Kitab Wahyu: Malaikat-malaikat yang membalas dendam

Kitab Wahyu: Malaikat-malaikat yang membalas dendam

Belum ada komentar 697 Views

Wahyu 15, yang hanya berisi delapan ayat (paling sedikit jumlahnya dari seluruh pasal di Kitab Wahyu), secara lebih rinci memberitakan tentang penghakiman Tuhan pada bumi ini serta mempersiapkan kita untuk membaca kelanjutan pelampiasan murka Allah melalui tujuh cawan murka-Nya, yang terdapat dalam Wahyu 16. Murka Allah berkembang sampai puncaknya, dan baru reda setelah malapetaka terakhir ini usai (Wahyu 16:1).

A. Kurun Masa Hukuman yang Terakhir

  1. John Scott menjelaskan: “Petunjuk penting untuk memahami Wahyu 15 dan 16 dapat ditemukan dalam dua pernyataan ‘berakhirlah murka Allah’ (Wahyu 15:1) dan ‘sudah terlaksana’ (Wahyu 16:17).
    ‘Berakhirlah‘ dan ‘terlaksana’ merupakan kata kerja Yunani perfect tense, yang menunjukkan bahwa karya penghakiman Allah telah terpenuhi sekali untuk selamanya, dan mungkin sejajar dengan ‘sudah selesai’(Yohanes 19:30). Penghakiman sebelumnya (meterai dan sangkakala) belum tuntas, dan harus diakhiri dengan penumpahan cawan. Dengan kata lain, kita perlu diberi mata iman untuk melihat kehendak permisif Allah dalam pembukaan meterai, tujuan reformatif Allah dalam tiupan sangkakala, dan keadilan Allah yang menghukum (retributive) dalam penumpahan cawan.”
  2. Ray C. Stedman menulis: “Dalam Wahyu 15 dan 16 kita tiba pada rangkaian terakhir hukuman Allah, yakni ketujuh cawan murka. Pada saat itu, teriakan keras “Berapa lama, ya Tuhan, berapa lama lagi? yang diutarakan oleh orang-orang yang tertindas dari segala zaman sejarah umat manusia akhirnya akan dijawab. Setelah sekian lama bersabar terhadap kesombongan dan kekuasaan yang dilakukan manusia, Allah akhirnya menghentikan semua dosa yang memuakkan itu.”
  3. Eugene Peterson menulis hal ini dengan sangat jelas: “Tentu saja setelah menahan sabar selama berabad-abad, kini tiba waktunya untuk memanggil semua pelaku kekejaman ini ke hadapan Hakim, dan menghapus seringai di wajah mereka dengan sekali gebrakan yang tegas.”
  4. Simon J. Kistemaker mengatakan bahwa pasal 15 dan 16 merupakan sebuah kesatuan yang saling terkait. Pasal 15:1 mencatat tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka terakhir, dan dalam pasal 16:1-21 masing-masing malaikat menumpahkan cawan-cawan murka Allah ke bumi. Tujuh malaikat yang bernama Uriel, Rafael, Raguel, Mikhael, Sariel, Gabriel dan Ramiel ini, membentuk siklus terakhir rangkaian tujuh meterai, tujuh sangkakala, dan tujuh malapetaka yang saling berkaitan. Sekali lagi kita melihat bagian ini diakhiri dengan hukuman Allah melalui Anak Domba -Yesus Kristus, Pencipta Alam Semesta- bagi mereka yang tidak percaya. Jika siklus meterai mencatat binasanya seperempat bumi (Wahyu 6:8) dan siklus sangkakala menjatuhkan hukuman kepada sepertiga bumi (Wahyu 8:7), siklus terakhir ini diakhiri dengan hukuman yang menyeluruh dan total. “Saat malaikat ketujuh menumpahkan cawan ke angkasa, terdengarlah suara dari takhta Allah ‘SUDAH TERLAKSANA‘” (Wahyu 16:17).
  5. Ed Hindson menerangkan bahwa delapan ayat pendek Wahyu 15 itu, menyiapkan pagelaran drama terakhir. Penumpahan ketujuh cawan murka Allah (Wahyu 16), mencapai puncaknya dengan kejatuhan Babel (Wahyu 18, 19) dan kembalinya Kristus ke bumi (Wahyu 19).
  6. John Walvoord mencatat bahwa inilah “penghakiman ilahi yang mendahului kedatangan Kristus yang kedua kalinya.” Ia menunjukkan bahwa pembukaan ketujuh meterai itu disusul dengan tiupan ketujuh sangkakala, dan berakhir dengan penumpahan ketujuh cawan. Dari sini kita bisa melihat bahwa urutan kejadian itu berangsur-angsur meningkat, karena meterai ketujuh mencakup semua kejadian akhir zaman termasuk sangkakala, dan sangkakala ketujuh termasuk kejadian yang digambarkan dalam ketujuh cawan.

