IMAN DAN KERAGUAN

IMAN DAN KERAGUAN

1 Komentar 306 Views

Jika saya berkata pada Anda bahwa, menurut para astronom, jumlah bintang di semesta ini adalah 678.325.890.903.402, Anda pastilah cenderung untuk percaya. Namun, jika kita melihat sebuah papan di samping sebuah kursi atau tembok, dengan tulisan, “Awas, Cat Basah!” kita cenderung memastikan.. dengan menyentuh perlahan kursi atau tembok tersebut.

Keraguan kerap berurusan dengan tiga hal: daya jangkau akal kita, kelima indera kita dan pengalaman kita. Jika sebuah informasi melampaui daya jangkau akal kita, kita cenderung meragukan informasi tersebut. Pun, jika sebuah situasi di dalam daya jangkau indera kita, kita cenderung meragukan situasi tersebut, sebelum indera kita memastikannya. Juga, jika sebuah pengalaman baru ber lawanan atau tak sama dengan pengalaman yang biasa kita miliki, kita cenderung meragukan pengalaman baru tersebut.

Singkatnya, keraguan selalu berurusan dengan kemanusiaan kita yang ter  batas. Kita dibatasi oleh ruang dan waktu. Dan dalam radius yang masih berada dalam batas ruang-waktu itu, kita memakai pengalaman dan indera kita untuk meragukan sesuatu dan untuk menjawab keraguan tersebut.

Kebangkitan sesungguhnya tepat berada di tubir, di tepian, antara masuk-akal dan melampaui-akal, antara inderawi dan imani, antara pengalaman-lazim dan pengalaman-serba-baru. Dan ini berlaku sesungguhnya untuk seribu satu soal yang terkait dengan iman dan keberagamaan kita. Tapi, kebangkitan harus   diakui, menjadi puncak dari semua pengalaman iman kita. Maka, tak heran, jika ia paling banyak diragukan, jika ia menimbulkan banyak kebimbangan.

Maka, ini yang ingin saya katakan: Ragu-ragu adalah sebuah kewajaran. Ragu-ragu adalah tanda kemanusiaan. Ragu-ragu bahkan sudah membuat peradaban dan ilmu pengetahuan kita makin maju. Tapi, keraguan juga bisa berbahaya, jika tidak diatasi secara bijak. Ia dapat melemparkan iman ke tempat sampah, jika tidak dibarengi dengan pengakuan bahwa kita, manusia, memang terbatas … dan sedang berhadapan dengan Dia Yang Tak Terbatas itu. Ia menempatkan kita di persimpangan jalan, yang harus kita pilih. Jalan pertama adalah skeptisisme, yang akhirnya menolak semua nilai iman; jalan kedua adalah iman yang dewasa dan matang. Jalan mana yang Anda pilih, terserah Anda. Tapi, Anda tetap harus memilih. Tomas sudah memilih. Sepuluh murid Yesus lainnya telah memilih.

Jutaan orang Kristen sudah memilih. Dan sekarang … giliran Anda.

O, ya, BTW, soal jumlah bintang di alam semesta. Angka di atas hanya saya reka-reka belaka. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut, lihatlah situs NASA yang berbicara tentang ini: nasa.gov

[JA]

1 Comment

  1. edi

    keren juga khotbahnya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Hidup dipelihara Tuhan
    Yohanes 17:1-11
    Doa Tuhan Yesus “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka (baca: para murid, jemaat Tuhan) dalam nama-Mu” (ay.11), sekaligus merupakan...
  • Saya Cinta Yesus
    Yohanes 14:15-21
    Definisi cinta yang dimaksud supaya tidak salah arah harus dikaitkan dengan konteks pembicaraan. Mencintai atau mengasihi merupakan kata yang...
  • The Journey Is Home
    Yohanes 14:1-14 dan Kisah Para Rasul 7:55-60
    Pemberitaan di Media yang begitu marak tentang pandemi Covid-19, khabarnya telah meluluh lantakkan kehidupan rutinitas. Melongok keluar sebentar, maka...
  • Hidup Bersatu
    Hidup Bersatu
    Kisah Para Rasul 2:42-47
    Pada masa ini, kesatuan sebagai warga negara Indonesia tampaknya sedang diuji. Sebab kita sedang menjalani kehidupan yang terpisah dari...
  • Buka Mataku
    Lukas 24:13-35
    Saya suka sekali kisah ini. Koq bisa orang jalan bersama sahabatnya tapi tidak menyadari siapa Dia? Jangan-jangan itulah pengalaman...
Kegiatan