Kemerdekaan di dalam Kristus

Kemerdekaan di dalam Kristus

Belum ada komentar 60 Views

Mami, aku sebenarnya ingin taat kepada Mami, tapi mengapa aku selalu tidak bisa?

Saya sebenarnya sering mendengar kalimat ini, setidaknya saat membaca tulisan Rasul Paulus. Kemudian, beberapa teman pemudapun mengatakan hal yang serupa karena mereka terjebak hidup dalam kesalahan dan dosa. Dan jujur, tidak membenarkan diri, sayapun pernah mengatakannya kepada diri saya sendiri. Namun kali ini berbeda, kalimat di atas muncul dari mulut seorang anak berusia 3,5 tahun. Saat ia selalu gagal untuk taat kepada Maminya dan ia menyesal karena berulang kali mengecewakan Maminya.

Apakah hal yang sama juga terjadi dalam hidup saudara?

Sebelum Paulus mengatakan bahwa orang percaya memiliki kemerdekaan di dalam Kristus , ia menggunakan cerita lama tentang Hagar dan Sara. Hagar dialegorikan sebagai budak yang menghasilkan anak yang diperbudak. Sedangkan Sara adalah orang merdeka yang menghasilkan anak yang merdeka. Hagar melahirkan anaknya karena kesalahan manusia (human impulses), sehingga manusia bersikap legalis. Sedangkan Sara melahirkan anaknya karena anugerah Allah (God’s grace), sebagai hadiah atas perjanjian Allah dengan manusia.

Jika berkaca pada diri kita sendiri, apakah kita dan anak-anak kita hidup sebagai anak Hagar atau anak Sara?

Jika kita selalu terfokus pada aturan benar dan salah (hidup legalistis), kita akan terjebak dalam perbudakan. Sebaliknya, saya kira jika kita memegang teguh anugerah Allah, dengan terfokus pada upaya untuk mencintai Allah dengan lebih sungguh setiap hari, maka Ia akan menganugerahkan kita kemerdekaan hidup. Kemerdekaan hidup yang membebaskan kita dari ikatan dosa, tetapi juga membebaskan kita untuk melakukan yang benar dari kacamata Allah.

Singkatnya begini, jika saya boleh menggambarkan Allah sebagai Allah yang memiliki perasaan manusia, kita diberi kebebasan untuk memilih: apakah kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “takut” kalau Tuhan “marah” kepada kita atau kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “senang” jika dapat “menyenangkan hati” Allah? Saya kira bukan hanya kita, anak sayapun harus segera memilihnya, agar kita benar-benar merdeka dan tidak lagi dikenakan kuk perhambaan.

[Riajos]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • dosa
    Tidak Berdosa Lagi
    Kisah Para Rasul 3:12-19; Mazmur 4; 1 Yohanes 3:1-7; Lukas 24:36-48
    Manusia kenal dosa sejak ia jatuh ke dalam dosa. Keinginan untuk berbuat dosa dan harapan untuk meninggalkan dosa bagaikan...
  • damai sejahtera
    Damai Sejahtera Bagi Kamu!
    Kisah Para Rasul 4:32-35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1:1-2:2; Yohanes 20:19-31
    Istilah hoax semakin tenar beberapa tahun belakangan ini. Arti hoax adalah berita bohong atau malicious deception, kebohongan yang dibuat...
  • Hilanglah Cemasku!
    Yesaya 25:6-9; Mazmur 118:1-2, 14-24; Kisah Para Rasul 10:34-43; Markus 16:1-8
    Kecemasan dapat menyerang siapa saja ketika rasa aman terampas, ketidak mengertian menyelimuti pikiran, dan menghadapi situasi yang tidak terduga....
  • cari selamat
    Cari Selamat?
    Markus 15:6-15
    Sejak kecil kecenderungan kita, memang cari selamat. Supaya tidak dimarahi karena menjatuhkan piring kesayangan ibunya, seorang anak sembunyi tangan....
  • segenap hati
    Dengan Segenap Hati?
    Yohanes 12:20-33
    Saat saya studi, saya bertemu dengan seorang pemimpin aliran UU. “Jadi, siapa Tuhan Yesus menurut aliranmu?” “Yesus itu, Guru...
Kegiatan