B. Suatu Tanda Lain yang Besar dan Ajaib di Langit

1. Yohanes melihat tanda lain yang besar dan ajaib di langit, tentang penghakiman bumi di kemudian hari, melalui rentetan berbagai malapetaka dengan “tujuh malaikat” dan {tujuh cawan murka Allah.} “Allah yang hidup sampai selama-lamanya” (Wahyu 15:7) adalah “Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat kepada orang-orang jahat” (God is a good judge, and God is angry with the wicked everyday) (Mazmur 7:12). Namun di sini murka Allah terfokus pada penghakiman terakhir, yakni malapetaka terakhir sebelum kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Ketika Yang Mahakuasa menghentikan perbantahannya dengan manusia sehingga yang tertinggal hanya murka-Nya yang menyala-nyala (from the fiereceness of His great wrath) (2 Raja 23:26,Yesaya 54:7-8), maka orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran murka Tuhan terhadap dosa mereka, akan langsung “jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup” (fall into the hand of the living God) (Ibrani 10:31). Alangkah ngerinya bila saat itu tiba!

2. Pemandangan Ajaib
Yohanes melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu berdiri para martir yang telah mengalahkan binatang itu, patungnya dan bilangan namanya. Mereka memegang kecapi Allah. Untuk mempersiapkan penumpahan ketujuh cawan penghakiman, para pengikut Tuhan itu mulai memuja dan memuliakan Allah. Mereka telah melalui masa tribulasi yang penuh kesengsaraan dan kesakitan, dan pada akhirnya mereka menyanyikan lagu di surga. Suatu pemandangan ajaib tampak, yakni sebuah lautan dengan permukaan yang halus, datar dan penuh kedamaian.

  • a. Billy Graham menerangkan bahwa pada saat Yohanes diantar ke hadapan sang Misteri di balik alam semesta, rasul tua itu tak dapat melukiskan Allah yang dilihatnya. Ia hanya dapat melukiskan bagaimana malaikat dan ke-24 tua-tua itu bereaksi kepada-Nya. Allah tetap merupakan misteri baginya dan juga bagi kita – Misteri yang layak menerima pujian dan hormat dari kita semua.
  • b. Ray C. Stedman menerangkan bahwa perikop ini mengandung janji Allah bahwa rangkaian ini merupakan penghakiman yang terakhir. Dengan tuntasnya ketujuh bencana terakhir, Yohanes menulis, “berakhirlah murka Allah.” Pada akhir ketujuh cawan murka, Allah akan menegakkan kerajaan-Nya di dunia. Buku sejarah manusia akan ditutup. Sebuah buku baru akan dibuka, dan kalimat-kalimat pembukaan sejarah Kerajaan Allah akan ditulis di halaman-halaman ini.

Yohanes menggambarkan sekelompok besar martir, laki-laki dan perempuan, yang mengorbankan nyawa mereka demi Kristus selama pemerintahan penuh teror sang AntiKristus. Dalam penglihatannya, Yohanes melihat mereka berdiri di atas lautan kaca atau kristal (bukan “di tepi” seperti terjemahan NIV atau TB LAI).

Pertama-tama kita membaca tentang lautan kaca ini dalam Wahyu 4:6, dan mengintepretasikan bahwa lambang ini mewakili Roh Kudus. Lautan kaca terutama berbicara tentang kesucian dan kemurnian yang ditanamkan Roh Kudus di dalam diri kita apabila kita menyerahkan hidup kita kepada Yesus Kristus, sehingga memungkinkan kita berdiri –seperti para martir ini sekarang berdiri– di hadirat suci Allah. Kita tak sanggup berdiri di hadirat-Nya kecuali kalau kita berdiri di atas dukungan kebenaran-Nya yang murni seperti kristal. Para martir ini, Yohanes menambahkan, “mengalahkan binatang itu.” Di mata dunia, mereka adalah “pecundang.” Mereka ditangkap, dipenjarakan, dicaci, dibenci, bahkan di antara mereka ada yang disiksa dan dibunuh karena mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan yang hidup. Tetapi begitu mereka tiba di surga, mereka diberi karunia mahkota kehidupan, karena setia sampai mati (Wahyu 2:10).

3. Nyanyian Musa dan Nyanyian Anak Domba

Di sini kita dapat membaca lirik dari dua buah lagu yang dinyanyikan di surga oleh para martir, yakni “Nyanyian Musa dan Nyanyian Anak Domba.” Mereka menyanyi untuk memuliakan kebesaran Tuhan Allah dan segala pekerjaan, keadilan, nama, sifat dan kekudusan-Nya, demikian: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu ya Tuhan, Allah Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” (Wahyu 15:3). Sebaliknya, ibadah dan pengucapan syukur (worship and thanksgiving) yang meniadakan atau lupa menyebut Tuhan yang hidup sebagai objek penyembahan kita, merupakan kesombongan karena kita menganggap diri kita begitu berkuasa dan mampu memuaskan segala keinginan duniawi kita (murtad, durhaka). “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orangtua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama…” (2 Timotius 3:2-4). Yesus segera akan memperlihatkan bahwa ialah Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan (1 Timotius 6:15, Wahyu 17:4; 19:16).

a. H.L. Wilmington menulis:

(i) “Apa yang mereka nyanyikan? Mereka menyanyikan nyanyian Musa dan nyanyian Anak Domba (Wahyu 15:3). Perhatikan kontras antara nyanyian-nyanyian ini:

  • (a) Nyanyian Musa dulu dinyanyikan di tepi laut Merah (Keluaran 14). Nyanyian Anak Domba akan diyanyikan di tepi lautan Kristal;
  • (b) Nyanyian Musa dulu menyanyikan tentang Mesir; nyanyian Anak Domba akan menyanyikan tentang Babel.
  • (c) Nyanyian Musa melukiskan bagaimana Allah membawa umat-Nya keluar; nyanyian Anak Domba akan melukiskan bagaimana Allah membawa umat-Nya masuk.
  • (d) Nyanyian Musa adalah nyanyian pertama dalam Alkitab; Nyanyian Anak Domba menjadi nyanyian terakhir dalam Alkitab.

(ii) Mengapa mereka menyanyi? ‘…sebab Engkau saja yang kudus… sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu’ (Wahyu 15:4).”

b.William Barclay menulis: “Nyanyian Musa memperingati pembebasan terbesar dalam sejarah Israel sebagai umat Allah; sedangkan para martir yang menang itu melintasi lautan penyiksaan menuju tanah perjanjian surgawi. Ada hal lain yang pasti mengesankan setiap orang mengenai lagu kemenangan para martir itu. Tiada satu katapun yang menyinggung keberhasilan mereka sendiri, karena liriknya mengungkapkan luapan perasaan atas kebesaran Allah. Surga adalah tempat manusia melupakan dirinya sendiri dan hanya mengingat Allah.”

Seperti R.H. Charles yang dengan indah mengatakan: “Dalam penglihatan yang sempurna terhadap Allah, diri sendiri sama sekali dilupakan.”

H.B. Swete mengungkapkan demikian: “Di hadirat Allah, para martir melupakan diri sendiri; pikiran mereka terserap oleh keajaiban-keajaiban baru di sekeliling mereka; kemuliaan Allah dan gambaran agung menyingkapkan bahwa penderitaan mereka merupakan bagian yang amat kecil; mereka mulai melihat hal besar dari drama dunia.”

4. Satu dari Keempat Makhluk Memberikan Tujuh Cawan dari Emas Kepada Tujuh Malaikat

Dan tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka itu, keluar dari Bait Suci, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkilau-kilauan dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas” (ayat 6). “Dan Bait Suci itu dipenuhi asap karena kemuliaan Allah dan karena kuasa-Nya, dan tak seorang pun dapat memasuki Bait Suci itu, sebelum berakhir ketujuh malapetaka tersebut” (ayat 8).

a. Bait Suci – Kemah Kesaksian Terbuka di Surga

Kemudian daripada itu aku melihat orang membuka Bait Suci –kemah kesaksian- di surga.” Yohanes melihat sesuatu yang tak terkatakan (dramatis), menakjubkan, dan mengagumkan dengan sangat gentar (astonishing, amazing, admirable), yakni surga terbuka dan Bait Suci terlihat: “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu; dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat” (Wahyu 11:19). Sedangkan Wahyu 15:5 mengatakan: “Kemudian daripada itu aku melihat orang membuka Bait Suci – kemah kesaksian– di surga.” Bait Suci yang disebutkan di dalam Wahyu 15:5 dan Wahyu 11:19 adalah Bait Suci yang berada di surga. Tempat ini berbeda dengan Bait Suci Yerusalem yang ada di bumi, di mana terdapat Tabut Perjanjian yang menyimpan “buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian” (Ibrani 8:5; 9:4). Menurut sumber tradisional, Tabut Perjanjian Allah hilang karena disembunyikan oleh para rabbi yang membawanya ke suatu tempat (goa) agar tidak dirampas oleh orang-orang Babilonia. Tabut Perjanjian Allah adalah sumber Hukum Kasih, karena “Allah adalah kasih, dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16; Mazmur 145:9).

