ketaatan

Iman dan Ketaatan yang Teruji

Yohanes 14: 23-29

Belum ada komentar 118 Views

“Tak kenal maka tak sayang” begitu kata pepatah. “Tak sayang, maka tak mungkin percaya dan menjalin relasi” demikian logikanya. Iman dan ketaatan yang teruji, sebaiknya lahir dari sikap mengasihi dan menyayangi, terlebih kepada Tuhan.

Tema utama dari Yohanes 14 adalah mengenai Yesus yang mempersiapkan para pengikutNya untuk menjalani hidup sesudah Dia pergi. Di dalam bacaan kita, dipaparkan tentang eksistensi pribadi Allah di tengah kehidupan murid-murid-Nya. Meski pun tidak bersama-sama, Yesus memastikan bahwa keadaan sejahtera yang penuh dan utuh lahir batin menjadi bagian dari kehidupan umat-Nya. Yesus ingin supaya para murid tetap menjaga sikap diri yang taat dan saling mengasihi kepada Tuhan—dan direpresentasikan kepada dunia—meski pun Ia tak bersama-sama dengan para murid. Yesus menegaskan bahwa kepergianNya mungkin membuat para murid tak dapat lagi berelasi secara fisik tetapi melalui iman dan kasih, relasi spiritual tetap dapat dibangun dengan kesediaan menaati Firman-Nya serta melakukan kehendak-Nya.

Relasi Yesus dan para murid, walau pastinya lebih indah, intim dan intensif; mungkin dapat dianalogikan seperti relasi sepasang kekasih yang memiliki tanggung jawab tugas berlainan kota. Tentu mereka selayaknya membangun kepercayaan satu sama lain agar hubungannya berhasil. Dibutuhkan kesetiaan dan ketaatan terhadap janji yang semula dibangun. Tentu kita akan taat dan setia apabila kita sungguh-sungguh saling mengasihi. Demikian pula ketika kita membangun relasi dengan Tuhan. Di dalam ayat 23-24, Yesus memaparkan mengenai relasi kasih yang semestinya dapat melahirkan kesediaan untuk menaati Firman Tuhan. Sikap menaati Firman-Nya, berarti kita siap memberi diri untuk lebih dekat secara personal dengan Allah. Ketika kita dekat secara personal, tentu sikap hidup kita akan berusaha menghasilkan respon yang benar dan dapat dipercaya oleh Allah, karena kita percaya akan kasih Allah itu sendiri.

Tentu kita sudah paham bagaimana sikap hidup, yang Tuhan mau untuk kita lakukan. Pertanyaannya bagi kita semua, siapkah kita memberi diri untuk setia di hadapan Tuhan dalam melakukan setiap kehendak-Nya? Jika ya, tahan uji-kah kita?

Selamat membangun komitmen taat beriman bersama Tuhan. Amin.

(ICRP)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • lemah
    Sambutlah Yang Lemah
    Ibrani. 11:29-12:2
    Saya pernah dipukul oleh kakak pertama saya pada waktu saya kecil. “Kamu pikir saya sansak?” Dia bukan marah atau...
  • Sambutlah Pimpinan Tuhan
    Takut. Abram takut menghadapi masa depan tanpa anak. Ia pikir kalau hal itu sampai terjadi, apa boleh buat, hambanyalah...
  • Sambutlah Kristus
    Bulan Budaya dilakukan setiap 2 tahun sekali di GKI Pondok Indah. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar warga jemaat...
  • syukur
    Hendaklah Hatimu Melimpah Dengan Syukur
    Kolose 2:7
    Kita kerap mempermurah makna syukur hanya sebagai reaksi hati, atau malah emosional, atas berkat atau keberuntungan yang kita percaya...
  • Gereja Persahabatan
    3 Yohanes adalah surat yang ditulis oleh Yohanes untuk Gayus, sahabatnya. Ia menjadi salah satu tulisan dalam pustaka Yohanes...
Kegiatan