Jurus Mencegah Kanker

Belum ada komentar 144 Views

Angka kejadian kanker di dunia terus meningkat. Separuh dari kasus telah meninggal dunia, dan diperkirakan penderita kanker akan berlipat ganda pada tahun 2030. Peran faktor genetik hanya 2-3 persen, selebihnya faktor gaya hidup dan pola makan (cancer-associated lifestyle). Merokok, kurang gerak (sedentary life), dan belakangan juga faktor menu kebarat-baratan (westernized diet) berada di posisi atas penyebab kanker.

Ada 20-an jenis kanker yang banyak ditemukan. Kita mengenal jenis kanker karena pengaruh hormonal (hormone dependent), selain yang bukan. Untuk bisa terkena kanker ada sejumlah faktor risiko, antara lain, usia lanjut; tembakau; cahaya matahari; radiasi ion; bahan kimia berbahaya; bakteri dan virus; hormon; riwayat kanker dalam keluarga; alkoholisme; dan salah memilih menu harian.

Dari semua faktor pencetus kanker, hanya faktor genetik yang tidak bisa kita cegah. Namun hal ini tidak berarti bahwa punya gen kanker harus terkena kanker, kalau semua faktor pencetus kanker berhasil kita singkirkan. Sebaliknya, yang tidak berbakat kanker, namun gaya hidupnya berisiko kena kanker, bakal bernasib kena kanker juga.

Agar terproteksi terhadap ancaman kanker, kita perlu meniadakan semua faktor risiko. Segala yang berpotensi mengubah tabiat sel tubuh menjadi sel abnormal, harus kita singkirkan.

Yang sudah terkena, maupun para penyintas kanker yang sudah berhasil sembuh (melewati 5 tahun perjuangan) dari kanker, termasuk yang masih tetap sehat, perlu melakukan jurus pencegahan kanker. Mengapa?

Karena walaupun sudah sembuh dari kanker, mereka masih menyimpan risiko terkena kanker kembali seperti yang sudah mereka alami, atau mungkin terkena jenis kanker lain di organ tubuh lain, selama faktor risiko untuk terkena kanker belum dihapus. Jurus mencegah agar terbebas dari kanker, merupakan upaya medis untuk menghapus risiko terkena kanker.

Pencegahan ini sangat besar manfaatnya bagi seluruh masyarakat yang belum mengidap kanker. Apalagi kalau seseorang punya bakat terkena, atau dalam garis keturunan, sudah ada yang terkena. Sama seperti fenomena gunung es, di belakang setiap satu kasus kanker, terdapat berduyun-duyun ratusan calon pengidap kanker. Melihat jumlah calon pengidap kanker yang jauh lebih besar dari yang sudah terkena, kiat bagaimana kanker bisa dicegah, perlu lebih dimasyarakatkan.

Kini makin terungkap bahwa kanker lebih banyak terjadi karena faktor di luar gen, dan bahwa dalam tubuh setiap orang, bibit kanker itu hadir (teori onkogen). Bila tubuh sehat— barang tentu bila jiwanya juga sehat—bibit kanker yang hadir itu tidak perlu menjadi kanker, oleh karena ada mekanisme yang dilakukan tubuh untuk memusnahkan sel yang tumbuh menyimpang (apoptosis). Namun apabila tubuh lemah, sedang lemah, sistem kekebalan (immune system) menurun, stres mendera (malstress), tubuh kekurangan nutrisi yang menjadi bahan baku memproduksi zat kekebalan, bibit kanker berpeluang tumbuh, dan jatuh sakit kanker pun terjadi.

Sel kanker yang hadir beberapa kali sepanjang kehidupan seseorang, tidak harus mengejewantah menjadi penyakit kanker, kalau hidup yang kita pilih berpihak pada hal-hal yang serba menyehatkan.

Sel tubuh yang normal dan sehat, menjadi “bingung” apabila tubuh dimasuki oleh segala sesuatu yang asing dan yang secara kodrati bukan merupakan kebutuhannya. Bahan kimia dalam menu harian (food additive), apakah pewarna, penyedap, pengawet, pemanis, dan semua zat tambahan dalam makanan dan minuman, membuat sel tubuh berpotensi berubah sifat. Sel yang berubah sifat—kita menyebutnya bermutasi—adalah awal terjadinya kanker.

Semua yang berpotensi mencetuskan terbentuknya sel kanker, kita sebut bahan atau zat karsinogenik. Orang sekarang—dibandingkan dengan nenek moyang kita dulu—sudah sangat kuyup oleh segala jenis bahan atau zat yang mencetuskan kanker atau karsinogenik itu.

Faktor karsinogen paling banyak ada dalam menu harian. Itu sebabnya faktor risiko terkena kanker, sesungguhnya bukan hanya tembakau saja—seperti yang diduga orang—melainkan juga menu harian yang kita makan. Daging, susu dan produknya, lemak, selain food additive dalam menu kita, adalah sumber penyebab terbesar meningkatnya kejadian kanker.

Dalam buku The China Study terungkap bahwa di Tiongkok, yang penduduknya homogen—atau secara gen sama—angka kejadian kanker lebih tinggi di provinsi yang porsi konsumsi dagingnya lebih banyak daripada yang lain. Itulah bukti bahwa faktor gen dikalahkan oleh faktor lingkungan, yakni menu harian.

Orang Tionghoa dan Jepang yang berdomisili di Barat, berisiko terkena kanker payudara lebih besar dibandingkan dengan yang masih tinggal di negeri mereka, dan sama berisiko terkena kanker seperti wanita di Barat. Demikian juga perempuan Timur yang mengadopsi pola makan orang Barat di Hong Kong, sama berisiko terkena kanker payudara seperti perempuan di Barat, sampai-sampai muncul julukan bahwa kanker payudara itu adalah akibat dari “penyakit wanita kaya” atau “menu orang Hong Kong”. Kanker payudara berkorelasi dengan daging, produk susu, dan keju dalam menu harian.

Makan daging setiap hari; serta mengonsumsi mentega dan keju lebih dari tiga kali seminggu, menambah besar risiko wanita terkena kanker payudara, dan lelaki terkena kanker prostat (silakan baca buku Jurus Sehat Tanpa Ongkos karya Dr Handrawan Nadesul). Angka penderita kanker prostat di Tiongkok hanya sepertujuhpuluh jumlahnya di Barat, karena konsumsi daging orang Barat yang berlebihan (“Tiger Diet”). Menu rata-rata orang di Tiongkok hanya 14 persen porsi lemak, namun orang di Barat menelan tak kurang dari 36 persen dari total kalori hariannya. Karena itu menu “Mediterranean Diet” seperti menu nenek moyang kita, selain menyehatkan, juga membebaskan kita dari ancaman terkena kanker.

Makin bertambah umur, makin berkurang pula enzim tubuh kita. Daging yang tidak tercerna sempurna akan menjadi “racun”. Begitu juga halnya dengan jenis menu produk susu, karena susu sebetulnya menu untuk anak-anak. Enzim pemecah susu pada orang dewasa sudah rendah, sehingga semua produk susu pada usus orang dewasa tidak tercerna sempurna, dan menyisakan “racun”. Jenis “racun” inilah yang melekat pada dinding usus, sehingga sekarang kanker usus besar (colorectal) makin banyak ditemukan. Sekali lagi, ternyata apa yang kita makan itu kebanyakan salah. Kekeliruan kita memilih menu karena terpengaruh secara buruk oleh menu Barat dan kebarat-baratan itulah yang telah melahirkan sekian banyak testimoni tentang bagaimana kanker sebetulnya bisa kita cegah. Silakan baca buku “Your Life in Your Hands” karya Prof Jane Plant, PhD, CBE seperti yang sudah saya kutip beberapa di atas.

Musuh dalam menu harian kita juga berasal dari terigu dan gula pasir. Keduanya bersifat jahat. Ini sudah pernah saya ungkapkan dulu di rubrik ini. Gandum menyehatkan. Namun gandum diubah menjadi terigu dengan memakai bahan kimia, dan bahan kimia itulah yang mencetuskan kanker, seperti halnya bahan kimia yang mengubah air tebu menjadi gula pasir (sugar cane). Karena itu lebih bijak bila kita memilih gula merah (brown sugar) yang tidak memiliki cemaran kimiawi, selain roti gandum.

Jadi musuh kita dalam makanan dan minuman terbukti bersumber dari bahan kimiawi. Ribuan bahan kimiawi memasuki industri makanan dan minuman dunia lalu mencetuskan sel kanker, sehingga sekarang makin banyak orang terkena kanker. Urutan tertinggi pencetus kanker ditempati oleh faktor menu harian. Karena itu menu serba manis yang berasal dari gula pasir serta berbagai produk susu dan daging perlu dijauhi kalau tak mau kena kanker.

Jangan lupa bahan karsinogen juga terdapat pada ikan asin, yakni nitrosamin, pada bakaran yang gosong (sate, barbeque), pada kosmetik (merkuri), sampai feminine Products seperti tampon pembalut (sanitary pads), synthetic fiber, yang tercemar bahan kimiawi dioxin.

Kini dunia sudah dicemari sisa pembakaran industri yang bernama dioxin itu, sampai-sampai mencemari minuman dan makanan bayi. Itu berarti bahwa sejak bayi, manusia sudah tercemar bahan karsinogen. Maka jangan sembarang memilih pembalut agar tidak terkena kanker ovarium, payudara, maupun leher rahim (cervix). Di AS sudah diberlakukan regulasi Tampon Safety Regulations (2003), melihat jahatnya sifat karsinogenik bahan dioxin.

Menu yang serba sayur-mayur dan buah-buahan lebih cocok untuk kodrat tubuh kita, karena sesungguhnya kodrat tubuh kita sudah Tuhan tunjukkan melalui susunan gigi-geligi kita yang sama persis dengan yang dimiliki simpanse. Simpanse hanya mengonsumsi daging sekitar 5 persen, sesuai dengan jumlah gigi taring (pengerat daging) yang hanya 4 buah atau seperdelapan total jumlah gigi, dan simpanse dituntun serta dipandu oleh naluri makannya, selebihnya ia makan dedaunan dan buah-buahan. Tidak demikian dengan manusia. Manusia melawan kodratnya dan tidak patuh pada naluri alaminya seperti simpanse, sehingga porsi daging melebihi porsi sayur-mayur dan buah-buahan. Itu sebabnya manusia terkena penyakit jantung, stroke, dan kanker. Kita tidak menemukan simpanse yang stroke, atau terserang jantung.

Untuk hidup sehat, hendaknya kita melakoni hal-hal berikut ini:

1). Mengurangi asupan kalori. Kalori terbesar diperoleh dari karbohidrat. Karbohidrat diubah menjadi energi disertai oksidan (radikal bebas). Oleh karena faktor radikal bebas (free radical) besar perannya dalam mencetuskan kanker, maka radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh harus ditekan sampai minimal. Makin banyak asupan karbo, makin besar tubuh memproduksi sampah radikal bebas.

Radikal bebas tubuh dinetralisasi oleh antioksidan (antioxidant). Tubuh sendiri memproduksi antioksidan (endogen dan eksogen). Namun antioksidan rata-rata tubuh orang sekarang sudah kewalahan melawan banjirnya radikal bebas dari segala penjuru lingkungan.

Orang sekarang menerima berlimpah radikal bebas dari lingkungan, selain dari pilihan gaya hidup yang keliru. Itulah sebabnya rata-rata tubuh orang sekarang sudah keracunan radikal bebas.

Di dalam tubuh, radikal bebas merusak sel. Sel tubuh berubah sifat. Mengurangi asupan karbohidrat menjadi jurus paling beralasan untuk menekan terbentuknya radikal bebas yang berlebihan. Asupan karbohidrat harian orang Okinawa di Jepang—yang angka kankernya terendah di dunia—40 persen lebih rendah dari rata-rata orang Amerika. Pola makan mereka dengan menu yang berkalori lebih rendah, pilihan jenis menu yang kaya antioksidan, dan sumber makanan yang dikonsumsi secara utuh dengan proses yang minimal, perlu kita tiru. Makan lebih sering tapi berat badan tidak bertambah.

2). Lima porsi buah dan sayur-mayur. Tubuh memperoleh banyak vitamin dan mineral selain serat dari aneka buah dan sayur-mayur. Keduanya bersifat antioksidan selain mengandung flavonoid (plant-sterol) serta hormon nabati (phytosterol). Makin besar konsumsi buah dan sayur-mayur, makin tegar proteksi tubuh terhadap ancaman kanker.

3). Cukup asupan flavonoid. Zat flavonoid banyak diperoleh dari kacang kedelai—selain kacang-kacangan pada umumnya—sebagai proteksi kanker. Ekstra bubur aneka kacang-kacangan yang dikonsumsi setiap sarapan, adalah cara lain membentengi tubuh terhadap ancaman kanker.

4). Lemak sehat. Pilih jenis lemak yang menyehatkan atau lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid), seperti minyak zaitun, minyak canola, selain omega-3. Lemak memberi sejumlah manfaat, dan juga bersifat antioksidan.

5). Tidak gemuk dan batasi makanan yang terlampau manis, serta perbanyak makanan yang tinggi serat. Semua yang terlalu manis tergolong tinggi indeks glikemiknya (glycemic index). Sawo, nangka, durian lebih tinggi indeks glikemiknya dibandingkan semangka dan jeruk.

6). Kendalikan infeksi virus (cancer associated viral) dan konsumsi alkohol moderate (355ml bir/148ml wine/44 ml spiritus). Minum alkohol bagi yang diperbolehkan—asal tidak berlebihan—menambah deras aliran darah, selain bersifat memproteksi tubuh terhadap kanker. Alkohol dengan takaran moderate (355 ml bir/148 ml wine/44 ml spirit per hari), dianjurkan.

7). Tipiskan gajih di badan. Orang gemuk lebih tebal lapisan gajih di bawah kulitnya. Kelebihan gajih jadi faktor pencetus kanker juga, karena itu perlu ditipiskan dengan aktivitas fisik yang membakar lemak.

8). Rutin bergerak badan. Tidak harus berolahraga khusus, atau latihan kebugaran. Cukup berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking/endurance walking/aerobic walking) ala Copper. Lebih penting melakukannya secara rutin dan hindarkan latihan fisik berlebihan karena overtraining justru memproduksi lebih banyak radikal bebas di tubuh.

Okinawa Program. Tak kurang dari 25 tahun dunia kedokteran belajar sehat dari nelayan Okinawa, dan menemukan Okinawa Program. Ternyata menu yang menyehatkan itu serupa menu nenek moyang kita, dan bukan menu kebarat-baratan. Kesehatan itu pun ada di dapur, bukan di restoran.

Selain perlu tepat memilih menu, hendaknya kita pandai pula memilih bahan makanan. Sekarang makin banyak rekayasa genetik hasil ternak, budi daya buah dan sayur-mayur yang tidak menyehatkan (GMO genetically modified organism). Makin banyak pula bahan kimia ditambahkan dalam industri makanan dan minuman. Makin berlimpah cemaran pada pertanian. Selain itu, kondisi lapisan tanah bumi yang kaya akan zat hara (topsoil) sudah hanyut ke danau dan laut. Kualitas hasil pertanian dunia sudah tak sebagus mutu panen beberapa dasawarsa yang lalu. Belum lagi cemaran hormon dalam industri peternakan, pemakaian pestisida, kimia pengawet, penyegar buah, pengawet sayur, daging, dan ikan. Kualitas bahan makanan orang sekarang kelewat banyak yang tercemar kimiawi, selain substandard.

Sekarang makin banyak hal yang bersifat mencetuskan kanker (karsinogenik). Udara yang kita hirup, makanan dan minuman yang kita konsumsi, obat dan jamu, menambah banjirnya radikal bebas dalam tubuh. Tubuh orang sekarang sudah kebanjiran tumpukan racun radikal bebas selain karsinogen yang berpotensi mencetuskan terjadinya kanker.

Kita makin sukar mengelak dari ancaman kanker karena tidak mudah membebaskan diri ketika bumi sudah demikian tercemar oleh aneka ragam polutan berbahaya, selain tubuh sukar memilih menu harian yang masih bersesuaian dengan kodratnya.

Seberapa bisa, kita memilih makanan yang lebih menyehatkan, walau tidak selalu bisa sepenuhnya terbebas dari semua unsur yang tidak menyehatkan. Kendati sudah memilih bahan makanan organik, bagaimana mungkin kita masih bisa menghindar dari polusi udara harian, dari air minum yang sudah tercemar bermacam-macam logam dan mineral berbahaya, termasuk dari kecap, camilan, kedelai, buah, daging, dan sayur impor yang selain sudah direkayasa genetik juga dibubuhi bahan kimia.

Selebihnya, mencegah infeksi hepatitis B, mendapat vaksinasi cervix, menyembuhkan penyakit mag karena kuman helicobacter pylori, dan menambah kekebalan tubuh dengan memilih menu harian seimbang sepanjang hayat.

>> Dr Handrawan Nadesul

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Kesehatan
  • Jangan Terus Membohongi Pasien
    Baru-baru ini pihak Departemen Kesehatan mulai tergugah menertibkan peredaran iklan-iklan kesehatan yang merugikan masyarakat karena terbukti tidak benar, atau...
  • Menjadi Inem di Rumah Sendiri
    Satu yang keliru untuk menjadi sehat rata-rata orang sekarang, adalah kebanyakan duduk dan kurang gerak (sedentary lifestyle). Kodrat tubuh...
  • Perut Kita Bukan Apotek
    Sukar dibayangkan masyarakat kita begitu gampang memakai obat layaknya kacang goreng. Pergi ke toko obat tinggal bilang apa keluhannya,...
  • Mitos-Mitos Medis yang Masih Hidup
    Bangsa kita terbiasa dikerubuti aneka mitos. Termasuk sejumlah mitos medis. Bukan hanya kalangan tidak berpendidikan, bahkan yang lulus universitas...
  • Malapraktik dan Komunikasi DOKTER-PASIEN
    Malapraktik dan Komunikasi DOKTER-PASIEN
    Kasus pasien yang tidak puas terhadap dokter lebih disebabkan oleh tidak terbangunnya komunikasi dokter-pasien. Terjalinnya komunikasi ini menentukan kepuasan...
Kegiatan