“Jangan Bawa Kami kedalam Pencobaan”

“Jangan Bawa Kami kedalam Pencobaan”

Kej. 2:15-17, 3:1-7; Mzm. 32; Rom. 5:12-19; Mat. 4:1-11

Belum ada komentar 25 Views

Permohonan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”, seringkali menimbulkan pemahaman yang keliru, karena seolah-olah doa ini menjadi permohonan supaya Allah jangan bertindak mencelakakan kita dengan memasukkan kita ke dalam pencobaan. Kata “Membawa” berasal dari kata Ibrani/Aram yang secara harafiah berarti “menyebabkan pergi (jatuh)”, dengan demikian kalimatnya seharusnya dipahami menjadi “Sebabkanlah (buatlah/jagalah) kami supaya tidak masuk (jatuh) ke dalam “pencobaan” atau “bantulah kami supaya terhindar dari pencobaan”.

Dalam masyarakat kita pencobaan (baca: godaan) yang paling nyata adalah ketika orang berlomba-lomba mendapatkan keagungan melalui nama besar dan termasyhur. Oleh sebab itu surat kabar atau media lainnya terus-menerus menyampaikan pesan kepada kita: yang penting adalah dikenal, dikagumi, disanjung – entah Anda itu seorang tokoh politik, tokoh agama, pegawai, guru, pedagang, dll.

Namun sebenarnya, seperti yang digambarkan Matius, keagungan yang sejati itu seperti yang dilakukan oleh Yesus, adalah sesuatu yang tersembunyi, sederhana, rendah hati, dan tidak memaksakan diri. Tidak mudah bagi kita untuk mempercayai diri kita dan karya-karya kita tanpa pengakuan publik. Kita seharusnya mempunyai rasa percaya diri yang kuat disertai kerendahan hati yang mendalam seperti yang dilakukan oleh Yesus dalam menghadapi dan mensikapi pencobaan. Fokus Yesus bukan pada mampu atau tidak mampu, boleh atau tidak boleh, tetapi hati yang tetap berpegang teguh pada Firman yang berbicara. Sekalipun Yesus punya kuasa dan kewenangan, tetapi Ia tetap rendah hati dan tunduk pada Sabda BapaNya. Yesus menyadari bahwa ia sedang melakukan rancangan Bapa dan Ia melaksanakan dengan sabar, tekun, dan penuh cinta, tanpa harus mencari pujian.

(TT)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan