Kemerdekaan di dalam Kristus

Kemerdekaan di dalam Kristus

Galatia 5:1, 13-25

Mami, aku sebenarnya ingin taat kepada Mami, tapi mengapa aku selalu tidak bisa?

Saya sebenarnya sering mendengar kalimat ini, setidaknya saat membaca tulisan Rasul Paulus. Kemudian, beberapa teman pemudapun mengatakan hal yang serupa karena mereka terjebak hidup dalam kesalahan dan dosa. Dan jujur, tidak membenarkan diri, sayapun pernah mengatakannya kepada diri saya sendiri. Namun kali ini berbeda, kalimat di atas muncul dari mulut seorang anak berusia 3,5 tahun. Saat ia selalu gagal untuk taat kepada Maminya dan ia menyesal karena berulang kali mengecewakan Maminya.

Apakah hal yang sama juga terjadi dalam hidup saudara?

Sebelum Paulus mengatakan bahwa orang percaya memiliki kemerdekaan di dalam Kristus , ia menggunakan cerita lama tentang Hagar dan Sara. Hagar dialegorikan sebagai budak yang menghasilkan anak yang diperbudak. Sedangkan Sara adalah orang merdeka yang menghasilkan anak yang merdeka. Hagar melahirkan anaknya karena kesalahan manusia (human impulses), sehingga manusia bersikap legalis. Sedangkan Sara melahirkan anaknya karena anugerah Allah (God’s grace), sebagai hadiah atas perjanjian Allah dengan manusia.

Jika berkaca pada diri kita sendiri, apakah kita dan anak-anak kita hidup sebagai anak Hagar atau anak Sara?

Jika kita selalu terfokus pada aturan benar dan salah (hidup legalistis), kita akan terjebak dalam perbudakan. Sebaliknya, saya kira jika kita memegang teguh anugerah Allah, dengan terfokus pada upaya untuk mencintai Allah dengan lebih sungguh setiap hari, maka Ia akan menganugerahkan kita kemerdekaan hidup. Kemerdekaan hidup yang membebaskan kita dari ikatan dosa, tetapi juga membebaskan kita untuk melakukan yang benar dari kacamata Allah.

Singkatnya begini, jika saya boleh menggambarkan Allah sebagai Allah yang memiliki perasaan manusia, kita diberi kebebasan untuk memilih: apakah kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “takut” kalau Tuhan “marah” kepada kita atau kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “senang” jika dapat “menyenangkan hati” Allah? Saya kira bukan hanya kita, anak sayapun harus segera memilihnya, agar kita benar-benar merdeka dan tidak lagi dikenakan kuk perhambaan.

[Riajos]

Bookmark and Share

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi