Kemerdekaan di dalam Kristus

Kemerdekaan di dalam Kristus

Belum ada komentar 51 Views

Mami, aku sebenarnya ingin taat kepada Mami, tapi mengapa aku selalu tidak bisa?

Saya sebenarnya sering mendengar kalimat ini, setidaknya saat membaca tulisan Rasul Paulus. Kemudian, beberapa teman pemudapun mengatakan hal yang serupa karena mereka terjebak hidup dalam kesalahan dan dosa. Dan jujur, tidak membenarkan diri, sayapun pernah mengatakannya kepada diri saya sendiri. Namun kali ini berbeda, kalimat di atas muncul dari mulut seorang anak berusia 3,5 tahun. Saat ia selalu gagal untuk taat kepada Maminya dan ia menyesal karena berulang kali mengecewakan Maminya.

Apakah hal yang sama juga terjadi dalam hidup saudara?

Sebelum Paulus mengatakan bahwa orang percaya memiliki kemerdekaan di dalam Kristus , ia menggunakan cerita lama tentang Hagar dan Sara. Hagar dialegorikan sebagai budak yang menghasilkan anak yang diperbudak. Sedangkan Sara adalah orang merdeka yang menghasilkan anak yang merdeka. Hagar melahirkan anaknya karena kesalahan manusia (human impulses), sehingga manusia bersikap legalis. Sedangkan Sara melahirkan anaknya karena anugerah Allah (God’s grace), sebagai hadiah atas perjanjian Allah dengan manusia.

Jika berkaca pada diri kita sendiri, apakah kita dan anak-anak kita hidup sebagai anak Hagar atau anak Sara?

Jika kita selalu terfokus pada aturan benar dan salah (hidup legalistis), kita akan terjebak dalam perbudakan. Sebaliknya, saya kira jika kita memegang teguh anugerah Allah, dengan terfokus pada upaya untuk mencintai Allah dengan lebih sungguh setiap hari, maka Ia akan menganugerahkan kita kemerdekaan hidup. Kemerdekaan hidup yang membebaskan kita dari ikatan dosa, tetapi juga membebaskan kita untuk melakukan yang benar dari kacamata Allah.

Singkatnya begini, jika saya boleh menggambarkan Allah sebagai Allah yang memiliki perasaan manusia, kita diberi kebebasan untuk memilih: apakah kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “takut” kalau Tuhan “marah” kepada kita atau kita hendak hidup dengan terfokus pada rasa “senang” jika dapat “menyenangkan hati” Allah? Saya kira bukan hanya kita, anak sayapun harus segera memilihnya, agar kita benar-benar merdeka dan tidak lagi dikenakan kuk perhambaan.

[Riajos]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Damai Sejahtera Bagi Kita
    Damai Sejahtera Bagi Kita
    Yohanes 20:19-31
    Pada murid-murid yang berkumpul, mengunci diri dalam sebuah ruangan karena takut, Yesus yang bangkit datang menyatakan diri. Ia berdiri...
  • fajar kebangkitan
    Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Lukas 24:13-49
    Perjalanan kedua murid pulang ke Emaus pada senja hari Kebangkitan, adalah perjalanan yang mencekam, di akhir dari hari yang...
  • menjadi berkat
    Bertahan Dalam Kesengsaraan dan Menjadi Berkat
    Yesaya 50:4-9; Matius 27:11-54
    Minggu Palmarum adalah peringatan saat Yesus memasuki Yerusalem untuk menyongsong sengsara bahkan kematian-Nya demi mengemban misi Bapa-Nya di sorga....
  • Menyongsong Sang Pemberi Kehidupan
    Yehezkiel 37:1-14
    Dalam teks kita keadaan Israel yang dihancurkan dan yang kemudian dibuang ke Babilonia adalah mengenaskan. Yerusalem hancur, bahkan Bait...
  • kegelapan
    Meninggalkan kegelapan
    Efesus 5:8-14
    Minggu pra paskah ke 4 semakin menegaskan sebuah fakta teologis, bahwa Allah telah berkarya membawa kita keluar dari kegelapan...
Kegiatan