Kemerdekaan di dalam Kristus

Kemerdekaan di dalam Kristus

Belum ada komentar 0 View

Mami, aku sebenarnya ingin taat kepada Mami, tapi mengapa aku selalu tidak bisa?

Saya sebenarnya sering mendengar kalimat ini, setidaknya saat membaca tulisan Rasul Paulus. Kemudian, beberapa teman pemudapun mengatakan hal yang serupa karena mereka terjebak hidup dalam kesalahan dan dosa. Dan jujur, tidak membenarkan diri, sayapun pernah mengatakannya kepada diri saya sendiri. Namun kali ini berbeda, kalimat di atas muncul dari mulut seorang anak berusia 3,5 tahun. Saat ia selalu gagal untuk taat kepada Maminya dan ia menyesal karena berulang kali mengecewakan Maminya.

Apakah hal yang sama juga terjadi dalam hidup saudara?

Sebelum Paulus mengatakan bahwa orang percaya memiliki kemerdekaan di dalam Kristus , ia menggunakan cerita lama tentang Hagar dan Sara. Hagar dialegorikan sebagai budak yang menghasilkan anak yang diperbudak. Sedangkan Sara adalah orang merdeka yang menghasilkan anak yang merdeka. Hagar melahirkan anaknya karena kesalahan manusia (human impulses), sehingga manusia bersikap legalis. Sedangkan Sara melahirkan anaknya karena anugerah Allah (God’s grace), sebagai hadiah atas perjanjian Allah dengan manusia.

Jika berkaca pada diri kita sendiri, apakah kita dan anak-anak kita hidup sebagai anak Hagar atau anak Sara?

Jika kita selalu terfokus pada aturan benar dan salah (hidup legalistis), kita akan terjebak dalam perbudakan. Sebaliknya, saya kira jika kita memegang teguh anugerah Allah, dengan terfokus pada upaya untuk mencintai Allah dengan lebih sungguh setiap hari, maka Ia akan menganugerahkan kita kemerdekaan hidup. Kemerdekaan hidup yang membebaskan kita dari ikatan dosa, tetapi juga membebaskan kita untuk melakukan yang benar dari kacamata Allah.

Singkatnya begini, jika saya boleh menggambarkan Allah sebagai Allah yang memiliki perasaan manusia, kita diberi kebebasan untuk memilih: apakah kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “takut” kalau Tuhan “marah” kepada kita atau kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “senang” jika dapat “menyenangkan hati” Allah? Saya kira bukan hanya kita, anak sayapun harus segera memilihnya, agar kita benar-benar merdeka dan tidak lagi dikenakan kuk perhambaan.

[Riajos]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • terang
    Menanti : Menjadi Terang tapi bukan Sang Terang
    Yes. 61:1-4, 8-11; Mzm. 126; 1 Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8, 19-28
    Adven III Para murid Yohanes dan jemaat yang ada di sekitarnya, karena ketidaktahuannya telah menempatkan Yohanes di atas Yesus,...
  • anugerah
    Menanti: Merayakan Anugerah Allah
    Yesaya 40:1-11; Mazmur 85:2-3, 9-14; 2 Petrus 3:8-15; Markus 1:1-8
    Adven II Sikap pesimis dan kehilangan pengharapan umat Israel dapat dimengerti, kala memahami tekanan hidup yang begitu berat serta...
  • menanti
    Menanti: Kesediaan untuk diubah
    Yes. 64:1-9 (fokus ay.8); Mzm. 80:2-8, 18-20; 1 Kor. 1:3-9; Mark. 13:24-37
    Adven 1 Masa penantian merupakan masa penting karena menuntut ketabahan dan disiplin untuk tidak berpaling pada jalan lain yang...
  • Meneladani Kristus Sang Raja
    Meneladani Kristus Sang Raja
    Yehezkiel 34:11-16, 20-24; Matius 25:31-46
    Peduli dan adil adalah karakter yang melekat pada Kristus Sang Raja, yang merupakan inkarnasi Allah sebagai manusia. Dalam Yehezkiel...
  • Kelolalah talenta-talentamu
    Kelolalah talenta-talentamu
    Matius 25:14-30
    Sebuah perumpamaan tentang ‘pemberian’. Pemberian yang begitu banyak dari Allah kepada kita (talenta = jumlah uang yang sangat banyak)....
Kegiatan