Keep Moving, Moving and Moving

Keep Moving, Moving and Moving

Belum ada komentar 86 Views

Saat kampanye Pilpres yang baru lalu, salah satu Calon Wakil Presiden yang telah berusia 72 tahun harus menjelajahi kota-kota/desa-desa di 28 provinsi dalam waktu 40 hari. Perjalanan panjang dan melelahkan ini diikuti tidak kurang dari 30 orang yang terdiri atas Tim Sukses, wartawan, pengawal dan seorang dokter. Meskipun perjalanan dilakukan dengan pesawat terbang pribadi dan kendaraan darat lainnya, banyak anggota rombongan merasa kelelahan dan bahkan kebosanan. Waktu istirahat/tidur, makan, bahkan mandi pun sangat terganggu. Salah seorang wartawan TV yang masih muda, yang ikut dalam rombongan, merasa kagum pada daya tahan fisik sang Cawapres yang tetap berwajah cerah, dan menanyakan rahasia kebugarannya. Jawab sang Cawapres: “Ketangguhan seperti ini tidak dapat diperoleh secara instan. Saya telah berolahraga, terutama jalan kaki, setiap pagi sejak usia muda.”

Kami teringat pengalaman saat kami mengikuti Seniors Club di beberapa kota di Amerika Serikat. Sering kali dan bahkan di mana-mana terdengar kata-kata: “Keep moving, moving and moving.” Kata-kata ini didengungkan agar para senior tidak berhenti bergerak untuk mempertahankan kebugaran fisik mereka. Salah satu yang sangat dianjurkan adalah berjalan kaki. Saat ini usia kami berdua (suami/isteri) sudah 75 tahun dan tetap setia melakukan olahraga jalan kaki 5 kali seminggu mulai pukul 5.45–6.30 pagi. Kebiasaan ini telah kami lakukan selama 40 tahun dengan jarak tempuh sekitar 3,5–4,5 km. Jika dihitung, selama ini tidak kurang dari 40.000 km telah kami tempuh. Selain itu, saya selalu berusaha untuk berjalan kaki jika pergi ke bank, ke pasar swalayan atau pasar tradisional, ke jasa fotokopi, dan ke tempat lain yang kurang dari 3 km letaknya dari rumah saya.
Olahraga jalan kaki cepat dapat dilakukan di sekitar tempat tinggal kita. Di Jakarta, kebetulan di dekat rumah kami terdapat kompleks perumahan Bank Mandiri dan Bank BRI. Di Amerika Serikat suasana lebih nyaman dan aman, karena di sekitar perumahan selalu tersedia jalur khusus bagi pejalan kaki dan/atau taman bagi warga untuk berolahraga, serta taman bermain anak-anak. Bedanya, di Amerika Serikat hampir 80% pejalan kaki di taman membawa anjing kesayangan mereka. Namun mereka sangat tertib. Jika si anjing membuang hajat, pemiliknya langsung mengambil kotoran dengan plastik yang sudah dibawa atau tersedia di taman. Anjingnya pun tidak akan “menerkam/menggonggong” jika berpapasan dengan anjing lain, karena umumnya sudah terdidik. Anjing inilah yang dapat menjadi “sarana” bagi kami untuk menyapa dan berkenalan dengan pemiliknya, yang akan merasa sangat senang dan bangga jika anjingnya kami puji. Gara-gara anjing, kami akhirnya memiliki banyak kenalan dan bahkan beberapa menjadi sahabat.

Lain halnya jika jalan kaki dilakukan di Jakarta. Kita harus ekstra hati-hati terhadap sabetan “setan” jalanan berupa motor dan mobil. Sahabat kami berjalan kaki, meninggal dunia karena disambar motor pada pagi buta, meskipun ia berjalan di trotoar. Untuk menghindari kejadian ini, kami biasanya melewati gang-gang kampung menuju kompleks perumahan bank. Dengan melakukan olahraga ini, banyak manfaat lain yang kami peroleh. Sesama pejalan kaki umumnya saling sapa atau paling tidak tersenyum, meskipun ada pula yang tetap bermuka “pejabat” dan mahal senyum. Warga kampung justru lebih ramah, demikian pula para satpam, pengantar koran, pedagang sayur, penjual jamu, penjaja Yakult, tukang roti keliling, pedagang loak, tukang sepatu, tukang jahit bersepeda, tukang gali yang dengan pacul dan pengkinya menanti pekerjaan di ujung jalan, dan bahkan pemulung. Jika kami agak lama tidak berolahraga di tempat mereka, saat bertemu dengan ramah mereka menyapa: “Sudah lama tidak kelihatan. Sehat-sehat saja, Pak, Bu?” Dengan berolahraga jalan kaki di daerah pemukiman dan di pedesaan, ternyata dapat pula secara tidak langsung “mengasah” kepekaan rasa kemanusiaan, yang akhirnya menimbulkan rasa simpati atas banyaknya warga yang belum menikmati arti kemerdekaan yang sesungguhnya, terutama dalam aspek kecukupan sandang, pangan dan papan.

Jika kami bosan berolahraga di Jakarta, maka kami bersama sobat-sobat lama melakukan tur ke berbagai lokasi di Nusantara. Objek tujuan wisata kami umumnya bersentuhan dengan alam (ecotourism), berupa menjelajahi alam bebas, naik gunung hingga mencapai kawahnya, masuk gua, ke pantai, menyusuri sungai/hutan dan hanya sedikit melihat objek di perkotaan. Dalam kesempatan seperti ini, kami makin yakin akan kebesaran Allah, karena menyaksikan dan menikmati berbagai ciptaan-Nya yang tak ternilai keindahan dan keberagamannya, dan jelas tidak mungkin diciptakan manusia. Berjalan kaki dan melakukan pekerjaan di rumah (mengurus tanaman/mencuci mobil) merupakan kegiatan yang terus bergerak dan menjadi salah satu jenis investasi dalam menyongsong kehidupan pada hari tua. Agar tercapai keseimbangan, kita harus juga melakukan dua jenis investasi lainnya, yaitu investasi spiritual dan investasi finansial. Dengan melakukan ketiga jenis investasi ini, diharapkan bahwa kehidupan kita di usia lanjut akan berjalan lancar, sehat dan aman.

Berjalan kaki sangat sederhana, mudah dilakukan, biayanya murah, namun harus dengan disiplin tinggi. Jika dilakukan secara tertib dan teratur, maka kegiatan ini dapat memberi beberapa manfaat, antara lain:

  • a. Menurunkan tekanan darah tinggi dan stres. Kardiovaskular dan kebugaran tubuh terkontrol.
  • b. Meningkatkan metabolisme dan membakar kalori lebih cepat. Dengan 20 menit dapat membakar 7 lbs (1 lbs = sekitar 0,453 kg) lemak dalam setahun dan jika dilakukan 40 menit dengan teratur dapat mengendalikan berat badan.
  • c. Dapat mencegah diabetes, menurunkan risiko penyakit prostat dan kanker payudara, serta mempertahankan kelenturan kulit.
  • d. Memperkuat otot-otot kaki/tulang/sendi dan memperlambat penurunan berat masa tulang.
  • e. Baik untuk efektivitas kerja jantung dan paru-paru dan dapat mengontrol selera makan.
  • f. Dapat menghasilkan hormon endorfin, yang membangkitkan perasaan bahagia.

Dengan kondisi kebugaran fisik yang terjaga, maka ibadah dapat dijalankan dengan lebih sempurna. Di sebuah gereja di California, semua warga jemaat yang jumlahnya ribuan diajak untuk mengikuti program kesehatan fisik yang mereka namakan “The Daniel’s Plan” selama 40 hari dengan dikawal oleh ahli jantung, psikolog, ahli gizi dan ahli kebugaran, termasuk DR. OZ yang menjadi idola pemirsa salah satu TV di New York. Selain “memerangi” obesitas, program ini juga menciptakan kebugaran fisik bagi semua warga jemaat, termasuk para gembalanya. Hasil akhir dari program ini sangat memuaskan: berat badan menyusut, kebugaran fisik nyata terlihat dan warga jemaat lebih aktif, ceria dan terbuka untuk bersahabat, serta dapat lebih fokus tanpa mengantuk saat khotbah disampaikan. Hal ini berdampak pula pada kebaktian yang makin bersemangat, bernyanyi yang makin lepas, dan seusai kebaktian, wajah-wajah ceria saling menyapa dan bertutur kata satu sama lain.

Dari hasil nyata jalan kaki secara teratur dan dilengkapi dengan asupan makanan sehat, tekanan darah kami sekitar 120-130 (sistolik) dan 70-80 (diastolik), demikian pula dengan Indeks Berat Masa Tubuh (BMI) sekitar 18,5–25. Memang dalam Injil tertulis bahwa sasaran berolahraga bukan untuk memperbaiki tubuh agar diperhatikan/disukai orang lain. Tujuan yang benar adalah agar kita bisa memiliki lebih banyak tenaga untuk mengabdi dalam pekerjaan-pekerjaan rohani. Pepatah “ora et labora” memberi pedoman agar dalam badan kita yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Dengan demikian, tugas utama manusia untuk hidup mengabdi kepada Sang Pencipta dapat dilakukan dengan lebih sempurna. Karena itu jangan lupa pesan sejak usia muda: Keep moving, moving and moving will make you healthy and happy.

Harry Tanugraha

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan