Hidup Adalah Pilihan

Hidup Adalah Pilihan

Belum ada komentar 46 Views

Mulai awal Mei 2006, salah satu televisi swasta menyajikan program acara yang cukup spektakuler, jika diukur dari hadiahnya. Bayangkan dua miliar rupiah! Peserta setiap saat dihadapkan pada pilihan. Mau duit atau kotak, kalau sudah pilih kotak, ditawari lagi apakah mau ditukar dengan yang ada di dalam tirai. Dan, pilihan yang diambil akan sangat menentukan hadiahnya, bisa dapat mobil, tetapi bisa juga dapat zonk yang isinya, misalnya sepatu bekas. Pilihan yang cukup sulit, tetapi di situlah menariknya acara kuis ini.

Dari waktu kita membuka mata pagi hari, sampai kita memejamkan mata kembali malam hari, kita dihadapkan pada berbagai pilihan, ya, hidup ini memang harus memilih. Pagi ini kita mau keramas atau tidak, mau pakai baju putih celana biru atau baju hijau muda celana hijau tua. Langsung ke klien atau ke kantor dulu. Sarapan roti plus susu atau nasi goreng plus telur mata sapi.

Memang, hidup adalah pilihan. Bahkan, kita bisa memilih hidup atau mati. Kalau hidup adalah pilihan, kenapa kita tidak memilih yang enak atau yang nyaman saja? Kalau bisa memilih senyum, kenapa mesti cemberut? Kalau bisa memilih tertawa, kenapa mesti menangis? Dan seterusnya. Hidup kita sangat ditentukan oleh pilihan kita, apakah hidup kita hari ini penuh dengan warna, kelabu bahkan hitam kelam.

Menjadi apa kita dalam hidup ini, juga suatu pilihan. Setelah lulus SMA, kita akan menyelesaikan studi hingga memperoleh gelar sarjana, kemudian bekerja sebagai karyawan; atau kita akan merintis usaha sendiri. Atau, pilihan lain yang jumlahnya tidak terbatas. Tetapi, apa pun pilihan kita, yang penting adalah mengupayakan pilihan kita agar menjadi kenyataan. Karena apa pun yang kita kerjakan pada masa lampau akan memengaruhi keadaan kita masa kini, dan apa yang kita persiapkan sekarang akan menentukan menjadi apa kita kelak. Masa depan kita tidak tergantung pada nasib, tapi nasib kita tergantung pada apa yang kita upayakan sekarang untuk mencapai seperti apa yang kita pilih, dan di dalam perkenan-Nya, tentunya.

Ya! Hari ini aku mau memilih yang bagus-bagus saja. Masuk kantor, aku langsung mengucapkan selamat pagi dengan ramah kepada setiap orang yang kutemui. Eh… ternyata mereka membalas dengan ramah juga, ternyata sangat menyenangkan. Siangnya aku ke bank, kuucapkan terima kasih dengan tulus kepada satpam yang membukakan pintu, ternyata ia tersenyum. Ternyata satpam bisa ramah juga. Hari ini adalah hari yang luar biasa bagiku. Hari yang penuh keramahan, hari yang menyenangkan. Bahkan, tukang parkir pun yang biasanya bikin bete, hari ini ikut-ikutan ramah, sungguh mencengangkan.

Di atas makam seorang Bishop Anglican di Westminster Abbey, tertera tulisan:

”Waktu muda saya ingin mengubah dunia. Makin tua saya ingin mengubah negara, lalu keluarga saya. Namun semuanya gagal. Akhirnya saya sadar. Jika saya dapat mengubah diri saya sendiri dengan memberikan teladan, maka saya dapat mengubah keluarga dan dunia.”

Hari ini saya belajar banyak bahwa sesuatu itu harus dimulai dari diri sendiri. Kalau ingin orang lain tersenyum, maka tersenyumlah terlebih dahulu. Jangan mengharapkan orang lain berubah, tetapi berharaplah diri kita berubah terlebih dahulu. Kalau kita isi hidup ini dengan pilihan yang penuh warna, berwarnalah dunia ini, seperti langit yang dihiasi pelangi.

Tuhan, terima kasih atas anugerah-Mu, dunia yang penuh warna.

Selamat menentukan pilihan!

Eddy Nugroho

____________________________

*) Diambil dari buku ”SETIAP LANGKAH ADALAH ANUGERAH”, Eddy Nugroho, GLORIA GRAFFA, Cetakan 3, Desember 2008.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Refleksi
  • YESUS Kalah Voting
    Ingar bingar pesta politik di Jakarta sudah dimulai. Pilkada Gubernur DKI Februari 2017 mendatang sudah mulai gaungnya dengan masa...
  • Menjadi Saksi Bagi Sang Terang
    Kegaduhan dalam menyiapkan sukacita Natal sudah terasa sejak memasuki masa penantian pada Adven pertama. Mal dan toko-toko sekitar perumahan,...
  • Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Kumar Kashyap yang biasa dipanggil Prince — seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun—mengalami musibah. Ia terjebak di sumur sedalam...
  • Bermimpilah yang Besar
    Bermimpilah yang Besar
    “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3) Pada suatu hari yang panas tahun 1984, orang-orang di...
  • Apel-apel Yang Memar
    Apel-apel Yang Memar
    Beberapa tahun yang lalu, sekelompok wiraniaga menghadiri suatu pertemuan penjualan di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka...
Kegiatan