Ketika Hingar – Bingar Reda

Ketika Hingar – Bingar Reda

Belum ada komentar 2 Views

Sri Chinmoi, seorang penulis India, mengatakan dalam bukunya ‘Perfection and Transendence’: “Peace begins when expectation ends.” (“Perdamaian dimulai bila harapan-harapan diakhiri”). Dengan itu Chinmoi hendak mengingatkan pembacanya bahwa ekspektasi adalah sesuatu yang memang wajar, namun kerap berbahaya. Sebab olehnya kita sering gagal melihat orang lain sebagaimana adanya. Sebaliknya kita memandang mereka melalui kacamata ekspektasi atau harapan kita. Entah itu sahabat kita, kekasih kita, pasangan kita, saudara kita, bahkan orang tua dan anak kita, setiap orang yang dekat dengan kita. Karena justru dari merekalah kita biasanya memiliki harapan setinggi gunung: “Tidakkah mestinya sebagai sahabat, kekasih, pasangan, orang yang dekat denganku, ia tahu apa yang aku harapkan…?”

Itulah persoalan orang Yahudi pada saat menyambut Yesus yang memasuki kota Yerusalem. Alih-alih memerhatikan Yesus yang bersahaja, dengan jubah putih bersih, menunggang keledai muda, mereka melihat Yesus sang panglima, pembebas dari cengkeraman penjajah Romawi, berbaju zirah, menunggang kuda perang. Barangkali cukup banyak penduduk Yerusalem yang sungguh-sungguh menyambutnya sebagai sang Guru yang welas-asih dan selalu siap menolong orang kecil. Namun sebagian besar tenggelam dalam euforia yang dilandaskan pada harapan atas Yesus sebagai mesias yang akan memulihkan kedaulatan dan kejayaan Israel sebagai bangsa dan negara.

Ketika Yesus turun dari bukit Zaitun menuju ke Yerusalem, Ia memandang kota itu dan menangisinya. Ia tahu bahwa di balik antusiasme dan hingar-bingar itu, terdapat harapan yang meleset dari makna karya-Nya bagi umat-Nya. Ia tahu bahwa ketika hingar-bingar itu reda, yang tertinggal hanyalah kekecewaan bahkan cerca dan pengkhianatan. Ia tahu bahwa itu semua akan berujung pada kehancuran Yerusalem, termasuk Bait Allah di dalamnya. Air mata Yesus adalah air mata Tuhan yang bersedih melihat penderitaan anak-anak-Nya, yang sebenarnya terhindarkan.

Mari, Paskah ini, jangan biarkan Tuhan meneteskan air mata karena kita.

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Hidup Adalah Ujian!
    Markus 1:9-15
    Istilah kawah Chandradimuka sering dipakai untuk memberi gambaran tentang ladang tempaan atau tempat uji bagi seseorang. Kawah ini diambil...
  • Wajahku, Wajahmu, Wajah Kristus
    Markus 9:2-9
    Isi hati seseorang biasanya nampak dari wajahnya. Orang lain biasanya mampu membacanya. Muka sedih, muka gembira, muka nyinyir, muka...
  • HOMO HOMINI SALUS
    Homo Homini Salus
    1 Korintus 9:16-23
    Hitam atau putih? Warna hitam biasa dipakai untuk menyimbolkan perilaku jahat dan kejam, sedang putih untuk sikap dan tindakan...
  • tentang Allah
    Bukan tentang Aku atau Kamu, tapi tentang Allah
    Ulangan 18:15-20; Mazmur 111; 1 Korintus 8:1-13; Markus 1:21-28
    Sesuatu yang biasa, jika dalam hidup bersama di suatu komunitas, ada orang-orang yang ingin menonjolkan diri atau ingin dianggap...
  • Jangan Tunda, Sekaranglah Saatnya
    Yunus 3:1-10; Mazmur 62:5-12; 1 Korintus 7:29-31; Markus 1:14-20
    Sudah menjadi kebiasaan di kalangan umat Yahudi, jika seseorang mau belajar tentang keagamaan, maka ia yang menentukan Rabbi yang...
Kegiatan