I Think I’m In Love! Mempersiapkan Anak Remaja Kita…

I Think I’m In Love! Mempersiapkan Anak Remaja Kita…

Belum ada komentar 15 Views

Sebagai orangtua, pernahkah kita membayangkan masa di mana pertama kali kita jatuh cinta? Coba bayangkan kekonyolan-kekonyolan yang kita buat saat itu. Mulai dari berdandan lebih rapi dan mematut diri berkali-kali di depan cermin, menyanyikan lagu-lagu yang mengekspresikan perasaan kita, atau malu-malu saat berhadapan atau melihat orang yang kita sukai.

Tidakkah kita juga berpikir bahwa anak-anak remaja (bahkan anak-anak kita yang masih duduk di kursi Sekolah Dasar) merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan puluhan tahun yang lalu? Bedanya, ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa cinta atau ketertarikan mereka di zaman ini. Pertanyaannya, bagaimana mengetahui perasaan anak-anak kita dan menyikapi saat mereka jatuh cinta?

JATUH CINTA–KETERTARIKAN PADA PANDANGAN PERTAMA

Tuhan Yesus sendiri sering tergerak hati-Nya saat melihat seseorang dan karena gerakan hati itulah Ia menunjukkan cinta kepada orang tersebut. Kalau begitu, bukankah mitos “jatuh cinta pada pandangan pertama” dapat berlaku bagi anak atau remaja kita?

Yesus mencintai manusia dan Dia mengenal kita. Dalam Yohanes 2:24 dikatakan bahwa Yesus mengenal kita semua. Ia tahu siapa kita dan sekalipun Ia tahu kelebihan atau kelemahan kita, Ia tetap mengasihi kita. Itu sebabnya tidak sama seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, Yesus tahu dengan jelas siapa orang yang dikasihi-Nya.

Tentu saja ayat ini tidak dapat digunakan untuk membenarkan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dr. James Dobson mengatakan, “Love requires knowledge.” Berarti dibutuhkan pengetahuan atau pengenalan terhadap orang yang kita cintai, untuk menjalin sebuah relasi dengan komitmen untuk saling menyayangi. Itu sebabnya anak-anak atau remaja kita perlu memiliki pemahaman bahwa jatuh cinta bukanlah segalanya untuk memulai sebuah relasi, apalagi karena jatuh cinta sangat berbeda dengan pengalaman bertumbuh di dalam cinta seperti yang dialami orang-orang dewasa pada umumnya.

Kalau begitu, pertanyaannya bagaimana mereka dapat menyadari bahwa saat mereka jatuh cinta, mereka tidak perlu terlalu terburu-buru menjalin cinta di masa remaja dan menjauh dari teman-teman sepergaulannya? Tentu jawaban atas pertanyaan tersebut bukanlah jawaban yang mudah. Perlu beberapa langkah ke belakang untuk kita kerjakan sebagai orangtua.

Yang pasti, tidak ada salahnya jika anak atau remaja kita merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun yang penting mereka ketahui adalah bahwa ketertarikan yang mereka miliki itu, bukanlah alasan untuk segera menjalin ikatan khusus yang mereka sebut dengan pacaran.

Itu berarti, saya bukan hendak mengatakan bahwa anak atau remaja kita tidak boleh jatuh cinta, namun mereka perlu tahu bahwa perasaan itu perlu dikendalikan. Dan kendali itu terletak pada cara berpikir mereka. Sampai pada tahap ini, tentu saja anak atau remaja kita membutuhkan teman untuk berbagi cerita dan pandangan-pandangan yang positif berkaitan dengan nilai hidup mengenai “cinta”. Untuk itulah mereka membutuhkan kita sebagai orangtua, sahabat dan “konsultan cinta” sampai mereka memiliki nilai (value) yang benar tentang hal ini.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, sebenarnya apa saja yang dapat kita lakukan kepada anak atau remaja kita?

Di satu sisi, BELAJAR MEMAHAMI PERASAAN ANAK

Saat yang paling berharga bagi kita sebagai orangtua adalah saat di mana kita memahami perasaan anak-anak kita. Apakah kita sudah menggunakan golden moment (masa keemasan) itu dengan baik setiap harinya? Mulailah dengan membahasakan perasaan anak kita, misalnya: Apakah kamu lelah seharian ini di sekolah? Atau kelihatannya kamu sedang berbunga-bunga. Mama ikut merasakannya.

Saat anak mengetahui bahwa ada seorang yang ikut merasakan perasaannya, saat itulah ia juga dapat merasakan nikmatnya berada di rumah bersama orangtuanya. Rumah bagaikan Home bagi mereka karena ada teman yang berbagi perasaan dengan mereka.

Tentu Anda tidak perlu berada 24 jam di rumah untuk dapat membuat anak home sweet home. Hanya diperlukan waktu dan kesediaan untuk merasakan apa yang anak rasakan dan mengatakan bahwa kita turut merasakannya, sehingga saat anak remaja Anda mengatakan, “I Think I’m in love,” kita dapat duduk bersama merasakan bunga-bunga yang dirasakannya. Tentu saja bukan sekadar memahami dan merasakan perasaannya. Tetapi juga mencoba memahami pikirannya.

Saat anak remaja kita tahu bahwa apa yang dirasakannya juga dirasakan oleh kita sebagai orangtuanya, tentu hal itu dapat menjadi pintu baginya untuk menyatakan pikirannya. Selanjutnya, kita ditantang untuk berdialog dengannya tanpa ia menutup pintu hatinya kepada kita.

Di sisi lain, BELAJAR MENELUSURI CARA BERPIKIR ANAK

Dua hal yang berbeda dalam diri setiap orang, termasuk dalam diri setiap anak atau anak remaja kita adalah antara pikiran dan perasaan mereka. Anak remaja yang sedang jatuh cinta tahu bahwa sesungguhnya adalah hal yang biasa jika seorang pria duduk di sebelah seorang wanita. Namun perasaannya mengatakan hal yang berbeda. Dalam perasaan seorang remaja, duduk di sebelah orang yang baru saja disukainya merupakan hal yang memalukan dan menegangkan. Ada dua kemungkinan yang mereka dapat lakukan, pergi jauh-jauh untuk mengusir rasa malu tersebut, atau duduk di dekatnya sambil merasakan gejolak bunga-bunga cintanya.

Pengalaman seperti itu yang ada di dalam benaknya. Ia membutuhkan jalan keluar dan teman berbagi cerita. Jika kita dapat merasakan kebingungannya, empati dengannya, di satu titik tertentu ia pasti butuh usulan jalan keluar dari kita.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita mengusulkan sesuatu yang disetujui olehnya? Berbeda dengan usulan teman-temannya seperti, “Tulis surat saja kepada orang itu!” atau “Tembak aja lewat sms atau bbm!” Tentu saja kita tidak akan mengusulkan hal yang sama dengan itu. Namun setidaknya kita dapat membahasakan perasaan orang yang dicintainya itu sebagai reaksi saat dia berhadapan dengan anak remaja kita.

Kita dapat mengatakan, “Kalau kamu sms dia dan menyatakan perasaanmu, apakah dia dapat berpikir… atau apakah dia akan merasakan…” Penting sekali membuat anak dapat mempertimbangkan akibat dari tindakannya sambil turut merasakan bunga-bunga dari perasaannya.

Tentu saja jauh sebelum anak atau anak remaja kita mengatakan, “Mommy, I think I’m in love!” kita dapat membuka pembicaraan mengenai hal tersebut dengan cara menceritakan pengalaman-pengalaman teman-teman kita sewaktu remaja. Atau menceritakan apa yang biasa terjadi di masa remaja kita, tentu dengan cara dan isi cerita yang bijaksana.

Beberapa prinsip yang kita dapat sampaikan kepada anak sebelum mereka mengatakan bahwa mereka “jatuh cinta”:

Pertama, cinta bukan semata hanya sebuah perasaan.

Ya, cinta bukan semata hanya perasaan. Karena perasaan tidak menentu. Saat perasaan terluka, maka perasaan cinta tidak lagi dapat bertahan. Namun cinta merupakan sebuah komitmen. Komitmen untuk mempertahankan cinta Tuhan sebagai cinta yang kita bagikan kepada orang yang kita cintai. Itu sebabnya mencintai merupakan sebuah tanggung jawab. Cinta bukan hanya sekadar sebuah permainan untuk mengisi waktu istirahat di sekolah, cinta juga bukan sebuah keadaan berdua-dua sehingga perasaan menyukai itu dapat dipuaskan hanya dengan berbicara berduaan apalagi bersentuhan secara fisik. Karena cinta merupakan sebuah tanggung jawab, apapun yang mereka bicarakan dan lakukan, merupakan tanggung jawab untuk tetap menghargai orang yang dicintainya.

Seorang remaja, sebut saja Evan, sangat menunjukkan perasaan sayangnya kepada Rina. Ia mendatangi tempat konser Rina, memberikan bunga saat Rina pulang sekolah dan berbagai tindakan cinta yang menurut anak muda terlalu lebai (berlebihan). Rina memang agak tertarik dengan Evan, tetapi sikap berlebihan dari Evan membunuh perasaan Rina yang mulai tertarik dengan Evan.

Melalui kisah ini tentu anak-anak kita perlu belajar bahwa perasaan positif yang mereka miliki tidak dapat diekspresikan sesuka hati mereka. Mereka perlu mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang dapat diterima oleh orang yang menerima mereka. Itu berarti tidak menjadikan orang yang mereka cintai sebagai objek dari perasaan mereka. Hal ini dapat kita antisipasi dengan mengajarkan anak-anak kita mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang sehat dan baik. Misalnya, saat mereka menerima kado kesukaan mereka, mereka dapat belajar untuk mengungkapkan, “Aku menyukai kado ini, Pap. Sangat berkesan!” atau sebaliknya saat mereka tidak menyukai sikap orangtua, mereka dapat mengatakan, “Mama, saya kesal mengapa Mama tidak konsisten. Apa yang Mama katakan minggu lalu, tidak Mama lakukan sekarang!” tanpa menunjukkan kegeraman dengan membanting pintu atau mengurung diri di kamar, bahkan keluar dari rumah untuk menunjukkan kemarahan mereka. Jika pelatihan pengungkapan emosi secara sehat ini berhasil, tentu anak-anak kita saat remaja nanti dapat lebih mengungkapkan perasaan cinta mereka secara sehat. Bahkan mempertahankan komitmen mereka sekalipun perasaan mereka sempat dilukai.

Kedua, Bertumbuh dalam cinta lebih baik daripada jatuh cinta.

Seorang yang berkomitmen untuk mencintai seseorang, akan semakin menyayangi pasangannya saat melihat hal yang baik dari pasangannya. Namun saat ia berhadapan dengan hal buruk dari pasangannya, ia belajar untuk mempertahankan cintanya dan mendoakan agar yang dicintainya dapat Tuhan ubahkan ke arah yang baik dan membangun.

Dalam perjalanan hidup Dila (seorang remaja dan bukan nama sesungguhnya), ia sering kali jatuh cinta. Ia senang jika melihat pria gagah, pandai dan baik hati. Dan jika ada gayung bersambut, ia akan segera menerima cinta pria tersebut. Namun sayangnya, ia beberapa kali gagal pacaran hanya karena ia merasa bahwa pacarnya tidak memperhatikannya setiap hari. Cinta yang dimilikinya sangat egois dan ia tidak melihat pacaran sebagai wadah untuk saling mengerti, berbagi dan membangun. Rupanya relasi yang dibangun hanya karena alasan jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat cinta anak-anak kita semakin mementingkan diri sendiri. Tentu anak-anak perlu diajak untuk mengerti bahwa bertumbuh dalam cinta berbeda dengan hal itu. Bertumbuh dalam cinta berarti membiarkan cinta yang dimiliki tetap ada dan bertahan mengalahkan egoisme diri.

Bertumbuh dalam cinta dapat dilatih dalam keseharian dengan membiasakan anak-anak kita tetap bercakap-cakap dengan kita dan menyatakan rasa sayang mereka kepada kita sekalipun mereka tidak sepaham dan sepakat dengan kita sebagai orangtua.

Ketiga, “Putus nyambung putus nyambung” bukanlah sikap seorang remaja yang kristiani.

Lagu-lagu di dunia ini menawarkan relasi yang singkat dan tidak tangguh. Anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang tidak terbiasa memperbaiki relasi tetapi menyudahi relasi saat sesuatu yang mengusik perasaan mereka terjadi. Untuk itu, anak-anak sejak kecil sampai remaja perlu kita arahkan untuk belajar bertahan menghadapi konflik maupun konflik batin mereka. Caranya, mereka perlu dilatih sejak dini untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik itu perasaan negatif atau positif. Setelah itu, kita mengajak anak-anak kita untuk mengolah perasaan negatif mereka, baik melalui diskusi maupun self talk (bicara dengan hati nurani sendiri), sehingga saat anak-anak kita beranjak remaja, mereka menjadi remaja-remaja yang tangguh menghadapi konflik karena mereka menemukan jalan untuk menyelesaikannya dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.

Tentu saja hasil yang diharapkan dari ketiga hal di atas, anak-anak kita memiliki sikap yang dewasa saat merasakan jatuh cinta. Saya membayangkan anak-anak remaja kita akan mengatakan, “Mom, Dad, I think I’m in love.” Menyenangkan sekali rasanya seperti yang Mama dan Papa ceritakan. Tetapi saya tahu bahwa saya perlu menguji perasaan ini melalui persahabatan dengannya dalam jangka waktu tertentu. Doakan agar kami bertumbuh bersama dalam kedewasaan dan dalam iman. Siapa tahu, memang dialah orangnya dari Tuhan buat saya! J”

Daripada mereka mengatakan, “Mam, saya sudah punya pacar. Saya mencintai dan ingat kepadanya setiap malam. Dan kami sangat menikmati pacaran kami.” Lalu beberapa minggu kemudian dia mengatakan, “Pap, rasanya saya tidak mencintainya lagi. Dia begitu menyebalkan. Kami benar-benar tidak cocok!”

Dan hal di atas terjadi berulang sampai mereka menikah. Tidakkah ini dapat kita antisipasi sejak dini? Kiranya Tuhan memberi hikmat dan pengertian kepada kita untuk meneruskan hikmat-Nya dan pengertian-Nya kepada generasi kita selanjutnya!

Pdt. Riani Josaphine

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan