan metode yang diajarkan Khotbah Di Bukit memang membawa bahaya karena para pesertanya “memasang badan” tanpa membawa senjata atau alat bela diri, kecuali perlindungan suatu kekuatan ilahi yang tidak kelihatan, padahal mereka harus berhadapan dengan kekuatan bersenjata lengkap dan berat. Tetapi, terbukti bahwa ternyata pola yang berbahaya ini membawa akhir yang bahagia (happy ending) sekaligus lembaran baru bagi kehidupan selanjutnya.

Khotbah Di Bukit: Menuntut Lebih Luar Biasa daripada “Yang Luar Biasa”

Khotbah Di Bukit memang revolusioner. Rumusannya bukan hanya memberi informasi kepada dunia, tetapi lebih jauh lagi telah membawa dunia ke dalam suatu transformasi. Khotbah Di Bukit lebih lanjut lagi bukan hanya berlaku dalam skala makro, tetapi juga pada skala mikro, di mana ia mentransformasi perspektif kita tentang kualifikasi mereka yang berkenan kepada ALLAH dan definisi “bahagia”.

Dalam Matius 5:20, Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Betulkah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang luar biasa?

Orang-orang Farisi pada umumnya berperan sebagai guru dan pemimpin pada rumah-rumah ibadah lokal dan sangat menekankan ketaatan religius. Mereka mendorong doa rutin tiap hari dan menghormati hari-hari suci. Para ahli Taurat, walaupun tidak identik per se dengan kaum Farisi, menerima prinsip-prinsip ajaran kaum Farisi. Sebaliknya, kaum Farisi menerima para ahli taurat sebagai otoritas akademik Hukum Taurat dalam hal penafsiran Hukum Taurat. Karena kesamaan di antara mereka, para penulis Kitab Injil sering mengasosiasikan mereka satu sama lain, antara lain, disebut seperti “ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi” (Mark 2:16 dan Kis.23:9).

Para tokoh agama ini menjabarkan kesepuluh Perintah ALLAH (Keluaran 20) yang merupakan isi pokok dan awal dari Hukum Taurat, ke dalam 613 peraturan (248 perintah dan 365 larangan), yang mencakup Hukum Moral, Hukum Upacara Agama, Hukum Sipil dan Hukum Kesehatan, sehingga menjadikan Hukum Taurat dasar kehidupan bangsa Israel secara pribadi, dalam berkeluarga, berjemaat, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mereka sangat ketat bahkan berlebihan menjaga ketaatan formal atas semua ini tetapi melalaikan yang lebih esensial (Mat.23:23).

Umpamanya, untuk larangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan, mereka hanya akan menulis “G_d” atau “JHWH” saja dan tidak pernah menyebut kata “God” atau “Jahweh” secara lisan. Dalam dunia kontemporer, di tempat-tempat halal dalam lingkungan mereka, selalu ada dua dapur yang memisahkan tempat memasak daging dan susu, guna menaati larangan memasak daging dan susu bersama-sama (al., Keluaran 23:19). Terhadap larangan berzinah, mereka bahkan tidak akan melihat atau berbicara dengan wanita yang bukan istrinya. Setelah mereka menjalankan ritual menundukkan dan membenturkan dahi ke dinding Tembok Ratapan, mereka akan tetap menampilkan luka memar di dahi mereka guna menunjukkan kesalehan dan ketaatan mereka atas ritual formal tersebut.

Jangan juga heran kalau di Israel pada masa modern ini terdapat elevator yang dikenal sebagai “elevator hari Sabat”. Elevator ini akan berhenti pada tiap lantai pada hari Sabat agar para Yahudi ortodox tidak perlu menekan tombol yang dapat dianggap bekerja pada hari Sabat (Kel.20:8: Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat) dan “menyalakan api” (Keluaran 35:3: Janganlah kamu memasang api di mana pun dalam tempat kediamanmu pada hari Sabat).

Adakah kita yang mampu menjalani kehidupan lebih daripada pola hidup luar biasa yang dijabarkan di atas? Dari sudut pandang manusia, melihat pola hidup mereka dibandingkan dengan orang lain, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menjalani standar kehidupan yang harus diakui memang luar biasa. Yesus sendiri mengakui tingginya standar hidup keagamaan mereka dan bahkan menggariskan bahwa kalau kita tidak melampauinya, kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Tetapi, sesungguh-sungguhnya, bila kita ubah sudut pandang tadi, semula dari sudut pandang manusia, ke standar ALLAH sebagai sudut pandang yang berlaku, kita akan menemukan kesimpulan yang jauh berbeda, bahkan terbalik. Tetapi, apakah yang menjadi standar ALLAH? Tidak lain adalah Hukum Taurat dan Khotbah Di Bukit.

Bila kita simak dengan teliti, standar Khotbah Di Bukit membuat kita makin menyadari betapa kita tidak mampu menjalankan Hukum Taurat. Hukum Taurat dalam Keluaran 20:13 berkata: Jangan membunuh. Tetapi, Yesus bahkan berkata dalam Khotbah Di Bukit “Setiap orang yang membenci saudaranya sama dengan membunuh”. Keluaran 20:14: Jangan berzinah. Tetapi, bagi Yesus “setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”

Dengan standar Khotbah Di Bukit, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menjadi sama sekali tidak luar biasa. Menerapkan isi Khotbah Di Bukit terhadap mereka dan kita semua membuat mereka sama dengan kita juga: pembunuh, pezinah, pencuri dan pendusta. Singkatnya, di mata ALLAH, kita sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kita seperti kain kotor (Yesaya 64:6). Tingkat “luar biasa kesalehan” mereka tadi tidak cukup untuk membawa mereka ke Sorga. Roma 3:9-12: “… Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.”

