Kasih Yang Mengikat Kita

Kasih Yang Mengikat Kita

Belum ada komentar 58 Views

Siang itu rombongan kami menyempatkan diri mampir di sebuah warung gudeg yang cukup terkenal di Jogja untuk sekedar membeli oleh-oleh. Ada sebuah pemandangan menarik yang saya jumpai di warung itu.

Seorang ibu yang bertugas di kasir sedang asyik bercengkrama dengan anaknya. Di tengah kesibukannya melayani konsumen, ibu itu masih menyempatkan diri membacakan cerita kepada anaknya. Dengan penuh kesabaran ia mulai bercerita dari satu gambar ke gambar yang lain. Bukan sekedar asal membaca; ia membacanya dengan intonasi yang menarik sambil menunjuk-nujuk gambar di buku cerita itu. Anaknya dengan penuh perhatian mendengar cerita ibunya dengan sekali-kali bertanya. Kadang cerita itu terhenti karena ibunya harus melayani pembayaran konsumen, tetapi kemudian ia melanjutkan bacaan itu sampai selesai. Setelah cerita pendek itu selesai dibacakan ; mereka bercakap-cakap sebentar dan anaknya pun berlari main keluar warung. Sungguh pemandangan yang menarik dan mengungkap bahasa cinta yang begitu meluap antara ibu dan anak. Kesibukan tidak menghalangi sang ibu untuk mengungkapkan bahasa cinta dan perhatiannya bagi anaknya.

Ketika kasih dituangkan dalam kata dan tindakan maka damai sejahtera pun terwujud. Kasih membuat kita tidak terpisahkan, kasih membuat kita begitu dekat dan lekat. Kasih yang memampukan kita seia sepikir, bertabah hati, penuh pengharapan dan keyakinan dalam menjalani pergumulan hidup ini. Kasihlah yang mengikat kita dengan sesama tanpa batas karena kasih merobohkan tembok-tembok pemisah. Ikatan kasih adalah ikatan kekal yang tidak akan lapuk oleh waktu, itulah kasih sejati.

Kasih sejati itu adalah kasih Allah sebab hanya di dalam kasih Allah, kita mengenal dan mengerti arti kasih yang sesungguhnya. Kasih Allah memberi tempat bagi manusia untuk bertobat sebab pengampunanNya yang tak terbatas. Kasih Allah memberi perlindungan dalam kuasa tanganNya yang kuat. Kasih Allah terwujud dalam pengorbanan dengan memberikan kekuatan kepada yang lemah, memberikan bimbingan kepada yang tersesat. Allah tidak hanya berbicara tentang kasih tetapi Allah adalah kasih, Allah bertindak di dalam kasih. Maka marilah kita hadirkan kasih Allah ini menjadi pengikat kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat kita.

 

dva

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • sukacita
    Menjalani Hidup Beriman Dengan Sukacita
    Amos 7:7-15; Mazmur 85:8-13; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29
    Renungan: Apalagi selain sukacita dan syukur, ketika kita menyadari kebaikan Allah yang sejak awal mengasihi kita dan menyelamatkan kita....
  • kekuatan dalam kelemahan
    Kekuatan dalam Kelemahan
    Yehezkiel 2:1-5; Mazmur123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13
    Renungan: Kekuatan dan kelemahan, mungkinkah bersatu? Nampaknya tidak, karena mereka saling bertentangan. Ada benarnya, jika kita hanya melihat ke...
  • sudah dimulai
    Menyelesaikan Yang Sudah Dimulai
    Ratapan 3:22-33; Mazmur 30; 2 Korintus 8:7-15; Markus 5:21-43
    Ada orang yang bisa memulai dengan baik, tetapi tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan kita? GKI PI...
  • Setelah Badai Berlalu
    Markus 4:35-41
    Kisah angin ribut diredakan dalam injil Markus, merupakan sebuah pengalaman spektakuler bagi murid-murid Yesus yang berada di dalam perahu....
  • penabur dan benih
    Hidup Sebagai Penabur dan Benih
    Markus 4 : 26-34
    Injil Markus berbicara tentang Kerajaan Allah seperti benih yang tumbuh. Konsep ini berbeda dengan paham Kerajaan Allah dalam masyarakat...
Kegiatan