Kebodohan dan Harga Diri ANAK yang Terluka

Kebodohan dan Harga Diri ANAK yang Terluka

Belum ada komentar 6 Views

Di sela-sela waktu mengajar setiap Sabtu, saya suka memperhatikan interaksi adik asuh dan kakak asuh. Terkadang setiap gerak-gerik, percakapan, bahkan ekspresi wajah mengisyaratkan banyak sekali hal. Contohnya tentang adik yang nakalnya minta ampun, ditegur sesama adik asuh dan juga kakak asuh tetap saja maju tak gentar. Mungkin mottonya, ‘sekali nakal tetap nakal.’

Menghadapi anak seperti ini sering membuat gemas. Masalahnya bukan cuma karena ia nakal, tetapi juga karena dalam pelajaran tetap mundur tak enggan. Diberi tugas tidak dikerjakan, diterangkan tidak didengar, ditegur agar tidak nakal malah seperti disuruh. Ujung-ujungnya, dimarahi terus nangis.

Apakah anak-anak tertentu memang sudah nakal dari sononya? Sepertinya tidak. Apakah mereka memang tidak suka belajar? Mungkin tidak. Anak terkadang tidak suka belajar bukan karena ia tidak ingin bertambah pandai, tapi ia sering tidak suka belajar karena takut ketahuan bahwa ia tidak pandai atau karena tingkat pengetahuannya di bawah teman-temannya yang lain. Dan untuk mengakui hal ini adakalanya seperti mengakui sebuah dosa besar.

Melakukan kenakalan dan ditegur karena kenakalan yang dilakukannya jauh lebih terhormat daripada tidak bisa memahami pelajaran dan ditegur karena ketidakmampuannya. Kenakalan jadi lebih berpadanan dengan ‘ability,’ sedangkan kebodohan lebih berpadanan dengan ‘disability.’ Karena itu, anak-anak tertentu akan memilih untuk tetap nakal untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Semakin ditegur, semakin tegas bentuk eksistensi dirinya.

Kita tentu tahu bahwa hal ini tidak benar, dan percuma juga jika sebagai pengajar kita bisanya cuma menyalahkan. Seorang pengajar membutuhkan kepekaan hati untuk memahami isi hati anak. Anak-anak ingin pandai, mereka sering tidak tahu caranya atau kesulitan menikmati apa yang kita sebut sebagai beban kurikulum. Dan di sinilah, seorang pengajar memainkan peran pentingnya. Ia bisa mematikan kerlip lilin pengharapan sang anak, tetapi ia juga bisa mengobarkannya.

The heart of education is education of heart. Anak-anak bisa melupakan semua hal yang pernah kita ajarkan, tetapi hal-hal yang kita lakukan dari hati untuk menyentuh hati mereka, tidak akan pernah mereka lupakan. Kebodohan melukai harga diri anak, tetapi bila mereka mengetahui bahwa sebagai pengajar kita tidak pernah menyerah menyalakan lilin pengharapan di hati mereka dan mengasihi mereka sebagaimana mereka adanya, maka kita memulihkan harga diri mereka.

Teruntuk semua kakak asuh. Selamat melayani dengan kasih yang bersumber dari-Nya. Tuhan memberkati.

 

George Sicillia

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan