Ekonomi Rumahtangga

Ekonomi Rumahtangga

Belum ada komentar 251 Views

Keluarga adalah lembaga ciptaan Tuhan (Kej. 2:24), dan merupakan gugus terkecil dalam strtuktur masyarakat dan gereja, di mana gereja adalah bagian masyarakat. Alkitab menampilkan pasangan suami isteri dari dua keluarga asal, yang mereka tinggalkan untuk membentuk suatu keluarga baru. Itulah proses pembentukan rumahtangga oleh dua insan yang berbeda kelamin.

Kita menempatkan pembentukan keluarga yang ditopang oleh ekonomi rumahtangga, sehingga menjamin kesejahteraan hidup keluarga dalam perjuangannya di megapolitan Jakarta. Suami adalah kepala keluarga, tetapi dalam seteraan dengan isterinya, serta anak atau anak-anak. Mereka mengambil perannya masing-masing dalam dinamika hidup berkeluarga. Inilah kelompok inti yang turut berperan merajut tatanan masyarakat, dalam cakupan pelayanan GKI Pondok Indah.

Sebagai bagian dari pembinaan kategorial, Majelis Jemaat GKI Pondok Indah memberikan secara berkala pembekalan ekonomi rumahtangga dalam rangka pelayanan Katekisasi Pernikahan (Bina Pranikah) bagi anggota-anggotanya yang merencanakan memasuki hidup berumahtangga.

Latar belakang

Para pakar bidang ilmu antropologi budaya mengembangkan berbagai teori tentang pembentukan, keluarga serta struktur dan fungsinya. Dalam teori-teori itu dikembangkan kehadiran dan perilaku manusia nomad penghuni gua yang terdiri dari beberapa keluarga sepertalian darah. Mereka berkelana mencari nafkah dari perburuan. Pembagian pekerjaan terjadi menurut jenis kelamin dengan menampilkan laki-laki sebagai pemburu, sedang perempuan diberi tugas memasak makanan dan memelihara anak.

Yang menjadi fokus teori ilmu-ilmu sosial, ialah proses pembentukan keluarga yang lebih besar mengikuti sistem keturunan patrilineal, karena memakai garis bapa, seperti pada masyarakat Batak; atau sistem matrilineal dalam pertalian keluarga menurut garis ibu yang dijumpai pada masyarakat Minangkabau. Adakalanya kelompok keluarga besar (extended family) itu bersama-sama menghuni sebuah rumah yang cukup luas dan dibangun memanjang, sehingga dinamakan rumah panjang, seperti dijumpai pada masyarakat Dayak.

Pada struktur extended family sang anak ditempatkan dalam jaringan ikatan keluarga yang mencakup beberapa generasi. Dalam hal ini dijumpai di bawah satu atap, selain saudara-saudara seayah dan seibu, juga saudara-saudara sepupu. Pada tingkat berikutnya ialah saudara-saudara ayah dan ibu, bahkan juga kakek dan nenek dari pihak ayah maupun ibu. Mereka masing-masing dilengkapi dengan nama yang lebih menyerupai gelar, karena berfungsi menunjukkan derajat dalam struktur perkerabatan untuk menjaga keserasian lalulintas dalam ikatan keluarga. Hubungan lalulintas keluarga itu dipelihara dan diperbaharui melalui peristiwa perkawinan, kelahiran, dan kematian, yang melibatkan seluruh anggota keluarga yang membentuk suatu extended family.

Keluarga modern

Tradisi extended family terdesak oleh mobilitas perpindahan keluarga untuk mencari nafkah, dan juga karena keterbatasan luas rumah di lingkungan perkotaan, apalagi dalam skala megapolitan Jakarta, di mana harga tanah begitu melangit. Keadaan itu membatasi luas rumah, yang hanya dapat menampung satu keluarga saja, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

Namun demikian, ikatan keluarga itu terus dipelihara oleh tradisi perayaan peristiwa kelahiran, perkawinan, dan kematian. Perayaan demikian itu menggerakkan anggota-anggota keluarga dari seluruh penjuru angin untuk hadir di lokasi perayaan. Dengan demikian, penyelenggaraan perayaan itu berfungsi memelihara dan memperbaharui ikatan keluarga. Frekuensinya dapat ditambah dengan perayaan hari ulang tahun, di samping acara Natal, dan Tahun Baru, demikian pun perayaan Paskah yang diindahkan oleh masyarakat kristiani.

Dalam proses pembentukan keluarga Kristen, jemaat-jemaat dalam rumpun gereja-gereja reformasi menganut paham, bahwa perkawinan adalah suatu peristiwa sipil (burgerlijk huwelijk). Prinsip itu tidak ditampung dalam UU Perkawinan No.1/1974. Pemahaman bahwa perkawinan adalah suatu peristiwa sipil tidak mengurangi kadar kesakralan lembaga perkawinan dalam hidup bergereja, sungguh pun bukan merupakan suatu sakramen. Dengan demikian, gereja-gereja Protestan memberkati pasangan yang secara hukum sudah berstatus suami-isteri.

Ini berbeda dengan pemahaman Gereja Roma Katolik, yang mengukuhkan perkawinan sebagai sakramen, sehingga perceraian diatur juga oleh Hukum Gereja, karena perkawinan di Gereja Protestan adalah peristiwa sipil (perdata), maka perceraian merupakan kompetensi Pengadilan Negeri. Pemahaman Gereja Roma Katolik sama dengan yang dianut dalam agama Islam, bahwa perkawinan terjadi di depan Penghulu, maka perceraian pun merupakan urusan intern Agama Islam.

Memang UU Perkawinan No. 1/1974 adalah produk hukum yang tidak melayani kebutuhan hukum masyarakat Indonesia yang serba pluralistis. Oleh karena itu perkawinan lintas agama terpaksa dilakukan secara sipil di luar negeri, dan kemudian didaftar di Kantor Catatan Sipil di Indonesia, sebagai perkawinan yang sah.

Fungsi keluarga

Acara National Geographic di TV memperlihatkan bagaimana anak zebra sudah dapat berlari beberapa menit setelah lahir, sehingga dapat menghindar dari pemangsanya. Tidak demikian halnya dengan bayi manusia yang bertahun-tahun lamanya memerlukan bantuan dan perlindungan dalam cakupan kasih sayang orangtuanya. Dalam suatu diskusi dengan seorang pendeta Amerika, yang juga membidangi psikologi; beliau menamakan keluarga:”the safest place on earth.” Penulis menyanggah pendapat itu dengan mengemukakan contoh, bahwa: Kain membunuh adiknya, dan Yusuf dijual abang-abangnya.

Yang hendak dikemukakan bapak pendeta tersebut ialah, bahwa dalam lingkungan keluarga sang anak diasuh (nurture) yang di kalangan kita berarti dibekali dengan nilai-nilai kristiani, dalam pembentukan karakter sang anak berdasarkan kasih Kristus. Ini tugas utama orangtua, yang dilakukan secara kontinyu (Ul.6:4-9), dan difasilitasi sekolah dan gereja, tanpa mengambilalih tugas itu dari orangtua. Itulah sebabnya mengapa diadakan Katekisasi Pernikahan (Bina Pranikah) oleh Majelis Jemaat, sebagai bagian dari pembinaan anggota-anggota jemaat yang hendak berkeluarga. Dan itu pulalah mengapa di dalam kalender pelayanan GKI PI terdapat acara tetap, yakni: Bulan Keluarga.

Megapolitan Jakarta mempunyai daya tarik dan pengaruh luarbiasa besar terhadap orangtua dalam mengasuh anak. Penulis mengenal seorang ibu yang berprofesi pengacara. Beliau mengatakan bahwa dari pk. 18.00 hingga pk.10.00 pagi dia adalah ibu rumahtangga untuk mengurus suami dan anak-anaknya. Setelah itu barulah dia berprofesi sebagai pengacara. Apakah dia berhasil dalam alokasi waktu (time management) itu? Demi keluarga dia berusaha menghindari pesta dan business dinner; jadi business lunch tidak apa-apa. Ini adalah kasus orangtua profesional, karena masing-masing menjalani profesinya.

Sebagai seorang Opa, penulis senang dan bahagia sekali menjemput cucu di Taman Bermain Tirta Marta. Cucu itu sangat senang digendong Opa sampai ke mobil, sedang ibunya yang berpredikat S2 bidang manajemen dari suatu universitas Amerika, menunggu di rumah. Dia memutuskan mengorbankan profesinya di suatu perusahaan asing, demi pendidikan anaknya. Ini adalah suatu pilihan yang sangat sulit, karena bukan saja mengorbankan karier, tetapi secara drastis memangkas salah satu sumber dana keluarga.

Pada kesempatan menjemput cucu dapat dilihat betapa banyak anak sebaya, yang dijemput pembantu berseragam putih, lengkap dengan HP, agar sang nyonya nun di seberang sana dapat melakukan penginderaan jarak jauh dari kantor. Keadaan itu berarti bahwa dalam satu hari anak itu lebih intensif berhubungan dengan pembantu daripada dengan ibu kandungnya. Pembentukan perbendaharaan kata anak pun mengikuti ocehan pembantu, demikian juga kebiasaan menonton sinetron, yang sesuai selera pembantu. Ini merupakan suatu contoh tentang proses nurture! Jadi boleh pilih!

Alkitab bercerita tentang Samuel, hakim terakhir umat Israel. Samuel menyaksikan bagaimana bejat perilaku anak-anak hakim Eli, yakni Hofni dan Pinehas. Namun, karena kesibukan tugas Samuel mengurus raja Saul dan raja Daud, maka dia juga melalaikan penggunaan otoritasnya sebagai kepala keluarga. Kita dapat membaca pengakuan yang bermakna penyesalan atas kegagalannya sebagai bapa. Samuel pun menulis: “Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.” (1Sam. 8:3).

Contoh mutakhir adalah kasus Billy Graham, evangelis termashur dan pendeta Gedung Putih selama pemerintahan tujuh presiden. Keluarganya berantakan, karena Billy Graham super sibuk menginjil ke seluruh muka bumi. Berkenaan dengan yubileumnya dia diwawancarai Larry King dari CNN. Atas pertanyaan Larry King apa yang akan dia lakukan, andaikata dia harus memulai pelayanannya kembali, dia menjawab dengan tegas: “I will spend more time with my family!”

Penggunaan budget

Pembentukan keluarga bukan saja berarti pencapaian tingkat kedewasaan biologis, tetapi juga psikologis, karena dewasa dalam kemandirian finansial, yakni lepas dari keluarga asal. Tanpa disadari adakalanya terbawa dalam pembentukan keluarga pola dari keluarga asal. Ini adalah masalah yang peka yang memerlukan kerelaan untuk menyesuaikan diri, demi keharmonisan keluarga yang baru dibentuk.

Sudah merupakan pola yang tidak asing, ialah adanya perjanjian perkawinan (prenuptual agreement), yang memelihara kekayaan terpisah antara suami-isteri. Tetapi yang juga sudah baku, ialah penggunaan joint account di bank, demikian pun pemakaian credit card, apakah masing-masing mempunyai penghasilan, atau mengandalkan hanya ada satu sumber saja untuk kepentingan ekonomi keluarga. Yang perlu disadari ialah, bahwa ekonomi keluarga dihadapkan dengan gelombang penciptaan permintaan (demand creation) dalam tataran ekonomi, yang menjurus kepada konsumerisme.

Oleh karena itu, perlu diwaspadai agar tidak terseret gelombang konsumerisme, dengan bujukan: buy now, pay later. Sebelum terpengaruh ajakan untuk membeli, adalah bijaksana untuk menyediakan waktu dan merenungkan tiga pertanyaan di bawah ini:

  1. Apakah yang diingini?
  2. Tetapi apakah yang diingini itu benar dibutuhkan?
  3. Dan apakah yang dibutuhkan itu bisa diabaikan?

Yang diingini dan cocok dengan selera tetangga, belum tentu menjadi kebutuhan kita, sehingga prioritas kita tidak perlu dirobah, semata-mata demi trend mode mutakhir. Apakah itu jenis pakaian, aksesoris yang dipakai para selebritis, alat-alat elektronik, atau bahkan keremajaan abadi yang ditawarkan industri kecantikan melalui invasi reklame TV pada setiap rumahtangga. Apakah memang benar tidak dapat diabaikan pembelian, semata-mata karena anak-anak merasa “minder” sebab di seluruh kompleks perumahan semua orang membelinya, dan hanya keluarga kita yang menjadi kecuali?

Budget merupakan sarana untuk memelihara disiplin keuangan. Dengan sarana itu keluarga dapat mengontrol apakah pemakaian sumber dana (yang per definisi terbatas) dapat dilakukan secara efisien. Dikatakan efisien karena sesuai rencana pengeluaran, atau penyimpangan pengeluaran dapat dipantau, sehingga rencana menabung tidak berantakan dan membahayakan pembangunan ekonomi rumahtangga.

Anggota-anggota gereja yang mengikuti Jadual Pranikah adalah anggota sidi, berarti telah menjadi anggota penuh GKI PI, sehingga dibekali Kartu Persembahan. Pada mulanya dia menyisihkan sebagian uang saku dari orangtuanya untuk maksud tersebut. Akan tetapi kini dia memutuskan untuk membangun rumahtangga bersama teman akrabnya, sebagai pasangan suami-isteri (Pasutri). Sekarang mereka tidak lagi mempersembahkan sebagian uang saku dari orangtua, tetapi sebagai Pasutri, yakni pasangan dalam kelompok kategorial jemaat Dewasa Muda, yang mandiri secara finansial. Oleh karena itu, mereka menyisihkan sebagian dari berkat penghasilan yang diterima dari Tuhan, dan dengan penuh sukacita membawa persembahan itu sebagai ucapan syukur kepada-Nya. Mereka juga tidak lupa membayar pajak kepada Negara (Rom. 13: 6), sebagai pemegang kartu NPWP.

Semua penerimaan dan pengeluaran dituangkan dalam budget keluarga sebagai alat kontrol rencana keuangan ekonomi rumahtangga, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Apalagi dengan kehadiran anak atau anak-anak yang benar-benar memerlukan rencana investasi dalam mengelola ekonomi rumahtangga. Melalui proses itu berangsur-angsur ekonomi rumahtangga bertumbuh melalui pengalaman hidup berkeluarga, seraya turut merajut tatanan masyarakat Indonesia yang pluralistis. Dan serentak dengan itu secara partisipatif berkontribusi membangun Jemaat GKI Pondok Indah, Hal itu dilakukan dalam pemahaman iman, bahwa Roh Kudus yang hadir dan bersemayam dalam diri kita menjadikan kita Bait Allah (1Kor. 3:16), sehingga memandu roh kita dalam pertumbuhan iman secara transformatif.

Pasutri Bep & Paul Poli

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan