Hukum Emas

Hukum Emas

Belum ada komentar 68 Views

Sejak masih di Sekolah Dasar, aku sering diundang ke pesta ulang tahun teman. Pesta yang sangat menyenangkan! Balon dan kembang api! Ruangan yang didekor indah dan makanan minuman yang lezat! Teman yang berulang tahun tampak tersenyum ceria, dengan baju bagus, diapit orangtua dan saudara-saudaranya, meniup lilin kue tar, dan menerima banyak kado.

Sempat aku merasa iri karena tidak ada kebiasaan merayakan ulang tahun dalam keluargaku. Bahkan terkadang aku minder karena pakaianku tidak sebagus pakaian teman-temanku. Mama tidak memandang perlu untuk memakai baju baru di pesta. Sudah cukup bila bajuku bersih dan sopan. Sepatuku juga selalu sepatu kain berwarna hitam, seperti sepatu kungfu. Pernah dengan sengaja aku merusak sepatuku dengan menggunting ujungnya tapi Papa membelikan sepatu baru: sepatu kain berwarna hitam dengan model yang sama, hanya dengan ukuran yang lebih besar!

Sampai suatu hari aku mendengar Bapak Pujadi, guru agama di SMAK I BPK Jabar Cirebon, menjelaskan bahwa “The golden rule of life is to do for others what you want them to do for you” (Hukum emas hidup ini adalah melakukan pada orang lain apa yang kamu ingin mereka lakukan padamu).

Maka aku memutuskan untuk memulai kebiasaan merayakan ulang tahun dalam keluargaku. Ulang tahun Papa jatuh pada tanggal 13 April dan ulang tahun Mama pada tanggal 29 April. Selama dua bulan aku membuat sulaman pemandangan alam yang kemudian dibingkai, dan bersama adik-adikku membeli sepatu sandal buat Papa (selain uang hadiah kejuaraan, aku sudah menabung penghasilan dari melatih karate). Pada hari ulang tahun Papa, kami meletakkan semua hadiah itu di atas ranjang kamar Papa dan Mama, ditambah kartu ucapan selamat ulang tahun dan puisi. Kami tidak tahu apakah Papa menyukai hadiah yang kami berikan, tapi kami merasa senang sekali dapat memberi tanda kasih kepadanya. Kami juga melakukan hal yang sama untuk Mama. Melalui perdebatan yang seru, akhirnya kami memilih blus untuk hadiah Mama.

Walaupun Papa dan Mama tetap tidak merayakan ulang tahun kami, anak-anak mereka, tahun-tahun selanjutnya kami terus merayakan ulang tahun mereka. Ada saja ide-ide kreatif yang muncul, seperti membelikan satu set meja makan supaya kami bisa makan bersama. Sekarang kami masing-masing (tidak lagi kolektif) memberi hadiah buat Papa dan Mama, karena kami tidak lagi tinggal di kota yang sama (bahkan adik keempatku sudah menjadi warga negara Singapura). Pada suatu kesempatan menengok Papa dan Mama, aku mengobrol sambil berbaring di samping Mama, lalu ia menunjukkan kedua kakinya yang dihiasi gelang kaki gemerincing, hadiah dari adik bungsuku. Mama merasa geli memakai gelang di kaki. “Seperti penari India,” katanya.

Namun aku mendapat kejutan pada hari ulang tahunku yang ke-17. Banyak sekali teman, baik dari sekolah Kristen maupun sekolah negeri, datang ke rumah dengan membawa makanan dan minuman. Akhirnya aku mengalami juga apa yang sering kuimpikan: pesta ulang tahun. Aku memotong kue ulang tahun dengan diapit Papa dan Mama, serta menerima banyak kado. Pesta itu sendiri merupakan kado istimewa bagiku! Di akhir pesta, kekasihku Agus Hamdani juga datang dari Jakarta dan memberiku hadiah jam tangan. Aku sangat bahagia.

Bertahun-tahun kemudian setelah menikah, selalu ada kejutan manis pada hari ulang tahunku. Antara lain pada ulang tahunku ke-38, saat kami bersiap-siap untuk tidur dan aku sudah memakai pakaian tidur dan sikat gigi, tiba-tiba suami dan anak-anak membawa kue tar. Lalu setiap anak memasangkan gelang emas di tanganku!

Dua tahun lalu, setelah makan malam bersama di restoran, kamipun tidur dengan perut kenyang. Tengah malam pukul 12 lebih, pintu kamar diketuk oleh anak-anak. Kami kaget kalau-kalau ada yang sakit. Ternyata mereka membawa kue tar, seikat bunga dan sebungkus hadiah untukku! Mereka menyanyikan “Happy Birthday Mama!” dan mencium pipiku. Mereka meminta maaf karena tidak bisa membungkus hadiah dengan rapi. Ah! Aku kehilangan kata-kata.

Sungguh Tuhan sanggup dan akan menggantikan semua yang hilang dalam hidupku! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!

 

Eva Khaliska Hamdani

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan