Kitab wahyu; Pintu Surga Terbuka Allah Bersemayam Di Takhta-Nya

Kitab wahyu; Pintu Surga Terbuka Allah Bersemayam Di Takhta-Nya

Takhta Allah (Kitab Wahyu Pasal 4)

Wahyu 4:1 – “Kemudian daripada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga dan suara yang dahulu kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: ‘Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini’ (Come up here, and I will show you things which must take place after this).

Ayat ini berawal dan berakhir dengan keterangan waktu mengenai apa yang harus terjadi “kemudian” dan “sesudah ini.”

Yohanes melihat sebuah pintu terbuka di surga. Ia dikuasai oleh Roh dan diberi kesempatan untuk menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh siapapun, yakni:

I. Ia melihat sebuah tahta di surga dan di atasnya duduk Seseorang (and One sat on the throne);
II. Dia yang duduk di atas takhta itu tampak bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu yang gilang-gemilang bagaikan zamrud (there was a rainbow around the throne, in appearance like an emerald).

Kesempatan Indah Melihat “Surga”

  1. Yohanes melihat “pintu terbuka,” yaitu pintu “surga.” Yehezkiel, Yesaya dan Daniel juga mendapat kesempatan sama untuk melihat pintu surga, namun tidak masuk ke dalamnya. Yohanes, rasul yang sangat dikasihi Yesus, mendapat perlakuan khusus. Ia dipanggil masuk ke dalam surga. Tak ada orang lain yang diizinkan memasuki surga untuk melaporkan apa yang dilihatnya, kecuali Yohanes.
  2. Yohanes diperbolehkan melihat ke dalam wilayah yang sangat nyata: “Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.”
  3. Hal pertama yang sangat menarik perhatiannya di surga ialah sebuah takhta dan di atasnya duduk Seseorang.

Takhta (throne), adalah tema utama Kitab Wahyu karena dari 22 pasalnya hanya 5 saja yang tidak mencantumkan kata tersebut. Hal ini membuktikan kepada umat manusia bahwa benar:

I. Ada Allah;

II. Allah ada di takhta alam semesta;

III. Pemerintahan Allah menjulang tinggi di atas semua kejadian manusia;

IV. Allah tidak berhenti bekerja. Segala pujian, hormat dan syukur hanya kepada-Nya;

V. Allah masih berkuasa;

VI. Allah duduk di takhta;

VII. Takhta kemuliaan, yang luhur sejak semula, ditulis Nabi Yeremia sebagai “tempat Bait Kudus kita.”

Sebuah Pintu Terbuka di Surga

1. Yohanes diizinkan melihat apa yang biasanya tersembunyi dari mata manusia.

G.R. Beasley–Murray menulis: “Sudah jelas bahwa suatu permulaan baru dalam Kitab Wahyu 4:1–sebuah pintu surga–dibuka untuk memungkinkan sang rasul memasuki gerbangnya dan melihat apa yang sedang berlangsung di sana, sehingga ia dapat mengikuti apa yang terjadi di bumi. Inilah KUNCI untuk menafsirkan Kitab Wahyu.”

2. Pintu sudah dibuka dan tetap terbuka dari bumi ke surga; inilah pintu ketiga yang disebutkan dalam Kitab Wahyu.

Pintu Pertama:

Pintu peluang/pintu kesempatan (Wahyu 3:8). Tuhan Yesus Kristus yang bangkit berkata kepada jemaat: “Lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu.” Allah menempatkan sebuah pintu peluang/kesempatan di hadapan setiap orang.

Pintu Kedua:

Pintu jemaat/pintu hati manusia (Wahyu 3:20). Tuhan Yesus Kristus yang bangkit berkata: “Lihatlah Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk.” Setiap orang diketuk pintu hatinya oleh Tangan yang berlubang paku itu, dan ia dapat membuka atau menolak untuk membukanya.

Pintu Ketiga:

Pintu surga/pintu pernyataan atau penyingkapan Allah (Wahyu 4:1). “Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga.” Kepada setiap orang, Allah menawarkan pintu yang menyingkapkan pengetahuan mengenai Allah dan kehidupan kekal. Mengenai pintu surga yang terbuka itu ditulis dalam Perjanjian Lama dan kitab Injil, yakni di Yehezkiel 1:1; Markus 1:10; dan Yohanes 1:51.

Pintu Masuk ke Dalam Hadirat Allah

Yohanes menulis “Aku melihat sebuah pintu terbuka di surga.”

Ketika manusia berada dalam situasi tegang, tertekan, menghadapi kesulitan, atau terluka batinnya karena kepahitan hidup, besar kemungkinannya ia mencari jalan keluar secara kedagingan/pintu kegelapan (darkness). Namun Yohanes melihat pintu yang terbuka, yang ternyata merupakan pintu masuk dan bukan pintu keluar. Pintu ini adalah pintu ke hadirat Allah. Inilah pintu masuk ke ruang takhta surga, pintu masuk yang terbuka untuk kita semua.

Tuhan membuka jalan. Ia menyediakan pintu yang terbuka. Masukilah pintu itu dan jangan memilih pintu keluar:

a. Mungkin ada yang mengambil jalan menuju pintu keluar karena tidak kuat memikul tanggung jawab yang berat, lelah dan putus asa, jemu dalam pekerjaan, pernikahan dan lain-lain;

b. Banyak pengkhotbah, pemadah dan penulis lagu rohani mengungkapkan tentang jalan yang Tuhan sediakan itu. Don Moen misalnya, menulis lagu “Dia Buka Jalan” (God Will Make a Way) ketika ia mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa ipar perempuan dan keluarganya, sehingga menyebabkan putra sulung mereka meninggal dunia. Melalui lagu itu, keluarga tersebut mendapat kekuatan dan penghiburan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. -“Dia buka jalan, saat tiada jalan, Dia bekerja di jalan yang tak terlihat oleh kita, Dia buka jalan.” Tuhan mengerti kesedihan di hati kita dan Dia berada bersama kita.

c. Ada solusi-solusi yang Yesus berikan:

i. Kepada ketujuh jemaat, Yohanes menekankan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Inilah panggilan itu, yaitu memperhatikan Yesus dan mendengarkan perkataan Roh.

ii. Dalam lima surat yang ditujukan kepada ketujuh jemaat, Yesus berkata: “Bertobatlah” dan bukan meminta pengampunan.

iii. Menjadikan kesukaran sebagai ujian untuk memperkuat iman.

Lagu yang Indah dan Mengharukan

Wahyu 4:9–11: “Dan setiap kali makhluk–makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia yang duduk di atas takhta itu dan hidup selama-lamanya, maka sujudlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan.”

Inilah lagu puji-pujian yang sedemikian indah dan mengharukan. Surga membahana dengan pujian kepada Allah Yang Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Kasih. Terpujilah Allah kekal selama-lamanya! Penghuni surga terus-menerus menemukan hal-hal baru untuk memuji dan memuja kebijakan dan kuasa Allah yang menakjubkan, Pencipta langit dan bumi. Seharusnya kebaktian yang dilakukan umat manusia pun demikian, karena itulah kebaktian dan pemujaan yang benar.

Menurut Jack Hayford dalam bukunya “Gempa Terakhir” (E. Quake), penyembahan

  • berawal dari perjumpaan dengan sang Raja (Wahyu 1:13-16);
  • membawa manusia ke takhta surgawi (Wahyu 4:6; 10:8; Mazmur 22:4);
  • menghadirkan kuasa pelepasan ilahi (Wahyu 5:8-14; 7:9-12; 15:1-4);
  • adalah tema perayaan umat manusia yang kekal (Wahyu 19:1, 7; 21:3).

Eugene Peterson dalam buku “God’s Final Word” (Firman Terakhir Allah) karya Ray C. Stedman, dengan tepat menyimpulkan kuasa pemujaan sebagai berikut: “Kelalaian melakukan kewajiban memuja menjerumuskan kita kepada kehidupan yang tidak menentu dan penuh keraguan, menjadi bulan-bulanan setiap iklan, rayuan dan ajakan. Tanpa pemujaan, kita menjalani hidup yang dimanipulasi dan memanipulasi. Kita bergerak entah dalam perasaan panik penuh ketakutan atau dibius perasaan masa bodoh, sementara pada gilirannya, kita dikejutkan oleh hantu dan ditenangkan oleh kepalsuan… “

Kedua Puluh Empat Tua-Tua dan Keempat Makhluk

Kemudian Yohanes melihat bahwa di sekeliling takhta itu terdapat 24 tahta, dan di atas setiap takhta duduklah 24 tua-tua (elders) yang berpakaian putih dan mengenakan mahkota emas di kepala mereka. Yohanes melihat:

i. Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu-deru serta suara-suara lainnya dan tujuh obor menyala-nyala di hadapannya. Itulah KETUJUH ROH (7 spirits) sebagaimana tertulis dalam Yesaya 11:1

  • Roh Tuhan ada padanya -The Spirit of the Lord shall rest upon Him;
  • Roh hikmat dan pengertian– The Spirit of wisdom and understanding;
  • Roh nasihat dan keperkasaan– The Spirit of counsel and might;
  • Roh pengenalan dan takut akan Tuhan–The Spirit of knowledge and of the fear of the Lord.

ii. Dan di hadapan tahta itu, ada lautan kaca bagaikan kristal;

iii. Di tengah dan di sekeliling takhta ada empat makhluk penuh dengan mata, baik di depan maupun di belakang mereka;

iv. Makhluk pertama–sama seperti singa (a lion); makhluk kedua–sama seperti anak sapi (a calf); makhluk ketiga–sama seperti muka manusia (a face like a man) dan makhluk keempat–sama seperti rajawali yang sedang terbang (a flying eagle) (Yehezkiel 1:1-33).

v. Keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, dan sekelilingnya maupun bagian dalamnya penuh dengan mata.

Siapakah Keempat Makhluk Ini?

Sebenarnya sebagai manusia kita tidak mungkin mengetahuinya, akan tetapi mereka merupakan makhluk-makhluk khusus sehingga dapat begitu dekat dengan takhta Allah dan mengelilinginya (Wahyu 4:6). Perwujudan mereka merefleksikan tema dari keempat Injil Yesus Kristus. Dalam Injil Matius, Yesus digambarkan sebagai Mesias, dan ditampilkan sebagai manusia; Dalam Injil Markus, Yesus digambarkan sebagai hamba yang sempurna dan ditampilkan sebagai lembu; Dalam Injil Lukas, Yesus digambarkan sebagai manusia yang sempurna dan ditampilkan sebagai singa; Dalam Injil Yohanes, Yesus dikemukakan sebagai Anak Allah dan ditampilkan sebagai rajawali.

Keempat Makhluk Menaikkan Puji-pujian Siang dan Malam

Keempat makhluk tidak henti-hentinya, baik siang atau malam, mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup selama-lamanya. Keempat makluk itu terus-menerus berseru: “Kudus, kudus, kuduslah; Tuhan Allah, Yang Mahakuasa,yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”

Tiga kali kata ‘kudus’ disebutkan, yakni ‘kudus’ untuk Allah Bapa, ‘kudus’ untuk Putra Allah dan ‘kudus’ untuk Roh Kudus (TRINITAS). Dan setiap kali keempat makhluk menyanyikan pujian, hormat dan ucapan syukur ini kepada Allah, sujudlah ke-24 tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu. Mereka menyembah Dia yang hidup untuk selama-lamanya. Ke-24 tua-tua itu kemudian melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu sambil berkata:

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian, dan hormat dan kuasa;

sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu;

dan oleh karena kehendak-Mu, semua itu ada dan diciptakan.”

Yohanes mendapat kesempatan yang sangat indah untuk melihat dan menyaksikan sukacita dan suasana penuh penghormatan, kekudusan dan kemegahan surgawi serta Allah yang bertakhta di sana. Hal ini bukan khayalan, karena surga itu benar-benar ada dan Yesus Kristus berjanji kepada umat-Nya yang percaya kepada-Nya bahwa Ia akan menyediakan tempat bagi mereka di surga itu. Apakah kita sudah siap apabila Tuhan datang kembali, karena di dalam Wahyu 22:7 dikatakan, “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!”

Seberapa Pentingkah Pemandangan yang Dilihat Yohanes di Surga?

Pemandangan yang dilihat Yohanes sungguh luar biasa. Keempat makhluk sebenarnya merupakan simbol dari sejumlah besar malaikat Tuhan, sebagaimana kedua puluh empat tua-tua juga merupakan simbol dari sejumlah besar orang percaya. Pemandangan ini memperlihatkan bahwa Allah hadir, dan di tempat Allah hadir tidak ada tempat untuk kesombongan, pemegahan diri dalam kecongkakan (Yakobus 4:16) karena Tuhan mengenal manusia dan kelemahan-kelemahannya. Tidak ada rahasia bagi Allah. Apa yang dilihat Yohanes di surga sangat penting:

1. Takhta Allah:

i. Dia yang bertakhta dikelillingi oleh empat makhluk dan dipuja sebagai Pencipta Alam Semesta;

ii. Takhta Allah di surga, disembah.

2. Allah memerintah: Takhta Allah tidak kosong. Kekuasaan Allah tetap unggul. Allah memberitahu orang-orang kudus di bumi dan menjamin bahwa Ia sedang mengerjakan rencana-rencana-Nya. Ia berjanji bahwa Ia memerintah seluruh ciptaan melalui Anak Domba. Allah memerintah dari takhta-Nya.

3. Allah bercahaya: Yohanes melihat cahaya-cahaya seperti dipantulkan oleh permata-permata yang indah. Paulus menjelaskan kepada Timotius bahwa Allah tinggal di dalam terang yang tidak dapat didekati manusia (1 Timotius 1:16). Terang adalah jubah Allah (Mazmur 104:2), Allah itu terang, dan di dalam-Nya sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5).

4. Allah tetap setia: (Kejadian 9:11-17. Wahyu 20:11).

5. Allah disembah: Dua puluh empat tua-tua tersungkur di sekitar takhta Allah dan memimpin penyembahan kepada Allah dengan melemparkan mahkotanya di hadapan-Nya.

6. Allah ber-api: Tujuh obor yang bernyala di hadapan takhta Allah adalah tujuh Roh Allah (Wahyu 4:5; Yohanes 4:24; Yesaya 4:4; Matus 3:11).

7. Allah dikelilingi oleh empat makhluk (Wahyu 4:6-8, Yehezkiel 10:20-22).

8. Allah memegang gulungan kitab: Gulungan kitab yang ada di tangan kanan Allah dimeteraikan dengan tujuh meterai. Allah menyatakan kehendak-Nya untuk zaman akhir dalam gulungan kitab (“Surat Wasiat,” menurut Jack Hayword dalam bukunya “Gempa Terakhir”). Gulungan kitab ini berisi rencana Allah yang sudah ditetapkan. Berita ini MAHA PENTING untuk orang Kristen yang mengalami akhir zaman dengan segala kejadiannya yang dahsyat. Pada akhir zaman, bukan rencana Iblis yang berlaku, melainkan RENCANA ALLAH.

Mengapa Allah Dilingkari Oleh Pelangi (Wahyu 4:3)

Pelangi yang terlihat melingkungi takhta-Nya yang gilang gemilang bagaikan zamrud, adalah gambaran perjanjian Allah dengan Nabi Nuh setelah peristiwa “Air Bah” (penghakiman) yang menghancurkan umat manusia di dunia karena dosa-dosa mereka. Hanya Nabi Nuh, keluarganya serta binatang-binatang terpilih yang diselamatkan atas perintah Tuhan. Tuhan Allah berjanji kepada Nabi Nuh (selanjutnya juga kepada umat manusia) bahwa tidak ada lagi peristiwa air bah yang memusnahkan dunia. Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai kita sekalian! Amin (Wahyu 22:21). Halleluya.

ELK

Bookmark and Share

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi