<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gkipi.org</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 02:47:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bekerja Dengan Hati  (Dan Roh Kudus)</title>
		<link>http://gkipi.org/bekerja-dengan-hati-dan-roh-kudus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bekerja-dengan-hati-dan-roh-kudus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 04:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3440</guid>
		<description><![CDATA[Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol. 3:23)
Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol. 3:23)</em></p>
<p><em>Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan. (Kel. 31:2-5)</em></p></blockquote>
<h3>1</h3>
<p>Konon, jumlah energi yang dikeluarkan untuk mengayun sebuah pacul ke tanah dan mengayun sebuah golf stick sama besarnya. Namun, seorang pegolf tentulah bakal merasa lelah jika harus mengayun pacul di sawah; sebaliknya, seorang petani, merasa sia-sia harus mengayun golf stick berjam-jam hanya untuk memukul sebuah bola putih yang keras itu. Jadi, ketika kita melakukan sesuatu, yang mengambil peranan penting di sana bukanlah sekedar tenaga yang kita keluarkan atau kewajiban yang harus kita kerjakan. Lebih dari itu. Apa pun yang kita kerjakan agaknya melibatkan hati, motivasi dan passion. Semua itu menjadi daya dorong dari dalam (inner drive) yang membuat apa pun yang kita kerjakan jadi punya makna.</p>
<p>Orang lain pun dengan mudah akan menangkap kesan tertentu, jika kita tengah mengerjakan sesuatu dengan hati atau tanpa hati. Mengerjakan sesuatu dengan kegembiraan dan semangat–bekerja dengan hati–pastilah membuat pekerjaan itu terasa ringan, menyenangkan dan malah membawa kegembiraan bagi orang-orang di sekitar kita. Ketika itu terjadi, pekerjaan dan permainan menyatu; homo faber (manusia yang bekerja) dan homo ludens (manusia yang bermain) menyatu dari diri seseorang. Karya yang dilakukan dengan hati, dengan demikian, bakal menjadi sebuah karya kreatif sekaligus rekreatif.</p>
<p>Masalahnya, kegembiraan, kerelaan dan rasa suka untuk mengerjakan sesuatu itu ternyata merupakan sebuah pilihan. Anda bebas memilih untuk suka atau tidak suka, gembira dan sedih, rela atau terpaksa, dalam mengerjakan sebuah tugas. Itu sebabnya, kata-kata Kahlil Gibran patut kita simak dengan seksama, “Pekerjaan dalam cinta kasih yang ditampilkan. Dan jika engkau tidak dapat bekerja dengan cinta kasih namun hanya dengan keterpaksaan, lebih baik kamu meninggalkan pekerjaanmu dan duduk di gerbang tempat ibadah dan mengemis pada mereka yang bekerja dengan sukacita.” Bekerja dengan cinta! Dan, ketahuilah, pekerjaan-dengan-cinta itu makin mendalam maknanya ketika dilakoni di dalam atmosfer cinta ilahi: cinta Allah pada kita dan cinta kita pada Allah–yang lantas berimbas pada relasi kasih sayang kita dan sesama. Jadi, apa pun yang kita lakukan, seperti nasihat Paulus, “perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 3:23)</p>
<h3>2</h3>
<p>Yang mengagetkan, bekerja dengan hati dan cinta hanya mungkin jika kita melakoninya dengan kekuatan Allah di dalam Roh Kudus. Mengapa mengagetkan? Karena Kitab Suci kita menuturkan bahwa orang pertama yang tercatat di Alkitab yang dipenuhi dengan Roh Kudus ternyata bukan para imam atau raja atau mereka yang demen dengan ibadah-ibadah ritual. Sama sekali bukan. Yang dipenuhi oleh Roh Allah pertama kali justru adalah seorang bernama Bezaleel, seorang pengrajin, seorang pekerja kasar (Kel. 31:2). Tidak ada kejadian spektakular dalam hidupnya, tak ada bahasa Roh, atau peristiwa fenomenal. Yang ada: keseharian seorang pengrajin.</p>
<p>Jadi, maukah Anda dipenuhi oleh Roh Kudus? Jika jawabannya adalah ya, maka saran saya sederhana saja: Kerjakan tugasmu dengan giat. Dengan hati dan dalam kuasa Roh Kudus. Jangan sekedar mengerjakan apa yang kau senangi, namun senangilah apa yang harus kaukerjakan.</p>
<address>Joas Adiprasetya</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bekerja-dengan-hati-dan-roh-kudus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tatkala Kita Merasa Benar&#8230;</title>
		<link>http://gkipi.org/tatkala-kita-merasa-benar/</link>
		<comments>http://gkipi.org/tatkala-kita-merasa-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 03:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3418</guid>
		<description><![CDATA[Bertobat berarti berbalik. Semula jahat menjadi baik, tadinya sesat berubah saleh. Dalam teks (Injil) kita hari ini, Yesus menyerukan pertobatan dari beberapa mentalitas dan/atau sikap hidup.
Pertama-tama, bertobat dari mentalitas “merasa benar” sehingga dengan mudahnya menghakimi orang. Bahkan mengaitkan malapetaka yang dialami orang lain dengan dosa, seolah kita, karena sudah percaya, tidak (lagi) berdosa sehingga tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="B" class="cap"><span>B</span></span>ertobat berarti berbalik. Semula jahat menjadi baik, tadinya sesat berubah saleh. Dalam teks (Injil) kita hari ini, Yesus menyerukan pertobatan dari beberapa mentalitas dan/atau sikap hidup.</p>
<p>Pertama-tama, bertobat dari mentalitas “merasa benar” sehingga dengan mudahnya menghakimi orang. Bahkan mengaitkan malapetaka yang dialami orang lain dengan dosa, seolah kita, karena sudah percaya, tidak (lagi) berdosa sehingga tak mengalami malapetaka yang serupa. Kita seperti pohon ara yang menduduki tempat khusus di sebuah kebun anggur, sehingga meremehkan tanaman lain di sekitar kita.</p>
<p>Yang kedua, bertobat dari mentalitas tidak bermanfaat. Kita seperti pohon ara yang berdiri di tempat yang begitu strategis, tetapi sama sekali tidak berbuah. Tentang ini Barclay mengatakan:”&#8230;uselessness invites disaster&#8230;”</p>
<p>Yang ketiga, bertobat dari “sudah tidak berguna masih menghabis-habiskan zat tanah di mana kita tumbuh”.  Dalam hidup ini tidak pernah berlaku hukum “hanya mengambil dan tidak memberi”. Setiap orang berhutang kepada kehidupan. Setiap orang percaya berhutang kepada Tuhan.</p>
<p>Syukur sang “pengurus kebun anggur” berkenan memohonkan kesempatan agar kita diberi waktu untuk bertobat. Inilah yang mesti kita renungkan di Minggu-minggu Pra Paskah ini. Yesus mati supaya seluruh dunia diselamatkan, bukan cuma supaya kita sendiri “merasa benar”.</p>
<p>PWS</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/tatkala-kita-merasa-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tatkala DIA Sungguh Dekat</title>
		<link>http://gkipi.org/tatkala-dia-sungguh-dekat/</link>
		<comments>http://gkipi.org/tatkala-dia-sungguh-dekat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 17:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3378</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita menyimak kalimat “Dia Sungguh Dekat!”, sebenarnya ada 2 makna setidaknya yang muncul. Di satu sisi, kalimat ini mengingatkan kita bahwa Dia memang tidak jauh dari kita. Dia hanya sejauh doa. Dia ada dalam segala situasi dan Dia hadir menemani kita. Di sisi lain, kalimat ini mengingatkan kita bahwa kedatangan-Nya sungguh sudah dekat.
Pemazmur dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="J" class="cap"><span>J</span></span>ika kita menyimak kalimat “Dia Sungguh Dekat!”, sebenarnya ada 2 makna setidaknya yang muncul. Di satu sisi, kalimat ini mengingatkan kita bahwa Dia memang tidak jauh dari kita. Dia hanya sejauh doa. Dia ada dalam segala situasi dan Dia hadir menemani kita. Di sisi lain, kalimat ini mengingatkan kita bahwa kedatangan-Nya sungguh sudah dekat.</p>
<p>Pemazmur dalam bacaan kita, setidaknya memahami kedekatan Allah seperti makna yang pertama. Pertanyaannya, bagaimana mungkin di saat pemazmur dikelilingi oleh musuh, penjahat dan tentara, ia tetap dapat mengatakan “Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan!” (ayat 13). Sebuah pernyataan iman yang meyakini bahwa Allah yang dekat itu akan berbuat kebaikan di tengah-tengah ketidakbaikan yang dialaminya.</p>
<p>Jawabannya, karena pemazmur sanggup memfokuskan pandangannya, imannya, pengharapannya pada kebaikan-kebaikan Allah saja.  Saya jadi teringat komentar warga jemaat yang hadir dalam berbagai ibadah. Ada yang berkomentar: bunganya tidak indah, sound system-nya buruk, pengkhotbahnya membuat mereka mengantuk, sehingga mereka menyimpulkan bahwa ibadah hari ini tidak menyenangkan. Sementara ada sebagian orang lagi yang mengatakan, “Ibadah hari ini menjadi berkat bagi saya”. Apa yang membedakan pendapat kedua dengan pendapat pertama? Bukan karena bunga-bunga lebih indah dalam ibadahnya, bukan pula karena sound system yang sempurna atau pengkhotbah yang dapat menghibur hati semua jemaat. Tetapi karena fokusnya lebih pada kebaikan-kebaikan Allah saja. Jadi, apakah saudara mau hari ini fokus menghayati, “Tatkala Dia Sungguh Dekat”, bahkan Ia membuktikan kedekatan-Nya melalui Perjamuan Kudus yang kita rayakan bersama. Ingat, kedatangan-Nya juga sungguh sudah dekat!</p>
<p>[Riajos]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/tatkala-dia-sungguh-dekat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruralisasi</title>
		<link>http://gkipi.org/ruralisasi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ruralisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 13:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3407</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 80-an saya menulis topik ini di Harian Sinar Harapan. Judul begini Anda tidak menemukannya di media massa mana pun. Mungkin ini akal-akalan saya supaya memikat perhatian pembaca saja. Namun dari lubuk hati, itulah sebetulnya cita-cita hari tua saya semenjak ketika umur saya belum tua. Apakah maknanya bagi Anda?
KAITANNYA masih supaya bukan saja berupaya agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tahun 80-an saya menulis topik ini di Harian Sinar Harapan. Judul begini Anda tidak menemukannya di media massa mana pun. Mungkin ini akal-akalan saya supaya memikat perhatian pembaca saja. Namun dari lubuk hati, itulah sebetulnya cita-cita hari tua saya semenjak ketika umur saya belum tua. Apakah maknanya bagi Anda?</p></blockquote>
<p>KAITANNYA masih supaya bukan saja berupaya agar umur bisa direntang lebih mengulur, melainkan juga agar masih tetap sehat. Kita tahu cita-cita orang di dunia kiwari, selain mengumpulkan potensi dan peluang agar panjang umur, juga masih tetap sehat. Kita menyebutnya sebagai tujuan hidup menuju healthy aging, sudah tua masih sehat.</p>
<p>Semua orang di dunia menyimpan cita-cita itu. Karena orang paling kaya di dunia itu bukan konglomerat atau hartawan, melainkan orang sehat. Cita-cita menjadi tetap sehat terdengar sederhana, namun tak mudah menempuhnya.</p>
<p>Pertama, karena tidak setiap orang punya investasi kesehatan yang seratus persen utuh sejak lahir. Kedua, yang punya modal sehat, namun sayang tidak mau menjalani hidup sehat. Tahu makanan lezat itu jahat, tapi masih rakus juga, misalnya. Jauh lebih banyak orang yang tidak tahu caranya sehat.</p>
<p>Pertanyaannya bagaimana agar tetap sehat? Proses menua tentu tidak mungkin dihentikan. Yang bisa kita lakukan hanya memperlambannya saja. Untuk itu perlu sejumlah kiat. Selain pola dan gaya hidup sehat dikuasai, tulus dan tekun pula melakoni. Dan kuncinya cuma empat. Hidup tertib terjadwal, makan selektif, rajin rutin bergerak badan, dan seimbang dunia-akhirat.</p>
<p>Tentu saja menjabarkan empat kunci itu perlu bicara lebih empat jam sampai berbusa, kalau itu lewat seminar. Perlu pula berulang-ulang membaca buku kesehatan terkait dengan itu. Celakanya, memahami seluruh kitab sejenis itu saja pun tidak cukup, kalau masih bersikap memilih ke dukun kalau didiagnosis kanker.</p>
<p>Sudah tulus dan tekun menjalani pola dan gaya hidup sehat memasuki umur yang semakin ranum, buat mata medik agaknya belum lengkap, jika masih ikut berdesak-desakan di kota besar. Menurut paham saya, yang sudah uzur perlu tahu diri.</p>
<p>Tahu diri bukan saja demi orang lain, melainkan juga buat kepentingan pribadi juga. Hidup di kota besar bagi yang sudah uzur makin tidak menyehatkan karena tiga hal. Irama hidup kota besar sudah tak cocok lagi dengan umur yang makin uzur. Oleh karena usia, tidak lagi bisa hidup “ngebut” berirama cha-cha-cha. Saatnya memilih irama waltz. Maka hendaknya menjelang opa-oma tidak lagi memilih tinggal di kota, apalagi kota besar. Jadi saatnya “minggir” ke daerah perdesaan.</p>
<h3>“Minggir”</h3>
<p>Ya, ungkapan “minggir” itulah yang saya carikan padanannya dengan “ruralisasi” atau hijrah ke perdesaan, lawan kata urbanisasi. Namun tentu tak sekadar pindah sosok belaka, melainkan pindah segalanya. Tiga keuntungan usia lanjut “minggir” ke perdesaan.</p>
<p>Selain irama hidup tadi yang lebih bersesuaian dengan umur yang makin uzur, tidak dikejar-kejar oleh kelompok masyarakat yang lebih belia ketika di mal, jalanan, antre bioskop, atau bergelak-gelak di tempat-tempat umum.</p>
<p>Harus diingat, ada stres tersendiri ketika yang sudah lebih lemah, lebih kendo, lebih alon, masih saja bersinggungan dengan yang lebih gesit, tergesa-gesa, dan kemudian terjebak dalam gerak hidup yang ingar-bingar. Maka bukan di situ wilayah keseharian bagi yang uzur.</p>
<p>Secara geografis perdesaan lebih nyaman. Ketika paru-paru makin susut dengan bertambahnya umur, daya tangkap oksigen juga kian mengendur. Padahal udara di kota lebih tipis dan sudah menjadi gado-gado dengan gas buang yang tak menyehatkan itu.</p>
<p>Paru-paru sudah uzur menyedot oksigen yang tipis plus aneka gas, jelas tidak makin menyehatkan. Udara desa lebih bersih dan segar, tebal pula kandungan oksigennya. Oksigen makanan pokok bagi bugarnya sel-sel tubuh. Sumbangan bagi tetap bugarnya seluruh sel tubuh.</p>
<p>Minum air kendi sekarang barang mewah. Selain air utuh alami, bebas dari cemaran, itulah air kehidupan sesungguhnya. Orang sekarang kian sukar memperoleh spring water, dan dunia menyuguhkannya mineral water, air buatan yang direka-reka belum tentu sesuai sepenuh kebutuhan tubuh.</p>
<p>Keuntungan lain memilih tinggal bukan di kota, secara sosial, kultur, dan filosofi, di Indonesia, perdesaan lebih cocok bagi yang sudah penuh muatan asam-garamnya, demi berpeluang memetik umur panjang. Bukan saja sumber pangan dan minum yang lebih sehat dari bumi perdesaan, budaya tepa selira, baku sapa, dan tiada hari tanpa holiday bila memilih hidup di perdesaan itulah kado istimewa bagi yang mudanya terkuras tak henti bekerja.</p>
<p>Makna “minggir” sejatinya bukan untuk duduk termangu ongkang-ongkang kaki, melainkan tetap menyibukkan diri dengan aneka kegiatan, dengan dua syarat. Pertama, sesuai dengan potensi pengalaman hidup, dan kedua, senang melakukannya. Para mantan pejabat tetap bisa menyumbangkan pengalaman praktik sesuai bidangnya bagi masyarakat desa. Orang di perdesaan memetik manfaat yang dibutuhkannya.</p>
<p>Jadi “minggir” berarti bukan hanya memindahkan secara geografis segala aktivitas yang mestinya tidak boleh dihentikan. Hanya apabila masih mau tetap aktif, umur bisa diulur lebih merentang panjang. Bukannya di kursi malas. Tukar kursi malas dengan sepatu olahraga.</p>
<p>Jangan lupa, faktor stres acap kita anggap sepele. Padahal stres lebih besar perannya bikin hidup tidak lagi panjang. Separo isi resep dokter sekarang lebih berisi obat penenang selain obat tidur, lantaran orang sekarang terjebak dalam lingkaran stres yang jahat (malstress).</p>
<p>Studi Boeing memperlihatkan, mereka yang pensiun lebih awal saat berumur 55 tahun, menyimpan harapan hidup bisa sampai 80-an tahun. Sebaliknya bila baru pensiun setelah berumur 65 tahun, harapan hidupnya hanya tersisa 2 tahun saja. Bukti betapa kejamnya faktor stres ketika masih tetap aktif kerja buat mengejar take home pay.</p>
<h3>Mimpi rumah hari tua view laut</h3>
<p>Setelah saya kaji kembali apa yang menjadi mimpi saya itu, terkait dengan apa yang saya ketahui sehubungan dengan kehidupan medik, agaknya masih relevan, kalau bukan lebih relevan untuk dipilih sekarang ini.</p>
<p>Waktu tahun 80-an saya acap keliling kota kecil kalau sedang liburan bersama anak yang ketika itu masih kecil. Saya menikmati betul kehidupan kota kecil dan perdesaan. Hemat saya, itulah kehidupan sejatinya. Waktu itu banyak pejabat maupun mantan pejabat yang membeli tanah di daerah, entah untuk investasi ataukah memang buat rumah hari tua.</p>
<p>Tapi barang tentu tidak siapa saja siap untuk “minggir”. Sebagian lantaran belum merancangnya, dan yang lain masih “ngoyo”. Dosen dan guru saya masih tetap berpraktik sampai uzur. Kerabat saya bingung, sore hari saya sudah santai di rumah jauh hari sebelum saya mendapat pensiun PNS.</p>
<p>Sekarang saya renungkan, ternyata saya tidak keliru. Sejumlah sejawat, guru, yang dirinya memahami betul bagaimana menyembuhkan dan menyehatkan orang lain, ternyata mati prematur. Bisa jadi lantaran hidupnya kelewat letih. Praktik sampai malam, kendati dengan hati senang, tapi mesin tubuh sudah kendur tak mungkin bisa diajak berlari terus.</p>
<p>Saya kebetulan menginsafi hal itu lebih dini, bahwa tidak ada batas tertinggi untuk kepuasan. Berapa cukup itu, siapa pun sukar menjawabnya. Hanya diri kita sendiri yang bisa dan harus bilang berhenti dari segala kesibukan yang berpotensi “merusak” badan itu, bukan orang lain, atau paksaan siapa pun. Maka kalau saya komit untuk berhenti dari kesibukan rutin jauh hari sebelum saya telanjur terkepung penyakit akibat tubuh terus dibawa berlari, itu sama sekali hendaknya tidak diartikan saya sudah merasa hebat dan amat berkecukupan. Sudah bersyukur bisa cukup hidup layak saja.</p>
<p>Namun tentu untuk tiba sampai ke situ perlu perencanaan sejak masih berumur 40 tahun. Di situ kelemahan kebanyakan kita, tidak pernah membuat perencanaan mau diapakan hidup ini sampai akhir hayat. Saya sudah merancangnya sekurang-kurangnya sebelum saya menuliskan “Ruralisasi” pertama kali tadi, ketika umur saya belum memasuki 40 tahun.</p>
<p>Umur 40 disebut-sebut masa krisis orang modern, dan mestinya sudah harus tiba di puncak prestasi. Saya menggenjotnya pada umur itu. Saya habis-habisan ingin agar nubuat cita-cita saya nantinya betul menjadi kenyataan. Dan thanks God, sampai hari ini masih sesuai dengan rancangan. Tapi di mana rumah hari tua saya itu akan saya labuhkan?</p>
<p>Jadi kalau setelah pensiun sekarang saya memenuhi janji mimpi saya ingin hijrah ke perdesaan, supaya saya tidak dicap ngomong doang. Saya merencanakan untuk “minggir” ke Bali. Anda bertanya kok Bali? Bila Tuhan mengizinkan Bali saya jadikan pilihan karena tiga pertimbangan.</p>
<p>Pertimbangan pertama, Bali provinsi paling ayem, menurut akal dan emosi sehat saya, setidaknya dibanding provinsi lain. Kedua, secara kultur dan sosial, semua tahu Bali bahkan dikejar orang manca negara mana saja. Everyday in Bali is holiday. Dan ketiga, di Bali kita masih bisa bersosialisasi dengan orang asing dari mana-mana, karena Bali menjadi “provinsi internasional”. Di Bali kita tidak mungkin kesepian secara sosial. Dan yang juga tak terbeli adalah alamnya.</p>
<p>Sudah lebih lima tahun diam-diam saya mengamati Bali. Pergaulan saya bukan saja dengan kerabat, fans, dan cengkerama di FB, serta relasi, terlebih juga dengan para broker properti. Bahwa properti di Bali gak ada matinya. Lebih dari itu property Bali terus melesat dalam hitungan tahun saja dibanding provinsi lain. Kondisi saya selalu sukar mengejar laju kenaikan harga properti Bali karena saya bukan konglomerat.</p>
<p>Awalnya pilihan saya membangun rumah hari tua di wilayah yang sejuk. Paling ideal di area Bedugul. Selain indah alamnya, sejuk udaranya, juga tidak hiruk pikuk. Setelah saya dengan susah payah menemukan sebidang tanah persis di atas danau Buyan, dengan view amat los ke danau Buyan yang berada di bawah, dan view laut Singaraja (Bali utara) di belakangnya, saya membayangkan bahwa barangkali benar, itulah surga kecil hari tua saya nanti.</p>
<p>Duduk memandang Buyan, danau yang tenang dan disucikan masyarakat Bali, hidup seperti sedang ditarik ke masa kecil. Memandang laut Singaraja di belakang, seakan perjalanan hidup betul memang belum boleh selesai. Kombinasi panorama ini yang saya harapkan tetap membakar spirit hidup saya pribadi sampai ujung hayat.</p>
<p>Tapi rencana itu berubah karena teman seperjalanan dalam hidup kurang menyukai suasana sesepi itu. Hidup memang begitu. Saya lebih seniman, teman seperjalanan hidup saya lebih pengunjung mal, maka toleransi saya patut bekerja. Dan saya mengalah. Buat saya di mal saya bisa hidup, di ketenangan danau saya juga sumringah. Maka rencana rumah hari tua beralih ke Bali selatan. Tepatnya di Pecatu. Di situ ada pura, ada real estate selebritis, ada hotel Bulgari termahal di Indonesia (hanya ada dua di dunia: Itali dan Bali), dan alamnya memang elok.</p>
<p>Saya gemar melihat laut. Melihat laut saya bisa terangsang menulis sajak. Maka saya sepakat dipilihkan sebidang tanah di situ. Nun jauh memandang laut lepas pantai Dreamland, ada lima hotel berbintang (Best Western sudah ada, kabarnya akan dibangun Westin, Raffles Hotel S’pore) golf 18 holes, condotel, RS internasional (kabarnya Mount Elizabeth Hospital S’pore), rumah jompo orang asing (Jerman), selain café artis Klapa milik Tommy Soeharto. Lokasinya beberapa kilometer menjelang Pura Uluwatu.</p>
<p>Kendati tanah yang baru rencana akan saya ambil agak jauh dari gemerlap itu, namun saya membayangkan, yang mewah gemerlap itu masih bisa saya pandang dari kejauhan. Apalagi semarak cahaya lampu sampai tepian pantai ketika duduk memandang di malam hari bila rumah hari tua itu jadi saya ungkap.</p>
<p>Jadi itulah mimpi yang saya rancang sejak puluhan tahun lalu ihwal bakal bagaimana hari uzur saya nanti. Mungkin saja pilihan itu tidak tepat menurut Anda, saya tetap ingin minta doa dari Anda, mudah-mudahan terkabul. Tentu saja budget saya amat terbatas, dan saya sedang nego untuk mendapatkan bakal lahan rumah hari tua yang di benak saya sudah final itu. Dari sana saya masih ingin menulis. Juga puisi yang akan saya kirimkan bagi Anda. Adakah di antara Anda yang tergerak ikut? Siapa tahu benar, pilihan ini selain berpeluang lebih dipanjangkan umur, juga masih tetap sehat, mengikuti cita-cita orang di mana-mana dunia.</p>
<address>Dr. HANDRAWAN NADESUL</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ruralisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I don’t know what the future holds, but I know Who holds the future</title>
		<link>http://gkipi.org/i-don%e2%80%99t-know-what-the-future-holds-but-i-know-who-holds-the-future/</link>
		<comments>http://gkipi.org/i-don%e2%80%99t-know-what-the-future-holds-but-i-know-who-holds-the-future/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 13:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3404</guid>
		<description><![CDATA[Dunia sempat dibuat terperangah oleh karya sinematografi Holywood yang fenomenal berjudul “2012” yang intinya mengisahkan tentang kapan dan bagaimana dunia ini mengalami kehancuran massal. Kisah yang bersifat eskatologis ini, walau katanya diinspirasi oleh budaya Suku Maya, merupakan karya yang sebagian besar imajinatif, karena menyangkut masa depan yang tak seorang pun pada saat ini tahu kapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">D</span>unia sempat dibuat terperangah oleh karya sinematografi Holywood yang fenomenal berjudul “2012” yang intinya mengisahkan tentang kapan dan bagaimana dunia ini mengalami kehancuran massal. Kisah yang bersifat eskatologis ini, walau katanya diinspirasi oleh budaya Suku Maya, merupakan karya yang sebagian besar imajinatif, karena menyangkut masa depan yang tak seorang pun pada saat ini tahu kapan tepatnya dan bagaimana kejadian yang sebenarnya akan terjadi.</p>
<p>Tetapi film tersebut setidaknya telah mengingatkan dunia bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, dan kejadian yang digambarkan tersebut pasti akan terjadi, meskipun kita masih belum mengetahui detail persisnya. Karena itu kita harus siap, karena menurut Alkitab, akhir dunia dapat terjadi kapan saja. Di mana tepatnya hanyalah Allah Bapa yang mengetahuinya.</p>
<p>Alkitab telah memberi kita panduan di dalam menyikapi berita-berita yang meramalkan kapan akhir dunia akan terjadi. Di dalam kitab Kisah Para Rasul 1:6-8, ketika Yesus dihadapkan pada pertanyaan yang bersifat eskatologis dari murid-murid-Nya, Ia menanggapinya dengan jawaban yang bersifat evangelical: “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: ‘Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?’ Jawab-Nya: ‘Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’” Artinya, daripada kita disibukkan dan dibebani dengan usaha mencari tahu kapan akhir dunia akan terjadi, kita justru diminta untuk menjadi saksi Kristus di dalam dunia ini.</p>
<p>Panggilan ini juga berlaku bagi kita ketika kita memasuki tahun 2010 ini. Ada kalimat bijak yang berkata, “Yesterday is history, tomorrow is mystery, and today is a gift; that’s why we call it ‘present.’” Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menyambut misteri di dalam tahun 2010 ini. Yang sudah pasti, sebagaimana diamanatkan dalam Kis 1:6-8 tadi, kita tetap harus terus menjalankan panggilan kesaksian kita di dunia ini melalui aksi diakonia (pelayanan) dan marturia (kesaksian) yang tetap dibalut oleh panggilan koinonia (persekutuan).</p>
<p>Agar kita lebih siap untuk menjalankan ketiga panggilan gerejawi tadi, ada tiga perlengkapan utama yang kita perlukan dalam menyambut tahun 2010 ini, sebagaimana kita renungkan bersama di bawah ini.</p>
<h3>Iman</h3>
<p>Merupakan suatu realita objektif bagi kita semua yang ada sekarang, bahwa kita telah memasuki dan tengah menjalani tahun 2010. Tetapi, apakah kita akan menikmati tahun ini, maka ini adalah hal lain, dan bersifat subjektif dan reflektif tergantung dari perspektif kita.</p>
<p>Syarat penting bagi kita untuk menikmati tahun 2010 ini adalah kita mempunyai iman pada dan hidup dalam Tuhan Yesus.  Dengan-Nya, kita dapat mengamini bahwa Allah sesungguhnya telah menyediakan di depan kita kasih dan berkat-Nya yang melimpah. Allah kita maha hadir dan kekal melampaui waktu (omni present). Ia adalah Allah yang bukan hanya berkarya di masa lalu dan masa kini kita, tetapi juga hadir dan berkarya di hari-hari depan kita.</p>
<p>Terlebih lagi, Ia sungguh mengasihi kita. Tanpa dapat kita lihat dengan mata fisik kita, Ia telah menabur berbagai berkat Ilahi di hari-hari depan kita, yang menanti saatnya kita memasuki hari-hari tersebut. Yeremia 29:11 mengatakan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”</p>
<p>Kita dapat menjadi seperti Rut dalam kitab Rut 2. Dari Rut 2:7 kita dapat mengetahui latar belakang kehidupan Rut, yakni bahwa Rut memungut dan mengumpulkan jelai dari berkas-berkas jelai di belakang penyabit-penyabit di kebun Boas. Boas sungguh memperhatikan Rut. Di dalam ayat 15 dan 16 dicatat bahwa Boas memerintahkan pengerja-pengerjanya: “…haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungut Rut.”</p>
<p>Kisah Boas tersebut mewakili bagaimana Allah berkarya bagi kita. Ia sebenarnya telah menabur berkat-berkat-Nya di depan kita. Sebagaimana Rut percaya kepada Boas, yang kita butuhkan untuk dapat “memungut berkas-berkas” yang Allah sudah sediakan di depan kita adalah iman percaya kepada-Nya. Karena itu kita bukanlah peminta-peminta, seolah-olah berkat Allah belum disediakan bagi kita. Marilah kita naik ke taraf iman yang lebih tinggi daripada itu, yakni kita menjadi orang yang percaya bahwa Ia telah terlebih dulu menyediakannya di depan kita dengan porsi yang terbaik menurut Dia.</p>
<p>Yang diperlukan bukanlah berkat dari Tuhan, tetapi iman kita untuk memercayai Kemahakuasaan dan Kasih Allah sehingga karena iman, kita akhirnya dapat menerima, mengalami dan menikmati berkat-berkat-Nya. Boas akhirnya menikahi Rut. Berkat yang diterima Rut ternyata mengalir jauh ke keturunan-keturunannya, bahkan hingga kita saat ini. Dari pernikahan mereka, lahirlah Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud (Rut 4:17). Iman Rut menjadi tunas bagi sejarah Misi Kerajaan Allah yang berpuncak pada Yesus. Itulah karya iman.</p>
<p>Dalam Matius 9 kita menyaksikan bagaimana karena iman, Yesus membuat mukjizat yang akhirnya diperoleh seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan dan dua orang buta. Di ayat 22 Yesus berkata, “…Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Di ayat 29 disebutkan bahwa Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Tidak ada yang mustahil bagi Allah, asal kita percaya. Mukjizat itu nyata. Sungguh nyata. Asal kita beriman. Ibrani 11:6 berkata, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”</p>
<p>Ketika Allah memberkati kita, Ia juga merancang dan mengirimkan orang-orang yang Ia akan pertemukan dengan kita pada suatu persimpangan yang sama dalam perjalanan kehidupan kita.</p>
<p>Kita lihat bagaimana Yusuf yang dijual saudara-saudaranya sendiri dan masuk ke tanah Mesir sebagai budak, akhirnya dapat menjadi orang nomor dua di Mesir dan selanjutnya menjadi berkat bagi seluruh Israel. Dari Kejadian 39 kita mengetahui bagaimana Allah merajut jalan hidup Yusuf dengan menakjubkan. Untuk Yusuf, Allah mengirim sejumlah orang yang menjadi pembuka pintu bagi jalan kehidupannya di kemudian hari. Ada kepala penjara yang sangat menyayangi Yusuf. Lalu di dalam penjara, Yusuf berkenalan dengan juru minuman dan juru roti Firaun, yang karena sebelumnya membuat kesalahan terhadap Firaun, dijebloskan ke penjara dan… akhirnya bertemu dengan Yusuf. Setelah bebas, mereka kemudian menjadi alat Tuhan yang langsung mengantarkanYusuf ke Firaun.  Di dalam hidup kita, Tuhan juga dapat mengirimkan “kepala penjara,” “juru minuman,” “juru roti,” bahkan “Firaun” kepada kita masing-masing untuk dipakai sebagai sarana yang mengantarkan kita ke tempat yang lebih baik dalam kehendak-Nya.</p>
<p>Faith sees the invisible, believes the unbelievable, thinks the unthinkable and receives the impossible. Dengan iman, kita melihat yang tidak kelihatan, kita memercayai hal yang tidak dapat dipercayai manusia, kita memikirkan yang tidak dipikirkan manusia dan akhirnya kita dapat menerima hal yang sebenarnya mustahil kita terima. Itulah iman.</p>
<h3>Harapan Iman harus disertai pula dengan perbuatan.</h3>
<p>Di akhir tahun 2010 nanti, saat kita melihat ke belakang, kita akan takjub bagaimana Efesus 3:20 menjadi nyata karena Ia telah melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita. Tentu bahwa di dalam tahun 2010 ini kita pasti juga akan mengalami lekuk dan tanjakan perjalanan kehidupan kita. Apa yang ada di depan mata fisik kita mungkin akan dapat mematahkan semangat atau bahkan iman kita. Namun kita tidak usah kuatir atau gentar. Allah tetap berkarya dalam segala hal untuk kebaikan kita sehingga kita dapat makin serupa dengan Kristus hari demi hari (Roma 8:28-29).</p>
<p>Sebagaimana kita mengendarai mobil, pandangan kita memang harus senantiasa tertuju ke depan menembus kaca depan mobil. Tetapi untuk keamanan berkendara, sekali-kali kita perlu juga melihat kaca spion untuk menengok keadaan di belakang mobil kita. Demikian juga perjalanan hidup kita. Bila situasi saat ini atau hari esok di depan kita kelihatannya kurang baik, sekali-kali tengoklah ke belakang, semata-mata untuk merenung kembali bagaimana Allah telah menjaga karya nyata Allah yang sungguh mengasihi kita. Ia bukan hanya memegang tangan kita berjalan bersama kita, tetapi Ia merangkul, bahkan menggendong kita, saat kita tidak mampu berjalan dengan kekuatan sendiri. Dengan demikian kita dapat berpengharapan bahwa Allah tetap sama: dulu, sekarang dan selama-lamanya.</p>
<p>Di dalam menjalani tahun 2010 ini, iman kita perlu kita ungkapkan secara lebih konkret, antara lain dengan harapan-harapan yang kita ucapkan lewat ekspresi pikiran dan perkataan kita.</p>
<p>Dalam Kejadian 1 kita menemukan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dengan berkata-kata (“…berfirmanlah Allah…”). Demikianlah kita juga perlu mengungkapkan harapan kita dengan senantiasa membunyikannya dalam pikiran dan perkataan kita, baik melalui doa kepada Tuhan ataupun mendeklarasikannya terhadap diri sendiri. Yakobus 4:2 mengatakan, “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Kita tidak dapat beriman mengalami berkat Tuhan bila pikiran dan kata-kata kita sendiri mengekspresikan hal-hal negatif yang meragukan atau bahkan menyangkal berkat Tuhan itu.</p>
<p>Salah satu cara mengelola dan mengalahkan masalah bukanlah dengan berbicara tentang masalah tersebut¸ tetapi justru berbicara kepada masalah itu tentang Allah Yang Maha Kuasa. Biarpun masalah itu lebih besar dari kemampuan kita menghadapinya, tetapi ketika masalah tersebut dihadapkan dan dibandingkan dengan Allah, kita semua tahu jawabannya. Di dalam sistem email pribadi saya, secara permanen saya memasang kalimat yang menjadi deklarasi iman dan harapan saya setiap hari, dari waktu ke waktu, “Good day today, better day tomorrow; every day in every way.” Kalimat ini akan otomatis muncul sebagai signature pada bagian bawah setiap email yang saya buat.</p>
<p>Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ia dapat mengadakan yang tidak ada menjadi ada. Itu adalah keahlian-Nya. Silakan lihat Kejadian 1, bagaimana Allah menciptakan dunia ini dari yang tidak ada sama sekali (creatio ex nihilo). Karenanya, bila di depan mata kita tidak ada apa-apa yang dapat diharapkan secara manusia, silakan serahkan pada Allah yang adalah ahlinya.</p>
<p>Ia juga luar biasa dalam mengubah hal yang tidak baik, yang kita alami di depan mata kita. Kejadian 50:20 menjadi salah satu ayat favorit saya. Ayat ini mengungkapkan kesaksian iman Yusuf bahwa Tuhan dapat menggunakan dan membalikkan rancangan jahat orang lain kepadanya untuk membawa kebaikan baginya dan untuk kemuliaan Nama-Nya. Saat kita tidak lagi berdaya: saat kita angkat tangan, saat orang lain lepas tangan, itulah saatnya Allah turun tangan. Sorrow looks back; worry looks around; faith looks up.</p>
<h3>Kasih Iman dan pengharapan akhirnya perlu dibalut dan disempurnakan dengan kasih.</h3>
<p>I Korintus 13:13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Di bagian awal I Korintus, Paulus menulis, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”</p>
<p>Di dalam hal kasih, kita dipanggil untuk melakukan dua hal utama, yakni mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita tidak mungkin meminta kepada Allah hal yang kita tidak mau berikan kepada-Nya atau kepada orang lain. Jangan kita minta kasih kepada Allah, bila kita sendiri tidak mau mengasihi-Nya atau bila kita menolak memberikan kasih kita kepada sesama kita.</p>
<p>Kita tidak dapat memberikan lebih daripada yang kita terima. Artinya, kita mengasihi Tuhan dan sesama kita karena Allah telah terlebih dahulu mencurahkan kasih-Nya bagi kita. Sumber utama dari kasih yang mengalir keluar dari kita haruslah kasih dari Allah sendiri. Kita bahkan menerima Kasih Allah dalam bentuk kasih agape, yang sebenarnya tidak pantas kita terima. Jika kita tidak memahami, menghargai dan menikmati kasih Allah, kita tidak dapat mengasihi-Nya dan mengasihi sesama kita dengan benar, dan selanjutnya kita tidak akan mempunyai iman dan pengharapan yang dikehendaki-Nya. Pada gilirannya, kita tidak akan dapat menikmati berkat-berkat yang disediakan-Nya bagi kita pada tahun ini.</p>
<p>Sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya yang tidak ternilai, porsi kasih yang kita terima secara melimpah dari Allah mungkin dapat diumpamakan dengan saat kita makan prasmanan (buffet), ketika porsi yang tersedia sangat banyak sehingga walau kita sudah makan sesuai dengan kebutuhan kita, masih ada banyak tersisa. Begitupun juga, meskipun porsi kasih kita bagikan kepada orang lain, kita tidak akan pernah kehabisan seluruh porsi “prasmanan” yang telah Kristus sediakan bagi kita, dan bahkan porsi yang kita butuhkan pun tidak akan berkurang. Karena itu, sungguh tidak beralasan bila kita tidak membagikan kasih kita kepada orang lain. Jangan sampai Allah menarik kembali hak kita atas kasih-Nya yang melimpah tersebut, hanya karena kita menahan porsi kebaikan kita kepada orang lain yang terlalu kecil dibandingkan dengan porsi yang kita terima daripada-Nya (Matius 18).</p>
<p>Dengan melengkapi diri kita dengan iman, pengharapan dan kasih, kita akan dengan sukacita menyambut, menjalani dan menikmati tahun 2010, bahkan 2011, 2012 hinggga akhir kehidupan kita di dunia, kapanpun itu terjadi menurut kehendak-Nya. Maukah kita? Terpujilah Tuhan.</p>
<address>Fabian Buddy Pascoal</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/i-don%e2%80%99t-know-what-the-future-holds-but-i-know-who-holds-the-future/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tatkala Kita Membutuhkan Rasa Aman</title>
		<link>http://gkipi.org/tatkala-kita-membutuhkan-rasa-aman/</link>
		<comments>http://gkipi.org/tatkala-kita-membutuhkan-rasa-aman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 05:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3345</guid>
		<description><![CDATA[Rasa aman adalah sesuatu yang sungguh kita butuhkan. Sulit rasanya hidup tanpa adanya rasa aman. Banyak keputusan yang kita ambil dalam hidup ini yang salah satunya dilandasi kebutuhan akan adanya rasa aman. Persoalannya, di mana kita bisa mendapatkan rasa aman yang sejati? Harta? Kenyataannya justru orang yang banyak hartanya yang cenderung merasa tidak aman. Ilmu? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="R" class="cap"><span>R</span></span>asa aman adalah sesuatu yang sungguh kita butuhkan. Sulit rasanya hidup tanpa adanya rasa aman. Banyak keputusan yang kita ambil dalam hidup ini yang salah satunya dilandasi kebutuhan akan adanya rasa aman. Persoalannya, di mana kita bisa mendapatkan rasa aman yang sejati? Harta? Kenyataannya justru orang yang banyak hartanya yang cenderung merasa tidak aman. Ilmu? Ada syndrome mahasiswa kedokteran yang merasa dirinya menderita penyakit tertentu justru karena ia belajar ilmu kedokteran. Artinya, makin tambah pengetahuan bukan berarti makin aman, malahan makin banyak kekuatiran.</p>
<p>Di sinilah ungkapan pemazmur tentang orang yang duduk dan bermalam dalam naungan Tuhan lalu menjadi penting (Mz. 91:1). Melalui ungkapan ‘duduk dan bermalam’ dalam naungan Tuhan mau digambarkan tentang orang yang mempercayakan hidupnya kepada sang pemberi hidup.Ternyata rasa aman itu muncul justru ketika kita tidak lagi mempertahankan hidup, melainkan mempercayakan hidup kepada sang pemberi hidup, yaitu Tuhan sendiri. Melalui Mazmur ini, pemazmur bukan hanya merujuk kepada Tuhan sebagai pemberi rasa aman, tetapi juga mengajarkan sebuah sikap iman yang mau mempercayakan hidup ini kepada sang pemberi hidup.</p>
<p>Tanpa sikap iman semacam itu, maka rasa tidak aman, kekuatiran, akan selalu menghantui diri kita. Sebuah sikap iman yang mengajarkan kita untuk bergerak dari posisi mempertahankan menjadi memberi, dari posisi memiliki menjadi memberikan, dari posisi mengusahakan menjadi mempercayakan. Dan bukankah sikap iman semacam itu yang Yesus juga ajarkan di masa sengsaraNya? Ia tidak mempertahankan diri tetapi memberi diri. Ia tidak mengatakan kehendakKu tetapi kehendakMu yang jadi. Bahkan Ia mengatakan di kayu salib, ke dalam tanganMu Kuserahkan RohKu. Hidup Yesus adalah hidup yang memberi. Ia menjalani proses kehilangan dalam setiap detik hidupNya, dan justru karena itu salibpun tidak pernah menggentarkanNya</p>
<p>(RDj).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/tatkala-kita-membutuhkan-rasa-aman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natal Musti Usai!</title>
		<link>http://gkipi.org/natal-musti-usai/</link>
		<comments>http://gkipi.org/natal-musti-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 17:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3316</guid>
		<description><![CDATA[Perjumpaan dengan Tuhan adalah sesuatu yang amat indah dan takkan tergantikan oleh apapun, sehingga kita ingin tetap memeganginya dan enggan melepaskannya. Itulah yang terjadi  pada murid-murid di puncak gunung Tabor. Petrus bahkan mengusulkan untuk membuat kemah bagi Yesus, Musa dan Elia (ayat 33).
Itulah juga yang kerap terjadi pada Natal kita. Kita mensyukuri, menyanyikan dan merayakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="P" class="cap"><span>P</span></span>erjumpaan dengan Tuhan adalah sesuatu yang amat indah dan takkan tergantikan oleh apapun, sehingga kita ingin tetap memeganginya dan enggan melepaskannya. Itulah yang terjadi  pada murid-murid di puncak gunung Tabor. Petrus bahkan mengusulkan untuk membuat kemah bagi Yesus, Musa dan Elia (ayat 33).</p>
<p>Itulah juga yang kerap terjadi pada Natal kita. Kita mensyukuri, menyanyikan dan merayakan perjumpaan kita dengan    Tuhan dalam bayi Kristus. Tetapi kita cenderung untuk terus    memegangi dan tak mau melepaskan kesyahduan Natal, serta  enggan menatap kehidupan sesehari tanpa nyanyian malaikat dan kehadiran para Majusi.</p>
<p>Usul Petrus di atas tidak mendapatkan tanggapan, sebaliknya terjadi rekonfirmasi kepengutusan Yesus, dan perintah untuk mendengarkan Dia (ayat 35). Maka Yesus pun mengajak ketiga murid-Nya untuk turun gunung. Dan setiba di kaki gunung mereka langsung   disambut oleh realita pekerjaan dan pelayanan Kristus.</p>
<p>Memang agak sayang membongkar pohon terang yang telah dengan susah-payah bersama segenap keluarga kita hias dan maknai. Tetapi Natal telah usai. Bahkan Natal harus usai! Karena perjumpaan dengan bayi Kristus tidak semestinya menjadikan kita romantis dan lupa mengapa IA datang. Perjumpaan dengan Kristus seharusnya menjadikan kita realistik,  menyingsingkan lengan baju, menjadi mitra Allah memberitakan Injil Kerajaan-Nya melalui ibadah, kata dan perbuatan kita.</p>
<p>Natal sudah usai! Masa kerja dimulai!</p>
<p>PWS</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/natal-musti-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dedikasi: Ini Aku, Utuslah Aku</title>
		<link>http://gkipi.org/dedikasi-ini-aku-utuslah-aku/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dedikasi-ini-aku-utuslah-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 17:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3276</guid>
		<description><![CDATA[Tidak jarang kita mendengar bahkan memakai ungkapan: “Saya terbeban untuk melakukan ini atau itu&#8230;”  Bandingkanlah ini dengan jawaban Yesaya atas panggilan Tuhan: “Ini aku, utuslah aku&#8230;!” (ayat 8). “Terbeban” punya konotasi (agak) terpaksa, tidak punya pilihan lain. Sedangkan pada Yesaya nyata niatannya untuk mengabdikan atau mendedikasikan diri sepenuhnya melakukan tugas pengutusan Tuhan.
Setidaknya ada dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="T" class="cap"><span>T</span></span>idak jarang kita mendengar bahkan memakai ungkapan: “Saya terbeban untuk melakukan ini atau itu&#8230;”  Bandingkanlah ini dengan jawaban Yesaya atas panggilan Tuhan: “Ini aku, utuslah aku&#8230;!” (ayat 8). “Terbeban” punya konotasi (agak) terpaksa, tidak punya pilihan lain. Sedangkan pada Yesaya nyata niatannya untuk mengabdikan atau mendedikasikan diri sepenuhnya melakukan tugas pengutusan Tuhan.</p>
<p>Setidaknya ada dua hal yang mendasari kesediaan Yesaya ini. Yang pertama ialah kenyataan bahwa Tuhan telah menghargai, memilih bahkan mengampuninya. Ia sadar tanpa itu ia tidak bermakna sama sekali (ayat 5-7). Yang kedua ialah kecintaannya terhadap kotanya, negerinya, bangsanya. Ia berada ditengah ketegangan antara berita penghukuman yang harus disampaikannya dengan hasratnya agar kota, negeri dan bangsanya dipulihkan (ayat 11 vv). Kiranya ini menjadi cermin yang menentukan bagi kita jemaat Tuhan dan warganya dalam memberikan respons atas panggilan Tuhan kepada kita.</p>
<p>Tanpa kesadaran akan betapa berhargaya kita di mata Tuhan, serta kecintaan kita akan dunia, lingkungan dan masyarakat yang Tuhan karuniakan bagi kita, tidak mungkin kita dapat mendedikasikan diri untuk menjadi pelayan-Nya. Tanpa yang pertama kita tidak ada bedanya dengan “LSM”. Tanpa yang kedua kita terjebak dalam pemakaian ungkapan “terbeban” dan sejenisnya.</p>
<p>“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (ayat 8).</p>
<p>PWS</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dedikasi-ini-aku-utuslah-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buset! Ini mah namanya orang kurang kerjaan, Mama…</title>
		<link>http://gkipi.org/buset-ini-mah-namanya-orang-kurang-kerjaan-mama%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://gkipi.org/buset-ini-mah-namanya-orang-kurang-kerjaan-mama%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 10:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3272</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kedua anak saya masih duduk di bangku sekolah dasar, maka perselisihan yang paling sering saya alami dengan isteri saya ialah dalam soal membaca Alkitab. Isteri saya ingin sekali agar di rumah kami terbangun kebiasaan membaca Alkitab secara bersama-sama.
Isteri saya tumbuh dalam rumah yang memiliki tradisi seperti itu. Oleh karenanya wajar saja kalau dia juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">K</span>etika kedua anak saya masih duduk di bangku sekolah dasar, maka perselisihan yang paling sering saya alami dengan isteri saya ialah dalam soal membaca Alkitab. Isteri saya ingin sekali agar di rumah kami terbangun kebiasaan membaca Alkitab secara bersama-sama.</p>
<p>Isteri saya tumbuh dalam rumah yang memiliki tradisi seperti itu. Oleh karenanya wajar saja kalau dia juga ingin tradisi yang sama terbangun di rumahnya. Tapi cilakanya saya tumbuh dalam rumah dengan tradisi yang berbeda. Jangankan membaca Akitab, berdoa bersama saja, kecuali berdoa makan atau berdoa pada malam tutup tahun, pun kami tak pernah.</p>
<p>Saya bukan hendak mengatakan bahwa ayah saya seorang yang tidak percaya akan Tuhan. Saya rasa dia percaya sekali akan Tuhan. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, kami anak-anak selalu melihatnya berdoa.</p>
<p>Tapi dia selalu berdoa sendiri, beberapa saat, sambil berdiri di balik pintu kamar. Acapkali dia harus kena bantingan pintu, yang dibuka secara serampangan oleh anak-anaknya, yang sedang tergopoh-gopoh hendak berangkat ke sekolah itu. Saya selalu membayangkan ayah saya seperti pemungut cukai yang berdoa di pojok Bait Allah dalam cerita Alkitab itu.</p>
<p>“Kau adalah imam di rumah ini,” begitulah selalu kata isteri saya. “Kau harus memulai dan memimpin kebiasaan yang baik itu.”</p>
<p>“Tapi kalau seorang imam harus memimpin sebuah kebiasaan yang tak terlalu diimaninya, itu repot,” begitulah juga selalu jawab saya kepadanya.</p>
<p>Kadang-kadang terbersit juga di pikiran saya untuk membeberkan saja kepadanya “contoh soal” dari beberapa keluarga yang selalu memiliki tradisi membaca Alkitab bersama di rumah, tapi yang dalam kehidupan di luaran tokh sama saja brengseknya. Tapi saya sadar bahwa itu adalah cara mengelak yang kekanak-kanakan. Itu bukanlah cara yang bijaksana.</p>
<p>Begitulah, isteri saya selalu saja memakai setiap kesempatan yang ada–misalnya sehabis mendengarkan kesaksian sebuah keluarga dalam kebaktian lingkungan–untuk menekan saya agar mulai membangun kebiasaan membaca Alkitab bersama keluarga di rumah. Dan saya selalu saja mengelak dengan halus.</p>
<p>Tapi suatu kali, gereja dimana saya terdaftar sebagai anggota, menyelenggarakan Pekan Keluarga. Berbagai acara digelar dalam kegiatan tersebut. Salah satunya adalah meminta setiap keluarga jemaat agar selama sepekan, setiap pagi, mengadakan kebaktian dan pembacaan Alkitab bersama. Gereja bahkan sudah menyiapkan dan membagikan liturgi kebaktian selama seminggu kepada kami. Tentu saja saya tidak bisa menolak hal seperti itu.</p>
<p>Pada pagi hari pertama Pekan Keluarga itu isteri saya bangun dengan wajah berseri-seri. Ia menyiapkan dua Alkitab dan empat kertas liturgi di meja makan dan mulai membangunkan anak-anak. Kebetulan hari itu juga adalah hari pertama libur sekolah anak-anak. Tentu saja mereka bangun dengan sedikit bersungut-sungut. Tapi anak perempuan saya, yang sedikit-banyak memiliki karakter mirip dengan saya, orang Batak-Angkola ini–selalu ingin menjaga harmoni dan meghindari konflik–segera mengerti apa yang terjadi dan duduk dengan patuhnya di sebelah saya.</p>
<p>Sebaliknya anak lelaki saya, yang sedikit-banyak memiliki karakter ibunya, orang Ambon itu–selalu bicara apa adanya–terus saja merepet-repet. Dan dia baru mau duduk dengan tenang setelah saya memberinya isyarat dengan kedipan mata.</p>
<p>Begitulah, kami anak-beranak menjalani kebaktian pertama Pekan Keluarga itu dengan bernyanyi, berdoa, membaca litani, bernyanyi dan berdoa lagi. Lalu tibalah saatnya untuk membaca Alkitab. Isteri saya membagi mana ayat yang harus saya baca, mana yang harus dibacanya, dan mana yang harus dibaca oleh kedua anak kami.</p>
<p>Sementara kami hendak bersiap-siap melakukan pembacaan, anak lelaki saya itu kembali gelisah. Rupanya–karena hari itu adalah permulaan libur sekolah–beberapa temannya sudah mundar-mandir di jalanan di depan rumah hendak mengajaknya bermain.</p>
<p>Mula-mula yang melakukan pembacaan Alkitab adalah saya. Kemudian isteri saya. Seharusnya giliran yang berikut adalah anak lelaki saya. Tapi karena ia masih gelisah, saya berkata kepada anak perempuan saya, “Kau sajalah dulu….” Lalu anak perempuan saya itu pun membaca bagiannya dengan tenang dan baik.</p>
<p>Tapi cilakanya sementara kami sedang membaca Alkitab itu, anak-anak lelaki di luar sana sudah melongok-longok dari balik pagar hendak mencari tahu kenapa anak lelaki saya tidak kunjung keluar. Dan hal tersebut membuat anak lelaki saya itu semakin gelisah, kesal dan kehilangan konsentrasi.</p>
<p>“Bacalah, Bang,” kata isteri saya dengan sabarnya seraya menyorongkan Alkitab ke depannya.</p>
<p>“Yang mana yang gue baca?” tanya anak lelaki saya setelah terdiam agak lama.</p>
<p>“Kan tadi sudah dibilang? Ayat 27 sampai 42,” kata saya.</p>
<p>Anak lelaki saya kembali terdiam beberapa saat seraya memandang Alkitabnya. Kami pun semua terdiam. Sementara itu suara anak-anak yang sedang bermain di luar sana semakin gaduh saja.</p>
<p>“Buset,” kata anak lelaki saya tiba-tiba. “Sebegini banyak? Ini mah namanya orang kurang kerjaan, Mama….”</p>
<p>Mendengar kata-kata itu saya langsung menundukkan kepala. Tapi dengan sudut mata, saya masih terus mencoba melihat reaksi isteri saya. Selesai acara kebaktian ini pastilah saya yang akan diadili.</p>
<p>“Bacalah, Amang,” kata saya dengan tenang dan mencoba menyelamatkan situasi.</p>
<p>Anak saya pun membaca ayat=ayat yang menjadi bagiannya. Walau pun dengan tersendat-sendat tapi akhirnya bacaan itu selesai juga dilakukannya.</p>
<p>Begitulah, setelah mendengarkan sedikit renungan–yang dibawakan oleh isteri saya–bernyanyi, dan berdoa, maka kebaktian kami anak-beranak itu pun berakhirlah.</p>
<p>Mengenai apa yang dikatakan isteri saya kepada saya setelah kebaktian selesai, saya rasa tak usahlah saya ceritakan di sini. Malu saya. Tapi ijinkanlah saya menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi dua atau tiga bulan setelah kebaktian itu:</p>
<p>Suatu pagi ketika saya dan anak-anak sedang bersiap-siap hendak berangkat ke kantor dan sekolah, tiba-tiba isteri saya memanggil saya dengan berbisik. Kemudian dia memberi aba–aba agar saya melongok ke kamar anak lelaki saya.</p>
<p>Anak lelaki yang sudah siap dengan seragam putih-merah itu sedang berlutut di sisi tempat tidurnya. Tangannya terkatup rapat dan terjulur jauh-jauh di atas kasur. Ia sedang berdoa dengan khusuknya.</p>
<p>“Kawan ini pasti sedang menghadapi sebuah persoalan pelik yang tak bisa ditanggulanginya sendiri dan karenanya terpaksa harus diadukan kepada Tuhan,” kata saya dalam hati sambil tersenyum-senyum. “Ini bisa persoalan PR yang belum selesai, persoalan anak</p>
<p>perempuan sekelas yang menampik cintanya, atau persoalan anak-anak tanggung yang suka memalaknya di sekitar Jalan Gunung Sahari…..”</p>
<p>Tiba-tiba perbuatan anak lelaki saya itu mengingatkan saya akan Ayah, yang untuk mana, sesuai dengan tradisi Batak, nama anak lelaki saya itu menjadi gelar panggilannya.</p>
<p>Saya keluar dari kamar dengan perasaan sedikit “menang”. Kepada isteri saya, saya berkata, “Kan, berapa kali sudah saya katakan kepadamu? Masing-masing orang punya caranya sendiri untuk berhubungan dengan tuhannya. Tak usahlah heboh-heboh amat…..”</p>
<p><a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2009/06/06/402/" target="_blank"><br />
</a></p>
<address><a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2009/06/06/402/" target="_blank">Mula Harahap</a></address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/buset-ini-mah-namanya-orang-kurang-kerjaan-mama%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Dosa</title>
		<link>http://gkipi.org/pengakuan-dosa/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pengakuan-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 10:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liturgi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3269</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Mengaku dosa. Apa yang dilakukan dalam pengakuan dosa? Apakah tidak cukup bagi Tuhan bahwa aku sudah minta maaf dan minta ampun? Apakah kesalahanku yang 5, 10 tahun yang lalu yang harus aku akui? Bagaimana sikap kita ketika kita mengakui dosa?

PENGAKUAN DOSA: APA ITU?
Ibadah adalah sebuah perjumpaan. Perjumpaan umat dengan Allah yang datang ke dunia untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Mengaku dosa. Apa yang dilakukan dalam pengakuan dosa? Apakah tidak cukup bagi Tuhan bahwa aku sudah minta maaf dan minta ampun? Apakah kesalahanku yang 5, 10 tahun yang lalu yang harus aku akui? Bagaimana sikap kita ketika kita mengakui dosa?<br />
<strong><br />
PENGAKUAN DOSA: APA ITU?</strong></p>
<p>Ibadah adalah sebuah perjumpaan. Perjumpaan umat dengan Allah yang datang ke dunia untuk “bercakap—cakap&#8221;. Sama seperti Allah yang ingin senantiasa bercakap—cakap dengan manusia dan perempuan pertama di taman Eden (lih. Kejadian 3), demikian juga Allah ingin berjumpa dengan umat—Nya.</p>
<p>Lalu, apa yang terjadi? Dalam Kejadian 3 jelas bahwa dosa itu menghalangi hubungan antara Allah dan manusia. Mereka berdua merasa takut kepada Tuhan dengan membuat cawat dari daun-daunan karena mereka telanjang.</p>
<p>Di hadapan Tuhan kita adalah orang—orang yang “telanjang&#8221;, tidak ada satupun yang tertutupi. Dalam kelemahan, kita melakukan banyak dosa. Kita adalah makhluk lemah yang berkali-kali melakukan kesalahan. Kesadaran inilah yang membawa kita datang untuk mengakui dosa dan kesalahan; sengaja atau tidak sengaja.</p>
<p>Lalu, dosa yang mana? Tentu bukan dosa yang sudah ditumpuk—tumpuk dan kita ingat—ingat terus (Terjemahan bebas ilustrasi Anthony de Mello: ketika seorang berdoa dan mengatakan: “Tuhan ampuni dosa saya setahun yang lalu.” setelah setiap hari berdoa. Apa jawab Tuhan? “Dosa yang mana? Aku sudah melupakan, anak—Ku&#8221;). Tuhan tidak mengungkit—ungkit kesalahan. Hanya diperlukan dari kita pengakuan yang tidak berbelit-belit dan kesediaan untuk mengisi hidup baru yang Tuhan beri itu dengan sebaik—baiknya.</p>
<p>Pengakuan/pernyataan ini hanyalah Minggu per Minggu karena setiap Minggu sudah diakui dan sudah dihapuskan 0leh Tuhan.</p>
<p>Pengakuan bukan merupakan kesempatan untuk melakukan dosa lagi dan lagi. Kalau kemarin kertas yang diberikan kepada kita, kita coret dengan “gambar” yang tidak baik, maka hidup ke depan adalah kesempatan untuk mencoret dengan baik dan indah; berusaha lebih baik dan lebih baik lagi.</p>
<p><strong>DALAM DOA ITU DIBAGI MENIADI DUA:</strong></p>
<ul>
<li>Doa pribadi yang merupakan wujud pernyataan pribadi yang diakui sendiri 0leh setiap umat Tuhan sebagai pribadi yang melakukan dosa.</li>
<li>Doa oleh pengkhotbah yang merupakan rangkuman (doa bersama) dari umat kepada Tuhan. Karena itu kalimatnya tidak khas, tetapi penegasan dan pernyataan bersama yang mendorong umat untuk melakukan yang terbaik untuk Tuhan di hari yang akan datang.</li>
</ul>
<p>Dalam doa ini tentulah umat merasakan bagaimana Tuhan mengampuni dosa dan kesalahannya; sebesar apa pun, asal dengan sungguh—sungguh mengakuinya di hadapan Tuhan dan bertekad untuk mempunyai hidup yang baru.</p>
<p>Catatan kecil:<br />
Tidak semua doa adalah doa pengakuan dosa. Karena itu tidak semua doa juga mengakui dosa kita. Ada doa permohonan, doa pengakuan, doa syukur dan lain—lain, tergantung maksud kita menaikkan doa kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pengakuan-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
