Kristen dan Tradisi

Kristen dan Tradisi

Belum ada komentar 93 Views

Pak Pendeta,

Sebagai orang Kristen, saya yang dari suku Jawa masih terbiasa melihat upacara-upacara yang sulit ditingggalkan. Misalnya setelah ada anggota keluarga meninggal dunia, maka ada tradisi upacara tiga hari (nelung dina), tujuh hari (mitung dina), 40 hari (matang puluh), 100 hari (nyatus), satu tahun (mendhak pisan), dua tahun (mendhak pindho) dan setelah itu ada yang namanya upacara 1000 hari atau nyewu. Nah karena keluarga orang Kristen maka acara dibungkus dengan doa bersama.

Masalahnya kadang tradisi tersebut ditentang oleh orang lain yang tidak sependapat walaupun sama-sama orang Kristen.

Pertanyaannya, bagaimana menyikapi hal tersebut? Mohon dijelaskan juga tentang sikap kita dalam hidup berbangsa dan bernegara, karena ada orang Kristen dari aliran tertentu yang melarang anggotanya hormat kepada bendera merah putih dengan alasan hanya Allah yang layak menerima sembah dan hormat.

Atas pencerahan Bapak, saya mengucapkan terimakasih.

Wian-Jakarta

Saudara Wian yang baik,

Manusia selalu hidup dengan budayanya masing-masing. Ketika Allah menyapa manusia, maka sapaan Allah itu bukan hanya hadir di tengah budaya manusia, tetapi juga     menggunakan budaya manusia. Tidak sedikit perumpamaan yang Yesus pakai untuk mengajar, menggunakan kebiasaan sehari-hari yang berlaku pada waktu itu. Cara berpakaian Yesus juga bukan cara berpakaian baru, tetapi seperti cara berpakaian orang-orang pada waktu itu.

Dari sini kita melihat, bahwa kekristenan dengan budaya bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Namun pada lain sisi, kekristenan juga harus bersikap kritis terhadap budaya. Bagian-bagian dari budaya yang berlawanan dengan nilai-nilai kristiani bukan dihilangkan, tetapi diberi arti baru sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang kita anut. Inilah yang disebut inkulturasi. Kekristenan hadir di dalam budaya dan memberi warna kristiani budaya tersebut. Inilah artinya menjadi ‘garam dunia’ (Mat. 5:13). Garam itu hadir di dalam air namun sekaligus memberikan pengaruh (mengasinkan) air tersebut. Contoh inkulturasi yang sangat terkenal dalam sejarah gereja adalah ‘perayaan Natal’. Ketika kekristenan masuk ke Romawi, maka kekristenan berjumpa dengan budaya Romawi, yaitu penyembahan dewa matahari. Kekristenan memberi arti baru pada budaya Romawi ini dengan menjadikannya ‘perayaan Natal’.

Lalu bagaimana dengan upacara tiga hari, tujuh hari dan lain-lain yang berasal dari budaya Jawa? Prinsipnya sama, kita hadir dalam budaya tersebut sekaligus bersikap kritis dan memberikan arti baru buat budaya tersebut sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang kita anut. Misalnya, kita tidak mendoakan yang sudah meninggal karena hal itu bertentangan dengan nilai kristiani yang kita anut. Namun kita bisa bersyukur karena rangkaian pemakaman sudah berlangsung dengan baik. Begitu juga kita bisa bersyukur karena diberi kemampuan melewati hari-hari hidup kita, meskipun tanpa kehadiran kekasih yang telah meninggalkan kita.

Bagaimana dengan orang yang tidak sependapat dengan kita? Nah, kita pahami dulu, ketidaksetujuan mereka itu apa? Kalau karena ada hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kristiani, mestinya kita bisa menerima keberatan tersebut. Tetapi kalau ketidaksetujuan tersebut berangkat dari ketertutupan terhadap upaya inkulturasi, saya kira kita bisa mengabaikan keberatan tersebut.

Berikutnya, bagaimana sikap kita terhadap orang yang tidak setuju penghormatan bendera? Saya kira harus dibedakan antara sikap hormat dengan penyembahan. Kita hanya menyembah Allah, tetapi bisa menghormati banyak hal, termasuk bendera. Bukankah dalam hukum yang ke 5 kita juga dipanggil untuk menghormati orangtua. Itu bukan berarti kita menyembah orangtua, ‘kan? Penyembahan dan penghormatan adalah dua hal yang berbeda dan jangan dicampuradukkan!

 

 

Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Kerajaan Maut
    Anugerah Keselamatan
    Pak Pendeta yang budiman, Saya sudah termasuk lansia dan dibaptis sekian puluh tahun yang lalu. Buku pedoman katekisasi yang...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan