Jangan Takut

Belum ada komentar 100 Views

JANGAN TAKUT! Ah… itu memang ungkapan yang bisa memberi rasa aman dan mudah diucapkan, tetapi tidak mudah untuk diterima, apalagi diwujudkan,

  • ketika persediaan beras sudah habis dan belum tahu dari mana akan mendapatkannya, sementara masalah perut tidak bisa ditunda,
  • ketika si buah hati sakit dan tidak kunjung sembuh, padahal segala upaya telah ditempuh dan sejumlah dana telah dikucurkan,
  • ketika kebutuhan hidup terus merangkak naik, sementara tabungan tidak bertambah, malah terus tergerus untuk berbagai biaya hidup.

Jangan takut! Siapa sih yang tak ingin terbebas dari rasa takut?

Tak seorang pun ingin berada di dalam cengkeram ketakutan, tapi acap kali ketakutan datang begitu saja, bak tamu tak diundang. Ketakutan setiap orang bisa bermacam-macam dan berbeda-beda. Ketakutan saya pasti berbeda dengan ketakutan Anda, begitu pula ketakutan Anda dengan orang lain, tetapi yang namanya ketakutan sama saja, apa pun alasannya.

Apa sih yang sering membuat orang merasa takut? Di mana sebenarnya sumber ketakutan itu?

  1. Mengasihi dan Mengasihani Diri Sendiri

Salah satu sumber ketakutan adalah karena orang terlalu mengasihi dan mengasihani diri sendiri secara berlebihan, sehingga fokus hidupnya adalah diri sendiri. Bukan masalah ‘apa’ atau ‘siapa’ dia, bukan masalah kaya atau miskin, bukan pula orang pangkat atau orang biasa, tetapi masalah menyikapi hidup ini. Setiap orang yang hidupnya terfokus pada diri sendiri, yang pikirannya terus tertuju pada diri sendiri, tidak akan memedulikan orang lain. Ada anekdot tentang kebiasaan yang dilakukan orang setiap hari:

  • Orang miskin, begitu bangun tidur, langsung berpikir: “Apa yang akan saya makan hari ini.”
  • Orang kaya, begitu bangun tidur, langsung berpikir: “Di mana saya akan makan hari ini.”
  • Namun orang jahat, bukannya berpikir tentang ‘apa’ atau ‘di mana’, melainkan “Siapa yang akan saya makan hari ini.”

Sesungguhnya orang seperti ini hidupnya tidak pernah tenang, dan selalu berada dalam ancaman dan ketakutan. Ia tidak lagi melihat orang lain sebagai sesama, apalagi sasaran cinta kasih, tetapi sebagai saingan. Ia selalu berusaha membentengi dirinya secara penuh, dan hal ini melelahkan dan menakutkan. Kini kita bisa memahami apa yang pernah dikatakan Yesus kepada para murid-Nya: “Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”

  1. Terpikat dan Terikat Harta

Sumber ketakutan kedua ialah pencampuradukan ‘alat’ dengan ‘tujuan’, yaitu ketika ‘harta’, yang mestinya cuma alat, dijadikan tujuan. Yang memprihatinkan adalah bahwa ini merupakan ciri kehidupan manusia modern masa kini.

Bukan berarti alat tidak penting. Siapa yang berani berkata bahwa harta tidak penting? Harta penting sekali untuk menunjang hidup ini, tetapi sebagai alat. Tuhan Yesus memiliki pemahaman yang unik mengenai harta. Dia sendiri tidak mengingkari pentingnya harta, tetapi masalahnya ialah harta macam apa yang mesti kita—sebagai orang percaya—prioritaskan dalam hidup kita, karena: “Di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada”. Jadi masalahnya adalah bagaimana kita mengartikan harta itu sendiri.

Ketika kita mengartikan harta sebagai ‘kekayaan’ yang lebih bersifat material, maka justru di sinilah harta sering kali menjadi sumber ketakutan karena sifatnya yg sangat fluktuatif, naik turun dan tidak bisa diandalkan. Pada gilirannya, harta membuat kita takut berkekurangan, meskipun deposito kita di mana-mana, takut menjadi miskin, meskipun harta kita tidak habis dimakan sampai tujuh turunan, membuat kita takut memberi, bukan karena tidak punya apa-apa, melainkan karena berbagai macam perasaan takut itu sendiri.

Itulah sebabnya Yesus berpesan: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar dan mencurinya.”

  1. Ketidakpastian

Sumber ketakutan ketiga adalah ketidakpastian. Dalam kondisi dan situasi sesulit apa pun, selama orang memiliki kepastian, ia tidak takut. Namun sebaliknya, dalam situasi mapan sekalipun, perasaan takut itu selalu menghantui, selama tidak ada kepastian.

  • Ketakutan orangtua terhadap masa depan anak-anak bukan karena bakal terjadi perang dunia, tetapi perasaan tidak pasti apakah kelak masih bisa membiayai studi mereka sampai tuntas.
  • Ketakutan seorang isteri terhadap suami bukan karena ia bakal kekurangan, tetapi apakah ia bisa mempertahankan pernikahan ini sampai maut memisahkan mereka.
  • Ketakutan seorang pensiunan bukan pada kematian, tetapi apakah dana yang dimilikinya cukup untuk membiayai kesehatan yang makin merosot, sedangkan biaya pengobatan makin tinggi. Daftar ketakutan lainnya masih bisa kita tambahkan lagi, tapi intinya terletak pada kondisi yang serba tidak pasti.

Masalahnya sekarang ialah, bagaimana kita bisa mengatasi perasaan takut yang menguasai diri kita akibat berbagai kenyataan yang ada dalam hidup ini? Apakah Yesus juga pernah mengalami seperti yang kita alami, yaitu dikuasai perasaan takut? Jawabnya adalah, pernah! Mari kita belajar, bagaimana Dia menyikapinya.

Sebagai manusia, Yesus juga pernah mengalami perasaan takut, justru ketika Dia berada di puncak karya penyelamatan umat-Nya, bagi Anda dan saya. Lukas melukiskan hal itu begini: “Ia sangat ketakutan dan makin sungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Sebuah perasaan takut yang serius, sehingga Lukas menggambarkannya secara berlebihan, bahwa peluh-Nya laksana darah. Dengan ungkapan itu ia mau mengatakan bahwa perasaan takut Yesus itu nyata, riil, tidak seolah-olah atau pura-pura. Namun yang menarik, Yesus tidak mengingkari perasaan itu, tetapi mau mengakui, menghadapi, tidak melarikan diri dari kenyataan atau berusaha menutup-nutupi perasaan takut itu.

Mengapa Yesus berani berkonfrontasi dengan ketakutan-Nya? Karena Dia yakin bahwa Sang Bapa bisa dan sanggup mengatasi gejolak ketakutan-Nya. Itulah sebabnya Dia menyerahkan segala ketakutan-Nya kepada Bapa di surga. Dia takut, tetapi tidak ingin dikuasai oleh rasa takut itu sendiri, dan hanya ingin dikuasai oleh Sang Bapa. Sekalipun Dia menghadapi ketakutan yang begitu besar, tetapi Yesus percaya bahwa Sang Bapa jauh lebih besar. Dalam percaya dan memercayakan diri sepenuhnya kepada Sang Bapa inilah, Yesus tidak lagi berada dalam cengkeram ketakutan, tetapi dalam pelukan kasih-Nya. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” Dengan demikian, lawan dari ketakutan bukanlah keberanian, tetapi kasih, dan kasih yang sejati itu hanya ada pada Sang Bapa. Karena itu, marilah kita berupaya meraih dan memiliki kasih itu dengan membangun persekutuan dengan Sang Bapa, yang adalah sumber kasih sejati.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Teknologi dan Keluarga
    Sejak munculnya “Teori Generasi”, kita diperkenalkan dengan istilah generasi: ‘Baby Boomers’, ‘X’, ‘Y’, ‘Z’, ‘Alpha’. Perbedaan generasi tersebut tentu...
  • Berbeda itu Indah
    Sulit dibayangkan bila segala sesuatu dalam hidup ini seragam. Semua gunung sama bentuk dan tingginya. Pantai-pantai di Bali, di...
  • Bersyukur & Bersaksi
    Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. (1 Tawarikh 16:8) Mengucap syukur sejatinya adalah sebuah kesaksian....
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
Kegiatan