Gula yang Tidak Manis

Gula yang Tidak Manis

Belum ada komentar 14 Views

Peristiwa ini dimulai sekitar pertengahan Maret lalu. Pada suatu Senin malam, suami saya merasa kaki kanannya pegal dan agak bengkak sehingga saya mengurutnya dengan arak, seperti biasa saya lakukan kalau salah urat atau sakit kaki. Namun kali ini rasa sakit itu tidak berkurang, bahkan tengah malam semakin menjadi-jadi. Saya sudah memeriksa apakah di kaki yang bengkak itu ada bekas gigitan serangga atau luka, tetapi tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.

Keesokan harinya, kaki itu sudah bengkak sampai pertengahan betis, berwarna merah dan terasa panas, sehingga saya mengajak suami saya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit rematik. Di sana suami saya ditanya apakah ia menderita penyakit gula, karena obat untuk rematik akan menaikkan gula darahnya. Memang kadar gula darah suami saya sudah dua bulan ini sedikit di atas normal. Pada saat puasa, kadarnya sekitar 110-115 dan dokter endokrinologi mengatakan bahwa jika berat badannya bisa turun, pasti gula darahnya akan normal kembali. Suami saya yang saat ini berusia 61 tahun, memang sedang mengikuti program diet untuk menurunkan berat badannya.

Selama makan obat rematik, kadar gula darahnya terus dikontrol, dan selalu di bawah 160. Namun sekitar lima hari kemudian, muncul tiga pelepuhan di mata kaki suami saya, yang kira-kira sebesar koin Rp 100,-. Oleh dokter, saya dianjurkan untuk mengompresnya dan dua hari kemudian pelepuhan itu mengempis. Tapi keesokan harinya pelepuhan itu malah pecah, sehingga mengakibatkan luka. Hari itu kebetulan Paska dan libur panjang, sehingga dokter tidak praktik. Saya merawat sendiri luka itu dengan dibantu oleh beberapa teman dokter, sambil menunggu hari Senin tiba.

Sebenarnya sejak luka itu timbul, hati saya cemas sekali karena saya tahu akibat luka pada penderita diabetes, walaupun tampak kecil. Hari Senin, ketika suami saya kembali memeriksakan diri ke dokter, ia langsung disuruh opname. Dokter mengatakan bahwa luka itu harus segera ditangani dan bahwa pengobatan penyakit rematiknya bisa sambil jalan. Wah, benar dugaan saya, luka itu serius sekali! Malam itu juga suami saya diopname, dan mimpi buruk kami dimulai. Di sinilah kami belajar bersandar dan berserah penuh kepada Tuhan. Kami menyadari bahwa kalau hal ini terjadi pada kami, pastilah Tuhan mengizinkannya, tetapi Ia tidak akan membiarkan kami jatuh tergeletak (Mazmur 37:34).

Keesokan harinya, setelah melihat luka tersebut, dokter endokrinologi langsung berkonsultasi dengan dokter bedah. Hari itu juga dokter bedah datang memeriksa dan langsung merencanakan tindakan operasi pada keesokan harinya, guna membersihkan luka itu. Istilahnya sederhana, “membersihkan luka”, tetapi saya tahu bahwa operasi ini tidak sesederhana itu. Bengkak di kaki suami saya sudah sampai di bawah lutut. Saya berdoa kepada Tuhan agar kalau boleh, kaki suami saya jangan sampai diamputasi, tapi saya tidak berani memberitahu kemungkinan ini kepada suami saya. Saya lalu mengajaknya berdoa dan menyerahkan operasi ini sepenuhnya kepada Tuhan. Kami percaya bahwa Dia akan memberikan hal yang terbaik bagi kami.

Kami bersyukur bahwa kami tidak sendirian di dalam doa-doa kami. Tuhan memberikan kekuatan kepada kami melalui dukungan doa dan kasih dari hamba-hamba Tuhan dan teman-teman seiman. Salah satu penghiburan yang menjadi kekuatan kami ialah ayat-ayat dari Mazmur 23: Tuhan tidak selalu membaringkan kami di padang yang berumput hijau dan berair tenang tetapi terkadang Ia membiarkan kami berjalan di dalam lembah kekelaman. Meskipun begitu, Ia tidak akan meninggalkan kami. Gada dan tongkat-Nya akan menjaga kami.

Malam pun tiba dan kami sulit memicingkan mata, tetapi akhirnya kami terlelap juga dan cukup tidur untuk menghadapi saat-saat operasi. Ketika operasi berlangsung pada pagi harinya, hati kami sudah tenang, apalagi kami didampingi oleh hamba Tuhan dan teman-teman yang terus menguatkan kami.

Seusai operasi dan suami saya kembali ke kamar, saya sangat kaget melihat luka yang katanya “dibersihkan” itu, karena ternyata menganga mulai dari pertengahan betis sampai punggung kaki, berbentuk huruf L dengan ukuran kira-kira 20 x 10 cm! Tapi saya bersyukur karena Tuhan mengabulkan doa saya. Infeksi yang diderita oleh suami saya tidak sampai mengenai tulang, sehingga kakinya tidak diamputasi. Luka itu mengerikan sekali! Sampai sekarang kalau saya mengingat saat itu, saya masih menangis, tetapi tentu dengan suasana hati yang berbeda. Dulu saya menangis mengingat beratnya penderitaan yang harus dihadapi oleh suami saya, tetapi kini saya meneteskan air mata terharu dan penuh syukur atas kemurahan Tuhan yang selalu menolong kami menjalani ujian ini melalui mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya.

Sehari sesudah operasi, luka tersebut harus dibersihkan tiga kali sehari. Ini adalah saat-saat yang menakutkan bagi suami saya, karena sakitnya luar biasa. Bayangkan! Luka yang menganga 10×20 cm itu harus disiram H2O2 lalu NaCl 0,9%, setelah itu harus dipencet untuk mengeluarkan nanahnya. Pemakaian pain killer sebelum luka dibersihkan, ternyata tidak bermanfaat, jadi akhirnya tidak dipakai.

Meskipun begitu, suami saya masih bisa bercanda. Kalau ia mendengar suara kereta yang membawa peralatan ganti perban mendekat, ia selalu berkata, “Wah, tim penyiksa datang.” Semua ini harus dijalaninya selama empat hari, sesudah itu berkurang menjadi dua kali sehari. Kami menginap di rumah sakit selama 14 hari, lalu pada hari Rabu diizinkan pulang untuk datang kontrol lagi pada hari Senin di bagian endokrinologi.

Selama di rumah, kami memakai jasa perawat untuk mengganti perban sekali sehari. Ketika hari Senin kami datang untuk kontrol, dokter endokrinologinya senang sekali melihat pertumbuhan jaringan luka suami saya yang sudah bagus. Suami saya lalu dikonsulkan ke bagian bedah plastik untuk menjalani skin graft (cangkok kulit) karena lukanya sangat besar. Sebenarnya suami saya bisa juga tidak menjalani cangkok kulit, tetapi ia harus menunggu lama sampai kulit di luka itu tumbuh kembali. Dokter ahli bedah plastik segera merencanakan skin graft itu satu minggu kemudian. Wah, kami senang sekali karena kemajuannya begitu cepat, tetapi semua ini juga dibantu oleh kadar gula darah suami saya yang selalu di bawah 110. Kami sangat bersyukur atas pertolongan Tuhan karena semua tindakan berjalan lancar.

Tapi pada hari Kamis, hasil laboratorium menunjukkan bahwa kadar albumin suami saya hanya 3,04. Dokter tidak berani melakukan operasi kalau kadarnya kurang dari 3,5 karena cangkok kulit tidak akan berhasil baik. Jadi suami saya terpaksa diopname lagi untuk mendapat transfusi albumin. Satu botol infus albumin yang berisi 100 cc biasanya hanya dapat menaikkan nilai kadar albumin dalam hitungan koma. Jadi kami berpikir, berapa botol infus albumin dan berapa hari lagi suami saya harus tinggal di rumah sakit?

Tiada lagi tempat kami mengeluh, hanya ke dalam tangan-Nya saja kami berserah, “Tuhan, Engkau tahu mana hal yang terbaik bagi kami, tolong beri kami kesabaran, kekuatan jasmani dan rohani dan terutama keberanian untuk suami saya dalam menjalani semua ujian ini.” Luar biasa, hanya dengan satu botol infus albumin, kadar albumin suami saya naik menjadi 3,57! Kami sangat bersyukur karena Tuhan kembali mengulurkan tangan pertolongan-Nya.

Skin graft lalu direncanakan untuk dilakukan pada hari Senin berikutnya. Tetapi lagi-lagi halangan datang. Di daerah paha kanan yang akan dijadikan donor kulit, tiba-tiba timbul bintik-bintik alergi sehingga operasi harus ditunda lagi, bahkan sampai hampir dua minggu karena ada hari libur dan dokter yang absen untuk menghadiri suatu kongres di luar kota. Aduh, saya hampir putus asa! Tapi lagi-lagi kasih dan dukungan doa dari hamba-hamba Tuhan dan teman-teman menguatkan kami. Tuhan tahu kapan waktu yang terbaik buat operasi ini. Selama masa menunggu itu, kami betul-betul belajar untuk menyerahkan semua kekuatiran dan ketakutan kami kepada-Nya.

Akhirnya hari H tiba juga pada tanggal 17 Mei 2010. Tuhan kembali turut bekerja. Biasanya sulit sekali memperoleh kamar di rumah sakit, apalagi saat itu kasus demam berdarah sedang merebak, tetapi suami saya mendapatkannya dengan mudah. Saya juga berpikir bahwa untuk alasan praktis, saya terlebih dulu mengantar suami saya ke kamarnya dan kemudian baru mengurus administrasi pendaftarannya, namun ternyata perawat di ruangan dapat mengerjakannya bagi kami. Sungguh kami mendapat banyak kemudahan sehingga kami yakin bahwa inilah saat yang tepat. Operasi yang semula dijadwalkan pukul 10 pun dimajukan pada pukul 8 pagi. Tentu saja kami senang karena semakin cepat selesai, semakin baik.

Operasi berlangsung kira-kira satu jam, dan pada pukul 13.00 suami saya sudah dipindahkan ke kamar. Seperti pada opname-opname sebelumnya, kali ini saya juga menemaninya di rumah sakit. Kami hanya menginap di rumah sakit selama dua malam, lalu empat hari kemudian datang kembali ke sana untuk kontrol dan ganti perban.

Ketika pertama kali ganti perban, dokter langsung berkata, “Wah kayaknya cangkok ini bakal berhasil 100%. Kemungkinan gagal sedikit sekali.” Tapi empat hari kemudian, ketika kami datang untuk ganti perban lagi, luka di paha suami saya menunjukkan alergi. Syukurlah, karena kadar gula suami saya terkontrol dan penyembuhan lukanya baik, dokter kemudian memutuskan untuk menghentikan pemakaian antibiotik karena ia menduga bahwa alergi ini berasal dari antibiotik. Dugaannya benar. Begitu perban dibuka empat hari kemudian, cangkok kulit itu benar-benar berhasil 100 %, sehingga dokter itu sendiri pun kagum, karena jarang sekali terjadi hal seperti ini. Sekarang kami tinggal menunggu tahap terakhir proses penyembuhan ini. Sekali lagi kami bersyukur karena Tuhan sudah memberi kami, terutama suami saya, kekuatan, keberanian dan kesabaran sehingga bisa menjalani semua ujian itu dengan baik. Amsal 17:22 mengajar kami untuk selalu mengawali dan mengakhiri semua hal dengan hati gembira.

Terima kasih untuk cinta, perhatian dan dukungan doa semua teman kami. Dengan berbagi pengalaman ini, kami ingin mengingatkan teman-teman diabetisi untuk tidak meremehkan penyakit ini, karena komplikasinya begitu banyak dan sangat mengerikan. Semoga bermanfaat. (dari seseorang yang peduli pada penderita Diabetes Mellitus atau Kencing Manis)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan