Jelajahi Potensi Anak

Jelajahi Potensi Anak

Belum ada komentar 28 Views

Gereja, Sekolah dan Potensi

Gereja dan pendidikan adalah dua kegiatan manusia yang saling berdampingan dalam perkembangan budaya. Penelusuran terhadap sejarah pendidikan formal yang sekarang disebut sebagai sekolah akan menyinggung peran ibadah terhadap perkembangan pendidikan. Pengaruh agama Kristen yang kuat di Eropa pada abad ke-17 menyentuh penduduk baru Amerika Serikat saat itu. Belajar membaca dan menulis adalah kewajiban masyarakat beragama supaya dapat mengalahkan upaya Setan mencegah manusia mengetahui isi tulisan di Alkitab. [Lihat Compton’s Encyclopedia. (1986). Volume 7. p.84. Chicago: Compton’s Learning Company. The ]

Demikianlah budaya yang diturunkan oleh para bangsawan Eropa yang pernah menduduki Indonesia. Dampak dari “penularan” budaya ini tentu saja positif karena masyarakat kita diperkenalkan pada agama Kristen—perkenalan melalui proses pendidikan. Kini ada pergeseran pemahaman terhadap tujuan pendidikan namun tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan sekolah sampai sekarang memiliki tujuan berasas moral: keterampilan dan pengetahuan yang melayani tujuan agama.

Perkenalan singkat di atas hendak menunjukkan betapa besarnya peran gereja dalam dunia pendidikan. Bagaimana dengan gereja kami yang terkasih? GKI Pondok Indah tak kalah besar perannya dalam upaya mencerdaskan manusia Indonesia. Segala rupa dukungan diberikan pada dua sekolah asuhannya, Sekolah Tirtamarta-BPK PENABUR dan Sekolah Permata Bunda, baik untuk para siswa maupun para pendidik dan karyawan. Hasilnya sudah jelas: kedua sekolah yang berakreditasi “A” membina siswa beriman yang meraih ragam juara di berbagai bidang, dari tingkat institusi sampai dengan tingkat nasional. Keberhasilan Nathan Darius dari SD Tirtamarta-BPK PENABUR yang telah meraih juara Olimpiade Sains Nasional masih segar di ingatan kami sehingga warga sekolah semakin terpacu untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Dukungan GKI PI yang paling saya rasakan pengaruhnya terhadap perkembangan anak didik di jenjang TK adalah pada saat perayaan Natal dan Pengucapan Syukur akhir tahun. Mengapa kedua acara tersebut? Setiap tahun kami diperkenankan untuk menggunakan fasilitas gereja sebagai wadah perwujudan dari hasil pembelajaran siswa-siswi kami selama mereka memperoleh pendidikan dalam waktu satu semester, dua semester, sampai akhirnya mencapai tiga tahun. Demi keberhasilan acara tersebut semua pihak tanpa terkecuali—guru, siswa, pelatih ekstrakurikuler, orang tua sampai dengan bagian kebersihan—melatih, dilatih dan belajar untuk mengungkapkan kasih mereka dengan memuji Tuhan melalui anugerah berseni.

Siswa Kelompok Bermain (usia tiga tahun) belajar lagu dan gerak sederhana, keduanya upaya untuk meningkatkan daya ingat dan keterampilan motorik yang sangat penting untuk dikembangkan di kemudian hari. Dari pembelajaran lagu ini dapat terpantau bibit-bibit potensi yang bisa dikembangkan. Kemampuan memahami isi lagu, mengenal gerak dan nada; semua ini bisa mempengaruhi arah perkembangan kognitif dan minat seni siswa. Siswa TK A dan TK B mempersembahkan kemampuan melantunkan lagu, memainkan angklung dan menari. Semua siswa diberi peran yang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Dengan demikian gereja dan sekolah bersatu mendukung penjelahan potensi anak, terutama sejak dini. Berikut akan saya paparkan sedikit informasi mengenai apa yang dimaksud dengan potensi, dan mengapa sekolah perlu merangsang dan membina potensi anak.

Potensi itu Apa?

Potensi berarti sesuatu yang bisa diwujudkan; suatu kemungkinan. Kata potent sendiri dalam bahasa Inggris berarti kuat, jadi potensi adalah keberadaan kemampuan dari seseorang dari dalam diri yang sangat kuat kemungkinannya untuk diwujudkan.[Lihat Webster’s II New Riverside University Dictionary. (1984). Boston: Houghton Mifflin Company.] Semua orang memiliki potensi, dari yang muda sampai dengan yang tua dan jenis potensi beragam. Potensi dilihat dari perpaduan antara minat, bakat, dukungan, kemampuan fisik dan daya nalar seseorang. Kesemua faktor ini disertai oleh pengaruh lingkungan.

Bagaimana Bisa “Melihat” Potensi Anak?

Indikator resmi yang bisa menjadi pegangan untuk yakin bahwa anak memiliki potensi menjadi seorang pengacara, misalnya, belum ada. Untuk itu segala kemungkinan perlu dijelajahi sejak dini. Jangan sampai ada kemampuan yang terlewatkan karena sekarang bukanlah zaman orang punya kemampuan di satu bidang saja. Sejak dulu pun kita bisa berpatokan pada sang maestro Leonardo da Vinci yang merupakan contoh bagaimana segala potensinya dijelajahi sehingga ia menjadi seorang pelukis, arsitek, filsuf, ilmuwan, dan lain-lain.

Jadi, apa yang perlu dilakukan? Bagaimana cara menjelajahi potensi anak? Sejak usia dini, terutama dari usia prasekolah orang tua dan lingkungan sudah bisa memberikan stimulus melalui kegiatan variatif. Berikut adalah penjabaran singkat mengenai peran keluarga dan lingkungan.

Peran Keluarga

Berawal dari lingkungan inti di antara keluarganya, orang tua bisa mempersiapkan ragam alat yang bisa menarik perhatian anak. Misalnya, dengan tindakan sederhana seperti menyediakan ruangan untuk kegiatan tertentu bisa merangsang minat anak. Ruangan-ruangan didekorasi menurut pola warna dari yang primer, sekunder sampai dengan warna bergradasi. Pewarnaan ruangan memberikan pengaruh afektif dan bisa mempengaruhi daya seni anak. Taman dihias sebisa mungkin dengan ragam jenis tumbuhan pepohonan, bunga, semak, dan lain-lain. Gunanya adalah supaya anak mau bertanya atau diajak untuk menikmati keindahan alam dan memahami proses pertumbuhan yang tentu saja merupakan anugerah dari Tuhan. Bila anak menunjukkan ketertarikan, sudah tampak ada potensi untuk mencari ilmu. Saya katakan mencari ilmu, bukan menjadi petani karena kita tidak bisa gegabah langsung memberikan label pada anak saat upaya pencarian diri baru mulai.

Kebisasaan keluarga juga mempengaruhi potensi yang bisa dikembangkan. Orang tua yang biasa duduk di depan televisi akan mempengaruhi anaknya untuk sekadar menjadi pengamat. Namun bila anak diajak untuk membahas tontonan yang sedang dilihat, potensi anak semakin bisa dijelajahi. Mulai dari acara berita, kartun, sinetron, lagu, olahraga sampai dengan quiz orang tua bisa perhatikan acara mana yang lebih diminati sekaligus menjelaskan mengapa baik untuk ditonton dan mengapa sebaiknya tidak.

Sedini mungkin libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Bisa dari kegiatan membersihkan sampai dengan memasak. Jangan segan mengajarkan anak untuk sekadar lap meja. Selain memperkuat motorik kasar anak, kegiatan ini menumbuhkan potensi untuk menjadi mandiri. Ingat daya saing dunia sekarang menuntut kita mencari ilmu di Negara lain, bahkan bekerja di Negara lain yang sangat mungkin tidak memudahkan kita mempekerjakan pembantu. Jadi dari pembiasaan pun potensi bisa tumbuh dan terwujud.

Peran Lingkungan

Sekolah adalah institusi yang berupaya mewujudkan tujuan dari masyarakatnya untuk generasi mendatang. Oleh sebab itu sekolah memiliki tugas yang sama dengan orang tua, untuk memantau dan mengembangkan kemampuan sehingga mencapai daya maksimal. Beberapa contoh peran sekolah saya ambil dari pengalaman di sekolah TKK Tirtamarta-BPK PENABUR.

Dalam penjelajahan potensi anak, kami siapkan ragam tema yang akan didalami. Penyampaian tema-tema ini tidak sekadar berupa diskusi, namun disertai kegiatan yang menuntut partisipasi siswa dan masyarakat. Misalnya untuk tema Kehidupan di Pesisir, para siswa diperkenalkan pada mata pencaharian nelayan. Selain menjual ikan, para nelayan juga membuat telur asin. Untuk memperdalam pengetahuan siswa terhadap mata pencaharian ini mereka diajak untuk ikut membuat telur asin. Para guru mempersiapkan bahan dan memberikan presentasi yang kemudian dilakukan oleh siswa.

Dari kegiatan ini beberapa potensi anak telah disentuh. Dari daya observasi, bertanya, menghitung jumlah telur yang ada, menalar informasi mengenai proses pengasinan, dan lain-lain. Bila siswa mampu menceritakan kembali pengalamannya, potensi sebagai pencerita tersentuh. Siswa mungkin tertarik untuk menjadi nelayan atau bahkan tertarik di bidang bisnis telur asin. Who knows? Segala kemungkinan bisa dijelajahi.

Contoh lain adalah pada perayaan Kartini. Tahun lalu kami mengambil tema profesi sehingga para siswa mengenakan pakaian dari profesi tertentu untuk kemudian diperagakan. Dari acara ini beberapa potensi terpantau. Kepercayaan diri siswa dibina melalui keberanian untuk tampil dan dari kegiatan ini juga anak diperkenalkan dengan ragam profesi yang mungkin digelutinya di kemudian hari.

Pengalaman lain adalah membuat pizza dan cokelat. Siswa langsung mengalami sendiri proses pembuatan pizza dan cokelat, dari bahan dasar sampai saat matang dan siap dimakan. Potensi memasak dan memperhatikan bahan makanan dijelajahi di kegiatan ini. Tahun ajaran mendatang kami berencana untuk mengajak siswa ke Bank. Di sini siswa akan diperkenalkan pada prosedur transaksi perbankan dan bisa melakukan role-play membuka rekening di bank.

Masih banyak kegiatan kami yang menunjang penjelajahan potensi anak—dari kegiatan sehari-hari seperti mengenal benda sampai dengan perlombaan. Penjelajahan ini sangat penting supaya siswa dapat mencapai kemampuan mereka dalam segala cakupannya dan meraih semua kemungkinan yang disediakan. Terutama untuk membekali para siswa dalam menentukan bidang keprofesian yang hendak didalami—semakin banyak waktu dan kesempatan yang disediakan, semakin banyak kemampuan yang dikuasai oleh siswa.

Faktor yang Mendukung Penjelajahan Potensi Anak

Secara ringkas beberapa poin yang bisa diambil dalam mendukung penjelajahan potensi anak adalah:

Pembiasaan

Membiasakan anak untuk merapihkan mainan, pergi ke sekolah, menabung, meng-evaluasi perilakunya — semua ini berpotensi untuk menerapkan disiplin yang sangat diperlukan saat menginjak usia dewasa.

Penjelasan

Memberikan penjelasan bagi anak akan mendorongnya untuk semakin mencari tahu. Namun perlu diingat bahwa penjelasan diberikan bagi anak dalam tahap perkembangan di mana ia belum mampu mencari informasi dari sumber lain. Anak usia prasekolah sampai dengan sekolah dasar masuk dalam kategori ini. Anak usia sekolah menengah sudah bisa dibiasakan untuk mencari sendiri penjelasan dari buku, internet, Koran dan lain-lain, tentu saja dengan pantauan dari orang tua dan/atau orang dewasa lain.

Keterlibatan

Melibatkan anak dalam kegiatan memberikan pengalaman langsung—suatu bentuk pendidikan yang paling efektif. Praktik langsung bisa mempengaruhi minat, bakat dan keterampilan yang bisa diasah.

Ketersediaan

Daya khayal anak bisa dikembangkan, namun sebelum seseorang bisa membayangkan sesuatu mereka perlu dihadapkan pada benda nyata. Terutama anak kecil yang pengalaman hidupnya sangat minim. Bagaimana bisa menjelaskan perbedaan buah dan sayur hanya berdasarkan ucapan? Kita perlu sediakan buah jeruk, mangga, apel asli untuk diketahui wujud, tekstur, harum dan rasanya supaya bisa dibedakan dari sayur bayam, tauge, sawi dan kacang panjang.

Kesempatan

Berikan waktu khusus bersama anak sedikitnya tiga puluh menit sehari meskipun hanya untuk menceritakan isi buku. Dari jenis cerita sendiri potensi anak dapat terpetakan. Ikutkan anak dalam perlombaan bila ia siap. Beri kesempatan baginya untuk mencoba hal-hal baru, jangan terlalu membatasinya sehingga ia sendiri belajar untuk melihat keterbatasan dan kelebihannya. Misalnya bila ingin membantu memotong, berikan pisau plastik yang tidak membahayakan. Bila ingin mencoba alat musik, misalnya, beri kesempatan disertai penjelasan mengenai akibat bila ia tidak meneruskan pembelajaran alat musik tersebut. Anak jadi belajar konsekuensi dari perbuatannya dan bisa terjadi proses negosiasi antara orang tua dengan anak.

Dukungan

Terpenting adalah memberikan dukungan pada anak. Jangan sampai mematikan daya juang anak untuk mendalami sesuatu. Selama potensinya masih ada, upayakan agar dapat dikembangkan. Dukungan positif melalui pujian, penghargaan, dan pengakuan lebih besar pengaruhnya daripada dukungan materi.

Puspa W. Cahyono, S.Psi, M.Sc.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan