<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mana surat panggilannya ?</title>
		<link>http://gkipi.org/mana-surat-panggilannya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mana-surat-panggilannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7297</guid>
		<description><![CDATA[Mana surat panggilannya?&#8221; tanya seorang pewawancara  kepada seorang anak muda yang mendaftarkan diri ke sebuah sekolah teologi di Jakarta, setelah anak muda itu menjelaskan kepada si pewawancara bahwa ia ingin belajar di sekolah itu karena merasa terpanggil. Anak muda itu   kebingungan menjawab pertanyaan yang tak disangka-sangka itu. Agaknya si pewawancara, yang adalah seorang dosen kawakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="M" class="cap"><span>M</span></span>ana surat panggilannya?&#8221; tanya seorang pewawancara  kepada seorang anak muda yang mendaftarkan diri ke sebuah sekolah teologi di Jakarta, setelah anak muda itu menjelaskan kepada si pewawancara bahwa ia ingin belajar di sekolah itu karena merasa terpanggil. Anak muda itu   kebingungan menjawab pertanyaan yang tak disangka-sangka itu. Agaknya si pewawancara, yang adalah seorang dosen kawakan di sekolah teologi itu, ingin menguji kedalaman pemahaman anak muda itu tentang makna panggilan.</p>
<p>Bahwa Allah memanggil manusia untuk ikut berkarya di dalam misi-Nya, sudahlah pasti. Namun, bagaimana caranya? lewat suara menggelegar dari langit? lewat mimpi? atau apa? ternyata, ada banyak cara yang dipakai Allah untuk memanggil manusia terlibat di dalam misi-Nya dan ada beragam cara manusia untuk merespons panggilan itu. Salah satunya adalah dengan menjadi seorang pendeta, seorang yang dengan penuh-waktu mendedikasikan hidupnya bagi karya Kristiani. Namun, di samping itu, ada 1001 cara lain; melalui pekerjaan di segala bidang  kehidupan, melalui tugas sebagai pengelola rumah tangga, melalui tugas sebagai pelajar, dan sebagainya. Setiap orang perlu memaknai hidup dan karyanya sebagai sebuah jawaban atas panggilan Allah.</p>
<p>Bacaan kita dipenuhi dengan karya super-sibuk Yesus dalam memanusiakan manusia yang direndahkan karena sakit-penyakit. Belakangan, dikisahkan banyak situasi buruk lain yang juga dipulihkan oleh Yesus. Dalam rangka misi Allah itulah, Yesus memanggil para murid-Nya, mulai dari Simon, Yakobus, dan Yohanes. Yesus memanggil mereka untuk terlibat di dalam karya memanusiakan manusia dan memulihkan dunia. Setiap orang &#8211; termasuk Anda dan saya &#8211; bisa dan harus terlibat di dalamnya. Setidaknya, melalui keterlibatan kita, dunia ini berubah sedikit lebih baik.</p>
<p>Hari ini didedikasikan sebagai Minggu Panggilan, agar setiap warga jemaat kembali diingatkan bahwa ia sungguh-sungguh dipanggil Tuhan untuk terlibat dalam karya-Nya. Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan. Tapi, yang pasti, Anda harus melakukannya. Dan kita bisa melakukannya bersama-sama.</p>
<p>O, ya, anak muda dalam kisah singkat di atas adalah saya … dua  puluh empat tahun silam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Joas</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mana-surat-panggilannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akulah Terang Dunia</title>
		<link>http://gkipi.org/akulah-terang-dunia/</link>
		<comments>http://gkipi.org/akulah-terang-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:04:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7237</guid>
		<description><![CDATA[Karunia keselamatan yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam kehidupan manusia, bukan hanya keselamatan jiwa yang memberikan ketenangan batin, tetapi secara menyeluruh sebagaimana yang digambarkan dalam bacaan kita hari ini. Tuhan Yesus melakukan pemulihan fisik orang yang buta tapi juga sekaligus memulihkan kehidupannya secara menyeluruh. Orang yang disembuhkan itu dapat kembali memiliki kemungkinan untuk menjalin hubungan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="K" class="cap"><span>K</span></span>arunia keselamatan yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam kehidupan manusia, bukan hanya keselamatan jiwa yang memberikan ketenangan batin, tetapi secara menyeluruh sebagaimana yang digambarkan dalam bacaan kita hari ini. Tuhan Yesus melakukan pemulihan fisik orang yang buta tapi juga sekaligus memulihkan kehidupannya secara menyeluruh. Orang yang disembuhkan itu dapat kembali memiliki kemungkinan untuk menjalin hubungan yang lebih luas dengan masyarakat di sekitarnya dan tentu saja ia menjadi lebih percaya diri sehingga dapat melakukan kegiatan seperti orang-orang pada umumnya.</p>
<p>Pernyataan Yesus&#8221;Akulah Terang Dunia&#8221; menunjukkan pada ciri dan karakter dari terang atau sinar atau cahaya yang senantiasa menyinari setiap segi dan ruang yang ada di sekitarnya, dengan demikian terang itu tidak hanya berhenti pada hal-hal yang bersifat rohani tetapi juga hal-hal yang duniawi, yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Terang itu dapat menjadi berkat yang memberikan &#8216;pencerahan&#8217; dalam kehidupan seseorang, sehingga orang semakin mengenal kehendak Allah dalam kehidupannya, tapi juga sekaligus ‘menakutkan’ karena melalui terang itu, borok-borok, virus dan penyakit apapun yang ada dalam kehidupan seseorang menjadi nampak jelas dan memalukan, sehingga seseorang cenderung untuk menjauh dari Kristus Sang Terang Dunia itu. Hal ini nampak dari sikap orang buta yang dipulihkan, karena ia dapat melihat dan memaknai kembali segala sesuatu yang ada di sekitarnya dan sebaliknya sikap orang Farisi yang merasa ketakutan karena apa yang dilakukan Yesus telah memporakporandakan pengertian mereka tentang hukum Allah yang hanya berlaku sebagai ketentuan ilahi dan bukan sebagai kuasa yang menyembuhkan, memberdayakan dan membebaskan manusia.</p>
<p>Kita memang bukan terang itu, tetapi kita punya tugas untuk menyaksikan terang itu (Yohanes 1:8)</p>
<p>(TT)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/akulah-terang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gedung Gereja GIDI di desa Koyakoso Papua itu akhirnya berdiri</title>
		<link>http://gkipi.org/gedung-gereja-gidi-di-desa-koyakoso-papua-itu-akhirnya-berdiri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/gedung-gereja-gidi-di-desa-koyakoso-papua-itu-akhirnya-berdiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 15:41:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7279</guid>
		<description><![CDATA[Puji Tuhan, dengan perjuangan yang cukup melelahkan, hanya dalam kurun waktu 15 bulan akhirnya Jemaat Torsina Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), desa Koyakoso, Papua, dapat beribadah kepada Tuhan dengan tenang di sebuah bangunan gereja yang cukup indah, setelah 16 tahun merindukannya. Diawali dengan penyerahan bantuan dari Komisi Dikkesra, Panitia Natal, Charity Shop/Komisi Senior yang diantarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puji Tuhan, dengan perjuangan yang cukup melelahkan, hanya dalam kurun waktu 15 bulan akhirnya Jemaat Torsina Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), desa Koyakoso, Papua, dapat beribadah kepada Tuhan dengan tenang di sebuah bangunan gereja yang cukup indah, setelah 16 tahun merindukannya.</p>
<p>Diawali dengan penyerahan bantuan dari Komisi Dikkesra, Panitia Natal, Charity Shop/Komisi Senior yang diantarkan kepada jemaat yang sehari-harinya hanya hidup dari bercocok tanam bagi kebutuhan rumah tangga mereka, akhirnya pada awal 2010 yang lalu, jemaat GKI Pondok Indah yang diwakili oleh Bpk. Yan Watung dari Komisi Pekabaran Injil, menyerahkan dana awal bantuan Majelis GKIPI, ditambah dengan sumbangan dari dua warga GKIPI (FP &amp; SW), dan seorang warga GKI-Papua (BH) untuk membangun gedung gereja tersebut.</p>
<p>Bantuan tersebut diterima dengan rasa haru oleh Majelis GIDI dan jemaatnya, yang diwakili oleh Gembala Sidang mereka, Pdt. Marinus Yogosam, dan Pnt. Yulianus Wea/Sekretaris dalam sebuah ibadah pengucapan syukur. Tuhan Yesus telah memperhatikan jemaat kecil ini dengan mengutus sebuah jemaat yang jauh dari Papua untuk membantu mendirikan rumah Tuhan yang layak. Meskipun banyak orang sudah terlebih dahulu berkunjung ke sana, tetapi baru GKIPI-lah yang memberikan perhatian serius.</p>
<p>Setelah bantuan awal ini, ada lagi pengiriman bahan-bahan bangunan dari seorang warga GKIPI (BIY) lewat PT. KTB, dan akhirnya dalam perjalanan pembangunannya, jemaat GKIPI terlibat penuh dalam mengoordinasikannya hingga selesai. Biaya pembangunan gedung gereja untuk + 300 anggota jemaat dewasa ini ternyata cukup besar dan sempat tersendat pada awal 2011. Jemaat terus-menerus berdoa dan mendukung pembangunan ini dari penjualan hasil kebun mereka. Mereka juga menghubungi beberapa tokoh di Papua a.l. Ir. Jansen Monim, kepala DPU Prov. Papua, yang bersama Ibu Livlien Monim-Ansanay pada bulan April 2011 menjenguk mereka dan tergugah untuk membantu melanjutkan pembangunan gedung gereja ini dengan menyediakan tukang dan bahan-bahan bangunan sehingga akhirnya selesai pada bulan Oktober 2011.</p>
<p>Kini masih tersisa pembuatan MCK dan bak air untuk menampung air hujan, serta penyediaan 40 bangku dari kayu besi sepanjang 2m yang harganya Rp 500.000,- per buah. Dalam pembuatan MCK dan bak air, dua warga GKIPI (LS &amp; BIY) telah memberikan bantuan dan kini mulai dikerjakan oleh Panitia. Gereja ini direncanakan akan diresmikan pada bulan Januari 2012 bila semua kebutuhan bagi keseluruhan penyelesaiannya dapat terpenuhi dengan baik. (YW)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-48-7279">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-268" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-1.jpg" title="Gereja lama berdiri sejak 1994" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Gereja lama berdiri sejak 1994" alt="Gereja lama berdiri sejak 1994" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-269" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-10.jpg" title="Menikmati paha babi masak batu (barapen)" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Menikmati paha babi masak batu (barapen)" alt="Menikmati paha babi masak batu (barapen)" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-10.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-270" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-11.jpg" title="Masak barapen sebelum peletakan batu pertama" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Masak barapen sebelum peletakan batu pertama" alt="Masak barapen sebelum peletakan batu pertama" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-11.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-271" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-12.jpg" title="Kini gedung gereja berdiri dengan megah" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Kini gedung gereja berdiri dengan megah" alt="Kini gedung gereja berdiri dengan megah" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-12.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-272" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-13.jpg" title="Sukacita jemaat dapat beribadah di gedung gereja baru" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Sukacita jemaat dapat beribadah di gedung gereja baru" alt="Sukacita jemaat dapat beribadah di gedung gereja baru" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-13.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-273" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-2.jpg" title="Perumahan jemaat Koyakoso" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Perumahan jemaat Koyakoso" alt="Perumahan jemaat Koyakoso" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-274" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-3.jpg" title="Rapat panitia di gereja tua" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Rapat panitia di gereja tua" alt="Rapat panitia di gereja tua" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-275" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-4.jpg" title="Ibadah peletakan batu pertama" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Ibadah peletakan batu pertama" alt="Ibadah peletakan batu pertama" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-276" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-5.jpg" title="Jemaat siap membangun" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Jemaat siap membangun" alt="Jemaat siap membangun" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-277" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-6.jpg" title="Batu dan pasir disiapkan" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Batu dan pasir disiapkan" alt="Batu dan pasir disiapkan" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-278" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-7.jpg" title="Semen semen dari GKI Pondok Indah" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Semen semen dari GKI Pondok Indah" alt="Semen semen dari GKI Pondok Indah" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-7.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-279" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-8.jpg" title="Peletakan batu pertama dari GIDI" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Peletakan batu pertama dari GIDI" alt="Peletakan batu pertama dari GIDI" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-8.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-280" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/Papua-9.jpg" title="Peletakan batu pertama dari GKI PI &amp; GKI P" class="thickbox no_icon" rel="set_48">
								<img title="Peletakan batu pertama dari GKI PI &amp; GKI P" alt="Peletakan batu pertama dari GKI PI &amp; GKI P" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/papua/thumbs/thumbs_Papua-9.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/gedung-gereja-gidi-di-desa-koyakoso-papua-itu-akhirnya-berdiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Drama In Real Lives</title>
		<link>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/</link>
		<comments>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 15:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7275</guid>
		<description><![CDATA[Judul tersebut diambil dari majalah Reader Digest, yang isinya merupakan pengalaman nyata seseorang yang menghadapi suatu peristiwa yang cukup sulit, mencemaskan, mencekam dan hampir putus asa, namun akhirnya terlepas dari situasi tersebut. Lolosnya dia dari situasi tersebut disajikan secara dramatis, di luar kemampuan nalar maupun kekuatan fisiknya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menuturkan pengalaman pribadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul tersebut diambil dari majalah Reader Digest, yang isinya merupakan pengalaman nyata seseorang yang menghadapi suatu peristiwa yang cukup sulit, mencemaskan, mencekam dan hampir putus asa, namun akhirnya terlepas dari situasi tersebut. Lolosnya dia dari situasi tersebut disajikan secara dramatis, di luar kemampuan nalar maupun kekuatan fisiknya.</p>
<p>Tujuan tulisan ini adalah untuk menuturkan pengalaman pribadi yang benar-benar dialami oleh beberapa teman seiman kita. Biarlah para pembaca menilai sendiri, apakah pengalaman yang mereka alami itu temasuk mukjizat atau kejadian biasa (taken for granted), namun yang pasti, mereka masing-masing meyakini bahwa hanya tangan Bapa, Tuhan yang begitu mengasihi anak-anak-Nya, mengizinkan hal itu terjadi demi kemuliaan-Nya.</p>
<p><strong>JUST IN TIME</strong><br />
Pada saat istirahat usai jalan kaki pagi hari, yang mengawali acara retret Komisi Senior GKI PI di Pondok Remaja, saya melihat Pak Markus sedang berdiri seorang diri. Kesempatan itu saya pergunakan untuk berbincang-bincang dengannya. Mula-mula pembicaraan kami berkisar pada hal-hal biasa sekitar retret dan perkembangan Komisi Senior, namun kemudian berlanjut dengan kisah pengalaman sakit mata Pak Markus, yang berkat pertolongan Tuhan telah sembuh kembali. Saat itu waktu terlalu singkat untuk mendengar semuanya, dan kisah yang utuh baru terungkap ketika saya dan istri saya berkunjung ke rumahnya.</p>
<p>Peristiwa ini terjadi pada awal tahun April 1997. Ketika itu mata kiri Pak Markus terasa sakit yang kemudian menjalar ke belakang kepalanya. Dokter umum yang ditemuinya menganjurkan agar ia memeriksakan diri ke seorang internis, yang pada gilirannya menasihatinya untuk pergi ke dokter mata. Oleh dokter mata, ia disarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis syaraf. Di sana, dokter spesialis syaraf tersebut mengatakan bahwa Pak Markus mungkin menderita tumor di kepala dan dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis syaraf/tumor otak di RS. Mount Elizabeth, Singapura. Namun ketika Pak Markus menghubungi rumah sakit tersebut, ternyata ia tidak dapat segera diperiksa karena belum ada tempat yang kosong. Persoalan lain muncul karena paspor Pak Markus dan Bu Lian sudah kedaluwarsa.</p>
<p>Sebelum sakit, Pak Markus selalu mandiri dalam melakukan kegiatan rutinnya, termasuk menyetir mobil. Tetapi ketika keadaannya semakin memburuk, ia harus selalu dituntun oleh Ibu Lian. Sambil menunggu pengurusan paspor, Pak Markus kemudian memeriksakan diri ke dokter lain, yang menganjurkannya untuk pergi ke RSCM dan berkonsultasi dengan seorang dokter senior yang juga profesor di Universitas Indonesia. Ia mengatakan bahwa RSCM memiliki peralatan yang lebih lengkap, yang tidak dimiliki oleh banyak rumah sakit lain, seperti MRI.</p>
<p>Hasil pemeriksaan dokter ahli di RSCM mengatakan bahwa tidak ada tumor di kepala Pak Markus. Ia menderita glaukoma dan disarankan untuk segera memeriksakan diri kembali ke dokter mata. Namun, ke dokter mata mana? Puji Tuhan, Pak Markus teringat pada sahabatnya di klub tenis yang berprofesi sebagai dokter mata. Ia segera menelponnya dan diminta untuk datang keesokan harinya. Pak Markus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.</p>
<p>Keesokan harinya, sahabatnya itu menegaskan bahwa ia memang benar menderita glaukoma akut, yang jika tidak segera ditangani akan menyebabkan cacat mata. Hari itu juga, dan diteruskan sampai dua hari berikutnya, Pak Markus menjalani tindakan pembedahan. Sebenarnya praktik dokter mata ini sangat laris sehingga calon pasien yang ingin berkonsultasi kepadanya harus mengadakan janji temu dua bulan sebelumnya. Tetapi atas pertolongan Tuhan, Pak Markus dapat segera ditangani. Pembedahan yang cukup rumit itu pun berhasil, dan mata Pak Markus pulih kembali sehingga ia dapat beraktivitas lagi sebagai arsitek sampai sekarang.</p>
<p>Apa yang dialami oleh Pak Markus merupakan peristiwa yang sangat dahsyat. Dalam kurun waktu 3 hari ia ditangani oleh 7 dokter, dan dalam 3 hari berikutnya ia menjalani tindakan pembedahan yang rumit, yang terlaksana dengan sukses.</p>
<blockquote><p><em>Peliharalah aku seperti biji mata-Mu, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu (Mazmur 17:8)</em></p></blockquote>
<p>(Pak Markus memberikan saran bahwa jika para senior memeriksakan mata, sebaiknya pergi ke dokter mata dan tidak ke ahli kacamata saja, karena glaukoma dapat sewaktu-waktu menyerang kita, dan tidak terbatas pada usia lanjut. Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut, silakan menghubungi Pak Markus Anggana).</p>
<p><strong>IT’S A MIRACLE</strong><br />
Beberapa tahun yang lalu saya dan isteri saya menghadiri kebaktian pengucapan syukur di kediaman Pak Frits Sindu atas kesembuhan beliau dari sakit prostat, setelah melalui proses tindakan berkali-kali dan penderitaan fisik yang berat.</p>
<p>&#8220;It’s a miracle,&#8221; kata Bu Evie, istrinya. Dalam kamus Collins Cobuild (student dictionary) kata &#8220;miracle&#8221; didefinisikan sebagai berikut: &#8220;Miracle is a wonderful and surprising event that is believed to cause by God&#8221; (Mukjizat adalah peristiwa luar biasa dan mengejutkan yang diyakini disebabkan oleh Allah).</p>
<p>Peristiwa ini dimulai pada tahun 1980 ketika Pak Frits menemani ayahnya ke Jerman untuk menjalani pemeriksaan kantong kemih dan prostat yang terkena kanker. Adik Pak Frits seorang dokter dan sedang studi di sana. Pada waktu itu, Pak Frits mengantarkan ayahnya untuk berjumpa dengan temannya, seorang dokter Indonesia yang sedang mengikuti spesialisasi urologi di Jerman. Setelah diperiksa oleh dokter tersebut dan profesornya, ternyata penyakit ayah Pak Frits sudah memasuki stadium lanjut sehingga mereka menganjurkan agar ia dibawa kembali ke Indonesia. Sejak itu Pak Frits dan dokter urolog Indonesia ini tetap saling berkomunikasi.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, pada suatu hari urolog tersebut menghubungi Pak Frits. Ia sedang berada di Jakarta dan meminta bantuan Pak Frits untuk mengurus formalitas pabean dan imigrasi karena ia mengadopsi seorang bayi Indonesia yang hendak dibawanya ke Jerman. Pak Frits membantunya sehingga adopsi tersebut berjalan lancar dan bayi itu dapat dibawa ke Jerman. Sebelum berpisah, urolog tersebut berpesan bahwa kalau suatu hari nanti Pak Frits memerlukan bantuan medis, ia tidak usah segan menghubunginya dan sahabatnya ini akan berusaha membantunya. Pak Frits tidak menyangka bahwa hal ini kelak sungguh-sungguh akan menjadi kenyataan.</p>
<p>Pada tahun 1994 Pak Frits mulai merasakan kelainan pada waktu buang air kecil dan memeriksakan diri ke dokter urolog di Singapura. Sejak itu setiap tahun ia secara berkala memeriksakan diri untuk menjalani pemeriksaan PSA. Angka PSA ini pada tahun-tahun berikutnya perlahan-lahan meningkat dan beberapa kali melampaui batas normal sehingga Pak Frits beberapa kali dibiopsi, namun ternyata hasilnya bukan kanker tetapi infeksi.</p>
<p>Pada tahun 2005 terjadi lagi kenaikan angka PSA yang melampaui batas normal dan setelah dibiopsi ternyata hasilnya positif kanker prostat tetapi masih dalam stadium dini. Setelah dilakukan operasi di Singapura, hasilnya belum sepenuhnya bersih sehingga Pak Frits harus menjalani proses radiasi di sana setiap hari selama 40 hari. Setelah itu ia dinyatakan bersih dari kanker. Hanya sebagai akibat dari operasi dan radiasi ini, dalam 5 tahun berikutnya ia harus selalu memakai pampers karena inkonsistensi dalam pengeluaran urinenya.</p>
<p>Pada permulaan tahun 2010 terjadi penyumbatan di saluran kemihnya sehingga Pak Frits harus menjalani tiga kali operasi untuk melancarkannya kembali. Operasi itu dilakukan satu kali di Singapura dan dua kali di Jakarta. Ternyata pengobatan radiasi menyebabkan efek samping pada kantong kemihnya. Dindingnya perlahan-lahan terkelupas dan menyumbat saluran kemih. Karena hal tersebut, dokter memasang kateter untuk menghindari penyumbatan. Sebagai akibat pemasangan kateter ini, terjadi perdarahan jikalau Pak Frits berjalan, sehingga ia tidak berani turun dari tempat tidur untuk jalan-jalan. Selama tiga bulan ia hanya berbaring saja di tempat tidur. Saran-saran dari para dokter Singapura dan Indonesia untuk menangani hal tersebut dianggapnya tidak dapat menyelesaikan permasalahannya dan tidak memberikan kualitas hidup yang lebih baik kepadanya.</p>
<p>Akhirnya Pak Frits teringat pada sahabatnya yang dokter urolog di Jerman. Ia segera menghubunginya dan disarankan untuk menjalani pengobatan di Jerman karena di sana mereka sudah berpengalaman dalam menanggulangi kondisi seperti itu. Sahabatnya itu bahkan menjamin bahwa setelah operasi, Pak Frits akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Ia juga menguraikan bahwa kantong kemih Pak Frits akan dibuang karena tidak bisa dipertahankan lagi, dan dari ginjal, urine di saluran kemih akan dialirkan keluar melalui dinding perut dan ditampung oleh sebuah kantong. Tindakan tersebut disebut &#8220;urostomi.&#8221;</p>
<p>Mendengar hal tersebut Pak Frits sempat merasa kecil hati karena hal ini tidak umum. Tetapi dengan dasar keyakinan iman yang besar, ia percaya bahwa hal ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepadanya.</p>
<p>Meskipun kawan-kawan di Jakarta pada waktu itu menguatirkan keadaan Pak Frits yang harus melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan ke Jerman, tetapi dengan keyakinan dan iman bahwa semua hal ada di dalam kuasa Tuhan, maka akhirnya ia berangkat ke sana dengan didampingi oleh istri dan adik iparnya yang juga seorang dokter. Hasil operasi tersebut sangat memuaskan dan penyembuhan pun berjalan sangat cepat.</p>
<p>Tuhan sungguh memberkati seluruh rangkaian perjalanan ke Jerman ini. Di pesawat terbang yang membawa mereka ke sana, Bu Evie, yang semula duduk di kelas ekonomi, diberi kemudahan untuk duduk di kelas bisnis sehingga dapat terus membantu suaminya. Bu Evie dan adik iparnya juga mendapat penginapan yang cukup baik dengan biaya yang terjangkau, yang dikelola oleh seorang dokter Indonesia. Ada trem yang melewati penginapan tersebut menuju rumah sakit, sehingga biaya transportasi relatif murah. Keluarga dokter ini taat pada Tuhan dan sangat menolong dalam memberikan dukungan moral. Ada juga beberapa ibu Indonesia yang berkunjung menemani Bu Evie selama di Jerman.</p>
<p>Setelah Pak Frits sembuh dan kembali ke Indonesia, beberapa sahabat yang mengunjunginya melihat perbedaan nyata di dalam dirinya. Tidak tampak kelesuan di dalam dirinya, karena kini ia sudah sehat dan penuh vitalitas kembali. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pendeta dan teman yang mendukungnya dalam doa dan empati pada saat ia sakit. Tuhan sudah menjamahnya dan ia sembuh.</p>
<p>Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: &#8220;Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.</p>
<blockquote><p><em>Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.(Yesaya 43:1-2)</em></p></blockquote>
<p>Sola Gracia</p>
<p>Nono Purnomo (Penyunting)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raja Damai itu untuk Semua Orang</title>
		<link>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/</link>
		<comments>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 14:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7269</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu dua orang saudara kita menikah dan sesudah kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah, di luar gedung gereja, mereka melepaskan sepasang merpati, sebagai lambang pelepasan masa lajang. Tapi merpati juga lambang perdamaian. Tanpa diduga, kedua merpati itu terbang, tapi hanya di sekitar gereja. Nah, selesai acara selesai, Pak Teguh menangkap sepasang merpati putih itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu dua orang saudara kita menikah dan sesudah kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah, di luar gedung gereja, mereka melepaskan sepasang merpati, sebagai lambang pelepasan masa lajang. Tapi merpati juga lambang perdamaian. Tanpa diduga, kedua merpati itu terbang, tapi hanya di sekitar gereja. Nah, selesai acara selesai, Pak Teguh menangkap sepasang merpati putih itu dan memberikannya pada saya. Wah, saya terima dengan senang.</p>
<p>Tahukah Anda, apa yang terjadi dengan sepasang merpati ini, sampai detik ini. Hewan lambang perdamaian itu setiap hari, khususnya ketika diberi makan, selalu saling mematuk, berebut makanan. Sama sekali tidak ada damai. Sampai-sampai saya yang melihatnya ikut prihatin. Padahal sama-sama merpati, sama-sama putih, sama-sama lambang perdamaian.</p>
<p>Apakah kesamaan menjamin perdamaian? Sebaliknya, apakah perbedaan pasti memunculkan pertikaian? Saya makin percaya, bahwa persamaan memang bisa menyatukan, tapi juga bisa menjadi awal pertikaian. Sebaliknya, perbedaan, jika ditonjol-tonjolkan bisa mengakibatkan permusuhan, namun juga, jika diterima dengan arif, bisa memperkaya kebersamaan.</p>
<p>Dua agama besar di dunia ini, Islam dan Kristen, ditambah Yahudi, banyak bertikai, di Yerusalem atau malah di Ambon, walaupun sama-sama agama Abraham. Yang sering menjadi titik pertikaian justru hal-hal yang sama-sama ada di dalam tradisi keduanya. Bahkan, kalau kita menyaksikan sejarah Irlandia, Protestan dan Katolik, yang sama-sama mengaku Yesus sebagai Tuhan, bertikai dahsyat.</p>
<p>Karena itu, mungkin strategi Yesus menarik: Dia mencari murid yang berbeda-beda. Malah ada yang secara sosial bermusuhan: Matius, pemungut cukai, antek penjajah Roma, dan Simon orang Zelot, kelompok yang nasionalis yang paling membenci pemerintah Roma dan antek-anteknya. Keduanya dipersatukan menjadi murid Yesus.</p>
<p>Kita membaca dua kisah Natal tentang dua kelompok yang juga berbeda luar biasa: Gembala dan Orang Majus. Yang satu pribumi-Yahudi, yang lain orang asing. Yang satu miskin, yang lain kaya. Keduanya disapa oleh Allah dan diperkenankan untuk menjadi saksi-saksi pertama kehadiran Yesus di dunia.</p>
<p>Gembala adalah salah satu kelompok terendah di kalangan masyarakat Yahudi. Mereka nyaris seperti budak. Mereka lebih dianggap properti si tuan daripada manusia yang kebetulan bekerja untuk si tuan. Setelah mereka mendengar berita dari malaikat, dikatakan pada Lukas 2:16, mereka &#8220;cepat-cepat berangkat.&#8221; Berita dari malaikat itu jauh lebih besar daripada domba-domba mereka. Ada kemungkinan mereka meninggalkan domba-domba yang menjadi tanggung jawab mereka. Dan apa artinya itu? Sepulang mereka ke tempat asal mereka, risiko besar menunggu. Kemarahan tuan mereka! Syukur kalau hanya dipecat. Bisa jadi malah dihukum!</p>
<p>Lalu Orang Majus. Di drama-drama Natal Sekolah Minggu, biasanya ditampilkan adegan para gembala datang ke kandang menemui Bayi Yesus di palungan. Kemudian di samping mereka berlutut orang Majus. Jadi keduanya bertemu di hadapan Bayi Yesus. Gambaran ini tidak tepat sama sekali. Matius memakai kata &#8220;Anak&#8221; untuk menyebut Yesus. Jadi sudah pasti Yesus sudah bukan bayi lagi. Itu sebabnya Herodes membunuh bayi-bayi berusia 2 tahun ke bawah. Jadi ada kemungkinan Yesus berusia 2 tahun. Sudah lari-lari.</p>
<p>Tapi, yang mau kita lihat sekarang adalah ide dasarnya. Siapa orang Majus. Majus searti dengan Magi. Dari sini muncul kata Magic, sihir. Mereka adalah dukun, orang yang melihat makna hidup dari letak bintang-bintang. Itu agama mereka. Yang menarik, Allah memakai benda-benda alam itu untuk menunjuk pada Sang Bintang Timur, yaitu Yesus. Dalam pandangan orang Yahudi yang amat nasionalistis atau malah chauvinistik, orang-orang majus jelas orang pinggiran. Orang asing dan kafir. Masa masa itu, haram hukumnya buat orang Yahudi bersahabat dengan mereka.</p>
<p>Para gembala dan para majusi. Keduanya orang-orang pinggiran. Yang satu terpinggirkan atas dasar ekonomi. Yang lain terpinggirkan atas dasar ras.</p>
<p>Peminggiran seperti ini masih terus terjadi sampai detik ini. Yang miskin dipinggirkan. Makanya kalau ada anak dari keluarga biasa-biasa saja sudah lulus dari perguruan tinggi atau sukses dalam hidup, si orangtua biasa berkata, &#8220;Wah anakku sudah jadi orang.&#8221; Jadi kalau tidak sukses, belum sungguh-sungguh orang.</p>
<p>Yang bukan orang pribumi dipinggirkan. Agama juga jadi faktor pinggir-pusat. Mayoritas-minoritas jadi momok. Ketika kerusuhan Mei 97, saya amat sedih karena orang lebih suka mengidentifikasi diri sebagai orang pusat: Di mana-mana rumah diberi label: Pribumi asli. Sudah pribumi, asli lagi. Malah di daerah Pamulang, sebuah gereja yang tidak memakai sebuah ruko, ikut-ikut menulis: Milik X (agama tertentu).</p>
<p>Gender juga bisa jadi faktor. Perempuan jadi nomor dua di bawah laki-laki. Usia juga. Anak kecil atau orang tua, lansia, dipinggirkan.</p>
<p>Cara berpikir kita selalu ke pusat. Semakin ke pusat semakin jadi manusia. Semakin ke pinggir semakin berkurang kemanusiaannya. Di Amerika Serikat dulu, negro itu harta milik, yang bisa diperdagangkan. Bagi Hitler, orang Yahudi itu penyakit dunia yang pantas dieliminasi.</p>
<p>Orang Kristen yang dipinggirkan di Indonesia, bukannya berusaha bersikap kritis terhadap pola pusat-pinggir, malah ternyata sering memakai pola yang sama dalam lingkungannya sendiri. Di perusahaan, pegawai harus Kristen. Di rumah, malah pembantu rumah tangga harus Kristen. Kalau belum ya dikristenkan.</p>
<div id="attachment_7271" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar1.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-7269" title="gambar1"><img class="size-medium wp-image-7271" title="gambar1" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar1-200x123.gif" alt="" width="200" height="123" /></a><p class="wp-caption-text">gambar1</p></div>
<p>Ada dua kelompok yang terpinggirkan. (Gambar 1). Yang pertama secara ekonomi: Para gembala adalah orang pinggiran. Yang kedua secara ras: Para majus adalah orang pinggiran. Apa yang sama pada keduanya adalah: Mereka sama-sama datang pada Yesus yang juga ada di pinggiran. Allah datang ke dunia dengan cara yang mengagumkan. Ia datang sebagai orang hina, manusia lemah, lahir di palungan hewan. Begitu ekstrim. Dan ketika Ia mati, Ia mati dengan cara paling terkutuk: Di atas salib, tanda hukuman yang hanya cocok untuk kriminal terberat.</p>
<p>Raja Damai Itu Untuk Semua Orang. Bukan hanya orang pusat. Tapi juga pinggiran.</p>
<p><strong>Apa maknanya semua ini?</strong></p>
<p>1.    Di dalam ajaran Kristen ada istilah &#8220;orang pilihan.&#8221; Kita salah menafsirkan ajaran ini dengan mengatakan bahwa kalau &#8220;yang terpilih&#8221; berarti adalah &#8220;yang ditolak.&#8221; Lalu kita memakai pola yang sama: Orang Kristen itu pilihan, yang bukan Kristen itu ditolak. Tapi yang menarik: Semua orang pilihan yang ada di Alkitab itu justru orang-orang yang paling tidak layak di mata masyarakat. Yakub si penipu, dipilih. Abaraham yang mandul, dipilih. Paulus fundamentalis yang suka membunuh orang Kristen, dipilih. Jadi pemilihan tidak berarti yang lain ditolak. Tapi mereka dipilih untuk menjadi bukti dan contoh, bahwa kalau yang sebrengsek ini dikasihi Tuhan, maka semua orang juga dikasihi Tuhan.</p>
<p>Hati Allah tidak terarah pada orang-orang pilihan saja, tapi semua orang. &#8220;Karena begitu besar kasih Allah pada dunia ini.&#8221; Dalam 1 Petrus dikatakan bahwa Allah menghendaki SEMUA orang diselamatkan. Raja Damai itu untuk semua orang.</p>
<p>2.    Yesus datang bukan ke pusat, tapi ke pinggiran untuk menyatakan solidaritas-Nya dengan semua orang yang dipinggirkan. Jelas bukan kebetulan kalau semua yang terlibat dalam kisah Natal itu orang pinggiran. Para gembala, orang majus, perempuan bernama Maria, orangtua bernama Simeon dan Hana.</p>
<div id="attachment_7272" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar2.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-7269" title="gambar2"><img class="size-medium wp-image-7272" title="gambar2" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar2-200x123.gif" alt="" width="200" height="123" /></a><p class="wp-caption-text">gambar2</p></div>
<p>Yesus justru membuat lingkaran yang baru di mana Ia menjadi pusat yang berisi orang-orang pinggiran. (Gambar 2). Yang di pinggiran jadi di pusat dan yang di pusat jadi di pinggir. Itu sesungguhnya isi nyanyian Maria dalam Lukas 1:52-53.</p>
<p>Tentu saja, Yesus tidak menolak orang-orang kaya atau orang Yahudi, atau orang dewasa, atau laki-laki. Sama sekali tidak. Yesus hanya mengecam mereka yang menjadi label-label itu jadi pusat hidup. Kekayaan jadi pusat hidup, ras menjadi pusat hidup, dan sebagainya. Yesus mengasihi semua manusia. Dan Ia mengundang yang di pusat, yang sekarang justru di pinggir, untuk bergerak ke pusat yang baru. Menuju Yesus. Dan menuju Yesus berarti menuju mereka yang bersama-sama Yesus: Yang miskin, orang asing, anak kecil, yang tidak seagama dan sebagainya. Karena itu Yesus berkata, &#8220;Apa yang engkau lakukan pada salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, yang terpinggir ini, engkau sudah lakukan untuk Aku.&#8221;</p>
<p>3.    Lukas 2:20 &amp; Matius 2:12 menggambarkan bahwa para gembala dan para majus kembali ke dalam kehidupan mereka masing-masing. Tapi ada perubahan besar dalam hidup mereka. Dalam kasus gembala, mereka kembali &#8220;sambil memuji dan memuliakan Tuhan.&#8221; Ada kegembiraan hidup karena mereka menemukan pusat hidup mereka, pembela mereka, penghibur mereka. Dalam kasus orang Majus, mereka tadinya percaya dan bergantung pada bintang di Timur, kemudian setelah bertemu dengan Herodes, mereka patuh pada Herodes. Tapi setelah bertemu dengan Yesus, mereka patuh pada petunjuk Allah untuk pulang melalui jalan lain. Allah sudah menjadi pusat hidup mereka yang baru. Mereka menjadi saksi di dalam kehidupan mereka masing-masing, memberitakan PUSAT KEHIDUPAN yang baru: Yesus!</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagiku hidup adalah Kristus</title>
		<link>http://gkipi.org/bagiku-hidup-adalah-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bagiku-hidup-adalah-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 17:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7194</guid>
		<description><![CDATA[Dipojokkan dalam situasi yang sulit, seringkali orang beriman mengalami kebingungan menentukan sikap yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karena itu cenderung untuk kompromi. Rasul Paulus ketika berada dalam penjara dan menantikan keputusan hidup atau mati, ia tetap bersikap tenang sebab kemungkinan apa pun baginya sama saja. Pengalaman perjumpaan Paulus dengan Kristus dalam perjalanan menuju Damaskus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="D" class="cap"><span>D</span></span>ipojokkan dalam situasi yang sulit, seringkali orang beriman mengalami kebingungan menentukan sikap yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karena itu cenderung untuk kompromi. Rasul Paulus ketika berada dalam penjara dan menantikan keputusan hidup atau mati, ia tetap bersikap tenang sebab kemungkinan apa pun baginya sama saja.</p>
<p>Pengalaman perjumpaan Paulus dengan Kristus dalam perjalanan menuju Damaskus telah mengubah seluruh kehidupannya. Tak satu hari pun dijalani Paulus tanpa kehadiran-Nya, Kristus menjadi pusat kehidupannya. Kristus bagi Paulus bukan sekedar gagasan, pemahaman, pemikiran, melainkan Allah yang hidup. Allah yang selalu campur tangan dengan memberi kasih karunia keselamatan tetapi juga Allah yang memberi kekuatan untuk menjalani kehidupan ini. Karena itu terungkap kalimat &#8220;Bagiku hidup adalah Kristus&#8221;.</p>
<p>Bagi Paulus kematian adalah pintu masuk ke hadirat Kristus yang makin dekat, sebab melalui kematian persekutuannya dengan Tuhan semakin dekat, dia dapat bersekutu secara total dengan Kristus yang dikasihinya, dan selalu hidup dalam hadirat-Nya. Karena itu, &#8220;Bagiku&#8221; kata Paulus, &#8220;mati adalah keuntungan&#8221;.</p>
<p>Hidup atau mati bagi orang yang percaya pada Kristus adalah suatu anugerah. Karena itu rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat agar mereka menghidupi kehidupan yang dianugerahkan Allah itu dengan serius, suatu kehidupan yang berbuah-buah, suatu kehidupan yang menyelamatkan sekaligus memberdayakan, suatu kehidupan yang menegakkan keadilan dan kebenaran sekaligus juga suatu kehidupan yang taat berpegang pada kehendak Tuhan.</p>
<p>Namun di sisi lain, keberanian untuk menanggung penderitaan bersama Kristus juga harus dipahami sebagai suatu karunia. Sebab hidup dalam kasih karunia Tuhan adalah suatu kehidupan yang mengandung kemenangan, namun juga sekaligus seringkali ada dalam situasi pergumulan yang bahkan mengarah pada penderitaan memikul salib Tuhan.</p>
<p>(TT)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bagiku-hidup-adalah-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mata Hati Yang Tertuju Pada Kristus atau Diri Sendiri</title>
		<link>http://gkipi.org/mata-hati-yang-tertuju-pada-kristus-atau-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mata-hati-yang-tertuju-pada-kristus-atau-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 17:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7159</guid>
		<description><![CDATA[Tindakan mendengar dan kemudian memahami firman Tuhan, berbeda dengan memberlakukan firman itu dalam kehidupan sehari-hari. Firman itu bisa asyik di dengar bahkan seringkali memotivasi untuk berani melakukan kebaikan. Namun ketika mengarah pada tindakan pemberlakuan firman itu, yang terjadi adalah sebaliknya, betapa sulit dan penuh keraguan untuk berani melangkah mengikuti apa yang dikehendaki oleh Firman itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="T" class="cap"><span>T</span></span>indakan mendengar dan kemudian memahami firman Tuhan, berbeda dengan memberlakukan firman itu dalam kehidupan sehari-hari. Firman itu bisa asyik di dengar bahkan seringkali memotivasi untuk berani melakukan kebaikan. Namun ketika mengarah pada tindakan pemberlakuan firman itu, yang terjadi adalah sebaliknya, betapa sulit dan penuh keraguan untuk berani melangkah mengikuti apa yang dikehendaki oleh Firman itu.</p>
<p>Kehadiran Yesus di dunia, yang saat ini dipahami melalui perkataan atau ajaran-ajaran-Nya, menimbulkan suatu situasi krisis bagi umat manusia yang dipilih-Nya. Mereka harus mengambil suatu keputusan yang seringkali bertentangan dengan kebiasaan atau gaya hidup yang ditawarkan pada umumnya, sehingga tidak heran jika kemudian menimbulkan perlawanan dari pihak lain bahkan cenderung dibenci, dimusuhi dan dianiaya dari anggota keluarganya karena keputusannya untuk percaya dan mengikut Kristus.</p>
<p>Api yang dilemparkan oleh Kristus adalah api yang kudus, api yang mengarah pada perwujudan kasih, keselamatan dan damai sejahtera Tuhan. Hal ini tentu bertolak belakang dengan api permusuhan, api ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang yang acapkali ditawarkan oleh kehidupan ini.</p>
<p>Kehadiran Kristus di dunia ini mengajak kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaan mulia melemparkan api cinta kasih Tuhan, api pengampunan-Nya, api damai sejahtera, api semangat hidup, api pengharapan dan api yang menghangatkan hubungan persaudaraan antar manusia, serta api yang mendorong sesama untuk mengasihi dan melayani Allah.</p>
<p>Karena itu, marilah kita mengarahkan hidup kita pada pusat damai sejahtera dan bukan pada diri kita yang cenderung bersikap egosentri dan egoistis yaitu kecenderungan yang selalu tertuju kepada diri sendiri.</p>
<p>(TT)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mata-hati-yang-tertuju-pada-kristus-atau-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi Pengalaman</title>
		<link>http://gkipi.org/berbagi-pengalaman/</link>
		<comments>http://gkipi.org/berbagi-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 14:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7154</guid>
		<description><![CDATA[Khotbah Pdt. Rudianto Djajakartika di kebaktian pembukaan Bulan Keluarga tanggal 2 Oktober 2011, sangat menarik. Pdt. Rudi mengkhawatirkan gejala meningkatnya perceraian di antara pasangan Kristen, meningkatnya penerimaan seks di luar nikah dan terlibatnya orang-orang Kristen dalam kasus-kasus korupsi. Indikasi yang dikhawatirkan oleh Pdt. Rudi ini, sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari masalah pendidikan dan keteladanan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khotbah Pdt. Rudianto Djajakartika di kebaktian pembukaan Bulan Keluarga tanggal 2 Oktober 2011, sangat menarik. Pdt. Rudi mengkhawatirkan gejala meningkatnya perceraian di antara pasangan Kristen, meningkatnya penerimaan seks di luar nikah dan terlibatnya orang-orang Kristen dalam kasus-kasus korupsi. Indikasi yang dikhawatirkan oleh Pdt. Rudi ini, sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari masalah pendidikan dan keteladanan dalam keluarga.</p>
<p>Meningkatnya angka perceraian, khususnya di antara pasangan Kristen, menunjukkan indikasi bahwa pernikahan Kristen tidak ada bedanya dengan pernikahan-pernikahan lainnya, padahal dalam agama Kristen, pernikahan sudah dipersiapkan dengan mengikuti katekisasi pranikah, dengan percakapan-percakapan dengan calon pasangan suami istri dengan tujuan agar pernikahan tersebut dapat berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah kristiani, yang pada hakikatnya tidak mengenal perceraian.</p>
<p>Hal umum yang terjadi dalam mempersiapkan suatu pernikahan adalah lebih fokus kepada persiapan perayaan pernikahan, bukan pada pernikahan itu sendiri. Mulai dari memesan gedung, katering, pakaian, acara, MC, band, dekorasi, souvenir, undangan dan lain sebagainya yang memakan waktu paling tidak satu tahun. Ketika calon pasangan suami isteri ini ditanya bagaimana persiapan untuk memasuki kehidupan perkawinannya sendiri, biasanya mereka tidak bisa menjelaskan atau menjawab secara detail, seperti kalau ditanya tentang persiapan pesta pernikahan mereka. Biasanya mereka menjawab, &#8220;Ya&#8230;, mengalir sajalah&#8221;. Emangnya sungai, mengalir…</p>
<p>Pernikahan itu harus dibangun, harus dipelihara, harus di-&#8221;refresh&#8221;, mobil saja kita service berkala, AC di rumah juga, masa pernikahan disuruh mengalir saja? Kenapa kita harus memelihara dan meningkatkan kualitas relasi dalam pernikahan kita? Pernikahan tidak selalu berjalan dengan &#8220;smooth&#8221;, mungkin tidak semua pertengkaran atau perselisihan dapat diselesaikan dengan baik. Mobil saja kalau mulai ada bunyi-bunyi segera kita bawa ke bangkel, kalau tidak segera, maka kita akan mulai malas memperbaikinya. Semakin tua usia pernikahan kita, semakin kita malas untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kecil, yang sebetulnya sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik yang lebih besar.</p>
<p>Kita perlu tahu dan perlu diperlengkapi dengan cara untuk menyelesaikan masalah-masalah &#8220;kecil&#8221; seperti ini. Pengalaman bagaimana kita menyelesaikan perselisihan dengan benar dalam pernikahan, akan merupakan pengalaman yang amat berharga yang dapat kita bagikan kepada pasangan-pasangan lain atau kepada anak-anak kita, yang sudah mulai berpacaran atau yang baru memulai kehidupan pernikahannya. Kita bisa ikut mempersiapkan kehidupan pernikahan mereka daripada sekadar menyukseskan perayaan pernikahannya.</p>
<p>Untuk bisa memberitahu atau mengajarkan prinsip-prinsip komunikasi yang baik dan kristiani, tentunya kita harus melakukannya juga, harus menjadi teladan agar kita tidak cuma tahu teori saja, kita harus menjadi pelaku.</p>
<p>Ada satu program yang dimiliki oleh Badan Pelayanan Majelis Jemaat GKI Pondok Indah. Program ini diselenggarakan setahun sekali, menjelang atau pada bulan keluarga, khusus untuk para pasangan suami dan istri. Suatu program yang sangat bagus, yang bisa memperlengkapi pasangan suami istri untuk membiasakan diri menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara yang kristiani. Cara atau kiat-kiat ini, bisa dengan berbagi pengalaman iman, baik kepada pasangan lain maupun kepada anak-anak kita, agar mereka bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara berkomunikasi yang baik dan kristiani.</p>
<p>Dengan memiliki kebiasaan sebagaimana yang diajarkan dalam program tersebut, niscaya kita akan terhindar atau bisa menghindarkan pasangan lain dari pertengkaran yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan sehingga menjadi potensi untuk terjadinya perceraian.</p>
<p>Apakah kita juga mempunyai kekhawatiran yang sama dengan Pdt. Rudianto sebagaimana yang diungkapkan dalam khotbahnya tersebut? Lalu adakah usaha kita untuk meminimalisir kekhawatiran itu, paling tidak kita mulai dari diri kita sendiri.</p>
<p>Sindhu Sumargo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/berbagi-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IA Diam di Antara Kita</title>
		<link>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 13:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7150</guid>
		<description><![CDATA[Kerap kita ucapkan harapan dan doa kita bagi orang lain dengan kata-kata ini: &#8220;Kiranya Tuhan menyertaimu&#8230;&#8221; Tentunya indah dan pasti tidak keliru harapan seperti ini. Pada lembar uang Dollar Amerika tertera harapan yang sama: &#8220;God be with us.&#8221; Ia mau mengingatkan para penggunanya untuk menggantungkan hidup pada Tuhan bukan semata pada uang. Atau agar tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerap kita ucapkan harapan dan doa kita bagi orang lain dengan kata-kata ini: &#8220;Kiranya Tuhan menyertaimu&#8230;&#8221; Tentunya indah dan pasti tidak keliru harapan seperti ini. Pada lembar uang Dollar Amerika tertera harapan yang sama: &#8220;God be with us.&#8221; Ia mau mengingatkan para penggunanya untuk menggantungkan hidup pada Tuhan bukan semata pada uang. Atau agar tidak terjatuh dalam perangkap ketamakan. Bahkan konon salah satu moto &#8220;perang salib&#8221; adalah: &#8220;Imanuel&#8221;. Janji penyertaan Tuhan diharapkan menjadi pendorong dan penyemangat, bahkan jaminan untuk memenangkan perang membela Tuhan.</p>
<p>Namun berita kedatangan sang Kristus dalam Injil Yohanes berbunyi sedikit berbeda: &#8220;Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita&#8230;&#8221; (Yoh. 1:14). Ini adalah berita, bahkan penegasan, bukan sekadar harapan atau doa. Ia, sang Firman yang telah menjadi manusia, berkenan diam di antara kita. Sang Kristus berada, bahkan tinggal, di tengah kita manusia, di dunia kita yang carut-marut saat ini. Apakah lalu artinya ini?</p>
<p>Pertama-tama, Kristus adalah Tuhan yang berkenan diam atau tinggal di antara kita. Ia bukanlah bagaikan seorang pejabat pemerintah yang secara inkognito datang berkunjung. Ia ikut duduk, makan, bahkan untuk sementara tinggal bersama rakyatnya, tetapi setelah acara usai, ia kembali ke rumah dan kehidupannya semula yang indah dan mewah. Tuhan tidaklah seperti itu. Ia adalah sang Kristus yang sungguh-sungguh berkenan menetap di antara kita.</p>
<p>Itu berarti Ia berkenan untuk mengalami kehidupan ini bersama dengan kita di dunia kita. Ia berkenan menjalani pasang-surut hidup yang berat dan terkadang kejam ini. Ia adalah Tuhan yang berkenan menjadi bagian dari sejarah kemanusiaan dan hidup keluarga bahkan pribadi kita. Atau seperti yang digambarkan dengan amat indah dalam Mazmur 139, Ia adalah Tuhan yang meliputi kita, yang mengetahui entah kita duduk atau berdiri, mengenal pikiran kita, bahkan berada di belakang dan di depan kita.</p>
<p>Oleh karena itu kehadiran-Nya di tengah kita bukanlah sekadar &#8220;jaminan hidup&#8221; yang dijanjikan kepada kita untuk kemudian kita putuskan sendiri apakah kita akan memeganginya atau mengabaikannya. Ia datang ke dalam hidup kita dengan kasih-Nya, agar kita hidup dalam Dia dan dalam kasih-Nya. Ia ada di tengah kita agar hidup kita terjadi dalam realita hidup-Nya, serta dicirikan oleh realita kasih-Nya.</p>
<p>Itu sebabnya, hal berikut yang juga mesti kita cermati adalah bahwa kehadiran sang Kristus di tengah kita adalah kehadiran yang nyata, bukan sekadar ilusi. Dengan sangat mengharukan Yohanes menggambarkannya dalam 1 Yoh. 1:1, &#8220;Apa yang ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup &#8211; itulah yang kami tuliskan kepada kamu.&#8221;</p>
<p>Dalam penjelasan yang ringkas-padat itu, Kristus adalah Allah yang mestinya kita dengar, lihat dan raba. Pada Yohanes apa yang dialaminya bersama sang Firman hidup itu tak dapat membuatnya berdiam diri. Ia menuliskannya agar para pembacanya juga dapat mendengar, melihat dan meraba sendiri pengalaman bersama Kristus itu. Sebab untuk itulah Kristus lahir, atau tepatnya untuk itulah Kristus hadir di tengah kita, bahkan hingga saat ini! Yaitu agar kita mendengar, melihat, dan meraba sendiri Ia yang hadir di tengah kita!</p>
<p>Inilah seharusnya hakikat perayaan Natal kita. Kita bukan sekadar merayakan kelahiran Kristus, melainkan merayakan kehadiran-Nya! Dan kita rayakan itu seyogyanya dengan telinga, mata, dan tangan kita! Dan inilah yang seharusnya menjadi sumber kekuatan kita untuk berjalan ke depan dalam hidup ini, dengan segala pasang-surutnya.</p>
<p>Kita tak tahu apa yang akan kita hadapi dalam tahun 2012 yang kita jelang. Bila kita hanya merenungi berbagai masalah, peristiwa bahkan malapetaka yang terjadi di sepanjang tahun 2011 yang sebentar lagi berlalu, niscaya kita akan murung bahkan pesimistik. Oleh karena itu marilah kita merenungi dan memegangi berita tentang kedatangan sang Kristus dalam Yohanes 1 ini.</p>
<p>Ia adalah Tuhan yang berkenan diam di antara kita, di dunia kita, di tengah keluarga dan hidup pribadi kita. Ia bukanlah sekadar jaminan atau jimat, untuk sekadar kita pegangi atau kita abaikan. IA ada di tengah kita bukan sekadar wacana atau janji. Sebaliknya kehadiran-Nya adalah fakta yang bisa kita dengar, lihat dan raba dalam hidup kita. Dengan ini niscaya kita bukan hanya punya kekuatan ekstra menghadapi apapun yang bakal terjadi di tahun 2012, melainkan berjuang mengubah apapun yang bisa dan mesti diubah dalam realita kehadiran-Nya, yang bermaksud untuk membarui segala sesuatu dalam terang kasih Allah.&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Himne yang Menakjubkan</title>
		<link>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 12:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7143</guid>
		<description><![CDATA[And Mary said, &#8220;My soul magnifies the Lord, and my spirit has exalted in God, my Savior, because he looked graciously on the humble estate of his servant. For&#8211;look you&#8211;from now on all generations shall call me blessed, for the Mighty One has done great things for me and his name is holy. His mercy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>And Mary said, &ldquo;My soul magnifies the Lord, and my spirit has exalted in God, my Savior, because he looked graciously on the humble estate of his servant. For&ndash;look you&ndash;from now on all generations shall call me blessed, for the Mighty One has done great things for me and his name is holy. His mercy is from generation to generation to those who fear him. He demonstrates hearts. He casts down the mighty from their seats of power. He exalts the humble. He fills those who are hungry with good things and he sends away empty those who are rich. He has helped Israel, his son, in that he has remembered his mercy&ndash;as he said to our fathers that he would&ndash;to Abraham and to his descendants forever. (Luke 1:46-56)</p>
<p><strong>MEMAHAMI PESAN DARI MAGNIFIKAT MARIA</strong></p>
<p>Dari Lukas 1:46-56 kita akhirnya memiliki sebuah himne Gereja: the magnificat. Himne yang setara dengan Nyanyian Pujian Hana dalam Perjanjian lama di 1 Sam 2:1-10, seringkali digunakan sebagai dasar dari musik paduan suara dan himne-himne. Ada yang mengatakan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat, namun menurut Stanley Jones, magnifikat adalah dokumen yang paling revolusioner sedunia. Menurut Barclay, ada 3 revolusi Allah:</p>
<p><strong>1.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Moral</strong></p>
<p>Kekristenan adalah kematian dari kesombongan. Seorang Kristen agaknya perlu menyadari bahwa ia bukanlah pusat dari segalanya. Walaupun demikian setiap manusia perlu melihat siapa dirinya. Dan untuk itulah Yesus datang. Kristus memampukan seseorang untuk melihat dirinya sendiri dan menyadari keberdosaannya sehingga ia berbalik dengan melakukan sebuah revolusi moral.</p>
<p>Maria menyadari bahwa dirinya rendah. Tetapi Allah melihat dia yang rendah atau melihat kerendahan hambanya. Ini adalah kematian terhadap keangkuhan manusia dan dimulainya revolusi moral. Dan itu semua dilakukan dengan pertolongan Allah, dikatakan bahwa Allah menceraiberaikan orang yang congkak hatinya (He scatters the proud in the plans of their head), bukan Maria tetapi Allah. Dengan kata lain atau dalam bahasa lain berarti Allahlah yang membubarkan atau membatalkan pikiran dan rencana-rencana orang-orang yang sombong. Karena rencana orang congkak adalah menekan orang lemah dan meninggikan diri, bahkan juga secara rohani. Namun Allah melakukan hal lain. Ia menggagalkan rencana orang congkak dengan membuat rencana yang menakjubkan sehingga mereka tidak dapat menyombongkan diri mereka lagi.</p>
<p>Apakah kita juga merasakan seperti yang dirasakan oleh Maria? Bahwa di tangan Allahlah rancangan yang baik. Sedangkan kita adalah para pelaku yang dituntun untuk melakukan rancangan Allah yang baik itu, tentu saja dengan cara yang baik dan sesuai kehendak Allah.</p>
<p><strong>2.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Sosial</strong></p>
<p>He casts down the mighty&ndash;he exalts the humble (ayat 52). Ini adalah sebuah revolusi sosial. Revolusi sosial terjadi saat seorang Kristen meletakkan martabat dunia sebagai urutan kesekian dalam hidupnya dan bukan prioritas pertama. Itu dapat terjadi saat kita menyadari bahwa Kristus datang untuk semua orang. Ia yang tidak memikirkan martabat-Nya, melainkan memberikan diri-Nya untuk kita, saat itulah kita menyadari bahwa Dialah yang utama bagi kita.</p>
<p>Dalam Magnifikat Maria, Allah juga rupanya digambarkan sebagai orang yang tertindas, miskin dan hina. Sehingga saat Maria sampai ke rumah Elisabeth dan melihat Salam dari Elisabeth, ia diyakinkan bahwa langkah iman yang diambilnya, akan membawa pengaruh yang sangat besar bagi generasinya yang akan datang. Sebuah perubahan sosial sedang dan akan terjadi, saat Allah menyatukan dirinya dengan status orang-orang yang tertindas, miskin dan hina.</p>
<p>Revolusi sosial juga dapat kita lanjutkan dengan cara memberikan kesempatan kepada Allah untuk menggugah hati kita. Hati yang cenderung ditaklukkan oleh martabat dan kacamata dunia, kita diajak untuk melihat dengan kacamata Allah. Kacamata Allah yang hadir di dalam diri orang miskin, tertindas dan hina. Karena itu kita dipanggil untuk memperhatikan mereka seperti memperhatikan Allah.</p>
<p><strong>3.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Ekonomi</strong></p>
<p>Maria mengatakan, &ldquo;Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa&rdquo;. Terjemahan lainnya, He fills those who are hungry&#8230; those who are rich&#8230; he sends away empty&rdquo;. Ini adalah revolusi ekonomi. Kebiasaan orang-orang non-Kristen adalah mengumpulkan harta benda sebanyak yang mereka bisa dapatkan. Namun bedanya dengan masyarakat Kristen, menurut Barclay, kekristenan tampak saat masyarakatnya berani mendapat banyak, guna meneruskannya kepada yang lain.</p>
<p>Magnifikat Maria sungguh mengagumkan, namun lebih dari itu Magnifikat Maria seperti dinamit. Sebab revolusi seyogyanya terjadi atas orang-orang yang membaca dan menghayatinya. Sehingga perubahan besar juga dapat terjadi di dunia ini melalui orang-orang percaya yang telah digugah oleh pengalaman Maria. Pengalaman Maria merupakan titik awal bagaimana Tuhan melanjutkan karya revolusinya itu di dalam dunia ini dari generasi ke generasi dan di segala penjuru tempat.</p>
<p><strong>Pertanyaannya, akankah itu terjadi dalam kehidupan kita?</strong></p>
<p>Maria menjawab dalam Magnifikatnya, &quot;He has shown strength with his arm&#8230;&quot;. Dalam LAI, &quot;Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya..&quot; Kuasa Tangan Allah-lah yang rupanya menjadi andalan Maria. Di dalam Perjanjian Lama, untuk menggambarkan kekuatan dan kuasa dalam Keluaran 6:6, Allah menunjukkan diri-Nya dengan cara membebaskan umat dari perbudakan. Sedangkan dalam Yesaya 51:5, Allah juga menunjukkan kuasa tangan-Nya dengan membebaskan Israel dari penjajahan bangsa lain. Dalam hal ini Maria juga menggambarkan kekuatan tangan Allah yang berkuasa atas dosa orang-orang congkak dengan cara merendahkan orang-orang yang kuat (powerful). Sebaliknya, kuasa Allah ditunjukkan dengan belas kasihan-Nya atas milik-Nya sendiri. Tenses dari kata kerja yang digunakan dalam kalimat ini mengindikasikan bahwa Maria sedang menubuatkan masa depan. Ia memang belum secara jelas dan tuntas mengalaminya, namun ia seakan meyakini bahwa itu akan dan sedang terjadi.</p>
<p>Itu berarti dalam kehidupan kita, saat kita memegang nubuatan Maria, kita sekaligus meyakini bahwa tangan Tuhan juga dapat bekerja atas kita. Ia akan memampukan kita melakukan revolusi moral, revolusi sosial dan revolusi ekonomi.</p>
<p><strong>HAK ISTIMEWA</strong></p>
<p>Ketika Maria mengatakan bahwa sejak kini semua generasi akan menyebutnya berbahagia, apakah berarti Maria telah menunjukkan kesombongan atau kecongkakan hati? Tidak, sesungguhnya Maria sedang menyadari dan menerima anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya. Jika Maria menyangkal hak istimewanya itu, maka ia sesungguhnya juga telah menolak berkat Allah dan mengembalikannya kepada Allah.</p>
<p>Dalam life application Bible commentary, proud atau kecongkakan adalah sikap menolak untuk menerima anugerah Allah atau seakan membuat Allah yang justru berhutang kepada kita. Dengan demikian, jika Maria tidak memuji Allah maka sesungguhnya ia sedang menolak anugerah Allah. Sebab seorang yang rendah hati, menerima pemberian Allah dan menggunakannya untuk memuji dan melayani Tuhan. Magnifikat adalah bukti kerendahan hati Maria.</p>
<p>Selain itu, nyanyian Maria sekaligus mematahkan sterotipe bahwa seorang perempuan dan seorang muda, terlalu naif karena tidak memahami keadaan politik yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, dalam hal ini Maria sedang menyuarakan kenabian yang telah ada di Perjanjian Lama, khususnya mengenai tema-tema pembebasan, keadilan dan penebusan. Maria adalah seorang revolusioner di zamannya, dan mungkin juga di zaman ini. Dia menunjukkan visi Allah yang luas dan tujuan agung Allah, sekaligus isi hati Allah terhadap masyarakat yang ditindas. Nyanyian ini memiliki pesan yang kuat di tengah dunia yang berdosa dan di tengah opini Israel mengenai raja pembebas yang mereka nanti-nantikan.</p>
<p>Betapa istimewanya hak yang diterima oleh Maria. Hak istimewa juga diberikan Tuhan kepada kita, orang percaya. Hari Natal mengingatkan kita bahwa kita bukanlah penderita atau pelengkap dari Natal tetapi pelaku-pelaku yang meneruskan pesan Natal bagi dunia. Lakukan revolusi moral, revolusi sosial dan revolusi ekonomi di manapun kita berada.</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

