Engkau Tidak Jauh dari Kerajaan Allah!

Engkau Tidak Jauh dari Kerajaan Allah!

Markus 12:28-34

Mengapresiasi orang yang berbeda dengan kita sungguh bukan perkara mudah. Apalagi jika ia berada dalam kelompok besar yang hampir selalu berseberangan dengan kita. Namun, itulah yang Yesus lakukan terhadap seorang ahli Taurat yang berdiskusi dengan-Nya. Ahli Taurat itu mulai dengan bertanya tentang hukum manakah yang paling utama. Dan jawaban yang Yesus berikan adalah Hukum Kasih. Versi Matius tidak melanjutkan percakapan mereka berdua, sedang versi Lukas melanjutkannya dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Versi Markus secara unik memberi ruang bagi percakapan antara Yesus dan ahli Taurat itu.

Setelah Yesus berbicara tentang Hukum Kasih, ahli Taurat itu—secara mengejutkan—mengamini ucapan Yesus. Terhadap jawaban bijaksana ahli Taurat itu Yesus berkata, ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”

Ini kali pertama saya menyadari perbedaan perlakuan Yesus terhadap ahli Taurat itu di dalam Injil Markus. Yang paling sering kita baca adalah versi Matius. Padahal versi Markus ini memberi perspektif unik yang mempertontonkan sikap Yesus yang sungguh mampu menghargai dan terbuka pada mereka yang berbeda dengan-Nya.

Alih-alih berkata “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” kita lebih suka berkata pada mereka yang berbeda iman dengan kita, “Engkau sungguh jauh dari Kerajaan Allah!” Entah diucapkan, entah hanya di dalam hati. Kita lebih suka memakai apa yang dalam teori permainan disebut zero-sum game: Jika saya menang, kamu harus kalah; jika saya kalah, maka kamu menang. Tak mungkin keduanya menang. Pola berpikir zero-sum game ini sangat merasuki cara beragama banyak orang Kristen, hingga tertutuplah pintu keterbukaan bagi yang lain. Kalimat “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” absen dari mulut dan hati kita, justru karena kekuatiran bahwa ketika kita mengucapkannya, maka jangan-jangan itu berarti, “Saya sungguh jauh dari Kerajaan Allah!”

Ketika ada seorang yang berkata, “Mengasihi Allah dan mengasihi sesama ternyata jauh lebih penting dari semua ritus dan doktrin agama” (Mrk. 12:32-33), mampukah kita berkata tulus padanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”?

[ja]

Bookmark and Share

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi