Keluarga yang Setia Pada Sabda Allah

Keluarga yang Setia Pada Sabda Allah

Keluaran 32:1-14

Belum ada komentar 110 Views

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi kata “setia” adalah antara lain: berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh, taat (bagaimanapun berat tugas yang harus dijalankannya); tetap dan teguh hati (dalam persahabatan dan sebagainya). Jelas sikap seperti itu tidak ditunjukkan umat Israel ketika menantikan kedatangan Musa dalam bacaan kita hari ini. Dan sikap seperti ini justru yang kian kelihatan bahkan menonjol dalam relasi orang pada zaman kita kini. Oleh hal-hal sepele, dan harga diri kelewat tinggi, relasi cinta menjadi retak. Karena konflik bahkan harta, relasi kekeluargaan menjadi remuk. Hanya karena iming-iming gaji yang lebih tinggi orang mudah berganti pekerjaan. Dan yang lebih parah lagi adalah relasi dengan Tuhan kerap kali ditentukan sekadar oleh bukti nyata dari kehadiran, pertolongan dan kuasa-Nya. Setia, loyal, menjadi sikap yang kian langka.

Kepada umat Israel yang “tidak setia” Tuhan murka. Karena sebagai “umat perjanjian” mereka melanggar perjanjian dengan Tuhan, dan sebaliknya hanya mendengarkan diri, kepentingan serta keinginan mereka sendiri. Rupanya inilah masalah utama dari kesetiaan dan loyalitas. Karena memang bila kesenangan, kepentingan dan sudut pandang sendiri yang selalu dikedepankan, tak ada relasi yang akan bertahan. Apa pun relasi itu, bahkan relasi dengan Tuhan. Dan dari kisah umat Israel dalam bacaan kita, terjadi juga kekuatiran bahwa Musa, bahkan Tuhan, telah menelantarkan mereka. Kekuatiran yang lahir dari sikap kurang percaya (trust), sehingga membutuhkan (sosok) pengganti, “anak lembu emas”.

Kita dan keluarga kita dipanggil untuk setia pada Tuhan, pada Sabda-Nya, dan tidak membangun “anak lembu emas” kita sendiri-sendiri. Untuk itu mari berpegang, serta percaya dan memercayakan diri (trust) kepada Tuhan yang selalu setia, betapa pun ketidaksetiaan kita dalam relasi kita dengan-Nya. Mari percaya pada kasih-Nya, pada maksud baik-Nya, pada sabda-Nya. Inilah sumber utama kekuatan kita untuk mengalahkan berbagai kecenderungan diri yang menjadikan kita tidak setia.

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • sukacita
    Menjalani Hidup Beriman Dengan Sukacita
    Amos 7:7-15; Mazmur 85:8-13; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29
    Renungan: Apalagi selain sukacita dan syukur, ketika kita menyadari kebaikan Allah yang sejak awal mengasihi kita dan menyelamatkan kita....
  • kekuatan dalam kelemahan
    Kekuatan dalam Kelemahan
    Yehezkiel 2:1-5; Mazmur123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13
    Renungan: Kekuatan dan kelemahan, mungkinkah bersatu? Nampaknya tidak, karena mereka saling bertentangan. Ada benarnya, jika kita hanya melihat ke...
  • sudah dimulai
    Menyelesaikan Yang Sudah Dimulai
    Ratapan 3:22-33; Mazmur 30; 2 Korintus 8:7-15; Markus 5:21-43
    Ada orang yang bisa memulai dengan baik, tetapi tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan kita? GKI PI...
  • Setelah Badai Berlalu
    Markus 4:35-41
    Kisah angin ribut diredakan dalam injil Markus, merupakan sebuah pengalaman spektakuler bagi murid-murid Yesus yang berada di dalam perahu....
  • penabur dan benih
    Hidup Sebagai Penabur dan Benih
    Markus 4 : 26-34
    Injil Markus berbicara tentang Kerajaan Allah seperti benih yang tumbuh. Konsep ini berbeda dengan paham Kerajaan Allah dalam masyarakat...
Kegiatan