Layang-Layang Perdamaian

Layang-Layang Perdamaian

Belum ada komentar 8 Views

I will write peace on your wings and you
will fly all over the world
(Sadako Sasaki, 12 tahun)

Kekerasan demi kekerasan terjadi di bumi Nusantara. Orang-orang dewasa seperti tak tahu malu mempertontonkan sifat barbar dan keberpihakan pada kekerasan di depan mata anak-anak. Dan yang lebih memalukan lagi, kekerasan demi kekerasan itu dilakukan atas nama nilai-nilai yang paling luhur dan dalam belaian payung hukum.

Anak-anak, lagi dan lagi, secara sistematis melalui pendidikan nasional di negara kita, dituntut untuk memiliki akhlak dan budi pekerti mulia. Anak-anak dibebani dengan beban pendidikan yang begitu berat namun dalam kenyataannya, yang mereka temukan dalam ruang praktikum realitas kehidupan tidak cocok dengan semua hipotesis tentang akhlak dan budi pekerti mulia itu. Teladan tentang superiotas kelompok ditunjukkan oleh para tokoh agama. Tempat pendidikan pun sering memberi wajah yang tidak ramah terhadap perbedaan, karena pendidikan tidak lebih dari suatu barang yang punya harga jual, sehingga budi pekerti tidak ada bedanya dengan jajanan pasar, sementara semangat kebersamaan dalam masyarakat ditunjukkan sambil mengangkat golok dan melempari batu terhadap benda mati maupun hidup. Pemerintah dan aparat penegak hukum adem ayem menikmati semilir angin yang membawa amis darah dan asin tangis anak bangsa. Dan wajah yang disodorkan oleh masyarakat, yaitu kita, terekam dengan baik dalam benak anak-anak dan walau belum menunjukkan bentuknya saat ini tetapi pasti akan mewajah dalam masa depan bangsa kita.

Anda mungkin tidak percaya, tetapi ya, saya tidak bisa tidur semalaman hanya karena memikirkan hal ini. Mencoba mencari celah membantah semua asumsi di atas. Dalam hati saya meyakini bahwa anak-anak mencintai bahasa perdamaian. Mereka terlahir dengan bahasa yang sama sebelum orang-orang dewasa mengajarkan perbedaan. Saya masih percaya pada suara hati anak-anak. Hal ini membuat saya teringat pada seorang gadis kecil yang bernama Sadako Sasaki. Ia menjadi korban penyakit mematikan sebagai imbas bom atom. Dalam lipatan burung-burung bangau kertas yang ia buat menjelang akhir hidupnya, terselip doa untuk kedamaian dunia. Katanya: “Saya akan menuliskan pesan damai pada sayap-sayapmu untuk kau terbangkan ke seluruh dunia”. Dan kalimat sederhana dari gadis kecil yang meninggal pada usia 12 tahun ini menginspirasi anak-anak di berbagai belahan dunia untuk menyerukan penghentian kekerasan perang dan pewujudan masa depan yang damai bagi anak-anak.

Dan saya membayangkan di bumi Nusantara ini, anak-anak yang cinta damai berkumpul bersama untuk melukiskan dan menuliskan pesan damai mereka pada layang-layang kertas dengan berbagai corak warna yang menggambarkan kebhinekaannya, kemudian menaikkannya bersama di langit Indonesia. Layang-layang itu harus terbang lebih tinggi dari acungan golok dan lemparan batu, layang-layang itu harus ditulis dan diwarnai sesuai isi hati anak sebagai sebuah karya yang tidak dapat dibeli dengan uang, dan anak-anak itu harus merasa senang melakukannya. Mungkin dengan sepenggal memori itu, anak-anak ingat bahwa kedamaian itu menyenangkan. Mungkin ini konyol, tetapi saya masih ingat ketika kecil, Papa saya selalu membuatkan layang-layang berekor yang besar sekali dan indah untuk kami naikkan bersama di atap rumah. “Layang-layang ini spesial”, kata Papa, “Ia akan terbang tinggi sekali dan semua orang bisa melihatnya, pemain lain tidak akan mengadu layang-layangnya, karena mereka terlalu menikmati keindahan dan merasa sayang jika layang-layang itu putus”. Saya merasa senang sekali dan saya ingin semua anak-anak di bumi Nusantara ini juga bisa menikmati indahnya damai.

Dalam benak saya, sebuah layang-layang perdamaian sudah saya naikkan. Saya menggambarkan deretan pulau-pulau di Nusantara yang sedang mengidungkan damailah Indonesiaku. Semoga layang-layang saya tidak sendirian tetapi akan ditemani layang-layang lainnya dari anak-anak di seluruh Nusantara. Damailah negeriku!

Jakarta, Februari 2011
George Sicillia

Sebuah cinta untuk surga di katulistiwa
dan anak-anak yang lahir dari rahim
kasih bunda pertiwi.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
  • Jangan Menyerah
    Bacaan: Lukas 18:1-8
    “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari...
  • Kejujuran, Kesantunan & Etika MAKIN PUDAR
    Jujur, santun dan beretika adalah tiga kata yang sangat menentukan dalam peringkat kehidupan seseorang atau sebuah bangsa. Negara-negara tanpa...
Kegiatan