Bukankah proses penyaliban Yesus merupakan tragedi dan ironi terbesar, dan buah dari “kesalehan yang luar biasa” dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat? Mereka melakukan dosa terbesar tersebut (dengan memaksa Pontius Pilatus menyalibkan Yesus pada hari Jumat) ketika mereka bersamaan dengan itu di sisi lain berusaha menjalankan Hukum Taurat yang melarang orang melakukan aktivitas pada hari Sabtu (Hari Sabat). Dengan menyalibkan Yesus pada hari Jumat berarti mereka dapat menghormati Hari Sabat yang jatuh keesokan hari setelah penyaliban Yesus tersebut.

Selanjutnya, Yakobus 2:10 berkata: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”.

Oleh sebab itu, “kesalehan” manusia siapa pun, termasuk orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang “luar biasa” tadi akan selalu gagal terhadap standar kebenaran yang dituntut ALLAH. Tingkat “kesalehan” orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tersebut akan gagal bukan karena terlalu luar biasa, tetapi justru sebaliknya: sangat masih jauh dari cukup untuk dapat memenuhi standar kebenaran yang dituntut ALLAH. Bagian akhir Khotbah Di Bukit pada Matius 5:48 memberi tahu kita standar kesalehan yang dikehendaki ALLAH: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Karena tidak ada seorang pun yang benar di hadapan ALLAH, maka kita semua adalah orang berdosa. Di dunia ini ada dua kelompok orang berdosa, yakni mereka (a) yang tidak mengakui dosanya dan ketidak-mungkinan memenuhi standar kebenaran ALLAH oleh usaha sendiri dan (b) yang mengakui dosanya dan ketidak-mungkinan tersebut.

Para orang Farisi dan ahli Taurat yang menyalibkan Yesus masuk dalam kelompok (a). Mereka memang orang yang luar biasa, bila dilihat dan dibandingkan dengan standar manusia. Tetapi kendati begitu, ego mereka menghalangi mereka untuk cukup mampu menyangkal dan mengosongkan diri meminta Anugerah ALLAH.

Karenanya, siapakah sesungguhnya yang lebih luar biasa daripada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang Yesus maksudkan dalam Matius 5:20 tadi?

Mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hatinya, yang suci hatinya, yang membawa damai, yang dianiaya oleh sebab kebenaran, dan yang dicela, dianiaya dan difitnahkan segala yang jahat karena Yesus, adalah mereka yang lebih luar biasa daripada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka karenanya patut disebut oleh Yesus sebagai “berbahagia”.

Apakah yang membuat mereka yang disebut Yesus dalam Matius 5:3-11 di atas, lebih berharga di mata Yesus dibandingkan dengan para Farisi dan ahli Taurat? Mereka yang Yesus sebut tadi mempunyai satu kesamaan, yakni kerendahan hati untuk mengakui dosanya dan menyangkal kemungkinan memenuhi standar kebenaran ALLAH oleh usaha sendiri.

Penyangkalan diri tadi membuat kita mampu mengosongkan diri meminta Anugerah ALLAH sendiri untuk turun mengisi kekosongan tadi. Inilah “kesempurnaan” yang Yesus kehendaki bagi manusia untuk mendapatkan Anugerah berupa pengampunan dosa, karena penyangkalan dan pengosongan diri adalah cara Yesus sendiri ketika IA turun menjadi manusia (Filipi 2:7).

Yesus yang menetapkan standar yang begitu dan terlalu tinggi dalam Khotbah Di Bukit tadi adalah Yesus yang sama yang menawarkan Pengampunan ALLAH sebagai Anugerah. Roma 3:24: “…oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Efesus 2:8-9: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Yesus sangat tahu bahwa tidak akan ada seorang pun yang dapat memenuhi Kesepuluh Perintah ALLAH dalam Keluaran 20, apalagi setelah standar tersebut diperjelas oleh Yesus dalam Matius 5 tadi. Karenanya, semua standar kebenaran tersebut diberikan TUHAN memang bukan untuk manusia patuhi secara sempurna, tetapi lebih untuk menjadi cermin dan parameter bagi manusia tentang betapa berdosanya kita dan betapa tidak mampunya kitngan usaha sendiri, sehingga terhadap standar tersebut tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain (a) bertekuk-lutut mengakui ketidak-mampuan kita untuk menyelamatkan diri dengan usaha sendiri dan selanjutnya (b) meminta Anugerah ALLAH turun atas kita untuk mengampuni kita dari dosa-dosa kita sekaligus menjadikan kita ciptaan baru untuk menjalani kehidupan iman yang bertumbuh dan berbuah bagi Kristus. St. Agustinus berkata “GOD gives only when He finds empty hands”. Memang, ALLAH turun tangan hanya ketika kita angkat tangan.

Kesimpulan akhir: kita hanya dapat menemukan kebahagiaan sejati bila kekosongan spiritual kita diisi oleh Pencipta kita sendiri, ketika kita memilih untuk menerima tawaran AnugerahNya dan selanjutnya berkata “Jesus, I’m yours!” Yesus: Tuhan, Juruselamat dan Sahabat kita.

Fabian Buddy Pascoal

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
  • Pemimpin: Hamba atau Sahabat
    Tema yang akan diteropong ini bukan tema yang baru, oleh karena itu ketika membacanya, kita pasti sudah mempunyai pemahaman...
Kegiatan