b. Tujuh Malaikat Dengan Tujuh Malapetaka, Keluar dari Bait Suci (Wahyu 15:6,7,8)

  • (i) Mereka keluar dari “Bait Suci,” berarti bahwa mereka diutus oleh Allah,” … yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Nya dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Nya” (Mazmur 104:4; Ibrani 1:7). Tujuh malaikat ini ditugaskan untuk melaksanakan penghakiman “tujuh malapetaka” (Wahyu 15:6), yakni tujuh cawan murka Allah. Mereka berpakaian “lenan yang putih bersih,” yang menunjukkan bahwa tujuan mereka adalah kebenaran, karena lenan putih mengacu pada kebenaran “orang-orang kudus” (the saints) (Wahyu 19:8). Tanda bahwa ketujuh malaikat itu menyatakan kesiapan, kemauan dan persetujuan mereka kepada Yang Maha Kuasa untuk melaksanakan penghakiman dengan menggunakan tujuh cawan murka Allah, terlihat dari “dada mereka yang berlilitkan ikat pinggang dari emas” (Wahyu 15:6).
  • (ii) “Dan salah satu dari keempat mahluk itu memberikan kepada tujuh malaikat itu tujuh cawan dari emas yang penuh berisi murka Allah, yaitu Allah yang hidup sampai selama-lamanya.” Keempat makhluk ini serupa dengan apa yang dilihat oleh nabi Yesaya: “Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: ‘Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!‘” (Holy, holy,holy is the Lord of hosts; The whole earth is full of His glory!) (Yesaya 6:2,3). “Kekudusan” (holiness) menunjukkan rasa kasih dan kekaguman mendalam (adorasi) kepada Tuhan Allah (Mazmur 29:2). Kiranya manusia yang hidup sekarang ini dapat memberi hormat kepada sang Pencipta alam semesta dengan sujud menyembah kepada Dia yang “hidup untuk selama-lamanya” (Yosua 3:10; Mazmur 42:3; Yeremia 10:10; Kisah Rasul 14:15; 1 Tesalonika 1:9; 1 Timotius 3:15 dan Ibrani 9:14), dan menyucikan hidup dalam kekudusan Allah. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna “(Matius 5:48; Ibrani 12:14).
  • (iii) Billy Graham menerangkan bahwa sepanjang abad ke-19, para penafsir Alkitab telah menganalisa makhluk-makhluk hidup, yang ditafsirkan sebagai kerubium dan serafim, yaitu malaikat-malaikat yang diciptakan Allah untuk melaksanakan perintah-Nya. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa Yohanes mendengar salah satu dari keempat makhluk itu – yang diciptakan untuk melayani Allah di tahta-Nya – dan Yohanes merasa tak perlu menganalisa apa yang dilihatnya. Tetapi apa yang didengarnya, dilaporkannya dengan sangat terinci.

Yohanes berkata, “Kemudian daripada itu aku melihat… ” (Wahyu 15:5). Sementara itu Yohanes memperhatikan Bait Suci di surga dibuka. Di sini Bait Suci itu dibuka untuk membiarkan tujuh malaikat ke luar dari hadirat Allah (dalam Wahyu 11:19 Bait Suci dibuka untuk menyingkapkan tabut perjanjian) – Kemah Kesaksian merujuk kepada tempat di mana loh batu Sepuluh Hukum Allah disimpan. Malaikat-malaikat ini meninggalkan hadirat Allah karena Sepuluh Hukum Allah sudah dilanggar. Dan mereka pergi dengan membawa serta “tujuh malapetaka” (pasal15:6). Mereka berwenang untuk mengeluarkan hukuman; dan hanya perlu menerima petunjuk pelaksanaannya. Salah satu dari keempat makhluk itu memberi cangkir-cangkir emas (piala) yang terisi penuh murka Allah sampai ke bibir cangkir. Para penjaga takhta ini muncul sebanyak 13 kali di seluruh kitab Wahyu (pasal; 4:6,8; 5:6,8; 6:1,6,3,5,7; 7:11; 14:3; 15:7:,19:4) dan merupakan perantara yang pantas.

c. Kemuliaan Allah Tidak Dapat Didekati – Bait Suci Dipenuhi Asap Kemuliaan Allah

Yohanes melihat asap di Bait Suci (Wahyu 15: 5-8).

“Asap” sering kali menunjukkan kehadiran Allah (Keluaran 19: 9,18; Yesaya 6:4). Bait Suci dipenuhi oleh asap karena kemuliaan Allah dan kuasa-Nya (2 Tawarikh 7:1-3). Untuk sementara waktu Tuhan menutup Bait Suci. Tak seorang pun dapat memasukinya sebelum ketujuh malapetaka dari ketujuh cawan murka Allah ditumpahkan ke bumi. Segala kegiatan dihentikan sampai Tuhan menuntaskan keadilan-Nya. Tak mungkin ada pertobatan pada waktu itu (Habakuk 2:20).

  • (i) John Philips menulis (buku H.L. Wilmington): “Sejak Golgota, jalan menuju tempat mahakudus di surga sudah terbuka bagi semua orang, karena darah Kristus sudah membuat sebuah jalan raya menuju ke hati Allah. Namun sekarang, selama satu masa yang singkat, jalan yang mudah itu terhalang oleh murka Allah yang pernah dicurahkan kepada Anak-Nya demi kepentingan manusia. Murka Allah itu akan sekali lagi dicurahkan. Dunia yang menyalibkan Anak Domba itu, dan yang kini ditambah dengan para pemberontak yang memuja binatang itu, akan dihukum sepenuhnya. Maka kemuliaan yang cemerlang menyala-nyala di dalam Bait Suci, memenuhi tempat itu dengan asap dan berjaga-jaga di pintu. Jalan menuju tempat yang mahasuci iu kembali terhalang untuk sementara waktu.”
  • (ii) Ray C. Stedman menerangkan bahwa mulai ayat 5 sampai akhir pasal 15, kita melihat panggung yang disediakan bagi penghakiman terakhir umat manusia. Tujuh malaikat yang membawa cawan-cawan berisi tujuh malapetaka melangkah maju. Drama puncak dari umat manusia sudah mendekati klimaks. Bayangkan saja gambar-gambar yang disaksikan Yohanes dalam penglihatannya – dibukanya Bait Allah, munculnya para malaikat berbusana putih dan emas berkilauan yang berbaris keluar dari tempat yang mahasuci sambil membawa tujuh cawan murka terakhir Allah!. Seluruh adegan dibungkus kepulan asap yang mengungkapkan kuasa dan kemuliaan Allah yang hidup! Yohanes memberitahu kita bahwa asap ini melambangkan kemuliaan Allah Yang penuh kuasa. Asap kudus kemuliaan Allah itu mengisi Bait Suci sehingga tak seorang pun dapat masuk sampai para malaikat menyelesaikan pekerjaan yang mencekam dan mengerikan itu..Mengapa tak seorang pun dapat memasuki Bait Suci itu? Jawabannya hanya satu –menakutkan dan traumatis – bahwa Bait Suci tidak dapat dimasuki, karena saatnya sudah tiba ketika pertobatan tidak lagi diterima. Selama ribuan tahun Allah telah bersabar terhadap umat manusia. Kini tertutup kesempatan bagi manusia untuk berdoa.
  • (iii) William Barclay menerangkan bahwa kemuliaan Allah yang dilambangkan oleh asap merupakan hal umum pada zaman Perjanjian Lama. Selanjutnya, perihal tak ada yang dapat mendekati asap, juga lazim di dalam Perjanjian Lama. Hal ini berlaku, baik berkaitan dengan Kemah Suci, maupun dengan Bait Suci. Tentang Kemah Suci dikatakan, “Lalu awan menutupi Kemah Pertemuan dan kemuliaan Allah memenuhi Kemah Suci, sehinga Musa tidak dapat memasuki Kemah Pertemuan” (Keluaran 40:34,35; 1 Raja 8:10-11). Ada dua hal yang dapat dijelaskan, yakni pertama, bahwa rencana Allah akan sering tertutup awan (tidak jelas) bagi manusia, karena manusia tidak dapat melihat ke dalam pikiran Allah; dan kedua, bahwa kesucian dan kemuliaan Allah sedemikian rupa sehingga manusia dalam kebenarannya sendiri tak dapat mendekati Allah. R.H. Charles melihat bagian ini lebih jauh. Tak seorang pun dapat masuk ke dalam Bait Suci hingga ketujuh bencana dari ketujuh malaikat itu berakhir. Tak ada pendekatan manusia kepada Allah yang dapat menghentikan penghakiman yang akan tiba.

 

Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kita sekalian. Haleluya! (Wahyu 22:21).

Erna Kusoy

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan